Sequel Istri Kesayangan Tuan Muda
Patah hati yang dirasakan Sena membuatnya berpikir bahwa semua pria sama, Gadis berusia 24 tahun itu memutuskan untuk tidak mencintai lagi. Sena takut terluka untuk yang kedua kali.
Namun, kehadiran dua pria tampan Zac dan Evan yang tiba-tiba mengusik hidupnya. Membuatnya kalang kabut, ia kembali dihadapkan situasi sulit. Zac dan Evan berusaha untuk mencuri hatinya dengan segala cara.
Bagaimana sikap Sena dalam menghadapi kedua pria tampan itu? Apakah salah satu dari mereka berhasil membuat Sena jatuh cinta?
Temukan jawabannya di novel sequel Istri Kesayangan Tuan Muda ya. "Let Me Love You"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafasal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Bersalah
Sena memilih pergi dari ruang meeting tersebut, tentu saja ia tidak ingin mengambil resiko jika Tuan CEO itu mengatakan semua yang ia lihat di atap gedung itu. Yang ada itu hanya akan mempermalukan dirinya.
“Hah ... Bisa-bisanya dia membahas masalah itu di depan banyak orang, apa dia tidak tahu yang namanya privasi apa?” gerutu Sena saat sudah berada di depan kaca wastafel toilet.
Sementara di ruang meeting, Mei tiba-tiba mengatakan sesuatu hal yang membuat suasana berubah canggung.
“Tuan, kita juga kemarin siang tidak sengaja bertemu di Rumah Sakit. Apa Anda masih ingat?” ucap Mei dengan penuh percaya diri. Namun, Zac merasa tidak tertarik sama sekali menanggapi ucapan Mei.
“O, maaf ... aku ada telepon. Aku permisi dulu!” Zac beranjak dari kursi hidroliknya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Mei terlihat begitu malu karena tidak dihiraukan oleh Zac, semua yang berada di ruangan pura-pura tak mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Mei dan memilih sibuk dengan gadgetnya masing-masing.
🍁🍁🍁
Sepuluh menit berlalu Sena akhirnya keluar dari toilet. Namun, betapa terkejutnya ia ketika melihat ada seorang pria yang sedang berdiri di depan pintu masuk toilet wanita.
“Kenapa anda lama sekali Nona Sena?!” tanya Zac yang sudah menunggu dari beberapa menit yang lalu.
“Sa-saya? Ma-maaf Tuan, tapi apa yang Anda lakukan di toilet wanita?” tanya balik Sena yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
“O, aku sengaja berdiri di sini. Aku hanya ingin menanyakan dua hal kepada anda. Kenapa Anda seperti menghindariku? Apa aku sudah membuat kesalahan kepada Anda, Nona?” kali ini Zac bertanya dengan wajah serius. Membuat Sena harus memutar otak untuk menghindar darinya.
Gadis itu bergeming beberapa detik sebelum akhirnya kedua netranya beralih menatap sesuatu di belakang Zac, lalu ia menundukkan kepala seraya berkata, “Selamat siang, Tuan!”
Zac reflek menoleh ke arah belakang tubuhnya dan kesempatan itu tak disia-siakan oleh Sena. Gadis berhidung mancung itu berjalan pelan dan hendak meninggalkan Zac. Namun, Zac bukanlah pria yang mudah dibodohi. Ini adalah tipuan lama, bahkan ia pernah mendengar cara yang sama yang dilakukan mama Sarah ketika kabur saat diminta untuk bertemu papa Damian oleh Om Ben.
Dengan gerak cepat, Zac segera mencekal tangan Sena. Lalu menarik gadis itu tepat di hadapannya, tubuh mereka kini hanya berjarak satu jengkal saja. Membuat Sena membelalak tak percaya dengan posisinya saat ini.
Begitu juga dengan Zac, ia merasakan debaran jantungnya yang tiba-tiba berdegup lebih cepat dari biasanya. Debaran yang sudah lama tidak ia rasakan setelah kematian Marisa dua tahun silam.
Zac bahkan tak berkedip menatap wajah Sena. Kedua bola mata yang indah, hidung mancung yang terlihat begitu menawan dan bibir tipis yang seketika mampu membuat salivanya tercekat. Ia benar-benar merasakan hal aneh yang muncul dalam tubuhnya. Sebuah getaran yang sudah lama hilang setelah kepergian sang kekasih kini muncul lagi. Ada apa dengannya?
Sena merasa posisinya tak aman, ia memaksa agar Zac segera melepaskannya. Pria itu tersadar dan segera berucap, “Maaf!”
Gadis yang mengenakan blazer hitam dengan kemeja biru muda dan skirt hitam itu segera menunduk untuk menghilangkan rasa canggung di antara mereka, meskipun ia tak merasakan hal yang sama dengan Zac. Namun tak bisa dipungkiri, ia sedikit terpesona oleh ketampanan seorang Arzachel Robin Hutama.
Bohong jika ia tidak terusik oleh paras menawan seorang Zac, apalagi dengan posisi sedekat ini. “Sa-saya, permisi dulu, Tuan!” pamitnya seraya kembali menunduk dan berjalan terlebih dahulu ke ruang meeting.
Zac mengangguk, ia bergeming beberapa saat dengan mencoba menetralisir jantungnya dengan memukul pelan dadanya. Ia lalu mengalihkan pandangannya pada Sena yang terus menjauh darinya, sekali lagi perasaan aneh itu kembali muncul. Reflek ia menggeleng untuk mencoba mengusir perasaan aneh tersebut.
Sena masuk ke dalam ruang meeting dan tak lama disusul oleh Zac, pemandangan janggal itu ditangkap oleh Mei. Mei menatap Sena dengan tatapan tak senang. Gadis itu terus mengawasi tindak tanduk Sena dan seolah tak membiarkan Sena luput dari pandangannya.
Rasa iri dan benci yang muncul dalam hati Mei perlahan ia tunjukkan sejak Sena dipilih menjadi ketua tim pada proyek besar ini, Sena yang selalu berada diatasnya itu merasa bahwa Sena tak pantas menerima semua ini. Ia yang seharusnya di posisi Sena.
Seperti kali ini, Mei merasa jika Zac lebih sering mencuri pandang pada Sena dibandingkan dengan dirinya. Pria itu bahkan tak ingin mengingat pertemuan tak sengaja dengannya kemarin siang saat di rumah sakit, padahal pertemuan itu adalah pertemuan yang tak akan pernah ia lupakan. Rasa kesal kepada Sena semakin menjadi, Mei bahkan tanpa sadar mengepalkan tangan karena begitu kesalnya dengan Sena.
Pertemanan mereka yang dulu begitu hangat dan menyenangkan, kini berubah menjadi rasa iri dan benci karena sikap Mei yang terus berusaha untuk menjadi lebih di atas Sena. Ia tak ingin melihat Sena disukai banyak orang, ia tak ingin melihat Sena lebih sukses darinya. Penyakit hati itu perlahan menguasai Mei dan membuat gadis itu menutup mata akan kebaikan Sena yang dulu sering ia terima.
🍁🍁🍁
Satu jam setelah meeting usai, Zac duduk di kursi kebesarannya seraya menatap pada pemandangan luar yang tampak di balik meja kerjanya. Bayangan Marisa yang masih terpatri dalam ingatannya tiba-tiba membuatnya merasa bersalah, ia merasa seperti sudah menduakan kekasihnya. Namun, di satu sisi ia juga tidak bisa mengelak dari perasaannya jika sosok Sena telah mampu mencuri perhatiannya.
Gadis yang baru tiga kali ia temui ternyata mampu mengusik hatinya yang kosong selama dua tahun terakhir ini. Senyum Sena yang sempat ia tangkap sesaat sebelum meeting selesai tadi bahkan tak hilang dari ingatannya, begitu manis sekali. Apalagi sikap gadis itu yang seolah terus mencoba menghindarinya, membuatnya semakin penasaran akan sosok seorang Sena.
“Ram!” panggilnya pada Rama yang sedang mengecek beberapa berkas penting.
“Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Rama seraya menghentikan aktivitasnya dan berjalan mendekat.
“Cari tau tentang Sena, gadis yang kita coba selamatkan saat ingin bunuh diri itu,” perintahnya seraya menoleh ke arah Rama yang tampak mendengarkannya dengan saksama.
Zac terus mengingat adegan di atap gedung itu, ia bahkan masih beranggapan bahwa Sena akan bunuh diri.
Rama mengulas senyum seraya mengangguk. “Baik, Tuan!”
“Terima kasih. O ya, apa jadwalku setelah ini? Aku ingin menjenguk Opa ke rumah sakit.”
“Hanya acara lunch bersama Tuan Daren, Tuan. Jika anda berkenan, bisa saya reschedule?”
“Iya, reschedule saja!”
“Baik, Tuan!”
....😘😘😘😘😘