Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Tanda Tangan di Balik Pengkhianatan
Pagi itu, Celine Wang tidak langsung membuka dokumen yang ditemukan di gudang Shengyuan. Ia duduk di ruang kerja Daniel Zhou, memandangi foto seorang pria bercincin keluarga Wu yang dikirimkan oleh nomor misterius malam sebelumnya.
Di samping foto itu, terdapat halaman perjanjian pengalihan aset dan rekaman suara yang diduga milik Shen Yiran.
Semua petunjuk mengarah pada satu pertanyaan: siapa yang menerima dokumen Shen Yiran sebelum William Wang meninggal?
Dan mengapa seseorang berusaha membuat Celine percaya bahwa Alexander Wu mengetahui jawabannya?
“Jangan terburu-buru menyimpulkan,” kata Daniel sambil meletakkan secangkir kopi di hadapannya. “Foto ini belum membuktikan identitas pria tersebut. Cincin keluarga Wu juga bisa dimiliki beberapa orang.”
“Aku tahu.”
“Tapi kau tetap memikirkan Alexander.”
Celine terdiam.
Daniel menghela napas. “Aku bukan memintamu mempercayainya. Aku hanya tidak ingin kau membiarkan orang anonim mengendalikan arah penyelidikan kita.”
Celine menatap foto itu sekali lagi.
“Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan,” katanya lirih. “Jika Alexander memang mengetahui sesuatu dan menyembunyikannya dariku, atau jika aku kembali mencurigainya hanya karena aku belum mampu melupakan apa yang pernah dia lakukan kepadaku.”
Daniel tidak langsung menjawab.
“Dua hal itu bisa sama-sama menyakitkan. Tetapi keduanya membutuhkan jawaban yang berbeda.”
Celine mengangguk pelan.
Ia mengambil ponselnya dan membuka percakapan dengan Alexander. Jarinya sempat berhenti di atas layar sebelum akhirnya ia mengetik pesan singkat.
Aku menemukan dokumen yang berkaitan dengan Shen Yiran dan malam kematian ayahku. Ada seseorang yang diduga menerima dokumen itu sebelum ayahku meninggal. Aku ingin tahu apakah kau pernah mendengar tentangnya.
Ia tidak menuduh. Ia juga tidak meminta Alexander menemuinya.
Beberapa menit kemudian, balasan masuk.
Aku akan memeriksa arsip pribadi keluargaku. Jika ada dokumen yang relevan, aku akan menyerahkannya kepada Daniel. Aku tidak akan meminta kepercayaanmu sebelum aku memiliki bukti.
Celine membaca pesan itu dua kali.
Ada bagian dari dirinya yang ingin merasa lega. Namun, bagian lain justru takut jika suatu hari ia benar-benar menemukan jawaban yang tidak bisa lagi ia sangkal.
Ia meletakkan ponselnya.
“Lanjutkan pemeriksaan dokumen,” katanya kepada Daniel. “Kali ini, kita harus menemukan siapa yang menandatangani perjanjian asli.”
Di kantor Wu Group, Alexander berdiri di depan lemari arsip pribadi ayahnya.
Sejak menerima pesan Celine, ia hampir tidak memikirkan hal lain. Ia meminta sekretarisnya mencari semua dokumen terkait transaksi 0917, perjalanan ke Hangzhou, dan pengalihan aset Shengyuan.
Namun, hasil pencarian awal justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.
Salah satu map berisi salinan perjanjian yang pernah ia lihat beberapa hari sebelumnya. Di halaman pertama tercantum tanda tangan William Wang, Victor Wu, dan Evelyn Zhao sebagai saksi.
Akan tetapi, di bagian bawah halaman terakhir, terdapat bekas potongan yang menunjukkan bahwa sebuah lembar tambahan pernah dijepitkan pada dokumen itu.
Lembar yang sama sekali tidak tercatat dalam arsip resmi.
Alexander membalik dokumen tersebut.
Di bagian belakang terdapat tulisan tangan ayahnya.
Jangan biarkan dokumen ini keluar dari keluarga sebelum Yiran ditemukan.
Alexander membaca kalimat itu berulang kali.
Shen Yiran.
Nama tersebut mengingatkannya pada sebuah percakapan samar ketika ia masih muda. Ia pernah mendengar Victor berbicara melalui telepon tentang seorang perempuan yang harus dipindahkan sebelum pihak berwenang mulai mengajukan pertanyaan.
Saat itu, Alexander menganggapnya sebagai persoalan bisnis keluarga.
Ia tidak pernah bertanya lebih jauh.
Dan kini, ia mulai menyadari bahwa ketidakpeduliannya mungkin telah membantu kebohongan itu bertahan selama bertahun-tahun.
Pintu ruang arsip terbuka.
Victor Wu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi keras.
“Apa yang sedang kau cari?”
Alexander tidak menyembunyikan dokumen di tangannya.
“Shen Yiran.”
Wajah Victor berubah sesaat, cukup singkat untuk luput dari perhatian orang lain, tetapi tidak dari putranya sendiri.
“Kenapa kau mengungkit nama itu?”
“Karena namanya muncul dalam dokumen yang berkaitan dengan kematian William Wang.”
Victor melangkah masuk dan menutup pintu.
“Alexander, ada urusan masa lalu yang tidak seharusnya kau buka kembali.”
“Kalimat itu terus kau ulang sejak Celine mulai menyelidiki kematian ayahnya.”
“Karena aku tahu apa yang akan terjadi jika semuanya terbongkar.”
“Kalau begitu, jelaskan.”
Victor menatap putranya lama sekali.
“Ada orang-orang yang harus dilindungi.”
“Siapa? Shen Yiran? Evelyn? Atau dirimu sendiri?”
Rahang Victor mengeras.
“Kau tidak memahami betapa rumitnya keadaan saat itu.”
“Kalau begitu, bantu aku memahaminya.”
Victor melirik dokumen di tangan Alexander.
“Serahkan dokumen itu kepadaku.”
Alexander tidak bergerak.
“Tidak.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya, Victor menatap putranya seolah sedang melihat seseorang yang tidak lagi bisa ia kendalikan.
“Kau akan menghancurkan keluarga ini demi seorang perempuan yang sudah menceraikanmu?”
Alexander merasakan amarah naik ke dadanya.
“Jangan gunakan Celine sebagai alasan untuk menghindari pertanyaanku. Ini bukan tentang apakah dia masih mencintaiku atau tidak. Ini tentang seorang ayah yang meninggal, seorang perempuan yang menghilang, dan dokumen yang sengaja dihapus dari sejarah.”
Victor memalingkan wajah.
“Jika kau terus melangkah, kau mungkin akan menemukan sesuatu yang tidak bisa kau perbaiki.”
Alexander menggenggam dokumen itu lebih erat.
“Kalau begitu, aku akan menghadapi akibatnya.”
Sore harinya, Daniel menerima dokumen digital dari Alexander. Setelah memeriksa nomor arsip dan membandingkannya dengan salinan yang mereka miliki, ia menemukan sebuah kejanggalan penting.
Halaman terakhir perjanjian ternyata memiliki nomor referensi yang tidak sesuai dengan urutan dokumen lainnya.
“Ini bukan sekadar halaman yang hilang,” ujar Daniel ketika Celine datang ke kantornya. “Nomor referensinya menunjukkan bahwa halaman tersebut pernah diganti.”
“Diganti oleh siapa?”
“Itulah yang belum kita ketahui. Tetapi tanda tangan pada halaman saksi mungkin bisa memberi petunjuk.”
Daniel memperbesar hasil pindai tanda tangan Evelyn.
Celine memperhatikannya dengan saksama.
“Ada yang berbeda.”
“Benar. Bentuk huruf terakhir pada tanda tangan ini tidak sama dengan tanda tangan Evelyn di dokumen lain yang kita miliki.”
“Apakah itu berarti tanda tangannya dipalsukan?”
“Belum tentu. Bisa jadi dia menandatangani dokumen yang berbeda, atau tanda tangannya diubah saat halaman itu diganti. Kita membutuhkan dokumen asli dan pemeriksaan ahli.”
Celine terdiam.
Selama ini, ia menganggap Evelyn sebagai orang yang sengaja membantu menyembunyikan rahasia keluarga Wu. Namun, jika tanda tangan itu memang dimanipulasi, kemungkinan ceritanya jauh lebih rumit.
Mungkin Evelyn berbohong karena bersalah.
Mungkin ia berbohong karena takut.
Atau mungkin seseorang sengaja membuatnya terlihat bersalah agar perhatian Celine menjauh dari pelaku sebenarnya.
“Bagaimana dengan nama penerima akhir aset?” tanya Celine.
Daniel menunjukkan sebuah nomor rekening yang berhasil dipulihkan dari salinan transaksi.
“Rekening ini sudah tidak aktif. Namun, catatan lama menunjukkan bahwa rekening tersebut terhubung dengan perusahaan investasi yang didirikan beberapa bulan sebelum kematian William.”
“Siapa pemiliknya?”
“Nama pemilik resmi tidak tercantum dalam arsip yang kita miliki.”
Celine mengusap keningnya.
“Jadi, kita masih belum tahu siapa yang menerima uang itu.”
“Kita tahu jalur pembayarannya. Itu sudah menjadi kemajuan. Jika kita bisa menemukan dokumen pembukaan rekening, kita mungkin dapat mengidentifikasi penerima manfaatnya.”
Daniel berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Ada satu hal lagi. Alexander menyerahkan dokumen ini tanpa meminta bertemu denganmu. Ia bahkan meminta agar semua komunikasi dilakukan melalui aku.”
Celine menatap meja.
“Aku tahu.”
“Apakah itu mengubah pendapatmu tentang dia?”
Pertanyaan itu membuat Celine terdiam cukup lama.
“Aku menghargai apa yang dia lakukan,” jawabnya akhirnya. “Tetapi menghargai seseorang tidak berarti aku harus kembali mempercayainya.”
Daniel mengangguk.
“Dan kau tidak perlu merasa bersalah karena belum bisa memaafkannya.”
Celine tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak mencapai matanya.
“Aku hanya berharap suatu hari nanti, memikirkan Alexander tidak lagi terasa seperti membuka luka yang belum sembuh.”
Malam itu, Evelyn Zhao menerima sebuah amplop tanpa nama di depan pintu apartemennya.
Ia membukanya dengan tangan gemetar.
Di dalamnya terdapat salinan halaman perjanjian yang selama ini ia yakini telah dimusnahkan. Tanda tangannya terlihat jelas, tetapi bagian bawah halaman telah diberi lingkaran merah.
Di sampingnya terdapat tulisan tangan singkat.
Sudah waktunya kau membayar harga dari tiga hari itu.
Evelyn mundur selangkah.
Ia mengenali dokumen tersebut.
Lima belas tahun lalu, ia memang pernah menandatangani sebuah pernyataan sebagai saksi. Namun, halaman yang sekarang berada di tangannya bukanlah halaman yang ia tandatangani.
Seseorang telah menggabungkan tanda tangannya dengan perjanjian lain.
Ia segera mengambil telepon dan menghubungi Victor.
“Ada seseorang yang mengirimkan dokumen kepadaku,” katanya begitu panggilan tersambung. “Mereka memiliki salinan halaman yang sudah diubah.”
Victor tidak menjawab selama beberapa detik.
“Jangan lakukan apa pun,” katanya akhirnya. “Jangan hubungi Celine. Jangan temui Alexander. Dan jangan membicarakan Shen Yiran kepada siapa pun.”
Evelyn tertawa getir.
“Lima belas tahun lalu kau mengatakan hal yang sama. Kau menyuruhku diam, lalu berjanji bahwa semuanya akan berakhir setelah Yiran pergi.”
“Evelyn—”
“Aku kehilangan hidupku sendiri untuk menjaga rahasiamu!”
“Jaga ucapanmu.”
“Tidak. Aku sudah terlalu lama diam.”
Evelyn menutup telepon.
Ia menatap halaman perjanjian itu, lalu mengambil foto lama Shen Yiran dari lemari besinya.
Ia pernah membantu perempuan itu meninggalkan Shanghai. Namun, ia tidak pernah mengungkapkan bahwa sebelum keberangkatan tersebut, Shen Yiran memintanya menyampaikan satu pesan kepada William Wang.
Pesan yang tidak pernah sampai.
Evelyn menggenggam foto itu erat-erat.
Jika Celine mengetahui bahwa ia telah menahan pesan tersebut selama lima belas tahun, tidak akan ada alasan yang cukup untuk membenarkan perbuatannya.
Namun, jika ia terus diam, orang yang sebenarnya bertanggung jawab akan kembali lolos.
Untuk pertama kalinya, Evelyn mempertimbangkan kemungkinan untuk mengatakan yang sebenarnya.
Menjelang tengah malam, Celine menerima pesan dari Alexander melalui Daniel.
Sebuah foto halaman dokumen menyertai pesan itu. Di bagian bawahnya terdapat kalimat tulisan tangan Victor yang sebelumnya tidak terlihat pada salinan lain.
Jika Yiran ditemukan, tanyakan kepadanya siapa yang menerima amplop dari William sebelum kecelakaan.
Celine membaca kalimat itu dengan jantung berdebar.
William bukan hanya berusaha menyerahkan bukti kepada seseorang.
Ia mungkin telah menerima dokumen dari Shen Yiran sebelum meninggal.
Atau, lebih buruk lagi, seseorang telah mengambil dokumen tersebut setelah kecelakaan dan menggunakannya untuk mengubah seluruh cerita.
Celine menatap foto ayahnya yang terletak di meja.
Selama ini, ia berjuang untuk mengetahui siapa yang telah merenggut ayahnya. Namun, sekarang ia mulai menyadari bahwa kematian William hanyalah satu bagian dari pengkhianatan yang jauh lebih besar.
Ia bisa saja menemukan nama pelakunya besok.
Ia juga bisa saja mengetahui bahwa orang itu adalah seseorang yang selama ini ia percaya.
Dan ketika hari itu tiba, ia harus memilih apakah akan membiarkan kebencian menguasai dirinya atau tetap berpegang pada keadilan yang sejak awal ia perjuangkan.
Celine menutup mata sejenak, lalu menyimpan dokumen itu.
Ia belum siap memaafkan siapa pun.
Namun, ia juga tidak akan menjatuhkan hukuman sebelum mengetahui seluruh kebenaran.
Sebab kini ia memahami satu hal yang lebih menakutkan daripada kehilangan orang yang dicintainya.
Ia takut menemukan kebenaran yang begitu menyakitkan, hingga membuatnya berharap bahwa semua kecurigaannya selama ini ternyata salah.