NovelToon NovelToon
Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Adik Tunanganku yang Nakal dan Liar

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Malam pesta pertunangan yang seharusnya jadi malam paling membahagiakan, **Laras Wirasena**—pianis muda dari keluarga terpandang—malah memergoki tunangannya sendiri, **Radithya Adiwangsa**, pewaris Grup Adiwangsa, sedang bermain api dengan asistennya di balik pintu yang terbuka sedikit.

Belum sempat Laras mengamankan bukti, ponselnya direbut dan videonya dihapus—oleh **Bramantya**, adik kandung Radit yang terkenal nakal, urakan, dan tak kenal aturan. Bukannya membela, cowok itu malah menyeringai menantang:

> *"Menggodaku buat balas dendam ke abangku?"*

Laras cuma menginginkan satu hal: membatalkan tunangan dan lepas dari keluarga yang menjualnya demi sebuah proyek bisnis raksasa. Tapi malam itu mengubah segalanya. Sekali, dua kali... lalu malam-malam rahasia yang tak terhitung lagi jumlahnya.

Yang tak Laras sadari: di balik topeng *bad boy* itu, Bram menyimpan sebuah bekas luka di pinggang, sebuah tato Latin di jarinya, dan satu rahasia yang telah ia pendam bertahun-tahun. Pria yang katanya cuma cari senang ini ternyata pernah menahan sebuah peluru demi menyelamatkan nyawanya di sebuah gedung konser di luar negeri—dan telah mencintainya diam-diam, jauh sebelum takdir "mempertemukan" mereka.

Ketika perselingkuhan sang tunangan meledak di depan seluruh undangan, ketika kembang api pecah di atas panggung juaranya, ketika satu ciuman viral mengguncang seluruh negeri—Laras akhirnya harus memilih: terus berpura-pura, atau mengakui bahwa satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya justru adik dari pria yang mengkhianatinya.

Tapi Bram tak datang hanya untuk mencintainya. Ia datang untuk merebut kembali segalanya—dan menjatuhkan abangnya sendiri, sampai ke titik terdalam.

> *"Sekarang dia mantan tunanganmu, pacarku, dan calon adik iparmu. Kenapa, Mas?"*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Sakit yang Selalu Tepat Waktu

Tiga minggu kemudian, Bram duduk di ujung meja rapat Grup Adiwangsa sambil menatap ponselnya.

Di layar besar, angka Proyek Cakrawala berganti cepat. Direktur keuangan menjelaskan arus dana konstruksi, jadwal pencairan bank, dan biaya pengadaan yang naik. Radit memimpin rapat dengan tenang. Sesekali ia melempar pertanyaan tajam, membuat para kepala divisi berebut membuka dokumen.

Bram tampak tidak tertarik. Ia menyandarkan tubuh, memutar pulpen, bahkan membuka aplikasi gim ketika pembahasan masuk ke anak perusahaan yang diawasi Om Bambang.

Namun di bawah meja, ia telah memotret tiga angka yang tidak selaras dengan laporan minggu lalu. Pesan singkatnya terkirim kepada Yoga.

Periksa vendor kedua. Jangan lewat sistem kantor.

Ponselnya bergetar sebelum Yoga menjawab. Bram menyentuh layar tanpa melihat dan tanpa sadar menekan ikon pengeras suara.

Suara Laras yang masih berat karena baru bangun memenuhi ruang rapat.

"Bram, beliin aku lingerie yang kemarin dong. Yang hitam, jangan salah ukuran lagi."

Ruangan langsung sunyi.

Seorang kepala divisi menunduk terlalu cepat. Yoga menutup mulut dengan map. Radit berhenti membalik halaman dan mengangkat pandangan.

Bram mengambil ponselnya dengan santai, mematikan suara, lalu mengetik satu balasan.

"Lanjut," katanya kepada direktur keuangan. "Saya masih dengar."

Rapat bergerak lagi, meski tak seorang pun benar-benar melupakan suara perempuan tadi.

Begitu peserta lain pergi, Radit menahan pintu. "Belakangan ini kamu main sama siapa?"

"Banyak yang mau daftar. Mas mau lihat antreannya?"

"Perempuan tadi nggak terdengar seperti orang yang sedang antre."

Bram memasukkan ponsel ke saku. "Cuma main-main. Jangan serius banget."

"Kamu tidak pernah membiarkan perempuan mengatur barang yang kamu beli."

"Berarti aku sedang belajar murah hati."

Radit menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. "Hati-hati. Ada perempuan yang menganggap satu malam sebagai janji."

"Pengalaman pribadi, Mas?"

Senyum Radit membeku. Bram sudah berjalan keluar sebelum ia sempat membalas.

Di kantor pribadinya, Bram menjatuhkan jas ke sofa. "Pembuat masalah."

Yoga yang mengikutinya pura-pura tidak mendengar.

"Cari model yang dia bilang. Warna hitam. Kirim ke rumah."

"Ukuran?"

Bram memberinya tatapan datar.

Yoga segera mengangkat kedua tangan. "Saya cek riwayat pesanan."

Beberapa menit kemudian, Radit berdiri di depan jendela kantornya dan menelepon orang kepercayaannya. Ia hanya memberi satu perintah: perhatikan jadwal Bram dan cari tahu siapa perempuan yang belakangan sering bersamanya.

Beberapa hari setelah rapat itu, lewat tengah malam, Laras berada di bawah Bram dengan rambut tersebar di bantal. Ciuman Bram baru turun ke lehernya ketika ponsel di meja samping berdering.

Ia mengabaikannya.

Panggilan kedua masuk. Nama rumah sakit menyala di layar.

"Angkat," ujar Laras.

"Pasti Eyang bosan."

"Bram."

Ia mendesah, lalu menerima panggilan. Pak Gito mengabarkan kondisi Eyang tiba-tiba memburuk dan seluruh keluarga diminta datang.

"Lihat?" Bram menutup telepon. "Orang tua itu selalu sakit pada waktu yang tepat."

"Pergi ke rumah sakit."

"Lima menit lagi."

Ia mencoba menahan Laras di kasur. Laras mendorong bahunya. Bram yang kalah menggigit pelan sisi lehernya, cukup untuk membuatnya memaki, lalu bangkit mencari kemeja.

"Kalau itu bekas, kamu tanggung jawab," kata Laras.

"Dengan senang hati."

Setelah pintu tertutup, rumah mendadak terlalu sunyi. Laras mengambil ponselnya. Dua puluh tiga panggilan tak terjawab dari Bu Widuri memenuhi layar, disusul pesan panjang yang tidak menanyakan apakah ia aman.

Ibu sudah bilang ke semua orang kamu demam. Jangan mempermalukan keluarga. Radit sudah mengakui kesalahan. Laki-laki bisa khilaf. Pulang dan selesaikan ini baik-baik.

Ada juga pesan Radit.

Aku kangen. Kita jangan biarkan kesalahpahaman merusak semuanya.

Laras tertawa kecil. Air matanya ikut jatuh.

Ibunya mampu berbohong kepada seluruh dunia bahwa ia sakit, tetapi tidak pernah sekali pun bertanya siapa yang merawatnya ketika ia benar-benar demam. Radit menyebut pengkhianatan sebagai kesalahpahaman. Mereka tidak menginginkan Laras pulang. Mereka menginginkan pengantin perempuan kembali ke tempat yang sudah ditentukan.

Ia menghapus air mata dan membuka kalender. Jika keluarganya terus menunda keputusan, ia akan membuat keputusan itu tidak mungkin ditarik kembali.

Di rumah sakit, Bram menemukan lantai ICU dipenuhi anggota keluarga. Bu Ratna menangis. Pak Kusumo mondar-mandir. Radit tiba sepuluh menit kemudian dan langsung bertanya kepada dokter tentang angka saturasi serta risiko terburuk.

Bram memilih kursi paling jauh. Ia tahu Eyang pernah memakai trik serupa untuk mengumpulkan orang yang mulai bergerak di belakangnya. Namun ia tetap tinggal sampai pagi, karena kemungkinan satu persen bahwa kali ini sungguhan terasa terlalu mahal untuk diabaikan.

Menjelang subuh, dokter menyatakan kondisi Eyang stabil. Proses keluarga terkait akad yang perlu persetujuan dan kehadiran beliau kembali ditunda sampai masa pemulihan selesai.

Siangnya, Bram masuk ke kamar VIP dan mendapati orang yang semalam disebut kritis sedang memainkan gim mencocokkan permen di tablet.

"Sudah mati berapa kali, Yang?"

"Diam. Tinggal satu langkah."

Eyang Sudibyo menyelesaikan level, lalu menaruh tablet. Warna wajahnya jauh lebih sehat daripada sebagian keluarga yang semalam berjaga. Pak Gito berdiri di sudut dengan ekspresi tak bersalah.

"Jadi ICU itu panggung?" tanya Bram.

"Kalau saya cuma mengundang makan, ular-ular itu tidak akan keluar dari lubang."

"Sekalian menunda akad?"

"Tubuh tua saya punya hak memilih kapan lemah."

Tatapan Eyang jatuh pada punggung tangan Bram. Ada bekas gigi samar di dekat ibu jari.

"Perempuan?"

Bram menarik manset menutupinya. "Cuma main-main."

"Kalau cuma main, kenapa bekasnya kamu bawa ke rumah sakit?"

"Karena kulit saya nggak bisa dicuci seperti kemeja."

Eyang mendengus, tetapi matanya tetap tajam.

Saat Bram keluar dari kamar, ponselnya bergetar. Pesan dari Laras hanya terdiri dari dua kata.

Aku pergi.

Bram langsung mengetik.

Ke mana?

Tidak ada jawaban.

Nggak jadi kabur nikah?

Tanda pesan terbaca tidak muncul. Lima menit berlalu. Lalu sepuluh.

Untuk pertama kalinya sejak Laras datang ke rumahnya, Bram menggenggam ponsel tanpa tahu apakah perempuan itu sedang menghukumnya atau benar-benar telah pergi dari hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!