Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Di rumah sakit, beberapa polisi datang menghampiri Tuan Federic. Pria itu di mintai keterangan secara langsung oleh pihak berwajib.
Pasalnya, peristiwa penembakan, tidak hanya terjadi sekali belakangan ini. "Jadi, bisa kau ceritakan Pak, bagaimana ciri-ciri penembak itu?" Tanya penyidik.
Di bantu oleh suster, Federic sebisa mungkin mencoba untuk duduk. "Jika Anda masih belum bisa, tolong jangan memaksakan diri tuan!" Ujar Jonas yang turut menemaninya.
"Tidak apa-apa Jonas, saya sudah jauh lebih baik. Peluru itu tidak mengenai organ vital, jadi saya aman." Ujar Federic.
Federic kini menjelaskan kepada para polisi, bagaimana kronologi penembakan itu. Meski ia tak sempat melihat ciri-cirinya, lantaran sudah lebih dulu tertembak.
Namun berbeda dengan Jonas, pria itu menjelaskan dengan sangat rinci sosok dari snipper itu. Bahkan ia menjelaskan bahwa ia sempat tertembak di dalam gedung.
Polisi juga menjelaskan kepada mereka, saat mereka sampai di sana. Gedung itu telah kosong, hanya terlihat para pengawal dari Federic yang sudah tergeletak lemah di atas lantai dengan kondisi yang cukup mengenaskan.
Setelahnya mereka memberikan garis polisi di sepanjang motel. Para warga yang berada di dekat kejadian itu, berdatangan untuk melihat. Namun tak ada satupun yang tahu kejadian sebenarnya.
Mereka melakukan live streaming, mengunggah video dan foto, tanpa mengetahui kronologi yang asli.
Polisi menemukan beberapa peluru di tkp, beberapa peluru yang menancap di badan korban setelah mereka sampai di rumah sakit.
Kasus penembakan ini di tutupi, media masa tidak boleh meliput bahkan yang di tampilkan di medsos. Semuanya hanya berisikan berita hoax. Fakta bahwa konglomerat pimpinan Darren Grub menjadi korban penembakan, tidak ada.
Berita seolah di tutup-tutupi, dan itu di lakukan oleh Federic sendiri. Posisinya sebagai petinggi perusahaan, mudah tergoyahkan. Lalu, jika berita itu menyebar, maka ia akan tamat. Rapat komisaris akan di lakukan, menjadi orang dengan posisi paling tinggi. Juga artinya ia harus bersih dari semua skandal yang ada. Memastikan bahwa kehidupannya tetap baik di depan citra publik untuk memastikan saham tetap aman, dan jika berita itu menyebar. Opini publik akan mengarah pada hal negatif, bahwa Federic mempunyai musuh.
Bahkan sebagian bisa beranggapan, bahwa pria itu pasti salah satu dari jaringan mafia yang tersembunyi. Tidak ada yang tahu tentangnya, dan bagaimana pria itu bisa berakhir di rumah sakit selain orang terdekat dan para pihak kepolisian.
***
Para polisi kini telah pergi, mereka meninggalkan rumah sakit setelah meminta keterangan dari Federic.
"Jonas, tambah pengawalan dan penjagaan rumah. Pastikan setiap Grace, Luna dan Aurora pergi, selalu ada orang yang bersama dengan mereka. Terutama Aurora!" Ucap Federic.
Jonas pun mengangguk, "Baik Tuan"
Federic menatap sekitar, pria itu merasa ada yang tak beres. Ia lalu menunduk sedih, padahal pria tua itu tengah sakit, namun tak ada seorang pun keluarganya yang datang menjenguk. Hanya ada Jonas, bahkan ia masih berada di kursi roda.
"Ada apa Tuan? Apa Anda merasa pusing?"
Federic menggelengkan kepalanya, pria itu kini menoleh, menatap jendela luar. "Di mana mereka, ayahnya sedang sakit. Namun tak ada seorang pun di sini, lalu Grace, bisa-bisanya dia tidak ada di saat aku tengah bertaruh nyawa. Apa wanita itu berpikiran untuk aku cepat mati?"
Jonas seketika melongo, Federic terus mengumpat, terutama terus mengatai Grace. Federic kini heran, mengapa asistennya kini terlihat aneh.
"Ada apa denganmu Jonas." Tanya Federic, lalu Jonas pun memberikan isyarat mata. Matanya terus melirik ke arah samping.
"kau ini sebenarnya kenapa?" Tanya Federic, pria itu kebingungan melihat tingkah Jonas yang aneh. Hingga akhirnya pria itu sadar, ia menoleh dan benar saja, hal tak terduga terjadi.
Federic seketika meringis, ia tersenyum lebar dan tampak canggung.
"Sayang, sejak kapan kau berdiri di sana?"
Rupanya Grace sudah berdiri di belakang Federic sejak tadi, bahkan wanita itu kini berkacak pinggang. Matanya terlihat melotot, aura kemarahan semakin menguat.
"FE-DE-RIKKKKKK"
PLAK!
Wanita itu menampar suaminya, suara tamparan itu terdengar begitu renyah hingga membuat Jonas ngilu membayangkan tamparannya.
"Sayang, maafkan aku, kau jangan terlalu kasar pada suamimu, suamimu ini kan sedang sakit." Federic berusaha membujuk istrinya. Mau tak mau wanita itu akhirnya mengalah.
"Ya ya baiklah." Grace kini duduk di samping Federic.
"Jangan mengatakan seperti itu, kau pikir yang menjagamu semalaman siapa jika bukan aku."
"Ya, ya baiklah, tolong maafkan suamimu ini sayang."
Melihat Federic yang kini bucin kepada sang istri membuat Jonas yang berada di sana langsung muak. Pria itu memalingkan wajahnya seperti ingin muntah.
"Mengapa saya harus selalu menjadi saksi mereka?" Batin Jonas.
***
Kembali pada Aurora, kini wanita itu sudah bersama dengan Jordan. Ia menitipkan adiknya bersama Amel dan Rumero.
"Aku titip adikku sebentar ya." Ucap Aurora kepada Amel dan Rumero.
"Ya, tenang saja. Mumpung aku sedang malas bekerja." Ucap Rumero dan langsung mendapatkan tatapan datar dari Amel dan Jordan.
"Kapan dia akan sadar?" Batin Amel sebari menatap Jordan.
"Kau seperti tidak tahu dia saja Amel." Batin Jordan sebari menatap Amel.
Seolah tengah berbicara, batin mereka benar-benar sangat pas.
Aurora kini membukukan badan, ia menyelaraskan tingginya dengan anak kecil itu.
"Adikku sayang, kamu main dulu ya sama kakak cantik dan tampan ini. Kalau memang sudah kangen mama, minta sama om itu saja ya di antar ke rumah sakit." Ucap Aurora lalu tos dengan Aurora.
Jordan dan Amel yang mendengar ucapan om dari Aurora langsung tertawa. Sedangkan Rumero, pria itu mencoba menahan amarah lantaran tak terima sebut sebagai om om.
"Hai Rora, apa kau pikir aku telihat seperti om om bagimu?"
Aurora pun menjawab ucapannya dengan begitu santai, "Ayolah, pacarmu itu banyak. Julukanku untukmu ini sudah sangat pas sekali."
Rumero kini bingung, "Dari mana dia tahu aku punya banyak pacar? Bukannya aku baru bertemu dengannya." Ucap Rumero lirih.
"Ayo Om, Luna mau main rumah hantu..." Bagaikan tersambar petir di siang bolong, ucapan Luna terdengar menyayat hati bagi Rumero.
Melihat ekspresi Rumero yang di panggil Om oleh Luna membuat mereka bertiga kembali menertawakannya.
BUK!
Amel memukul pundak Aurora, ia tidak kuat terus menertawakan pria itu. "Rora, sumpah ya. Aku baru tahu kau suka bercanda juga sekarang. Asli, aku lebih suka kau yang ini Ha ha ha. Sekarang kakak adik sama-sama lantam."
Mendengar ucapan Amel, Aurora pun langsung memalingkan wajahnya, ia tertawa tanpa suara. "Jelas ini bukan Aurora, jelas-jelas Maudy. Ya jelas bedalah." Batin Aurora.
Jordan menatap Aurora, ia merasa sangat nyaman dengan wanita itu. "Melihatmu membuatku teringat padanya. Andai dia masih hidup, sikapmu benar-benar sangat mirip dengannya Aurora." Batin Jordan. Pria itu tersenyum, melihat tawa lepas Aurora, terlihat tiada beban, walau di hidupnya memang sedang banyak masalah. Namun wanita itu terlihat kuat, ia tegar dan tak mudah goyah.
"Mungkin aku memang harus move on." Batin Jordan lagi dan lagi.
Kini mata mereka saling bertemu, Aurora juga kini menatap Jordan. Tak ada rasa canggung bagi keduanya.
BERSAMBUNG