NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30 — Sidang Terbuka di Layar Kaca

"Lusa pukul delapan," kata Raka. "Saya putar rekaman aslinya dari awal sampai akhir."

Tepat pukul 19.55, layar Studio Nusa Karya masih hitam.

Beni memeriksa tiga sumber video. Pengacara Wisnu duduk di sisi meja dengan laporan polisi, berita acara penyerahan CCTV, persetujuan penggunaan terbatas dari pengelola, dan daftar bagian yang harus diburamkan.

"Tidak ada wajah penghuni lain," kata Wisnu.

"Sudah ditutup."

"Nomor telepon dan rekening?"

"Empat angka terakhir saja. Salinan penuh tetap untuk penyidik."

Raka memasang mikrofon. "Kasus lama mereka?"

"Hanya sebut ada dua sengketa publik dengan pola serupa. Jangan sebut mereka residivis atau bersalah dalam perkara yang belum diputus."

"Kesimpulan tetap milik penyidik dan pengadilan."

Wisnu mengangguk.

Pukul 20.00, layar menyala.

Jumlah penonton melewati seratus ribu sebelum Raka mengucapkan kalimat pertama. Tagar #RakaTukangTipu masih berada di daftar tren. Buzzer menulis kata pembohong, pelaku, dan pengecut berulang-ulang.

Raka tidak menyapa mereka.

"Malam ini saya tidak meminta siapa pun percaya kepada saya," katanya. "Saya hanya menunjukkan bahan yang sudah diverifikasi sumbernya dan boleh dibuka kepada publik. Saya tidak akan menyatakan siapa pun bersalah. Kesimpulan hukum tetap milik pihak berwenang. Kesimpulan pribadi, silakan buat setelah melihat urutan lengkap."

Beni menampilkan video dua puluh tiga detik yang telah menyebar.

Raka masuk.

Sherly mendekat.

Deni membuka pintu.

Vas pecah.

Sherly menangis.

"Versi ini tidak memiliki waktu utuh dan memotong perpindahan antaradegan," kata Raka. "Sekarang kita mulai dari catatan gedung."

Layar dibagi dua.

Di sebelah kiri, klip viral berhenti pada wajah marah Deni. Di sebelah kanan, rekaman CCTV lobi yang diserahkan pengelola kepada penyidik berjalan dengan cap waktu asli.

Pukul 18.58, Raka masuk bersama Deni. Petugas mencatat tujuan kunjungannya: survei vendor Studio Nusa Karya.

Pukul 19.37, Raka keluar dari lift sendirian. Tidak ada barang di tangannya selain tas alat yang sama seperti saat masuk. Ia berhenti di meja keamanan, bicara dengan petugas, lalu keluar gedung pukul 19.42.

"Empat puluh empat menit," kata Beni.

Raka mengoreksi, "Tiga puluh sembilan menit di unit. Sisanya di lobi."

Komentar mulai melambat.

Beni berpindah ke kamera koridor layanan yang masih termasuk area umum dan telah diburamkan. Pukul 19.56, Deni keluar dari unit sambil membawa vas kaca utuh. Ia memasukkannya ke lift layanan.

Pukul 20.14, ia kembali dengan kantong hitam.

Foto vas pecah yang diunggah Sherly memiliki waktu pembuatan setelah pukul 20.20. Detail metadata lengkap tidak ditampilkan ke publik, tetapi Wisnu mengangkat berita acara pemeriksaan perangkat.

"Berkas asli dan keterangannya telah diserahkan kepada penyidik," katanya. "Kami hanya menunjukkan waktu yang diizinkan untuk klarifikasi."

Kolom komentar meledak.

Vasnya masih utuh setelah Raka pergi!

Kalau rusak oleh Raka, kenapa dibawa keluar utuh?

Tunggu, Deni balik bawa kantong apa?

Buzzer mencoba menenggelamkan pertanyaan dengan kalimat yang sama. Beni tidak memblokir kritik. Ia hanya menghapus nomor telepon, ancaman kekerasan, dan doxing sesuai aturan moderator.

"Rekaman area umum tidak memperlihatkan apa yang terjadi di dalam unit," kata Raka. "Karena itu, saya tidak akan berpura-pura CCTV ini menjawab semuanya. Berikutnya adalah catatan saya sendiri."

Foto survei muncul.

Dinding kosong. Kamera kecil mengarah ke sofa. Kamera kedua mengarah ke rak. Stiker UNIT CONTOH—BUKAN UNTUK HUNIAN terlihat di bawah meja. Pada foto berikutnya, vas masih utuh di tepi rak saat Raka melakukan pengukuran.

Beni memperbesar satu bingkai dari video milik Sherly sendiri. Pada pantulan kaca jendela, Deni tampak memegang dudukan kamera sebelum masuk melalui pintu dan berpura-pura baru datang. Bingkai itu tidak membuktikan seluruh rencana, tetapi membantah kesan bahwa perekaman terjadi secara kebetulan.

"Kami tidak mengubah tingkat cahaya atau memotong pantulannya," kata Beni. "Berkas unggahan asli yang tersedia sudah disimpan bersama nilai hash. Penonton dapat melihat cuplikan ini, sedangkan file penuh tetap berada dalam paket pemeriksaan."

Raka membiarkan layar diam selama lima detik. Ia tidak menambahkan panah merah, musik tegang, atau kalimat yang memerintah orang percaya.

Raka lalu memutar audio utuh bagian yang relevan. Nama pribadi yang tidak terkait disamarkan. Suara Sherly terdengar menawarkan pembayaran enam puluh persen ke rekening pribadi. Suara Raka meminta bukti hak penggunaan unit, izin pengelola, spesifikasi dinding, dan kontrak.

Lalu suara Deni masuk.

Maaf, Bu. Saya kira Bapak ini sudah selesai.

Raka menghentikan audio dan memperlihatkan catatan pintu.

"Pada rekaman lengkap, saya tidak pernah meminta orang lain pergi. Saya tidak menyentuh Sherly. Saya juga tidak menyentuh vas. Saya menolak minuman dan pembayaran tanpa dokumen."

Komentar yang semula memanggilnya pelaku mulai menghapus diri.

Sherly tiba-tiba meminta sambungan live.

Beni menatap Raka. Wisnu mengangkat satu jari.

"Boleh," katanya, "dengan catatan jangan berdebat tentang perkara di luar bahan."

Wajah Sherly muncul di kotak kecil. Riasannya sempurna, matanya sembap.

"Semua itu sudah diatur!" katanya. "Raka datang karena menginginkan uang saya. Dia marah saat saya membatalkan."

Raka tetap tenang. "Bu Sherly, apakah saya pernah mengirim invoice?"

"Kamu menerima lima puluh juta."

Beni menampilkan mutasi rekening Studio. Dana Rp50.000.000 masuk tanpa invoice. Di bawahnya ada laporan bank, saldo dana yang tidak disentuh, instruksi pengembalian, dan nomor referensi dana kembali ke rekening perusahaan asal dua hari kemudian.

"Dana dikembalikan penuh melalui bank," kata Raka. "Mengapa Aris meminta saya mengirimnya ke rekening pribadi yang berbeda?"

Sherly terdiam.

"Dan jika saya yang meminta uang tutup mulut," lanjut Raka, "mengapa nomor yang terhubung dengan undangan Anda mengirim pesan ini?"

Layar menampilkan ancaman dengan nomor diburamkan.

Bayar Rp300.000.000 sebagai ganti kerusakan dan penghinaan. Kalau tidak, semua orang akan melihat sifat aslimu.

Raka tidak membaca nama pengirim sebagai kesimpulan. Ia hanya menunjukkan bahwa pesan telah masuk ke perangkat asli dan tercantum dalam laporan.

"Apakah tiga ratus juta itu permintaan saya atau permintaan kepada saya?" tanyanya.

Sherly memutus sambungan.

Jumlah penonton mencapai tiga ratus sepuluh ribu.

Tagar baru menyalip.

#RakaKorbanPenipuan.

Raka segera mengangkat tangan.

"Jangan menyerang akun pribadi, jangan mencari alamat, dan jangan mengirim ancaman. Kalian baru melihat bukti pembelaan saya. Proses terhadap pihak lain tetap berjalan melalui hukum."

Wisnu mengambil giliran.

"Dua nama yang muncul dalam laporan ini pernah tercantum pada dua sengketa publik berpola serupa. Satu selesai dengan kesepakatan, satu berhenti setelah laporan dicabut. Itu bukan dasar untuk menyebut mereka bersalah dalam kasus sekarang. Namun dokumen tersebut telah disampaikan kepada penyidik sebagai arah pemeriksaan."

Kehati-hatian itu justru membuat penonton percaya. Raka tidak membesar-besarkan satu lembar pun.

Di sebuah rumah sewaan, Deni menutup laptop.

"Kita pindah sekarang," katanya.

Sherly masih memegang ponsel. "Reno bilang jaringan mereka aman."

"Reno tidak ada di sini."

Sebelum mereka mencapai pintu, seseorang mengetuk dari luar dan menyebut identitas kepolisian. Petugas datang berdasarkan laporan, jejak komunikasi, keterangan pengelola, dan panggilan pemeriksaan yang diabaikan. Mereka tidak menyerbu untuk kebutuhan tontonan; siaran Sherly sudah terputus sebelum petugas masuk.

Deni mencoba menyembunyikan dua ponsel dalam tas. Petugas mengamankan perangkat sesuai prosedur dan membawa keduanya untuk pemeriksaan.

Di Studio, Raka belum mengetahui perkembangan itu.

Ia masuk ke bagian terakhir: penyebaran terkoordinasi.

Beni memperlihatkan waktu unggah tujuh akun awal. Semuanya aktif dalam selisih sembilan puluh detik, memakai susunan kalimat identik, dan menautkan potongan video dari jalur penyimpanan yang sama. Ia tidak menampilkan identitas pribadi operator.

"Kami tidak punya dasar malam ini untuk menyebut siapa yang membayar jaringan tersebut," kata Raka. "Laporan teknis sudah diberikan kepada platform dan pihak berwenang. Jika ada perusahaan atau orang di belakangnya, nama itu harus muncul dari bukti, bukan tebakan."

Di ruang kerja rumahnya, Anindya menonton sambil menggenggam cangkir yang sudah dingin.

Paket Wibisana tentang templat kampanye lama telah diterima melalui permintaan resmi. Sejumlah akun ditangguhkan platform bukan karena perintahnya, melainkan karena pelanggaran koordinasi tidak autentik dan ancaman yang dapat diverifikasi.

Sasa hanya menonton pembukaan bersama pendamping komunitas. Saat jam tidur tiba, ia mematikan layar sendiri.

"Ayah bilang bukti, lalu tidur?" tanyanya.

"Ayah masih bekerja."

"Besok aku tanya hasil."

Vivi memutar live di layar bar tanpa suara dan memasang tulisan: Jangan ganggu staf. Jangan doxing siapa pun. Tonton bukti.

Di Nexora, grafik berubah arah.

Warganet membandingkan tujuh akun awal, menemukan pola promosi, dan mulai menanyakan agensi mana yang mengoperasikan mereka. Beberapa mantan vendor menyebut Nexora, tetapi belum membawa bukti yang cukup.

"Putus semua akses vendor," kata Reno.

"Terlambat," jawab manajer. "Platform sudah membekukan tiga klaster. Ada permintaan penyimpanan data."

Reno menyapu cangkir dari meja.

Pecahannya jatuh ke lantai.

"Kalian bilang tidak ada hubungan langsung!"

"Tidak ada kontrak langsung. Tapi pola kampanye lama dipakai ulang."

Untuk pertama kalinya, kemarahan Reno menghasilkan benda pecah yang benar-benar terekam kamera kantornya sendiri.

Pukul 22.16, Wisnu menerima pembaruan tertulis. Sherly dan Deni telah dibawa untuk pemeriksaan. Setelah gelar awal dan pemeriksaan bukti, keduanya ditetapkan sebagai tersangka dalam rangkaian dugaan penipuan dan percobaan pemerasan; proses penahanan dan pasal akhir mengikuti keputusan penyidik.

Raka membacakan hanya bagian yang boleh diumumkan.

"Mereka sudah berada dalam proses hukum. Berhenti mencari mereka. Jangan berubah dari penonton menjadi pelaku."

Siaran berakhir setelah dua jam dua puluh menit. Pengikut Studio melewati dua ratus ribu malam itu. Beni menutup formulir umum setelah 1.900 lebih permintaan masuk dan mengaktifkan sistem antrean. Dari permintaan lama yang sudah melalui survei, enam klien menandatangani kontrak elektronik dan membayar uang muka sesuai invoice. Jadwal produksi terverifikasi kini penuh hampir tiga bulan.

Tidak ada 1.900 pesanan palsu yang diumumkan. Hanya enam kontrak nyata.

Potongan paling viral bukan wajah Sherly atau vas.

Itu adalah kalimat Raka ketika menolak menyimpulkan lebih dari bukti.

Mas Kalem tidak minta dipercaya. Dia minta diperiksa.

Anindya membaca komentar itu dengan mata hangat. Ia bangga bukan karena pertahanannya ikut bekerja, melainkan karena Raka tidak pernah membutuhkan seseorang untuk berdiri di depannya.

Raka menatap kamera sebelum mematikan siaran.

"Kepada orang yang menyutradarai semua ini," katanya, "saya sarankan berhenti. Kali ini saya menunjukkan bukti kejadiannya. Lain kali, jika bukti membawa saya kepada Anda, saya akan menunjukkan Anda juga."

Di Nexora, wajah Reno membeku di antara pecahan cangkir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!