Rara Raina Sunjaya. seorang Nona besar di keluarga Sunjaya.
Rara tidak menyangka akan nasib hidup nya yang berakhir di sebuah pulau yang usia nya lebih dari ratusan tahun. pulau itu di kenal sebagai pulau vampier pada masa nya nanun setelahnya pulau itu di kenal sebagai pulau rindang dan sudah berabad-abad semua yang melewati pulau itu di larang mendekat atau memasuki pulau tersebut di karnakan setiap orang yang mendekati atau memasuki pulau, maka tidak akan bisa kembali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 7
Perjalanan menuju istana masih sangat panjang. Rara duduk Berhadapan dengan afkar di dalam kereta kuda sejak dari desa darah mereka tidak lagi saling bicara.
Rara bersandar di mulut jendela menikmati angin kecil yang sesekali menerpa wajah nya . rasa kantuk perlahan mulai menyerang nya.
Rara, berusaha tetap terjaga agar tidak tertidur mengingat ia sedang di dalam satu kereta kuda bersama seorang bangsa vampir.
Belum ada hitungan menit Rara menghilangkan kewaspadaan nya lantaran tak sanggup terus menahan kantuk hingga tanpa ia sadari mata nya terpejam lelah.
Afkar yang sejak tadi diam-diam memperhatikan pertahanan dan kewaspadaan Rara perlahan runtuh, hanya bisa menggeleng dengan senyum lucu.
"Gadis yang sangat waspada, lihatlah akhirnya ia menyerah dan tertidur!"
"Hmm..jika di lihat saat tertidur ia terlihat lebih cantik dan imut, andai saat terjaga juga terlihat seperti ini.. mungkin itu akan lebih bagus sehingga tidak akan merepotkan." afkar tertawa kecil memandangi wajah Rara yang terlihat lucu saat tidur.
.
.
perjalanan dari desa darah sudah lebih dari 30 menit tiba saat nya mereka melewati desa kutub yang penduduk nya mungkin lebih banyak dari klan siluman. namun kebanyakan dari klan siluman tunduk pada vampir terutama klan darah. demi keamanan, mereka tidak pernah berani mencari masalah dengan bangsa Vampir.
Selama melewati desa kutub semua berjalan tenang namun ketika mereka keluar dari perbatasan kutub, pengawal dan kusir tidak begitu memperhatikan jalan berbatu yang mereka lewati sehingga roda kereta menghantam batu besar yang tak terlihat di tepi jalan. guncangan kereta kuda membuat Rara yang sedang tertidur pulas hampir membuatnya terguling kebawah.
dan untung nya reflek afkar cukup cepat sehingga ia menahan tubuh Rara agar tidak jatuh.
ketika afkar akan membalikan rara ke posisi semula, kereta lagi-lagi terguncang sehingga afkar terhuyung ke arah Rara yang masih saja tertidur. Afkar tercengang ketika tangan nya menyentuh sesuatu yang lembut.. ternyata yang ia sentuh adalah melon kembar milik Rara sontak Afkar tersipu menarik diri.
kejadian yang baru saja ia alami membuat nya gugup . ini semua Karan kusir dan pengawal yang tidak baik melihat jalan,
"BODOH, PELANKAN KERTA KUDA NYA!" bentak afkar " Apa kalian tidak bisa membawa dengan benar! mata kalian di taruh mana, sampai tidak bisa melihat jalan yang rusak!" maki Afkar dengan sangat kesal.
"Maafkan hamba yang mulia pangeran, Kami bersalah!" jawab kusir dan para pengawal serentak.
Afkar tidak memperpanjang masalah kelalaian bawahan nya mengingat situasi nya saat ini yang tidak mendukung.
Afkar menyeka keringat dingin sebab kegugupan nya terhadap Rara.
Untung saja tidak jatuh,
Seperti nya Gadis ini sangat mengantuk dengan guncangan sebesar ini Saja ia tidak bangun? Haiss, tadi aku seperti menyentuh sesuatu yang besar dan lembut? benar-benar memalukan, jika gadis ini tau mungkin ia akan membunuh**ku dengan kekuatan yang ia miliki.
setelah kejadian itu.
Sepanjang jalan wajah afkar terus tersipu malu mengingat tidak sengaja nya ia menyentuh Melon besar milik Rara.
sesekali ia melirik Rara yang berganti-ganti posisi tidur dengan bebas nya di kereta yang sempit itu ia bisa tidur dengan nyenyak.
***
setalah lama di perjalanan akhirnya mereka sampai di istana kerajaan klan darah.
Afkar membangunkan Rara yang masih tertidur pulas. Afkar segera turun dari kereta kuda setelah membangunkan Rara dan di ikuti Rara yang masih belum sepenuh nya terkumpul nyawa di alam tidur.
"Eng.. udah Samapi ya?" guamm Rara menguap ngantuk.
"Selamat datang yang mulia pangeran afkar!" sambut serentak para pengawal memberi hormat pada afkar.
Rara tersentak membulatkan mata ketika melihat beberpa pria kuno berjejer sambil membawa senjata sedang membungkuk menyambut Afkar.
Rara tercengang menatap Afkar "Ka..kau seorang pangeran?!" tanya Rara gagap.
afkar hanya tersenyum kecil mengiyakan ucapan Rara, lalu berjalan masuk kedalam istana
di ikuti Rara yang berlari kecil lantaran takut di kelilingi banyak vampir dan hanya afkar tempat aman nya .
Astaga ternyata dia seorang pangeran! pantas aku merasa dia berbeda dengan kelima pria di hutan itu. saat aku melarikan diri dia tiba-tiba sudah ada di depan ku, apa mungkin kekuatan mereka akan lebih besar jika setatus nya semakin tinggi??
Mampus lah aku.. berapa kali aku menyinggung nya dengan perkataan kasar ku, bagaimana ini? semoga dia bukan vampir yang pendendam. ayah, ibu tolong aku. huhuhuhu..
Rara terlihat lesu dan putus asa lantaran terah menyinggung vampir kelas atas. bahkan sekarang dia sudah berada di sarang vampir itu, Rara hanya pasrah menunggu mati saja di hisap kering oleh Afkar.
Rara yang biasa nya bicara blak-blakan pada afkar sekarang seperti tikus dalam kandang,menciut takut setelah tau identitas besar afkar.
Bangunan istana kuno yang besar dan luas mencengangkan Rara ia memberi jempol betapa keren dan nyata nya saat ini ia bisa menyaksikan bangunan kuno ribuan tahun di depan mata langsung.
Setiap tempat di istana selalu ada penjagaan ketat sehingga membuat Rara gugup dan hati-hati lantaran sebagian yang ia temui menatap nya seperti makanan.
"Kita sudah Samapi!" seru Afkar, berhenti di pintu aula pertemuan. Rara mengamati pintu besar dengan ukiran kuno yang antik dia bahkan sempat berpikir menghargai pintu itu dengan harga tinggi jika di bawa ke dunia nya.
Afkar membawa Rara masuk saat pintu aula di buka lebar oleh salah seorang pengawal.
Rara tercengang melihat beberpa vampir yang memiliki aura dingin menatap nya dengan tajam, Lala memalingkan wajah dari tatapan mereka lalu ia menangkap sebuah kursi dengan ukiran mewah yang bisa di tebak kalau itu pasti adalah kursi pemimpin mereka. hanya saja Rara tidak melihat sosok nya di sana.
"Salam, pada paman ke dua dan paman ke tiga! Hamba ingin memberi hormat pada yang mulia raja Aidan Zeroun!" afkar membungkuk memberi hormat pada kedua orang tua yang duduk di sisi bawah singgah sana.
Rara yang datang dari dunia manusia tidak tau aturan kuno " Hay.. Paman, " sapa Rara dengan senyum ramah sebagai sapaan.
Para Paman dan vampir lain di dalam aula tercengang geram melihat ketidak hormatan Rara saat di istana.
"Bangunlah pangeran afkar! yang mulia Aidan sedang beristirahat petang nanti kau kembali lagi ke sini untuk memberi hormat! dan.. hmmm? apa gadis manusia yang ada di belakangmu itu adalah orang yang hari ini terdampar di pulau!? yang mulia sendiri khusus mengirim mu untuk membawanya Kesini?" ucap salah satu Paman menunjuk Rara dengan sinis.
Apa-apan orang tua ini? sinis sekali tatapanya memeng aku salah apa? jika bukan orang tua atau vampir sudah ku tantang berduel. sia-sia aku bersikap ramah tadi..
Rara memutar bola matanya saat ketua kedua itu menatap sinis padanya, hingga membuat mereka geram melihat reaksi Rara yang tidak takut sedikit pun, tapi sebaliknya malah mengejek.
"Benar paman! kalau begitu Hamba mohon undur diri untuk membawa nona Raina, beristirahat sebelum menemui yang mulia Aidan!" afkar dengan cepat mengalihkan kekesalan paman keduanya dan segera pergi membawa Rara meninggalkan aula .
"Kake Tua itu jutek sekali wajahnya! aku tidak suka dengan kake itu!"
"Haha.. Jika tidak suka maka pura-pura saja menyukai paman keduaku! agar tidak terjadi maslah, paman kedua memang orang yang dingin ia tidak banyak bicara! Lain kali jangan menyebutnya Kake tua, jika ia mendengar Akan marah!" afkar menghibur Rara dengan candaan nya.
"Yaya, aku menuruti kata-katamu untuk cari aman sebelum aku kembali ke duniaku! Tapi afkar apa kau.. Eh? Lihat pria besar itu menarik seorang gadis dengan kasar!" Rara mengalihkan ucap nya, saat melihat salah satu pengawal menarik paksa seorang pelayan.
" Mungkin pelayan itu melakukan kesalahan! lebih baik tidak ikut campur?"
"Gadis itu pelayan? tapi kenapa ia ditarik Paksa seperti itu? apa di sini tidak ada hukum? kenapa kau tidak menolongnya? aku tidak ingin ikut campur, tapi aku tidak suka jika melihat penganiaya'an di depan mataku!" cetus Rara ia menghujani Afkar dengan banyak pertanyaan.
"Itu.. mungkin sebaiknya kita tidak ikut campur masalah pelayan itu! di sini ada Hukum dari yang mulia Raja, aku yakin setiap hukum yang Di berikan oleh yang mulia Semua Adil dan benar! sekarang lebih baik aku antar kau untuk istirahat," Jawab Afkar canggung.
"Hah, baiklah. kau benar Aku tidak perlu ikut campur! pelayan itu adalah vampir dan vampir adalah mahluk yang kuat bukan? dia pasti bisa mengatasinya sendiri! tapi Bisakah aku melihat sebentar hukum di klan kalian!" Jawab rara santai.
afkar tidak bisa menolak gadis yang membuatnya sedikit terpikat itu, ia menuruti permintaan rara dan kembali melihat kedalam aula dari luar pintu.
Di dalam aula pengawal itu mendorong kasar pelayan wanita hingga tersungkur.
"Yang mulia ketua! pelayan ini telah lancang mengambil buah yang akan di hidangakan untuk yang mulia Raja Aidan! yang mulia raja sudah memerintahkan budak tidak tau diri ini untuk di hukum sesuai perintah dari yang mulia ketua," ucap pemimpin pengawal yang juga kaki tangan raja, dengan angkuh.
mendengar ucapan pengawal itu yang menyampaikan kesalahan pelayan itu yang hanya Karan sebuah buah sampai di perlakukan kasar seperti itu, Rara merasa jengkel melihat kesalahan sepele dan keadilan yang di berikan raja mereka.
Apa-apaan raja sialan itu menghukum pelayan hanya karna memakan buah milik nya, cih.. aku kesal sekali, agrhhh aku kesal tapi aku tidak berani membela, karna mereka kan vampir..
Rara menggertak gigi dengan sangat kesal melihat kedalam saat pelayan itu di Jambak kasar oleh pengawal yang membawa nya tadi.
"Sudahlah, aku kesal jika berlama-lama di sini.." ucap Rara, berlalu pergi dengan jengkel.
Afkar hanya menggeleng dengan senyum kecil melihat ada jiwa penolong yang besar di diri Rara, dan Afkar merasa tenang karna melihat Rara mengerti dengan situasi nya saat ini sehingga ia tidak ikut campur dalam urusan bangsa vampir.
"Hukum budak tidak tau diri ini dengan Seratus cambukan! setelah itu buang jasadnya ke jurang tapi.. sebelum membuangnya kau boleh memberi manusia tidak berguna ini ke penjara vampir agar darahnya di menjadi santapan tawanan vampir yang kelaparan!" Perintah ketua Kedua dengan sangat lantang suara nya sampai terdengar oleh Rara yang sudah beberpa langkah jauh dari aula, seketika langkah Rara terhenti ketika mendengar bahwa pelayan itu adalah manusi.
sifat Rara yang tidak suka penindasan membuat nya tak berpikir dua kali ia langsung berbalik kembali ke aula. ia melihat pelayan wanita itu sedang di penuhi luka lebam di wajah dan tubuh nya.
Dasar v**ampir tua sialan! dia menyiksa dengan kejam bangsa manusia, apa nya yang hukuman adil.
Rara menatap tajam ke dalam aula melihat betapa menyedihkan dan putus asa pelayan itu.
pengawal yang sudah menerima perintah, langsung mencambuk gadis pelayan dengan tertawa puas. gadis pelayan itu merintih kesakitan memohon pengampunan yang sia-sia,
Rara tidak bisa menahan amarah nya Lagi.
"Rara, jangan ikut campur dia hanya seorang pelayan!" afkar menahan tubuh Rara yang saat itu akan masuk ke dalam aula.
Rara tidak senang mendengar kalimat afkar yang menganggap nyawa manusia tidak lah penting bagi nya yang seorang vampir " Dia sebangsa dengan ku, kau yang seorang vampir mana mengerti ikatan era kami sebagai sesama manusia!" balas Rara menepis sinis.
"Tapi kau tidak bisa ikut campur, ini sudah keputusan raja. jika yang mulai tau hukuman yang ia turun kan di bantah dia akan sangat marah dan mungkin kau bisa di.."
"Di bunuh! heh.. aku tidak takut dengan itu sekarang, menolong korban penindasan lah yang aku utamakan. jika mati di tangan raja sialan itu aku tidak peduli, " cetus Rara, bicara kasar dengan keras kepala.
Afkar Sampai tersentak kaget ketika Rara berani memaki pemimpin klan pemburu dengan enteng nya membuat afkar panik melihat sekitar takut ada yang mendengar dan mengadukan perkataan Rara yang mungkin akan lebih runyam lagi nanti nya.
Rara berjalan masuk mendekati pengawal yang sedang mencambuk gadis pelayan itu dengan menggila.
"Hahaha.. nikmati sisa hidup terakhir mu ini manusia bodoh, ini adalah cambuk terkahir yang akan mengantar kematian mu!" Pengawal itu menyalurkan sedikit kekuatan sihir dalam cambuk nya agar kekuatan pukulan nya lebih besar.
Syut.. tak.. rara menangkap cambuk dengan tangan kosong lalu menahannya.
"Hey.. pengawal bodoh kau pikir di cambuk tidak sakit, aku akan tunjukan padamu bagaimana rasanya di cambuk!" Rara menarik keras cambuk hingga terlepas dari tangan pengawal itu.
"Siapa kau? jangan ikut campur dengan masalah ini jika tidak ingin mati. " Ketus pengawal meremehkan.
"Heh.. vampir sombong!"
CETAK.. Rara mencambuk dengan sekuat tenaga tubuh besar pengawal itu hingga si pengawal terhempas jatuh menerima cambukan yang sangat kuat padahal yang mencambuk nya adalah seorang gadis lemah namun kekuatan tersalur di cambuk sangat lah besar sehingga tidak bisa menahan nya.
BERSAMBUNG..
be like gw yang udah baca ni novel 3× 🗿