Reno selalu percaya bahwa tugas terbesarnya di dunia adalah bertahan hidup dan melindungi adiknya, meski harus mengubur luka masa kecilnya rapat-rapat.
Namun, ketika usahanya runtuh dan wanita yang dicintainya, Kareen, menuntut kepastian di tengah kegagalan, Reno dihadapkan pada pilihan terberat: memaksakan diri bertahan meski hancur, atau melepaskan demi menyembuhkan lukanya sendiri.
"Tunggu aku. Tapi kalau aku terlalu lama... menikahlah dengan orang yang bisa membuatmu bahagia."
Ketika masa lalu melukainya dan masa depan tak memberi kepastian, mampukah Reno menemukan kembali potongan dirinya yang hilang sebelum waktu benar-benar memisahkan mereka?
Sebuah kisah tentang luka masa kecil, impian yang patah, dan keberanian untuk memulihkan diri sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemeera_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Beban di Pundak yang Sama
Hujan menderas di luar jendela kaca ruang diskusi, menambah pekat udara malam Ciumbuleuit. Malam itu, di hari pertama pelatihan, seluruh peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil untuk menyelesaikan studi kasus tentang manajemen krisis di lapangan. Sialnya—atau mungkin kebetulan yang aneh—aku kembali berada di kelompok yang sama dengan Kareen dan dua peserta lain dari cabang Surabaya.
Tumpukan dokumen dan selembar flipchart terhampar di atas meja bundar kami. Sementara dua rekan dari Surabaya masih berdebat mengenai akar masalah, aku sudah menarik laptop ke hadapanku dan mulai mengetik draf penyelesaian masalah.
"Biar saya yang susun laporan akhirnya. Kalian bisa pelajari kerangkanya nanti sebelum presentasi besok pagi," kataku tanpa menatap mereka, jemariku bergerak cepat di atas keyboard.
Sebuah tangan berkulit terang tiba-tiba menutup layar laptopku perlahan. Aku mendongak, menatap tajam ke arah Kareen yang kini duduk bersedekap menatapku.
"Reno, ini tugas kelompok," tegur Kareen dengan nada tenang namun tegas. "Bukan tugas individu yang kebetulan dikerjakan di meja yang sama."
Aku menghela napas, berusaha menahan letupan jengkel. "Lebih cepat kalau saya yang kerjakan, Kareen. Kita bisa selesai sebelum jam sepuluh malam. Risiko kesalahannya juga lebih kecil kalau satu orang yang pegang kendali."
Kareen tidak bergeming. Ia memajukan tubuhnya sedikit. "Kalau kamu terus-terusan bertindak sebagai single fighter, lalu buat apa manajemen mengangkat mu jadi penyelia? Tugas seorang penyelia bukan memikul semua beban sendirian supaya aman, Reno. Tugasmu adalah mengarahkan dan—yang paling penting—belajar mempercayai timmu."
Kata-kata "belajar mempercayai" itu seakan menembus dadaku, tepat mengenai titik rapuh yang selama ini aku sembunyikan. Kalimat itu tidak hanya menelanjangi caraku bekerja, tetapi juga caraku menjalani hidup, caraku memperlakukan Rayan.
Aku terdiam. Dua rekan dari Surabaya saling berpandangan canggung.
"Beri mereka kesempatan," lanjut Kareen, suaranya kini melembut. "Dunia tidak akan hancur hanya karena kamu melepaskan kendali sedikit saja."
Dengan perasaan enggan yang luar biasa berat, aku menyingkirkan tanganku dari keyboard dan membiarkan anggota kelompok yang lain membagi tugas. Aku duduk di sana, mengawasi mereka bekerja dengan perasaan was was, layaknya seseorang yang bersiap melihat gedung runtuh. Namun, satu jam berlalu, dan gedung itu tetap berdiri tegak. Laporan kami selesai dengan kualitas yang tak kalah bagus dari yang biasa ku kerjakan sendirian.
Pukul setengah sebelas malam, diskusi dibubarkan.
Aku berjalan menuju balkon lobi hotel yang sepi, membiarkan udara dingin pegunungan menerpa wajahku. Pikiranku berkecamuk. Baru satu hari di Bandung, dan prinsip pertahanan diri yang ku bangun bertahun-tahun rasanya mulai goyah.
"Udaranya dingin banget. Nggak pakai jaket?"
Aku menoleh. Kareen berdiri tidak jauh dariku, mengulurkan segelas kertas berisi kopi hangat yang asapnya masih mengepul tipis.
"Terima kasih," ucapku, menerima gelas itu. Kehangatannya perlahan menjalar ke telapak tanganku yang kebas.
Kareen bersandar pada pagar balkon, menatap kerlip lampu kota Bandung di kejauhan. "Maaf kalau ucapanku di ruang diskusi tadi agak keras. Aku di bagian SDM, kebiasaan menganalisis karakter orang kadang bikin aku kelepasan bicara jujur."
"Tidak apa-apa. Kau benar," balasku pelan. Mengakui kekalahan adalah hal yang jarang kulakukan, namun entah kenapa bersama wanita ini, rasanya tidak seburuk itu. "Aku... memang tidak terbiasa mengandalkan orang lain. Sejak dulu, aku tahu bahwa kalau aku lengah sedikit saja, aku bisa kehilangan hal yang paling berharga."
Kareen menoleh, menatapku dengan lembut. "Ada seseorang yang harus kamu jaga?"
Aku menatap permukaan kopi yang gelap, lalu mengangguk pelan. "Adik laki-lakiku. Namanya Rayan. Dia satu-satunya keluarga yang ku punya. Meninggalkannya sendirian di Jakarta untuk pelatihan ini... rasanya seperti bertaruh nyawa."
Senyum hangat mengembang di wajah Kareen. Bukan senyum kasihan yang ku benci, melainkan senyum pengertian. "Adikmu pasti sangat bangga punya kakak sepertimu, Reno. Tapi percaya deh, sama seperti laporan kelompok kita tadi, adikmu mungkin jauh lebih kuat dan mandiri dari yang kamu bayangkan. Jangan sampai rasa ingin melindungi mu justru mematikan kesempatannya untuk tumbuh."
Malam itu, di kamar hotel, aku menelpon Rayan Suara riang adikku menceritakan bagaimana ia berhasil memasak nasi goreng kesukaannya tanpa membuat dapur berantakan, membuat mataku memanas.
Kareen benar. Dunia tidak hancur saat aku melepaskan genggamanku. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak beberapa tahun terakhir, aku bisa memejamkan mata dan tertidur dengan tenang.