Aku tidak menduga, Suami yang aku cintai selama ini ternyata bermain gila di belakang ku,
Rumah tangga ku yang kubangun dengan kokoh, harus hancur karena datangnya orang ke tiga dalam rumah tangga ku,
Dia berhasil merebut suami ku,
dan sampai dengan tega nya dia juga membuat ku harus berpisah,
penceraian yang tidak pernah aku fikirkan, tapi sekarang aku harus menerimanya.
Dan sayangnya..
Di saat aku ikhlas berdamai dengan keadaan, mencoba melepas semuanya, memulai hidup yang baru,
Cobaan datang kembali saat aku mengetahui aku hamil anak dari suamiku.
Haruskah aku menggugurkannya..???
Atau harus menerima semua ini dan melupakannya lagi..???
TIDAKKKK...!!!!
Aku bukan tuhan yang mempunyai sabar yang tinggi..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RuQi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Setelah selesai makan siang dan membayar tagihannya, Cerry berencana pergi ke perusahaan yang dulu untuk meminta menghapus data kerja nya saat di sana, mobil pun keluar dari tempat parkir restoran dan melesat langsung ke jalan raya,
Sedangkan di rumah Cerry, Angga dan Melisa sedang menikmati makan siang mereka yang terlewat karena tertunda dengan kegiatan mereka tadi bercocok tanam..
"Masakan kamu enak sayang" ucap Angga senang
"Kalo gitu setiap hari aku akan masakin masakan yang enak buat kamu.."
Melisa tersenyum karena ternyata Angga bodoh tidak bisa membedakan masakan restoran dan rumahan, Melisa juga bersyukur karena Angga yang bodoh ini lebih mudah di kelabuhi dari kebanyakan kekasih kekasih Melisa dulu,
Melisa tadi sudah memesan makanan banyak di restoran, menyimpannya agar nanti bisa Melisa panaskan kembali saat angga lapar, dia tidak ingin di cap istri yang tidak bisa memasak enak seperti Cerry, dia ingin terlihat lebih sempurna di mata Angga lebih dari Cerry,
Bibi di sana sebenarnya tidak suka dengan Melisa, melihat dulu majikannya Cerry tidak pernah memarahinya dan selalu berkata lembut pada semua pekerja di rumah ini, sekarang berbeda setelah datang majikan baru, dia selalu memarahi mereka dan mengancam akan memecat mereka saat mereka tidak menuruti kemauan Melisa,
"Kemana perginya mbak Cerry mas," tanya Melisa saat mereka duduk di ruang tv setelah makan,
"Ntah lah, aku tidak tau dia akan pergi kemana, biarkan saja dia di luaran sana,"
Angga sebenarnya juga penasaran kemana Cerry pergi tadi, Angga takut Cerry akan meminta mengambil alih perusahaannya, tapi bila Cerry memintanya pasti Angga akan di beritahu pengacaranya,
*****
Sekarang Cerry berada di gedung pencakar langit yang dulu dengan bodohnya sempat dia tinggalkan hanya karena Angga tidak suka dia bekerja, Cerry tidak menduga akan kembali kesini setelah 4 tahun,
"Semoga saja direktur mau menolong ku" Cerry menyakinkan menyemangati diri sendiri
Langkah kaki Cerry begitu anggun saat masuk keperusahaan yang dulu selama 3 tahun Cerry bekerja di sini, Cerry melihat sudah banyak perubahan di sini, yang dulunya hanya perusahaan kecil sekarang bisa menjadi sebesar ini, Cerry menyesal dulu kenapa dia berhenti dari sini di saat dulu ingin naik ke puncak, tapi menyesal juga tak akan merubah keadaan, yang terpenting sekarang membujuk direktur untuk mau menolongnya menghapus data pekerjaannya di sini,
Cerry berjalan ke arah resepsionis, untuk menanyakan keberadaan direktur
"Selamat siang ibu, bisa di bantu dengan Tina di sini,"
resepsionis menyambut Cerry dengan ramah,
"Mbakk..., apa pak direktur ada.." tanya Cerry
"Maaf ibu, apa sudah membuat janji.." tanya Tina kembali
"Belum, saya terburu buru kesini tadi, bisa buatkan jadwal bertemu hari ini"
"Sebentar ya Bu, saya coba tanyakan apa masih ada jadwal kosong direktur hari ini.."
Ceri mengangguk, dia berdoa semoga bisa bertemu direktur hari ini, karena bila tidak, dia mungkin akan pulang dan melihat pasangan hina itu lagi di rumahnya..
"Silakan menunggu di kursi itu dulu Bu, kami akan memberitahu ada atau tidak adanya jadwal direktur,"
Resepsionis sangat ramah di sana, Cerry kemudian duduk di tempat yang sudah resepsionis itu tunjuk, satu temannya lagi memberikan minuman kepada Cerry,
"Akak cantik, bisa antalkan Maudi beli esklim.." tiba tiba ada anak kecil berumur 4 tahun itu berbicara dengan nada cadelnya pada cerry dengan muka memohon..
Cerry kaget, dia tidak tau anak siapa ini, tiba tiba datang menghampirinya, dengan muka yang penuh dengan warna coklat dan rambut keritingnya yang di ikat 2, tapi ikatan 1 nya lepas dan menjadi berantakan, dengan senyum manis Cerry bertanya pada anak itu,
"Siapa namamu sayang.." Cerry melihat kekanan dan kekiri mencari cari anak siapa ini yang berkeliaran di gedung yang besar ini sendirian,
"Maudi, 4 tahun" jawab maudi polos
"Di mana orang tua mu, kenapa kamu sendirian di gedung yang besar ini.." Cerry mencubit pipi maudi gemas dengan pelan,
"Papa ada di atas sana jauhhh," maudi memberi tahu Cerry dengan nada cadelnya keberadaan papanya dengan menunjuk ke atas langit,
maudi ingin memberitahu Cerry bahwa papanya ada di atas gedung sana yang paling tinggi menyamai langit, namun Cerry beranggapan bahwa kedua orang tua maudi sudah meninggal sama seperti orang tuanya,
Cerry melihat sendu kearah anak kecil itu, dia berfikir betapa malangnya anak ini, mungkin dia tadi tidak sengaja masuk ke gedung ini, Cerry merasa iba pada maudi, anak kecil ini begitu polos, harus kehilangan orang tuanya begitu cepat,
"Tak apa sayang, papa sudah tenang di sana, ayo kakak belikan eskrim yang enak buat maudi, tapi maudi harus janji... ga boleh nakal.." Ucap Cerry
"Acikkkkkk" sorak maudi kesenangan