NovelToon NovelToon
Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Misi Bertahan Hidup: Jangan Jadi Gadis Miskin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Mitos dan Logika Sains

Mangkuk-mangkuk tanah liat telah dibersihkan seadanya. Sisa-sisa tulang kelinci dikumpulkan rapi di sudut ruangan, bukan untuk dibuang, melainkan karena di mata seorang ahli bioteknologi, tulang-tulang tersebut masih bisa direbus kembali esok hari untuk diambil sumsum dan kaldunya sebagai tambahan nutrisi.

Nyonya Lin duduk di tepi ranjang kayu, merapikan selimut usang yang sudah tipis untuk Lin Bao yang telah tertidur pulas setelah kekenyangan. Perut yang terisi penuh membuat bocah itu tidur dengan nyenyak dan tanpa beban, untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Sementara itu, Lin Wanru duduk bersila di dekat pintu. Ia memperbaiki ikatan tali sepatunya yang terbuat dari kain kain usang. Di luar, suara angin malam berhembus kencang, mengguncang bilah-bilah kayu gubuk yang rapuh.

Melihat putri sulungnya tampak sibuk memeriksa tali sepatu dan mempersiapkan diri, hati Nyonya Lin tiba-tiba diliputi rasa cemas yang mendalam. Ia teringat kejadian siang tadi, di mana Wanru nekat masuk sendirian ke dalam hutan liar dan pulang membawa seekor kelinci.

Nyonya Lin perlahan bangkit dan melangkah mendekati Wanru. Wanita paruh baya itu berjongkok di hadapan putrinya, lalu meraih kedua tangan Wanru yang masih kasar dan dingin.

"Wan-er..." suara Nyonya Lin bergetar parah, matanya menatap tajam namun penuh permohonan ke dalam mata putrinya. "Janji pada Ibu... mulai besok, jangan pernah pergi ke Hutan Hantu itu lagi. Jangan pernah menginjakkan kakimu ke sana."

Wanru menghentikan gerakannya. Ia menatap ibunya dengan kening yang sedikit berkerut. "Ibu, kenapa? Hutan itu adalah sumber daya alam yang kaya. Ada banyak tanaman obat, buah liar, dan hewan buruan di sana. Itu adalah cara tercepat kita untuk bertahan hidup dan mencari uang untuk membayar utang Paman."

Mendengar kata-kata Wanru, wajah Nyonya Lin langsung pucat pasi. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan panik, seolah nama hutan itu saja sudah cukup untuk mendatangkan malapetaka.

"Kau tidak mengerti, Nak!" suara Nyonya Lin nyaris berbisik, namun penuh dengan ketakutan yang nyata. "Hutan itu bukan sekadar tempat biasa. Penduduk desa menyebutnya Hutan Hantu bukan tanpa alasan!"

Wanru terdiam. Sebagai seorang ilmuwan dan pebisnis modern, ia tidak percaya pada takhayul, hantu, atau kutukan supranatural. Di matanya, tempat yang disebut "angker" oleh masyarakat tradisional biasanya hanyalah hutan lebat dengan ekosistem liar yang belum terjamah, dipenuhi gas rawa, hewan buas, atau tanaman beracun yang tidak dipahami oleh warga lokal.

Namun, demi menghargai perasaan ibunya, Wanru mendengarkan dengan seksama.

Nyonya Lin menarik napas panjang, seraya meremas tangan Wanru semakin erat seolah takut putrinya akan melayang pergi.

"Sudah sejak puluhan tahun lalu, leluhur kita melarang siapa pun masuk terlalu dalam ke hutan itu," cerita Nyonya Lin dengan nada suara yang bergetar. "Konon, di bagian tengah hutan terdapat kabut tebal beracun yang tidak pernah hilang sepanjang tahun. Siapa pun yang masuk ke dalam kabut itu tidak akan pernah bisa keluar lagi. Tubuh mereka ditemukan berminggu-minggu kemudian dalam keadaan mengering, tanpa jejak luka sedikit pun, seolah jiwa mereka telah dihisap oleh roh penunggu hutan."

Nyonya Lin melanjutkan dengan kisah-kisah yang lebih menyeramkan, "Beberapa pemburu dari desa sebelah yang terlalu serakah masuk ke sana saat musim dingin tiba-tiba hilang tanpa jejak. Ada yang bilang mereka mendengar suara tangisan wanita di tengah malam, atau melihat bayangan hitam besar berkaki empat yang memburu manusia. Tempat itu adalah sarang makhluk gaib dan kutukan, Wan-er!"

Air mata Nyonya Lin menetes membasahi punggung tangan Wanru. "Ibu sudah kehilangan ayahmu... Ibu tidak sanggup lagi jika harus kehilanganmu atau Bao-er. Lebih baik kita hidup susah, makan bubur encer setiap hari, asalkan kita tetap bernapas bersama di sini. Tolong... dengarkan Ibu."

Wanru menatap ibunya dalam-dalam. Ia bisa merasakan ketulusan dan ketakutan yang teramat sangat dari lubuk hati seorang ibu yang ingin melindungi anak-anaknya dari dunia yang kejam.

Di era dinasti kuno ini, di mana pendidikan sains belum menjangkau masyarakat bawah, fenomena alam yang tidak dipahami selalu diasosiasikan dengan kutukan atau hantu.

Namun, di dalam kepala sang mantan CEO, analisis rasional langsung bekerja dengan cepat.

"Kabut tebal yang tidak pernah hilang sepanjang tahun? Tubuh yang mengering tanpa luka? Orang hilang tanpa jejak?" batin Wanru merumuskan data tersebut.

Bagi seorang ahli bioteknologi dan kimia lingkungan, deskripsi itu sama sekali bukan tentang "roh penunggu" atau "hantu".

Itu adalah ciri-ciri klasik dari sebuah ekosistem rawa purba atau lembah vulkanik tertutup, di mana terjadi pelepasan gas berbahaya seperti karbon monoksida ($CO$) atau gas belerang ($H_2S$) dari celah tanah, atau keberadaan tumbuhan beracun penghasil neurotoksin yang menguap ke udara.

Warga desa yang tidak tahu apa-apa mengira itu adalah kutukan, padahal itu murni bahaya ilmiah berupa keracunan gas alam atau flora beracun!

Tentu saja orang-orang bodoh itu mati jika mereka masuk tanpa masker pelindung atau ventilasi udara yang tepat, pikir Wanru menganalisis. Tapi bagi seseorang yang memahami botani dan ekologi modern, daerah pinggiran hutan itu tetap menyimpan ribuan potensi sumber daya yang aman jika tidak masuk terlalu dalam ke zona berbahaya.

Melihat putrinya terdiam cukup lama, Nyonya Lin mengira Wanru sedang mempertimbangkan nasihatnya dengan baik. Wanita paruh baya itu mengusap air matanya, dan berharap ancaman mistis itu berhasil mengurungkan niat putrinya.

Namun, Lin Wanru perlahan menarik kedua tangannya dengan lembut, lalu menggenggam balik tangan ibunya. Ia menatap Nyonya Lin dengan sorot mata yang tenang, penuh keyakinan, dan dibalut wibawa yang tidak terbantahkan.

"Ibu..." ucap Wanru dengan suara lembut. "Aku mendengarkan semua cerita Ibu. Aku tahu Ibu mengkhawatirkan keselamatanku."

Nyonya Lin bernapas lega sejenak. "Lalu... kau berjanji tidak akan ke sana lagi, kan?" tanyanya memastikan.

Tapi Wanru menggeleng perlahan. Bukan gelengan penolakan kasar, melainkan gerakan kepala yang penuh pertimbangan.

"Aku tidak bisa berjanji untuk tidak pergi ke sana, Ibu," jawab Wanru jujur.

Mendengar jawaban Wanru, Nyonya Lin terperanjat, matanya membelalak kaget. "Wan-er! Kenapa keras kepala sekali?! Apakah kau ingin mati di tangan penunggu hutan itu?!"

"Ibu, dengar," potong Wanru dengan tenang, menatap lurus ke mata ibunya untuk meredakan kepanikan wanita itu. "Di dunia ini, tidak ada hantu atau roh penunggu seperti yang dibicarakan orang-orang desa. Yang ada hanyalah alam yang tidak kita pahami."

Wanru melanjutkan pernyataannya dengan nada meyakinkan, "Cerita tentang kabut beracun dan orang-orang yang mati mendadak itu... itu hanyalah fenomena alam. Mungkin ada gas beracun yang keluar dari dalam tanah, atau tanaman beracun di bagian tengah hutan yang membuat orang pingsan lalu tidak tertolong. Selama kita tidak masuk ke bagian tengah yang berkabut itu, dan hanya mencari bahan di pinggiran hutan dengan hati-hati, kita akan baik-baik saja."

Nyonya Lin tertegun. Ia tidak mengerti separuh dari istilah yang diucapkan putrinya, seperti gas beracun atau fenomena alam, namun ketenangan dan keyakinan yang terpancar dari wajah Wanru berhasil meredakan sebagian besar rasa takut di dadanya.

"Lagi pula, Ibu," lanjut Wanru dengan senyuman tipis yang penuh arti, "jika kita hanya berdiam diri di gubuk ini dan menunggu takdir, dalam tiga hari ke depan paman akan datang menyeret kita ke rumah bordil. Apakah Ibu lebih baik melihatku dijual ke tempat terkutuk itu daripada membiarkanku mengambil risiko mencari jalan keluar di hutan?"

Kalimat itu bagaikan sebuah hantaman telak. Nyonya Lin terdiam seribu bahasa. Bibirnya bergetar, dan air matanya pun kembali tumpah, kali bukan karena takut pada hutan, melainkan karena kepahitan takdir yang memaksa anak gadisnya harus menanggung beban seberat ini.

Ia tahu putrinya benar. Diam berarti mati. Melangkah adalah satu-satunya pilihan, meski jalannya dipenuhi duri dan kabut misterius.

Melihat ibunya akhirnya terdiam dalam pasrah yang getir, Wanru menghela napas lega. Ia tahu ia telah memenangkan perdebatan logika tersebut.

Ia kemudian bangkit berdiri dan melangkah ke dekat jendela kecil yang terbuka, menatap ke arah siluet gelap Hutan Hantu yang membentang di bawah cahaya bulan sabit di kejauhan.

Angin malam berhembus menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah dan daun liar.

Besok adalah hari kedua dari batas waktu tiga hari yang diberikan oleh Paman Lin Dehai. Waktu berjalan semakin sempit, dan tekanan semakin besar.

"Tunggu saja," batin Wanru, seraya mengepalkan tangannya di ambang jendela. "Hutan itu mungkin menakutkan bagi orang-orang di era ini, tapi bagi seorang ahli strategi modern, hutan itu adalah pintu gerbang pertama kekayaanku."

Bersambung...

1
Osie
eh sdh dipenghujung cerita ternyata..msh ada lanjutannyakah? ceritanya bagus banget
Aurora: cerita masih berlanjut kak... nantikan episode selanjutnya ya... 🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
lanjut 😍
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
Dewi Habibah
Bagus sekali ceritanya
Aurora: terima kasih... nantikan terus update episode selanjutnya ya...🤗
total 1 replies
Siskasuryaningsih
Baru baca thor tetap semangat yo,,, 💪💪💪
Aurora: siap kakak...🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!