"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR
Malam kembali menyelimuti kediaman keluarga Al-Idrus dengan sunyi yang berbeda. Sunyi yang tidak biasa.
Tidak ada suara motor Zaid yang meraung di garasi. Motor Ninja-nya yang biasanya dipanaskan dulu sebelum masuk.
Tidak ada suara Umi menyetel pengajian murattal di ruang tengah. Tidak ada suara piring di dapur.
Hanya ada angin malam yang menabrak jendela kaca dengan pelan. Dan langkah Zaid yang berat menaiki anak tangga satu persatu. _Duk. Duk. Duk._
Tubuhnya remuk. Benar-benar remuk.
Bahu pegal karena seharian kuliah dan praktikum struktur.
Kepala pening karena urusan geng yang belum selesai. Ada masalah dengan pangkalan. Ada anak baru yang bikin onar.
Satu-satunya yang ia inginkan malam ini hanyalah satu: merebahkan diri di sofa kulit coklat kesayangannya.
Sofa itu sudah jadi benteng terakhirnya. Garis demarkasi. Garis pemisah yang jelas antara dunia kelam miliknya yang penuh asap rokok dan luka, dan dunia suci milik Khadijah yang penuh mushaf dan sajadah.
Tangan Zaid memutar gagang pintu. _Klek._
Dan ia mematung di ambang pintu.
"Lho? Mana sofanya?" gumamnya pelan. Nyaris tidak percaya. Seperti orang yang pulang ke rumah dan mendapati rumahnya hilang.
Ruangan itu kosong. Terlalu kosong.
Hanya ada ranjang besar di tengah dengan seprai putih polos dan dua bantal.
Tidak ada sofa. Tidak ada selimut tambahan di lantai. Tidak ada bantal guling yang biasa ia peluk.
Tidak ada tempat untuk ia lari.
Di sudut kamar, Khadijah yang baru saja selesai merapikan mukenanya juga tampak terkejut. Ia baru selesai shalat Isya. Matanya yang teduh membesar di balik cadar. Ia meremas ujung mukena putihnya gugup. Sampai kusut.
"Tadi sore beberapa orang suruhan Abi membawanya keluar, Zaid," katanya pelan. "Saya ingin melarang, tapi..." Suaranya tertahan. Seperti takut salah bicara. Takut disalahkan.
Belum selesai kalimat Khadijah, suara lain memotong dari ambang pintu. Tegas. Berwibawa.
"Umi yang buang."
Umi Syarifah berdiri di sana. Dengan mukena ungu dan sajadah masih di tangan. Tatapannya tidak bisa dibantah. Dagunya terangkat tinggi.
"Umi lelah melihat anak laki-laki Umi tidur meringkuk seperti kucing di sofa setiap malam. Punggungmu pasti sakit. Hati Umi juga sakit lihatnya."
Ia melangkah masuk. Wangi melati dari mukenanya menyebar. Ia menatap ranjang itu lama. Ranjang pengantin. Lalu menatap Zaid dan Khadijah bergantian. Menimbang.
"Umi ini sudah tua, Zaid. Umur Umi sudah 55. Teman-teman Umi, kalau kami bertemu di pengajian atau arisan, yang dibicarakan selalu soal cucu. 'Cucu saya sudah bisa jalan', 'Cucu saya sudah mulai bicara', 'Cucu saya hafal juz 30'. Sementara Umi? Umi cuma bisa diam dan senyum."
Ia menarik napas.
"Umi ingin lihat kalian akur. Umi ingin lihat rumah ini rame. Sofa itu penghalang. Dan Umi tidak butuh penghalang di rumah ini."
Tok.
Pintu ditutup rapat dari luar. Tanpa banting. Tapi tegas.
Tinggal mereka berdua. Dan keheningan yang menyesakkan dada. Yang beratnya bisa membunuh.
Zaid menghela napas panjang. Panjang sekali. Rahangnya mengeras sampai sakit. Dengan gerakan kaku dan penuh kesal, ia naik ke atas ranjang. _Krek._ Kasur berderit pelan. Ia memilih sisi kiri. Paling ujung. Sejauh mungkin dari sisi kanan. Seolah ada jurang di tengah.
Khadijah mengikutinya dengan hati-hati. Ia duduk di tepi ranjang dulu. Lama. Berdzikir pelan di dalam hati. _Bismillah._ Baru kemudian berbaring di sisi kanan. Kaku. Jarak di antara mereka cukup untuk muat satu orang lagi. Bahkan dua.
Tebal. Keheningan di antara mereka terasa setebal tembok beton. Sampai-sampai suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu menghantam dada. Tik. Tak. Tik. Tak.
Zaid menoleh sedikit. Dari sudut matanya ia melihat Khadijah berbaring membelakanginya. Punggungnya kaku. Tegak. Hijab tidurnya masih lengkap. Cadar tipisnya masih menutup rapat hingga ke leher. Bahkan untuk tidur pun ia "bersembunyi". Bahkan di ranjangnya sendiri.
Dada Zaid mendadak sesak. Entah karena AC yang terlalu dingin, atau karena hal lain.
Gadis ini sudah kehilangan calon suaminya. Sudah dipaksa menikah dengannya. Sudah dipaksa meninggalkan rumahnya. Dan sekarang... bahkan di kamarnya sendiri, di ranjangnya sendiri, ia tidak boleh melepas perisainya?
Rasa bersalah menggerogoti.
"Khadijah?" panggil Zaid pelan. Suaranya serak. Pecah di tengah malam. Seperti orang yang lama tidak bicara.
Khadijah tersentak kecil. Bahunya bergerak. "Iya, Mas Zaid?" jawabnya lirih. Suaranya bergetar samar. Hati-hati.
Zaid menatap langit-langit. Tangannya terlipat di bawah kepala. Jantungnya berdebar tidak karuan. Entah kenapa. Gugup.
"Apa kamu... betah tidur dengan cadar seperti itu? Gerah nggak? Sesak nggak?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Tanpa saringan. Tanpa pikir. Tanpa strategi.
Ia tidak mengerti. Ia hanya merasa aneh. Merasa bersalah. Merasa seperti sedang memenjarakan seseorang di dalam rumahnya sendiri. Seperti sipir.
Ia menunggu jawaban. Sedetik. Dua detik. Tiga detik.
Tapi rasa penasaran itu kalah oleh lelah yang menghantam. Bahu yang pegal. Mata yang perih karena kurang tidur tiga hari. Otaknya yang sudah terlalu bising seharian oleh suara mesin dan teriakan.
Tanpa menunggu jawaban Khadijah, tanpa mau tahu apakah istrinya itu merasa sesak atau nyaman, Zaid memejamkan mata rapat-rapat. Melarikan diri.
Dan bodohnya, hanya dalam hitungan detik, napasnya teratur. Dalam. Ia tertidur. Tertelungkup. Meninggalkan pertanyaan yang menggantung di udara dan satu hati yang kebingungan.
Khadijah masih terjaga.
Ia menoleh perlahan. Sangat pelan. Menatap punggung lebar Zaid yang kini tertidur pulas. Napas pria itu dalam dan tenang. Tidak ada dengkur. Hanya teratur. Berbeda sekali dengan napasnya yang tertahan sejak tadi.
Pertanyaan Zaid tadi... 'Apa kamu betah?'
Terasa seperti kepedulian. Canggung. Kaku. Tapi tulus.
Untuk pertama kalinya sejak akad seminggu yang lalu, ada yang bertanya padanya apakah ia "betah". Bukan "kamu harus". Bukan "ini kewajiban". Tapi "betah".
Tapi pria itu keburu pergi ke alam mimpi sebelum ia sempat menjawab. Sebelum ia sempat bilang "agak sesak, Mas. Tapi saya sudah terbiasa."
Air mata Khadijah menggenang di balik cadar. Panas. Ia mengusapnya cepat-cepat dengan ujung mukena agar tidak meninggalkan noda.
"Saya hanya mencoba menjaga amanah, Mas," bisiknya sangat pelan pada gelap. Pada punggung Zaid. "Amanah dari almarhum Kak Farhan. Amanah dari Allah. Dan... amanah untuk tidak melukai hati Mas. Untuk tidak menuntut lebih."
Ia menarik selimutnya sampai ke dada.
Ranjang yang tadinya luas, malam ini terasa jauh lebih sempit. Pengap.
Bukan karena jaraknya yang hanya 50cm.
Tapi karena di antara mereka, benteng terakhir... sudah benar-benar lenyap.
Sofa itu hilang. Dan sekarang, yang tersisa hanya ranjang. Satu ranjang. Satu selimut. Satu atap.
Dan dua orang asing yang dipaksa oleh takdir untuk belajar tidur berdampingan.
Di luar, angin kembali menabrak jendela.
Di dalam, dua hati yang sama-sama terluka, mulai berdenyut dengan irama yang entah kapan akan sama.