Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dua pelakor
Mereka datang dengan strategi yang sangat rapi. Alih-alih datang berteriak-teriak seperti orang kesurupan, keduanya memilih memakai topeng wanita berkelas. Alice mengenakan gaun rajut premium berwarna putih tulang yang dipadukan dengan syal kasmir mewah, sementara Joan memakai midi dress berbahan sutra merah marun yang membungkus tubuh porselennya dengan sangat apik. Tidak hanya modal tampang, tangan mereka masing-masing menenteng keranjang anyaman estetik berisi kue-kue kering Perancis impor dan parcel buah-buahan segar berukuran besar yang dihias pita emas.
Mereka mengira dengan membawa buah tangan dan bersikap seolah-olah bertamu dengan penuh tata krama, mereka bisa melunakkan hati Devan sekaligus menendang Cesa keluar dari zona nyaman. Namun, rencana matang itu langsung hancur berkeping-keping begitu mereka melihat siapa yang menyambut mereka di barisan paling depan.
Cesa berdiri di ambang pintu teras dengan gaya petantang-petenteng andalannya. Setelan baju tidur satin hitam press body-nya yang bertabur perhiasan berlian berkilauan di bawah lampu teras, membuat penampilannya malam itu terlihat seperti ratu kegelapan yang siap mengeksekusi tawanan. Celana pendek ketat yang tertutup dres satinnya mempertegas siluet kakinya yang mulus, siap untuk mengambil ancang-ancang bertarung. Di belakang Cesa, delapan anak motor Black Varen berjaket kulit hitam berbaris rapi seperti pasukan gladiator, lengkap dengan Reno dan Tio yang masing-masing memegang sekotak martabak manis sisa tadi dan tangkai sapu ijuk yang entah didapat dari mana.
"Permisi, Devan... Cesa..." ujar Joan dengan nada suara yang dibuat selembut sutra, memamerkan senyum diabetesnya yang paling menawan. Ia mengangkat keranjang buahnya sedikit ke atas. "Kita datang ke sini malam-malam bukan mau cari ribut, kok. Kita cuma mau silaturahmi yang baik, sekalian bawain buah-buahan segar sama makanan sehat untuk kalian di Puncak..."
"Heh! Perempuan bermuka porselen kurang kalium dan kakakku yang mirip kepompong belum matang!" potong Cesa dengan suara cempreng nan barbarnya yang langsung memecahkan atmosfer keanggunan tiruan mereka. Cesa menurunkan sedikit kacamata hitam berbingkai berlian tiruannya, menatap parcel buah itu dengan pandangan super sinis. "Lo kira kita lagi sakit, hah?! Lo kira ini villa Mahardika berubah jadi bangsal rumah sakit jiwa sampai lo berdua repot-repot bawa parcel buah segala?!"
Alice merapikan syal kasmirnya dengan gerakan anggun yang dipaksakan, mencoba menahan emosinya agar tidak meledak di depan Devan. "Cesa, tolong ya jaga sopan santun kamu. Kita ke sini berniat baik. Lagipula, aku ini kakak kandung kamu, dan Joan adalah teman dekat Devan dari London. Gak seharusnya kamu menyambut tamu dengan pasukan jaket kulit yang aromanya mirip oli samping begini."
"Wah, wah, wah... berani-beraninya lo menghina aroma kebanggaan Black Varen!" sahut Reno dari belakang punggung Cesa, langsung menyulut kompor. "Mbak Ratu, sikat aja Mbak! Jangan kasih ampun!"
"Tenang, rakyat jelata! Biar ratu kalian yang mengeksekusi duo siluman ini!" seru Cesa barbar, menyerahkan kacamata hitamnya kepada Devan yang langsung menerimanya dengan helaan napas pasrah.
Sumbu pendek Cesa telah terbakar habis. Kalimat Joan tentang 'teman dekat dari London' dan tatapan mata Alice yang terus-menerus mencoba mencuri pandang ke arah dada tegap Devan benar-benar membuat jiwa reog Cesa meledak ke tingkat maksimal. Cesa tidak peduli lagi dengan tata krama, tidak peduli dengan gaun satin mahalnya, dan tidak peduli dengan kamera CCTV villa.
SET! BRUK! PRANG!
Tanpa aba-aba, Cesa melangkah maju dengan kecepatan kilat. Tangan kanannya menyambar keranjang buah yang dipegang Joan, sementara tangan kirinya merebut parcel kue milik Alice, lalu melempar kedua barang estetik itu ke halaman rumput hingga buah apel dan jeruk menggelinding berantakan di atas tanah.
"Cesa! Apa-apaan sih kamu—" Teriakan Alice terputus seketika.
Sebelum Alice sempat menyelesaikan kalimatnya, Cesa dengan gerakan super barbar langsung menjambak rambut kedua wanita itu secara bersamaan! Tangan kanan Cesa mencengkeram kuat rambut panjang bergelombang milik Joan, sedangkan tangan kirinya mengunci erat rambut lurus Alice yang tertata rapi.
"AAAAKKKKKK!! SAKIIITTT!!" jerit Joan histeris, tubuh anggunnya langsung tertarik ke depan hingga kepalanya mendongak paksa. Senyum porselennya lenyap berganti wajah kesakitan yang amat sangat.
"CESA! LEPASIN! KAMU UDAH GILA YA?! AKU KAKAK KAMU!" teriak Alice tak kalah histeris, mencoba melepaskan cengkeraman kuku-kuku pink penuh cincin berlian milik Cesa yang menjepit kulit kepalanya seperti tang besi.
"Gak ada kakak-kakakan! Gak ada mantan-mantanan!" raung Cesa barbar, sengaja menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri seolah sedang mengocok arisan massal. Dress satin hitam press body-nya bergoyang heboh seiring dengan kekuatannya yang mendadak setara dengan kuli bangunan. "Hari ini lo berdua berani nginjekin kaki di sini buat ganggu laki gue, berarti lo berdua udah siap pulang dengan kepala botak! Rasain nih kekuatan Nyonya Besar Sultan Mahardika!!"
Anak-anak Black Varen yang menyaksikan aksi labrak fisik secara langsung itu langsung bersorak heboh bagaikan menonton pertandingan smackdown kelas dunia.
"ANJIRRR! SI MBAK RATU SANGAR BANGET!" teriak Jodi kegirangan, melompat-lompat di teras. "Ayo Mbak! Kiri dikit Mbak! Kanan lagi! Smash langsung!"
"Reno! Buruan videoin! Ini konten premium ketua kita dijagain macan betina!" seru Rio sambil tertawa terbahak-bahak, sama sekali tidak ada niat untuk melerai. Bagi mereka, kebarbaran Cesa adalah tontonan paling menghibur sepanjang sejarah klub motor mereka berdiri.
Joan yang merasa rambut indahnya rontok dan harga dirinya hancur lebur di depan umum, mulai menangis bombay. "Devan... tolongin aku, Dev... Istri kamu beneran monster... Aaaakh! Sakit!"
Alice pun mencoba mencakar lengan Cesa, namun Cesa dengan lincah memanfaatkan celana pendeknya untuk memberikan tendangan kecil ke arah kering kaki Alice, membuat kakaknya itu limbung. "Mau nyakar gue lo?! Kulit gue dirawat pakai duit Mahardika ya, gak boleh ada lecet sedikit pun gara-gara kuku kotor lo!"
Melihat situasi yang semakin brutal dan dua keranjang buah sudah hancur lebur, Devan akhirnya melangkah maju. Namun, alih-alih menahan tangan Cesa atau membela Joan yang sedang menangis, Devan justru melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Cesa dari arah belakang, menarik tubuh istrinya yang mungil namun bertenaga badak itu agar mundur menjauh dari kedua wanita tersebut.
Begitu cengkeraman tangan Cesa terlepas, Alice dan Joan langsung jatuh terduduk di lantai teras dengan napas terengah-engah. Rambut mereka berdua sudah berubah total menjadi seperti sarang burung yang tersapu badai. Syal kasmir Alice bergeser ke leher bawah, dan gaun sutra Joan sudah kotor terkena sisa-sika tanah dari halaman.
Cesa yang masih berada dalam dekapan lengan Devan berontak, kakinya menendang-nendang udara ke arah depan. "Lepasin gue, Devan kampret! Gue belum selesai botakin mereka! Sumbu gue masih panjang ini buat ngehajar pelakor!"
"Udah, Sa, udah. Cukup," ujar Devan, menahan tubuh Cesa dengan erat di dadanya. Namun, pandangan mata Devan sama sekali tidak menatap Cesa, melainkan tertuju lurus kepada Alice dan Joan yang sedang merapikan rambut mereka dengan tangan gemetar penuh tangis penyesalan.
Di situlah Devan mengucapkan kalimat pemungkasnya dengan nada dingin yang menusuk tulang.
"Stop ganggu ketenangan gue. Mending kalian berdua pergi dari sini sekarang juga sebelum dibabat habis tanpa sisa sama istri barbar gue. Dan satu hal lagi buat lo, Joan, juga lo, Alice... kalau sampai kalian berani muncul lagi di depan muka gue atau kantor gue, gue sendiri yang bakalastiin bisnis keluarga kalian hancur dalam semalam pakai kekuatan Mahardika Holdings. Pergi!"
Mendengar ancaman nyata dari Devan yang sama sekali tidak main-main, ditambah tatapan nyalang dari Cesa yang siap menerkam kembali, Alice dan Joan tidak punya pilihan lain. Dengan sisa-sisa harga diri yang sudah runtuh ke kerak bumi, kedua wanita yang tadinya datang dengan keanggunan tiruan itu bangkit berdiri dengan tertatih-tatih. Mereka berlari terbirit-birit menuju gerbang luar, masuk ke dalam mobil sedan putih, dan langsung tancap gas meninggalkan villa Puncak dengan suara deru mesin yang panik.
Suasana teras mendadak hening sejenak, sebelum akhirnya meledak oleh tepuk tangan riuh dan sorakan dari delapan anak motor Black Varen.
"HIDUP NYONYA BESAR BARBAR!" teriak Reno, mengangkat sapu ijurnya ke udara. "Bos Devan resmi takluk di bawah kekuasaan dres satin hitam!"
Cesa akhirnya berhenti berontak dari dekapan Devan. Ia merapikan dress satin hitam press body-nya yang sedikit berantakan, lalu menoleh ke belakang, menatap Devan dengan senyum penuh kemenangan yang terukir manis di wajah cantiknya yang dilapisi riasan cetar. Perhiasan berliannya kembali berkilau, memancarkan aura kemenangan mutlak atas malam pelabrakan yang spektakuler itu.
Alice dan Joan resmi kalah telak dan kabur dengan rambut acak-acakan akibat kebarbaran Cesa,