NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7 — Siaran Perdana dan Donatur Misterius

"Raka. Akhirnya aku menemukanmu lagi."

Raka tidak mendengar bisikan itu. Malam berikutnya, ia duduk di kontrakan dengan masker tergantung di leher dan dua bahan kerja tersusun di meja.

Di sebelah kiri terdapat panel kecil untuk sampel stan dekorasi kamar anak. Lapisan semen-resin di permukaannya masih lembap, siap dibentuk menjadi relief timbul. Di sebelah kanan terbaring potongan giok retak dari gudang Bagas.

Kipas angin dimatikan agar suaranya tidak masuk mikrofon. Akibatnya, keringat sudah muncul di pelipis Raka sebelum siaran dimulai.

Ia menekan tombol.

LIVE.

Selama dua puluh detik, satu-satunya wajah di layar adalah wajahnya sendiri.

Kemudian angka penonton berubah menjadi satu.

"Selamat malam," kata Raka. "Saya Raka dari Studio Nusa Karya. Malam ini saya akan membuat panel relief bermotif kawung untuk ruang anak, lalu menunjukkan cara membaca serat pada potongan giok sebelum diukir."

Penonton pertama keluar.

Angka kembali nol.

Raka tidak berhenti. Ia mengarahkan kamera ke panel dan mulai memindahkan sketsa menggunakan garis bantu tipis. Ujung alat membelah lapisan lunak dengan sudut konsisten. Empat bentuk oval bertemu menjadi pola kawung, tetapi ia melunakkan ujungnya agar motif tradisional itu terasa ramah untuk kamar anak.

Tiga menit kemudian, dua orang masuk.

Kak, ini pakai semen biasa?

"Campuran semen halus dan resin pengikat," jawab Raka tanpa mengangkat tangan. "Semen biasa terlalu mudah retak jika panel tipis. Komposisinya juga harus disesuaikan dengan permukaan tempat pemasangan."

Seorang penonton memberi tanda suka.

Angka naik menjadi lima, lalu turun menjadi tiga.

Komentar lain muncul.

Kamar sempit begitu sok bikin studio.

Disusul akun tanpa foto profil.

Ini kacung yang viral di Graha Utama, kan? Diusir mertua lalu jual kesedihan wkwk.

Tangan Raka tetap bergerak.

"Di sini kita membahas karya," katanya. "Kalau Anda datang untuk melihat proses, silakan tinggal. Kalau mencari gosip, rekaman pameran sudah cukup tanpa bantuan saya."

Komentar tertawa bermunculan. Dua akun keluar. Satu akun baru masuk dan bertanya harga.

Raka menjelaskan bahwa ia belum membuka pesanan sebelum sampel selesai dan diuji. Tidak ada diskon palsu, tidak ada hitung mundur, dan tidak ada klaim bahwa akun baru itu telah dibanjiri pelanggan. Ia memperlihatkan bagian belakang panel, ketebalan lapisan, serta alasan tiap lekukan tidak boleh terlalu dalam.

Perlahan, bentuk datar mulai memiliki bayangan.

Jumlah penonton mencapai dua belas.

"Relief yang bagus tidak hanya dilihat dari depan," ujar Raka. Ia memindahkan ring light ke samping. Bayangan langsung mengungkap satu sisi oval yang tidak seimbang. "Cahaya miring menunjukkan kesalahan yang disembunyikan cahaya depan. Kalau pembuatnya takut mengubah arah lampu, jangan percaya hasil akhirnya."

Komentar mulai bergerak lebih cepat.

Wah, baru tahu.

Tangannya stabil banget.

Bang, bisa buat dinding kafe?

Raka menjawab satu per satu sambil bekerja. Ia meminta calon pelanggan mengirim ukuran dan foto dinding lewat pesan bisnis, tetapi tidak menjanjikan harga sebelum memeriksa material serta lokasi.

Setelah empat puluh menit, pola kawung pada panel selesai. Raka membersihkan alat, lalu mengangkat potongan giok.

"Ini bukan batu bernilai tinggi," katanya. "Ada retak di tepi dan warnanya keruh. Tapi bagian tengahnya masih rapat. Kita tidak akan berpura-pura bahwa setiap bongkahan adalah harta karun. Kita hanya akan mencari bentuk yang bisa diselamatkan."

Ia membasahi permukaan batu. Di bawah cahaya, serat hijau tipis muncul.

Penonton naik menjadi dua puluh tujuh.

Raka menggambar garis potong, menjaga jarak dari retakan. Ia belum memakai mesin; malam itu hanya memperlihatkan pembacaan struktur dan sketsa awal berupa daun kecil yang mengikuti aliran serat.

Komentar kasar kembali muncul.

Kalau hebat, kenapa istri pilih pria lain?

Raka berhenti satu detik.

Penonton menunggu ledakan.

"Keahlian tidak diukur dari siapa yang memilih tinggal," jawabnya. "Batu ini juga dibuang orang. Itu tidak mengubah apa yang ada di dalamnya."

Ia melanjutkan garis.

Beberapa penonton mengirim tanda suka bertubi-tubi. Angka di sudut layar bergetar naik: tiga puluh empat, empat puluh satu, lalu lima puluh enam.

Satu gift kecil masuk.

Raka mengangguk ke kamera. "Terima kasih. Tidak perlu memaksakan gift. Menonton sampai karya selesai sudah membantu akun ini."

Lalu layar mendadak dipenuhi animasi cahaya.

Ding. Ding. Ding.

Satu akun bernama LangitSenja mengirim gift bernilai ribuan koin.

Sebelum Raka sempat selesai mengucapkan terima kasih, gift kedua masuk. Ketiga. Kelima. Kesepuluh.

Komentar meledak.

Sultan masuk!

Gila, puluhan ribu koin!

Bang Raka naik peringkat live jam ini!

Jumlah penonton melonjak karena papan peringkat: delapan puluh, seratus dua puluh, lalu seratus delapan puluh tujuh. Tidak fantastis untuk akun besar, tetapi bagi Studio Nusa Karya yang memulai malam dengan nol, angka itu mengubah seluruh ruangan.

Raka meletakkan pensil. "LangitSenja, terima kasih atas dukungannya. Nilainya terlalu besar untuk akun yang baru mulai. Jika ini kesalahan, silakan hubungi saya lewat pesan agar saya bantu cek jalur pengembalian sesuai aturan platform."

Akun tersebut tidak menjawab.

Raka menunggu beberapa detik, lalu kembali bekerja. "Untuk penonton yang baru masuk, dukungan besar tidak membuat hasil kerja saya otomatis bagus. Kalian tetap boleh menilai proses dan hasil akhirnya."

Kalimat itu menahan suasana agar tidak berubah menjadi pesta uang. Ia menyelesaikan sketsa daun, menunjukkan posisi retak, lalu menjelaskan tahap potong yang akan dilakukan pada sesi berikutnya.

Ketika siaran berakhir setelah sembilan puluh menit, akun Studio Nusa Karya memiliki enam puluh dua pengikut, tiga pertanyaan harga yang masuk akal, dan satu calon pemilik kafe yang mengirim ukuran dinding. Pendapatan gift tercatat sebagai estimasi saldo beberapa juta rupiah sebelum potongan platform dan masa pencairan.

Belum bisa dibelanjakan.

Namun juga bukan angka nol lagi.

Raka segera membuka profil LangitSenja. Tidak ada foto, unggahan, atau biodata. Akun itu hanya mengikuti satu orang: Studio Nusa Karya.

Ia mengirim pesan.

Terima kasih sudah menghargai karya saya. Dukungan Anda sangat besar. Boleh saya tahu apakah Anda ingin memesan sesuatu?

Balasan datang satu menit kemudian.

Tidak perlu. Keahlianmu memang pantas dihargai sebesar itu.

Raka mengetik pertanyaan kedua, tetapi tanda aktif telah hilang.

Di sebuah ruang kerja luas di kawasan Menteng, perempuan berbaju krem dari Graha Utama meletakkan ponselnya menghadap meja. Layar komputer di depannya menampilkan laporan proyek bernilai ratusan miliar, tetapi selama sembilan puluh menit tadi tak satu halaman pun berganti.

Perempuan muda yang menemaninya di pameran berdiri sambil membawa tablet. "Mbak, bukankah jumlah gift tadi terlalu mudah menarik perhatian?"

"Aku menahannya agar tidak masuk peringkat teratas."

"Bagi akun nol pengikut, tetap saja besar."

Perempuan berbaju krem menatap tangan Raka yang membeku pada layar replay. "Lima belas tahun lalu dia menolong seseorang tanpa menanyakan nama. Malam ini biarkan seseorang menghargai hasil kerjanya tanpa memberi nama."

"Kalau dia melacak akun itu?"

"Dia tidak akan menemukan apa pun."

Ia menutup aplikasi, tetapi kelembutan di matanya tidak ikut padam.

Kembali di kontrakan, Raka menatap satu-satunya kalimat dari LangitSenja. Di sudut layar, akun misterius itu tetap berada di urutan pertama daftar pendukung.

Keahlianmu memang pantas dihargai sebesar itu.

Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, seseorang tidak menilai tangannya dari harga baju, rumah tempat ia tinggal, atau keluarga yang meninggalkannya.

Masalahnya, Raka sama sekali tidak tahu siapa orang itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!