Bagi Bara Mahendra, lima belas tahun lalu adalah malam jahanam yang merenggut segalanya. Di bawah guyuran hujan lebat, ia dipaksa menyaksikan kematian tragis kedua orang tuanya akibat sabotase keji.
Sebuah nama yang dibisikkan sang ibu sebelum mengembuskan napas terakhir melekat abadi di kepala Bara: Darma Amartya. Sejak detik itu, Bara bersumpah akan menukar masa mudanya demi satu tujuan tunggal—balas dendam.
Kini, Bara kembali sebagai pengusaha muda yang dingin, genius, dan penuh taktik. Baginya, kematian terlalu instan dan mudah untuk seorang Darma.
Pria tua itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih menyiksa, yaitu melihat permata paling berharga dalam hidupnya hancur berkeping-keping: Senja Amartya, putri tunggalnya.
Senja adalah perwujudan dari namanya sendiri, hangat, tulus, dan murni. Ia tidak tahu-menahu tentang dosa masa lalu sang ayah. Ketika perusahaan ayahnya berada di ambang kebangkrutan, Bara hadir layaknya seorang kesatria penyelamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benteng yang menolak Runtuh
Bara Mahendra melangkah mundur dari dinding kaca ruang ICU dengan rahang yang mengeras dan dada yang naik turun menahan emosi. Lembaran dokumen medis lama di tangannya diremas kuat hingga hancur. Kalimat Darma Amartya yang meluncur dari interkom memang sempat mengetuk celah di hatinya, namun kegelapan yang telah mengakar selama lima belas tahun menolak untuk kalah.
Bara tertawa sinis, sebuah tawa kering yang terdengar mengerikan di keheningan koridor rumah sakit. 'Kebohongan yang sangat rapi, Darma,' batin Bara, matanya menyipit tajam penuh kebencian. 'Kau menggunakan sisa napasmu dan cerita panti asuhan itu hanya untuk mencuci tangan. Kau ingin terlihat seperti malaikat di depan putrimu agar dia tidak membencimu.'
Ego dan dendam Bara terlalu kokoh untuk diruntuhkan oleh pengakuan sepihak dari seorang pria yang ia anggap sebagai pembunuh berdarah dingin. Bagi Bara, kebenaran tidak pernah berubah: Darma Amartya harus membayar setiap tetes darah orang tuanya, dan Senja akan tetap menjadi sandera untuk memastikan pria tua itu tersiksa di sisa usianya.
"Rian, urus kepulangan Senja," perintah Bara dingin saat asistennya mendekat. "Jangan biarkan dia berlama-lama di sini. Sandiwara pria tua itu sudah cukup untuk hari ini."
______________________________________________
Setelah hari itu, atmosfer di dalam penthouse kembali seperti sediakala. Bara kembali mengenakan topeng kaku sang predator dingin, angkuh, dan penuh kalkulasi bisnis. Ia bahkan sengaja membiarkan Olivia Wijaya tetap tinggal dan bertindak semena-mena di apartemennya untuk membuktikan bahwa posisinya tidak goyah.
Namun, ada satu hal besar yang berubah di rumah itu. Hal yang sama sekali tidak diduga oleh Bara maupun Olivia.
Senja Amartya tidak lagi lemah.
Setelah mendengar pengakuan langsung dari ayahnya di rumah sakit, seluruh rasa takut dan keputusasaan di dalam diri Senja lenyap tanpa bekas. Ia kini memegang kebenaran mutlak bahwa ayahnya bukanlah seorang pembunuh. Kesadaran itu bertindak layaknya baju zirah yang membuat jiwanya kebal dari segala intimidasi. Senja bersikap teramat tenang, santai, dan selalu siap membalas setiap jengkat serangan mental dari Olivia di depan mata Bara sendiri.
Sore itu, Olivia sengaja menumpahkan secangkir kopi hangat ke atas lantai dapur yang baru saja dibersihkan oleh Senja.
"Ups, tanganku licin lagi," ejek Olivia dengan tawa renyah, melirik Bara yang baru saja duduk di meja makan.
"Hei, pelayan. Cepat bersihkan ini. Lantainya jadi lengket karena kebodohanmu."
Senja yang sedang mencuci piring membalikkan badannya perlahan. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi pundak yang bergetar ketakutan. Senja melangkah mendekati Olivia dengan tatapan mata yang teduh namun sarat akan intimidasi yang elegan. Ia mengambil kain lap, lalu menyerahkannya tepat ke tangan Olivia.
"Jika tangan Nona Olivia terus-menerus licin setiap hari, saya sarankan Nona segera memeriksakan diri ke dokter saraf," ucap Senja dengan nada suara yang teramat lembut namun menusuk.
"Khawatir noda kopi ini tidak sekotor reputasi Nona yang suka merusak rumah tangga orang lain. Silakan dibersihkan sendiri, karena saya bukan pelayan dari wanita yang menumpang hidup di rumah suamiku."
"Kau...!" Olivia terbelalak, wajah cantiknya memerah padam karena murka. Ia langsung menoleh pada Bara.
"Bara! Lihat dia! Dia berani menghinaku lagi! Kenapa kau diam saja?!"
Bara yang sedang memegang cangkir kopinya membeku di tempat duduk. Jantungnya berdegup kencang. Ia mencoba memasang wajah dingin yang menyeramkan, namun sorot mata Senja yang beralih menatapnya dengan santai membuat lidah Bara mendadak kelu. Ada riak salah tingkah yang luar biasa yang harus ia sembunyikan di balik deheman beratnya.
"Senja, jaga bahasamu," ucap Bara ketus, sebuah pembelaan formalitas yang terkesan sangat lemah.
Senja hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh pemahaman yang membuat Bara kian salah tingkah.
"Saya hanya menjaga kebersihan rumah ini, Tuan Bara. Permisi." Senja membalikkan badannya dengan anggun, meninggalkan Olivia yang menghentakkan kaki karena frustrasi karena Bara tidak lagi bertindak kejam seperti dulu.
______________________________________________
Sementara itu, takdir tampaknya belum ingin menjemput Darma Amartya. Di luar prediksi tim medis, kondisi kesehatan pria tua itu berangsur-angsur membaik pasca masa kritisnya. Setelah beberapa minggu menjalani perawatan intensif, Darma akhirnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit.
Namun, Bara tidak membiarkan pria tua itu kembali ke rumah lamanya. Menggunakan kekuasaan dan finansialnya yang tak terbatas, Bara menempatkan Darma di sebuah rumah terpencil di pinggiran kota yang dikelilingi oleh pagar besi tinggi dan penjagaan ketat dari belasan orang suruhannya selama dua puluh empat jam penuh. Tempat itu tidak berbeda dengan penjara berkedok rumah mewah.
Sore itu, Bara datang berkunjung sendirian untuk memastikan tawanannya tidak memiliki akses ke dunia luar. Ia melangkah masuk ke dalam pekarangan rumah, menemukan Darma sedang duduk di kursi roda di bawah pohon rindang, menatap langit senja dengan tatapan yang teramat teduh.
"Kau pikir dengan mengurungku di sini, kau bisa menghapus kenyataan bahwa kau telah salah menilai keluargaku, Bara?" tanya Darma tanpa menoleh, suaranya terdengar lemah namun stabil.
Bara berjalan mendekat, berdiri menjulang di samping kursi roda Darma dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapan matanya sedingin es.
"Aku tidak butuh dongeng pengantar tidurmu, Darma. Kau berada di sini karena itu adalah tempat yang pantas untuk seorang pembunuh. Nikmati sisa napasmu di dalam sangkar ini, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu maupun Senja sampai dendamku lunas."
Darma tidak marah, tidak pula mendebat. Pria tua itu hanya menghela napas panjang, tersenyum pasrah dengan ketulusan yang mendalam. Ia menyadari, dinding kebencian di dalam dada anak sahabatnya ini terlalu tebal untuk ditembus dengan kata-kata.
"Aku pasrah, Bara. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan padaku," ucap Darma lirih, menoleh menatap langsung mata elang Bara.
"Tapi ingat satu hal... kau bisa mengurung fisikku dan fisik Senja di dalam sangkarmu. Tapi kau tidak akan pernah bisa mengurung hati putriku untuk terus menatapmu sebagai seorang pengecut yang ketakutan menghadapi cintanya sendiri."
Kalimat Darma sukses membuat rahang Bara mengeras seketika. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Bara membalikkan badannya dan melangkah pergi dengan gusar, meninggalkan pekarangan rumah tahanan itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Rantai dendam yang ia pasang kini terasa kian membingungkan, mengunci dirinya sendiri di antara keangkuhan masa lalu dan keteguhan Senja yang kini tak lagi bisa ia hancurkan.
Bersambung