'Ternyata mencintaimu, bagai duri dalam daging'
Saat keperawanan menjadi penghalang terbesar untuk kelanjutan hubungan Mega dan Damar. Mega yang memiliki masalalu yang kelam karena kebodohannya sendiri terlalu mempercayai seorang laki-laki yang jelas-jelas tidak memiliki rasa cinta terhadapnya.
Mega yang selalu berusaha merahasiakannya dari Damar, hingga akhirnya Damar mengetahui tentang keadaan dan masalalu Mega melalui laki-laki yang telah merusak Mega 2 tahun silam.
"Aku cinta kamu, tapi.... aku tidak bisa," ucap Damar.
Bagaimanakah kehidupan Mega selanjutnya setelah ditinggalkan oleh Damar? Akankah Mega menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StrawCakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADU MULUT
Di saat ini aku menyendiri
Ditemani rasa kebencianku
Padamu yang pernah aku cinta
Begitu besarnya sesalku padamu
Tak mungkin terhapus walaupun kau pinta
Karena pernah kau anggap
'Ku manusia yang hina
Satu hal yang bodoh
Bila 'ku memikirkanmu
Bila 'ku mencintaimu
Alangkah bodohnya aku
Satu hal yang bodoh
Bila 'ku merindukanmu
Dan bila kembali padamu
Betapa naifnya aku
🎶(Satu Hal Yang Bodoh_Rossa)
********
Hari terakhir class meeting di SMA ini sangat meriah dengan berbagai macam dekorasi yang telah terpasang di seluruh depan kelas. Kendati pihak sekolah akan menyelenggarakan hiburan untuk seluruh murid yang baru saja selesai melaksanakan ujian akhir semester di hari ini.
Mega baru saja tiba di sekolah. Ia turun dari mobil yang kemudian berjalan memasuki gerbang sekolah. Kali ini Mega tidak masuk melalui pintu lobby, melainkan melewati jalan lain yang berada di samping laboratorium. Saat ia hendak belok ke arah kelasnya, tidak sengaja ia mendengar suara Bimo dari balik dinding yang terdengar sedang marah kepada Sahrul. Mega berjalan dengan hati-hati lalu berhenti dibalik dinding itu.
"Sumpah gue sudah muak berteman baik sama cowok kayak lo! ini uang dua puluh juta yang lo pinta dari kemarin. LUNAS dan gue harap lo tidak mempermainkan wanita lagi selain kepada Clarissa dan juga Mega!" bentak Bimo yang sudah naik pitam seraya memberikan uang taruhan itu kepada Sahrul.
"Haha! terlalu pengecut lo jadi cowok!" celetuk Sahrul. Seketika membuat Bimo yang tadinya masih menahan untuk tidak brutal, akhirnya ia melayangkan satu buah bogeman pada pipi Sahrul.
BUG!!
Mega memejamkan matanya saat ia mendengar suara hantaman yang cukup keras itu. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ya Tuhan ... apa Sahrul berulah lagi? sampai-sampai teman terdekatnya bilang seperti itu?
"Cih! lo itu tidak usah munafik, Bim! lo juga sama Clarissa sudah melakukannya, bukan?" Sahrul berdesis sambil mengusap pipinya yang ia rasa memar. "Kita itu sudah sama-sama merasakan Clarissa. Jadi ya sudahlah, kita impas!" pungkas Sahrul dengan santainya.
"Sekali lagi gue tekankan sama lo! Kalau gue sama Clarissa tidak pernah melakukan hal sekeji itu! Malam itu Clarissa melakukannya dengan orang lain, bukan sama gue!" ungap Bimo sambil menekankan kata-katanya.
"Apa? hahaha ... " Sahrul menggeleng tidak percaya. "Bukankah kalian sudah ke kamar lebih dulu?" tanya Sahrul yang semakin tidak percaya.
"Hahaha ... " Bimo kemudian tergelak dengan tawanya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sahrul, Sahrul lo pikir gue inu cowok macam lo apa, hah? walaupun gue korban perceraian dari kedua orangtua gue, tapi gue menghormati wanita sebagaimana mestinya. Tidak seperti lo!" papar Bimo sambil mendorong pelan dada bidang Sahrul.
Sementara itu Sahrul hanya mematung sambil menatap Bimo dengan kedua mata yang mulai memerah. "Gue tekankan sama lo untuk yang terakhir kalinya! cukup hanya Mega yang sudah lo rusak dan lo tinggalkan begitu saja! tidak dengan Clarissa! bertanggung jawablah jika dia hamil anak lo!" sambung Bimo sambil tersenyum pongah kemudian pergi dari hadapan Sahrul.
Mega sangat terperangah saat ia telah mendengar semuanya. Keputusan yang ia ambil untuk mengakhiri hubungannya dengan Sahrul sangat ia syukuri.
Setelah ia rasa tidak ada lagi suara yang ia dengar dari balik dinding itu, Mega akhirnya keluar dari persembunyiannya. Tak disangka, ia berpapasan dengan Sahrul.
Mata Mega membelalak saat matanya berpapasan dengan mata Sahrul. Tak ingin berlama-lama, Mega akhirnya pergi dari sana tanpa mengucap satu patah katapun kepada Sahrul.
"Mega, tunggu!" teriak Sahrul namun tidak dihiraukan oleh Mega yang memilih terus berjalan menuju kelasnya.
Sementara Sahrul berdecak kesal.
Salah gue! sudah meninggalkan wanita yang sangat tajir di sekolah ini! bagaimana caranya ya biar dia mau balikan lagi sama gue?
Kemudian Sahrul ingat akan kartu memori yang sempat ia ambil dari dalam ponsel yang diambil oleh laki-laki malam itu. Iapun langsung tersenyum menyeringai.
*****
Di kelas Mega, dirinya seperti telah melihat makhluk tak kasat mata, wajahnya tampak pucat. Pinkan yang melihatnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Mega, kamu kenapa? kok wajahnya pucat begitu?"
"Ah, tidak Pinkan. Biasa aku melihat anjing itu lagi."
"Aku belum pernah melihatnya di sekolah ini. Aku kok semakin penasaran ya."
"Sudah, jangan penasaran. Nanti juga kamu akan tahu sendiri."
Pinkan tidak ingin membahasnya lagi. Tiba-tiba suara musik pun mulai berbunyi. Begitupula suara Gunarto yang mulai terdengar.
"Selamat pagi semuanya! Pengumuman, untuk semua murid harap berkumpul di lapangan utama. Sebentar lagi acara akan dimulai!"
"Mega, kita ke sana yuk!"
Mega mengangguk lalu mereka pun pergi ke lapangan utama.
Bintang tamu pada acara ini merupakan artis papan atas. Para murid dan juga guru sangat excited dengan acara ini.
Terlebih saat bintang tamu naik ke atas panggung megah itu. Sama halnya seperti Pinkan, ia bahagia bisa tertawa serta berteriak bersama dengan Mega. Teman satu meja selama satu tahun setengah ini.
****
Sore pun tiba, Mega merasakan tubuhnya yang kurang nyaman karena merasa sangat lengket. Ia langsung bergegas mandi dan berendam di dalam bathtub.
Setengah jam berlalu, dirinya telah selesai mandi dan juga memakai pakaiannya. Perutnya tiba-tiba merasa lapar. Iapun akhirnya keluar dari kamar untuk makan.
Semenjak ayah dan ibunya pergi menemui sang nenek di Belanda. Jam makan Mega tidak beraturan. Namun, Surti tetap memastikan kalau Nona Muda nya itu mendapat asupan yang bergizi.
Setelah makan, Mega pun memilih untuk pergi ke kamarnya dan menghabiskan waktunya untuk belajar hingga rasa kantuk menguasai dirinya.
*****
Di rumah Sahrul, matanya lagi-lagi diperlihatkan dengan adegan yang seharusnya tidak ia lihat karena kelakuan kedua orangtuanya yang bercinta tidak kenal tempat. Sahrul sangat geram, hingga ia tidak bernafsu untuk makan.
Sahrul yang telah merasakan nikmatnya surga dunia merasa ingin melakukannya lagi. Iapun mencoba menghubungi Clarissa untuk menyelesaikan urusannya.
"Cla ... I want you, now!" ucap Sahrul dengan suara paraunya saat Clarissa telah menjawab panggilan teleponnya.
"So?"
"Kita ketemu di club sekarang!" Sahrul memutuskan sambungan teleponnya padahal Clarissa belum menjawabnya.
Sedangkan Clarissa berdecak kesal karena Sahrul tidak pernah mendengar pendapatnya terlebih dahulu. Akhirnya mereka bertemu di club yang sama seperti Sahrul melakukannya dengan Mega.
******
Setibanya di club, Sahrul telah mengirimkan pesan kepada Clarissa untuk langsung ke kamar tempat ia berada sekarang. Saat Clarissa masuk ke dalamnya, dengan cepat Sahrul menariknya dan menjatuhkannya ke atas tempat tidur berukuran kingsize tersebut.
Sahrul menyentuh, memagut, serta menyesapi setiap jengkal tubuh seksi Clarissa. Sahrul yang sudah dikuasai gairahnya, mereka melakukannya lagi untuk ke sekian kalinya.
****
Beberapa bulan berlalu, saat ini Mega sedang mempersiapkan untuk ujian kenaikan kelasnya. Ia sedikit lega karena sampai saat ini tidak ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya.
Semakin hari Bimo semakin akrab dengan Mega. Sahrul mulai merasa tidak suka dengan keakraban Bimo dan juga Mega.
Kini, Bimo sedang duduk sendirian di teras depan kelasnya, Sahrul menghampiri Bimo yang kemudian duduk di sebelahnya.
"Bim, lo ada hubungan apa sama Mega?" tanya Sahrul yang tiba-tiba datang membuat Bimo kaget.
"Maksudnya?"
"Gue tidak suka kalau lo terlalu dekat dengan Mega!" sergah Sahrul dengan meninggikan sedikit nada bicaranya.
Bimo menghela napas panjangnya. "Mau gue ada hubungan dengan wanita manapun bukan urusan lo! lalu apa masalahnya kalau gue dekat sama Mega? jangan bilang cintamu datang terlambat untuk Mega?" sindir Bimo sambil mendesis.
"Kalau iya memangnya kenapa? Mega 'kan 'bekas' gue. Kenapa lo mau dekat-dekat dengannya yang notabene sudah 'bekas' sahabat lo sendiri?" papar Sahrul dengan percaya dirinya. Bimo mendesis kembali sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terlalu percaya diri! setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Apa karena Mega yang lo bilang 'bekas' lo itu membuatnya tidak layak untuk dekat dengan orang yang tulus berteman dengannya?" sindir Bimo membuat Sahrul mulai dikuasai amarah. Bimo menarik napas dalam-dalam. "Lo itu sudah menjadi bagian dari masa lalu Mega. Toh, dia juga sudah lupa tuh sama lo! lagipula lo 'kan sudah punya Clarissa," sambungnya sambil melipat kedua tangannya di dada.
Sahrul tidak bisa berkata-kata lagi. Ia memilih pergi meninggalkan Bimo di sana. Sementara Bimo hanya tersenyum simpul lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sahrul hendak pergi ke suatu tempat. Namun, tidak sengaja Sahrul berpapasan dengan Mega. Seketika ia langsung mematung ketika keduanya saling bertukar pandang.
Haduh kenapa ketemu dia sih! malas sekali aku.
Mega tetap berjalan melewati Sahrul begitu saja tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut keduanya.
Dia semakin cantik, bahkan tubuhnya seakan membuatku candu.
Sahrul tak henti-hentinya menatap punggung Mega hingga ia hilang dari pandangannya.
Sesampainya di kelas, ponsel Mega berdering. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku seragamnya. Tertera kontak nama sang ayah yang menghubunginya. Mega segera menjawabnya.
"Hallo, Ayah?"
"Hallo, Sayang. Kamu masih di sekolah?"
"Iya Yah, ada apa?"
"Sepulang sekolah langsung ke kantor om Fadil ya ... Ayah baru sampai rumah nih. Nanti kita langsung ketemu di sana ya, Sayang."
"Iya Yah."
Sambungan telepon pun terputus. Fadil adalah adik sepupu ayahnya Mega yang berprofesi sebagai pengacara. Ia bahkan telah memiliki kantor sendiri. Sekarang, Fadil menjadi pengacara untuk keluarga Lesmana.
Ada apa ya sama ayah? kenapa aku disuruh untuk ke kantor om Fadil? biasanya kalau ke sana itu saat ada urusan penting saja. Apa kali ini urusannya benar-benar penting?