Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Matahari sudah menyinari langit kota jakarta pada pagi hari ini. Dimas membuka kedua matanya dan langsung memposisikan diri untuk duduk. Ia memegang kepalanya yang terasa sangat sakit, karena minuman yang di berikan kekasihnya semalam.
"Kepala gue kenapa ya? Sakit banget ya Allah, biasanya enggak kayak gini banget. Aduh, nih kepala kayak mau pecah," gumam Dimas.
Nadia mengetuk pintu kamar sebelum membukanya, ia masuk kedalam kamar sambil membawa air putih agar alkohol yang ada di tubuh suaminya menghilang sepenuhnya.
"Minumlah, supaya sakit kepalamu sedikit mereda kak," ucap Nadia.
Dimas hanya diam dan menatap istrinya yang tengah menyodorkan gelas yang berisi air putih. Ia pun mengambil air tersebut, kemudian melemparkan ke arah dinding kamarnya.
"Udah gue bilang, gue enggak mau meminum atau memakan yang Lo buat dan yang Lo bawa!, bisa ngerti enggak sih?!," teriak Dimas.
Pria itu mencoba untuk berdiri, namun kesulitan, karena kepalanya terasa sangat sakit.
"Aku bantu ya kak?," ucap Nadia sambil memegang tangan Dimas.
Reaksi pria itu malah langsung menepis tangan Nadia, hingga gadis itu terjatuh dan tangannya terluka karena terkena serpihan gelas yang belum ia bersihkan.
"Aw," rintih Nadia.
"Gue udah bilang kan, jangan sentuh gue. Lo udah baca kontrak dengan jelaskan? Dasar wanita murahan!," teriak Dimas.
Nadia hanya bisa menundukkan kepalanya menahan tangisnya, untuk kesekian kalinya ia di bentak. Kedua orang tuanya sering membentaknya, hanya kakak laki lakinya yang sangat menyayanginya dan tidak pernah membentak Nadia sedikitpun. Dan Dimas, ternyata sama seperti kedua orang tuanya, sangat kasar.
Dimas tanpa menyerah, berusaha untuk berdiri dan alhasil saat ia berhasil tiba tiba pria itu terjatuh lagi di atas kasur. Dimas menatap istrinya yang masih setia menundukkan kepalanya. Kemudian ia melemparkan bantal guling hingga mengenai wajah Nadia.
"Woi! Kali ini gue izinin lo pegang tubuh gue. buruan bantuin, gue udah kebelet banget ini," ucap Dimas.
Nadia langsung berdiri dan menghampiri suaminya, untuk membantunya masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu langsung menutup pintunya dengan kasar, membuat Nadia langsung terkejut. Gadis itu memilih untuk keluar dari dalam kamar, karena tidak ingin melihat suaminya kesal dan tak lupa ia menyiapkan baju untuk suaminya dan setelah itu ia pun keluar dari kamar.
"Nadia!, ke kamar sekarang!," teriak Dimas.
Nadia langsung berlari masuk ke dalam kamar, ia melihat suaminya yang kesulitan memakai baju karena badannya begitu lemas. Ia pun melangkah ke arah dimas, kemudian berdiri di depan suaminya.
"Bantuin gue," ucap Dimas yang begitu lembut.
Ini kali pertama pria itu berbicara lembut kepada istrinya, membuat Nadia bahagia dan segera membantu suaminya memakai baju. Nadia mengancing satu persatu baju yang di kenakan Dimas. Pria itu hanya diam dan memperhatikan wajah cantik yang di miliki oleh istrinya.
'kenapa wajahnya sangat tidak asing di ingatan gue ya? Gue seperti pernah melihatnya, tapi kalau pernah, di mana gue liat dia? Perasaan ini kali pertamanya gue kenal dia?,' batin Dimas.
"Sudah," ucap Nadia.
Dimas sadar dari lamunannya dan berdiri untuk mengenakan celana, namun badannya masih terlalu lemas.
"Huh, alkohol apa yang gue minum semalam, badan gue jadi lemas seperti ini," gumam Dimas.
"Biar aku bantu kalau kakak tidak keberatan," ucap Nadia.
Dimas menatap Nadia dan meraih tangan nadia. Dan akhirnya dia bisa berdiri dengan bantuan istrinya. Setelah itu ia pun melepaskan handuk yang menutupi bagian bawahnya, Nadia langsung menutup kedua matanya karena merasa malu, dengan wajahnya yang sudah memerah.
Dimas sedikit tersenyum saat melihat tingkah istrinya. setalah selesai, ia menarik tangan nadia keluar dari kamar. Nadia pun setia menolong suaminya yang sangat membutuhkannya saat ini.
"Pakai acara laper lagi," gumam Dimas sambil memegangi perutnya yang berbunyi.
"Aku buatkan makanan ya," ucap Nadia gugup.
Dimas menatap Nadia yang berstatus sebagai istrinya, ia memikirkan sejenak tentang tawaran Nadia tadi. Haruskah ia menerimanya, jika tidak dia bisa mati karena kelaparan.
"Oke, karena perut gue udah laper, buatkan gue makanan," ucap Dimas.
Nadia tersenyum dan langsung berjalan ke arah dapur setelah membantu Dimas untuk duduk di ruang makan. Nadia pun mengambil telur untuk membuat omelet. Setelah selesai ia pun meletakkan omelet yang ia buat beserta nasi di depan Dimas.
"Cuman ada omelet dan nasi putih, enggak papa kan?," ucap Nadia.
"Omelet dan nasi putih udah cukup bagi gue buat isi perut, makasih," ucap Dimas sambil memakan masakan Nadia, pria itu menyukai masakan istrinya itu.
"Besok aku akan mengambil kartu ATM yang di pegang oleh Daddy. Jadi, apakah aku boleh pulang ke rumah kedua orang tuaku sebentar? Dan setelah itu aku akan pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan," ucap Nadia.
Dimas menghentikan makannya dan menatap gadis yang ada di hadapannya dalam ke adaan menundukkan kepala. Kemudian Dimas berdiri dan meninggalkan ruang makan. Nadia menghela nafas dengan pelan dan membereskan piring dan gelas kotor bekas suaminya. Setelah itu, ia mengelap meja makan dan tiba tiba dimas datang, sambil memberikan black card pribadinya kepasa istrinya.
Jessica saja tidak pernah mengetahui black card milik dimas. Karena pria itu bertekad, bahwa black card nya itu hanya akan di pegang oleh istrinya kelak, dan ia memberikannya kepada Nadia yang sekarang berstatus sebagai istrinya walupun ia tidak mencintai istrinya.
"Gunakan kartu ini saja, untuk keperluan rumah tangga dan keperluanmu," ucap Dimas dan ia pun langsung berjalan masuk ke dalam kamar.
Gadai itu pun tersenyum dan mengambil black card yang terletak di atas meja. Sejahat jahatnya Dimas kepada Nadia, tapi dia akan tetap bertanggung jawab untuk keluarganya. Entah kenapa hatinya tiba tiba saja ingin membahagiakan gadis yang berstatus sebagai istrinya.
******
"Apakah lukanya sudah dia obati?," gumam Dimas yang gelisah di dalam kamar.
Pria itu tengah bergelut dengan egonya, haruskah ia mengobati tangan Nadia yang terluka karena ulahnya? Dimas menatap kotak P3K yang ada di atas meja rias istrinya. Ia mengepalkan kedua tangannya dan akhirnya menghela nafas dengan kasar.
"Sial," ucap Dimas dan langsung keluar dari dalam kamar dan menghampiri Nadia.
Ia pun melihat Nadia yang tengah mengepel rumah yang sangat besar, pria itu langsung menarik tangan istrinya untuk duduk di sofa. sontak gadis itu terkejut dan hanya bisa diam dan mengikuti langkah Dimas. Pria itu langsung mengobati tangan istrinya.
"Kenapa tangan Lo enggak di obati? Padahal ini lukanya cukup parah," ucap Dimas.
"Belum sempat, oh ya terima kasih," ucap Nadia.
Tatapan pria itu tiba tiba saja tertuju kepada bekas luka yang ada di tangan kanan istrinya. Tiba tiba saja kenangan indah terlintas di ingatannya.
*******
Beberapa puluh tahun yang lalu.
Ada dua anak kecil sedang bermain di sebuah taman, salah satu dari mereka terjatuh dan terluka di bagian tangannya.
"Kamu enggak papa?," ucap anak laki laki menolong temannya.
"Tangan ku sakit sekali, kak Dimas," jawabnya.
Ya anak laki laki itu adalah Dimas, ia pun segera berlari ke apotik untuk membeli obat luka untuk temannya. Setalah selesai ia langsung mengobati luka temannya.
"Pasti luka ini menimbulkan bekas, apakah masih sakit?," ucap Dimas dengan nada khawatir.
"Sudah tidak sakit lagi, karena kamu yang mengobatinya hehehe," jawab temannya.
"Kamu sudah pandai menggoda ya," ucap Dimas sambil tersenyum.
******
Nadia memegang bahu suaminya. "Kakak enggak papa?," ucap Nadia panik Karena Dimas tiba tiba saja melamun.
Dimas tersadar dari lamunannya dan langsung berdiri dan membawa kotak P3K. Ia memilih masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, sedangkan Nadia hanya menatap kepergian suaminya itu. Berapa bahagianya dia hari ini, mendapatkan perhatian dari suaminya. Nadia menikmati kebahagiaan hari ini. Akhirnya ia melanjutkan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga yaitu membersihkan rumah sang suami.