NovelToon NovelToon
Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Menjalankan sebuah pernikahan rahasia dan dengan terpaksa pula, tidak pernah ada dalam bayangan Aura Aneshka. Ia hanya memimpikan untuk membina
rumah tangga yang sederhana dengan seorang lelaki yang sholih dan bertanggung jawab. Tapi semua impian yang sudah tampak di depan mata itu hancur berantakan ketika pemilik kekuasaan di tempatnya bekerja masuk begitu saja dalam kehidupannya dan mengacaukan hari-harinya.

Damaresh Willyam, penguasa tertinggi PRAMUDYA CORP. Tak pernah tau kalau akibat perbuatannya mengikat Aura Aneshka dalam pernikahan yang hanya di maksudkan untuk menunjukkan kekuasaannya pada bawahannya yang di anggapnya terlalu pembangkang itu, justru membawanya pada masalah baru yang tak pernah ingin di temuinya selama ini. Yaitu cinta.

Dapatkah sebuah ikatan yang awalnya hanya di maksudkan untuk permainan itu, menjadi sebuah ikatan yang sebenarnya.
Bagaiamana jika pada akhirnya, Damaresh harus memilih antara cintanya atau tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8. Ada Apa Dengan Damaresh...

"Bapak.." Aura hampir membulatkan matanya melihat

mahluk tampan tanpa senyum itu berdiri di depan pintu rumahnya sepagi ini. Aura bahkan belum selesai membuat sarapan pagi ketika pintu rumahnya di ketuk-ketuk, berhubung ayahnya masih melakukan shalat Dhuha, maka Aura bergegas membuka pintu, dan lihat apa yang di dapatkannya. Tamu yang tak di undang, yang tak pernah terpikirkan akan datang, justru berada tepat di hadapannya sekarang.

"Aku boleh masuk?" Mengabaikan keheranan Aura, Damaresh nyelonong begitu saja kedalam rumah itu padahal Aura juga belum menyetujui permintaannya.

"Mau apa bapak kemari?" tanya Aura, pertanyaan yang tak bersahabat, karna ayahnya pasti tak akan suka ada tamu laki-laki datang kerumahnya untuk menemuinya.

"Menjemputmu." sahut Damaresh singkat.

"Menjemput saya, untuk apa?"

"Untuk apa, ya untuk bekerja Arra, sudah cukup waktu liburmu. Dan acaramu juga sudah selesai kan?"

Aura tercekat, jadi ini maksud lelaki itu menelfhonnya semalam dan menanyakan acaranya. Tapi tindakannya datang ke rumah Aura begini juga tak dapat di benarkan. pikir Aura.

"Saya memang akan kembali pak, jadi bapak tidak perlu menjemput saya sendiri." Protes Aura. Dasar Aura tak tau terima kasih, ini pertama kalinya lho, seorang bos besar seperti Damaresh menjemput karyawannya langsung kerumahnya. Tidakkah ini suatu kehormatan bagi seorang Aura Aneshka. Yang paling pasti ingin juga di perlakukan begitu. Tapi Aura malah mempermasalahkan, pasalnya ia takut ayahnya akan salah paham. Karna sampai sekarang Lukman belum tau kalau putrinya tak lagi bekerja di L&D Foundation tapi di Pramudya Corp sebagai kacungnya CEO. Cuma bahasa kerennya saja Personal Asistant.

"Aku tidak sendiri." sahut Damaresh datar.

"Selamat pagi Aura." seseorang muncul di belakang Damaresh.

"Pak Kaivan?"

"Ia. Maaf mengganggu pagi-pagi." ujar Kaivan sambil melirik Damaresh

"Siapa tamunya Aura?" terdengar suara Lukman bertanya di susul munculnya ayah Aura itu dari ruang dalam dengan masih mengenakan kain sarung, baju koko dan berpeci.

"Eeh ini yah, anu.." Aura sejenak gugup.

Kaivan segera maju mengulurkan tangannya. "Saya Kaivan pak, dan ini pak Damaresh Willyam, atasannya Aura di kantor."

"Lho?" Lukman menerima uluran tangan Kaivan dan lalu Damaresh yang juga mengulurkan tangannya.

Setelahnya Lukman menatap Aura yang langsung tertunduk, entah apa yang akan di lakukan Lukman padanya, Aura sudah dapat merasa kalau ayahnya itu akan mempermasalahkan kenapa bosnya itu sampai datang kerumahnya.

"Kenapa tamunya tak di suruh duduk nak, mereka ini atasanmu lho!" Lukman justru mengingatkan.

Segera Aura menarik nafas lega. "Silahkan duduk Pak Damaresh, pak kai.."

"Aura bawakan minuman hangat untuk tamu kita ya."

titah Lukman setelah dirinya kini duduk berhadapan dengan Damaresh dan Kaivan. Aura mengangguk dan segera kedalam. Sekitar lima menit kemudian gadis itu datang lagi membawa tiga gelas teh hangat di atas nampan. Setelah menyuguhkan tehnya, Aura kembali hendak berlalu untuk menyelasaikan masaknya.

"Aura!" Lukman segera memanggilnya.

"Kau bersiaplah nak, Pak Damaresh dan Pak kaivan menjemputmu kemari karna beliau ada pekerjaan di kota ini yang harus kau lakukan juga." ujar Lukman.

Aura memutar bola matanya menatap ke arah Damaresh yang tampak diam bahkan tak melihat ke arahnya. Hanya Kaivan yang menatapnya dan tersenyum simpul. Ini benar atau hanya alasan saja di depan Ayah. Entah jurus apa yang mereka gunakan sehingga ayah terlihat mendukung mereka, Pikir Aura. Tapi Lukman adalah seorang yang memang suka memuliakan tamu sebagaimana anjuran baginda nabi.

"Tapi Aura bahkan belum selesai membuat sarapan untuk ayah." sahut Aura.

"Gak apa-apa nak, Ayah bisa menyelesaikannya sendiri." Lukman benar-benar memberi dukungannya.

"Tapi yah.." Aura memutus ucapannya begitu saja karna Kaivan yang memotong dengan perkatannya.

"Selesaikan saja dulu membuat sarapan, Aura. Kau kan juga perlu sarapan."

"Atau jika pak Damaresh dan pak Kaivan berkenan kita bisa sarapan bersama di rumah kami yang sederhana ini?" Lukman justru memberi tawaran dengan nada ramah. Terlihat Kaivan menatap Damaresh untuk meminta persetujuan bosnya itu.

"Gak usah Yah, pak Damaresh dan pak kai..." Lagi-lagi ucapan Aura yang belum selesai kembali terpotong dan kali ini oleh Damaresh.

"Ia. Terima kasih, kami bersedia sarapan bersama disini." ucap lelaki itu yang sesaat membuat Aura terpana, namun Lukman justru tersenyum senang.

"Alhamdulillah." Ia bahkan mengucap syukur. "Aura siapkan sarapannya ya nak!" titahnya kemudian pada putrinya yang masih berdiri mematung.

"Yaqin, bapak mau sarapan disini?" Aura menatap atasannya itu dengan pandangan menyelidik.

Damaresh hanya mengangguk kecil.

"Masakan saya tidak enak lho pak, tak seperti masakan di restoran bintang lima." Aura mencoba memprovokasi, apalagi tujuannya kalau bukan agar Damaresh membatalkan niatnya untuk sarapan disana.

"Kalau masakanmu seenak masakan di restoran ternama, tentunya kau sudah jadi cheff sekarang, bukan malah bekerja padaku." Sahut Damaresh santai sembari menatap Aura sekilas. Benar juga sihh.

Aura mengedikkan bahu dan segera berlalu kedalam,

Bukan karna ingin dapat gratisan kan Damaresh mau sarapan di rumahnya yang sederhana ini, lalu hal apa yang membuat lelaki itu mau menerima tawaran Lukman. Ada apa dengan Damaresh??

Aura masih bertanya dalam dirinya. Entahlah kenapa Aura bawaannya selalu suudzon pada Damaresh Willyam yang tampan badai itu. Namun tak urung iapun menyiapkan sarapan juga untuk tiga orang itu, sedangkan Aura memilih sarapan sendiri di dapur.

"Hati-hati nak, jaga diri baik-baik, batasi pergaulanmu dengan yang bukan muhrim ya!" Lukman mewanti-wanti begitu Aura berpamit dengan mencium tangannya. Dalam hati Lukman sebenarnya ingin putrinya itu tinggal di rumah saja, biar dirinya saja yang bekerja. namun ia juga tak dapat menolak permintaan Aura yang ingin membantunya memenuhi kebutuhan keluarga di saat kondisinya mulai sakit-sakitan seperti sekarang.

Gadis cantik itu mengangguk merasakan kekawatiran sang ayah, Aura tersenyum meyaqinkan.

"Insha-Allah yah. Jaga Aura dengan doa ya!" pinta Aura.

Lukman mengangguk, karna sebenarnya iapun yaqin kalau putrinya itu bisa menjaga diri.

Pria setengah umur itu menghela nafas begitu mobil mewah yang membawa Aura di dalamnya itu telah hilang dari pandangannya, seraya tersemat doa mudah-mudahan Allah menjaga putrinya disana.

Sebenarnya Lukman sengaja meminta Damaresh dan Kaivan sarapan bersama di rumahnya. Pertama karna ia

memang berniat menghormati tamu, kedua karna ia ingin memastikan jikalau ada hal-hal pribadi antara putrinya dan salah satu lelaki itu. Karna sangat mengherankan seorang Bos besar sekelas Damaresh sampai menjemput karyawannya kerumah.

Tapi sepanjang pembicarannya dengan Damaresh dan Kaivan tak terlihat ada hal apapun antara keduanya yang terlihat istimewa dengan putrinya. Damaresh malah terkesan acuh, beda dengan Kaivan yang sedikit terlihat lebih ramah.

Lalu ada apa dengan Damaresh??

******

"Kita langsung ke Mediatama Corp?" Tanya Kaivan dari depan ke arah Damaresh yang duduk bersisian dengan Aura di kursi penumpang. Mereka kini tengah ada di tengah kota Surabaya.

"Ke tempat Maureen dulu," sahut Damaresh sambil melirik Aura yang dari tadi sibuk dengan ponselnya bahkan ada kalanya gadis itu tersenyum sendiri.

Damaresh membiarkan saja Asistennya itu yang mungkin sekarang tengah kasmaran dengan calon suaminya. Damaresh tau kalau Aura sudah punya calon suami?, tentu tau lah. Ia dapat dengan mudah mendapatkan alamat gadis itu, tentu mudah pula baginya untuk mendapatkan info lain tentang Aura Aneska.

Dan Damaresh juga tau kalau Aura sekarang juga saling berkirim chat dengan calon suaminya?, tentu juga tau. Ingat, Damaresh itu IQ nya di atas rata-rata, rumus paling sulit saja mampu ia pecahkan, apalagi hanya untuk membaca expresi wajah gadis yang duduk tak jauh di sampingnya.

Aura terkejut mendengar ketukan di kaca samping mobil yang di dudukinya. Astaga, ternyata mobil sudah berhenti. Damaresh dan Kaivan sudah ada di luar mobil menunggunya turun. Apa saja yang di lakukan gadis itu dari tadi sampai t menyadari semuanya.

Aura segera turun dan melangkah mengikuti kedua lelaki di depannya yang sudah melangkah lebih dulu.

Mereka memasuki sebuah butik yang memiliki interior design begitu mewah. Hanya sesaat duduk menunggu di seat sofa, ketika seorang wanita yang terlihat sangat cantik menghampiri.

"Aresh..Kai..aku tak percaya kalian mampir kesini" sesaat mereka masih saling mengobrol akrab sepertinya mereka memang sudah lama kenal, atau justru sudah bersahabat sejak lama. Dan sesaat Aura pun menjadi sosok tak kasat mata di antara ketiganya,

Yang tak di lihat dan di anggap ada. Hingga lalu,

"Siapa?" Maureen memberi isyarat pada Aura.

"Kenalkan ren, ini Aura Aneshka. Aura ini Maureen sahabat kami berdua dari dulu." Kaivan yang memperkenalkan.

"Cantik dan anggun," puji Maureen setelah bersalaman dengan Aura seraya menatap penuh selidik pada Damaresh dan Kaivan.

"Maureen, tolong persiapkan dia dengan sesuai,"

Titah Damaresh segera mengabaikan tatapan Maureen.

"Untuk acara?"

"Menemaniku bertemu seseorang."

"Waktuku berapa lama?" tanya Mauren sepertinya dia sudah paham bagaimana karakter Damaresh.

"Kurang dari setengah jam."

"Ok, siap. Yuk Ra, ikut denganku." Maureen segera menggandeng tangan Aura yang sebenarnya masih ingin menanyakan beberapa hal pada Damaresh.

"Sudah lama kenal dengan Damaresh?" Tanya Maureen sambil merias wajah Aura setelah sebelumnya memilihkan beberapa baju untuk Aura, tentu saja baju yang sesuai dengan karakter gadis itu yang seorang muslimah berhijab.

"Belum dua minggu,"

"Wahh, jadi belum lama kenal!" Maureen berseru takjub, aneh menurut penilaiannya jika Damaresh memilih Aura untuk mendampinginya jika kenyataannya keduanya belum lama saling kenal.

"Sahabatku yang ajaib itu pasti punya ketertarikan tersendiri padamu, Ra" Maureen langsung menyampaikan penilaiannya.

"Tertarik apanya ya, mbak. Saya ini hanya kacungnya pak Damaresh saja." jawab Aura.

"Ahh, jangan panggil mbak, aku jadi berasa tua. Panggil Maureen saja," wanita cantik itu mengkibas-kibaskan tangannya sambil tersenyum.

"Ehh apa tadi kamu bilang, kacung?"

"Personal Asistant." sahut Aura ikut tersenyum.

Tepat seperti yang di pinta oleh Damaresh, belum setengah jam ia menunggu, Maureen sudah menghampirinya bersama Aura.

"Bagaimana hasil karyaku?" Maureen memberi isyarat pada Aura di sampingnya.

Damarest melihat Aura yang tampak begitu cantik dengan polesan make-up muslimah yang flawless di wajahnya di tambah lagi dengan pilihan outfite yang sesuai untuk seorang wanita berhijab yang bekerja di kantor.

Tapi Damaresh tak memberi penialaian apapun, ia hanya mengangguk, bagi Maureen anggukannya itu sudah cukup menandakan kalau lelaki itu puas dengan hasil kerjanya. Karna Damaresh memang bukan orang yang gampang memuji orang lain. Dia pikir hanya dirinya saja yang sempurna mungkin ya,

"Kai, kau urus semuanya dengan Maureen!"

Kaivan hanya mengangguk. Selanjutnya Kaivan dan Maureen menyaksikan Damaresh yang sedikit menarik tangan Aura untuk mengikutinya dimana gadis itu terlihat memberontak, dan di depan butik terlihat keduanya masih berdebat. Maureen melempar tatap tanya pada Kaivan yang hanya mengedikkkan bahu.

"Bapak mau ajak saya kemana?"

"Kau tidak dengar tadi ucapanku pada Maureen?"

Kebiasaan si Damaresh jika di tanya pasti balik bertanya, apa susahnya kalau langsung di jawab saja.

"Saya dengar. Tapi meskipun bapak atasan saya bukan berarti bapak bisa berbuat semaunya sama saya."

Aura sudah tiba pada puncak kekesalannya menghadapi bosnya itu. Ia mengajukan protes keras.

"Maksudnya?" Damaresh berlagak tak mengerti.

"Pak Damaresh menyuruh orang untuk mendandani saya tanpa minta persetujuan saya, bapak juga mau mengajak saya pergi tanpa bertanya saya mau atau tidak."

"Kamu sudah lupa ucapanku dulu ya?" Lagi. Jawabannya berupa pertanyaan balik.

"Apa?"

"Bahwa aku tidak butuh persetujuanmu untuk setiap keputusanku."

"Dan bapak juga tidak lupa jawaban saya dulu kan, jika persetujuan saya tidak di perlukan, artinya keberadaan saya juga tidak di butuhkan,"

Damaresh menghadapkn tubuhnya dengan sempurna pada Aura, menatap tajam gadis di depannya.

"Clara tidak memberitaumu ya, apa saja tugasmu sebagai asistenku?" Sepertinya Damaresh masih punya stock kesabaran terhadap asisten berhijabnya itu.

Sangat mengherankan dengan beberapa asisten sebelumnya yang justru lebih patuh terhadapnya ketimbang Aura, Tapi Damaresh justru tak punya stock kesabaran sama sekali terhadap mereka, hingga ia main pecat begitu saja karna sebuah kesalahan yang sebenarnya juga tak pantas di sebut kesalahan.

Ada apa dengan Damaresh??

"Salah satu tugasmu adalah menemaniku kemanapun aku mau, kemanapun. Termasuk, ..." Damaresh menggantungkan kalimatnya sambil tak lepas menatap lekat bola mata Aura. Ini adalah salah satu cara untuk mengintimidasi lawan bicaranya.

"Termasuk apa?" Aura mencoba bertanya tegas, meski jantungnya sudah kebat-kebit tak menentu, pasalnya bola mata pekat Damarezh itu bak anak panah yang melesat cepat menusuk ulu hatinya. Aiihh.

"Menemaniku kedalam kamar."

"Apa?" Aura membulatkan matanya. "Bapak jangan sembarangan. Saya hanya akan berdua dalam kamar dengan orang yang sudah membawa saya ke penghulu."

"Kalau begitu, kau pun harus menemaniku ke penghulu." ucap Damaresh dan segera berlalu ke arah mobilnya.

"Naik atau aku tinggal," Ancamnya pada Aura yang masih berdiri mematung.

1
Asmar Siahaan
terimakasih atas karyamu yang begitu indah semoga sukses selalu
Najwa Aini: Amiin..
Terima kasih kak..
total 1 replies
Asmar Siahaan
menggemparkan
Asmar Siahaan
makin seru
Asmar Siahaan
sangat mengharukan
Asmar Siahaan
ha ha ha ha
Asmar Siahaan
luwar bisa sangat brilian
Asmar Siahaan
ada ya suami seperti ini
Asmar Siahaan
mantap bos lanjut
Asmar Siahaan
lanjut bos
Asmar Siahaan
makin seru lanjut bosku
Hadyan Ghauzan
Luar biasa
Irfan Hidayat
aku suka ceritanya ga belibet kayak sinetron ikan terbang yang amat sangat membosankan.
Ayu Bunda
suka bgt karakter nya aura,,semangat terus berkarya thor💪💪💪
Wiens 0121
wih kerrren thor
Wiens 0121
saya suka baca y dah k brp kali saya baca ares dan arra ga bosan2 trus berkarya yg lebih bagus lagi semangat 💪💪
Uswatun Khasanah
Asli kek lagi nonton sinetron tapi lebih seru. Alurnya asik dan rapih bgt. Seru sih.
Siti Humaira
keren kak ceritanya aku udah baca beberapa kali tetap baper❤️❤️❤️❤️luar biasa KK 👍👍👍
Wiens 0121
ya habis 😂😂 aku tunggu cerita yg lainya tor
Wiens 0121
sedih 😭😭
Wiens 0121
seru banget sampe sport jantung aku baru baca ada novel sebagus ini lanjut kan karya karya mu ku tunggu cerita selanjut y 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!