NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Cinta Kontrak 2 Bos Dominan

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jifa Flora Dewi

Demi kompensasi bernilai fantastis, Azahra Aletta nekat melakukan sandiwara berbahaya: menandatangani dua kontrak pacar pura-pura secara bersamaan. Kontrak pertama datang dari Ethan Austin, pria dingin yang ia temui di ajang pencarian jodoh demi memenuhi syarat warisan keluarga. Namun, baru satu minggu berjalan, James Daniel—CEO otoriter sekaligus bos besar di tempat kerjanya—turut menuntut Azahra menjadi kekasih palsunya untuk menghindari perjodohan bisnis. Tergiur bayaran ganda, Azahra nekat bermain kucing-kucingan di balik layar.


Rencana sempurnanya hancur berantakan ketika rahasia tersebut akhirnya terbongkar di hadapan kedua pria itu. Alih-alih melayangkan gugatan atau memecatnya, rahasia yang terkuak justru membakar gengsi dan obsesi Ethan maupun James. Kedua bos dominan itu membuang aturan formal dan bersaing secara terbuka untuk memenangkan hati Azahra secara nyata. Kini, Azahra terjebak di antara dua pria berkuasa yang posesif dalam permainan cinta berbahaya yang ia ciptakan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jifa Flora Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : BARANG DAGANGAN BERNAMA AZAHRA

Pintu ganda berpanel kayu jati tebal di ruangan VIP belakang panggung tertutup dengan dentuman keras. Gemuruh kebisingan Grand Ballroom, kilatan lampu kamera wartawan, dan cemoohan halus para tamu undangan seketika teredam, berganti dengan keheningan yang mencekat.

Di dalam ruangan berkarpet merah tebal itu, udara terasa begitu berat hingga menyiksa paru-paru.

Edward Austin berdiri menopang tubuhnya dengan kedua tangan di atas kepala tongkat peraknya. Napas pria tua itu terdengar berat, matanya yang pekat oleh pengalaman puluhan tahun menatap Ethan Austin dan James Daniel secara bergantian. Dua pria muda terhebat di dunia bisnis kota ini kini berdiri saling berhadapan hanya dipisahkan jarak dua meter. Aura permusuhan di antara mereka begitu pekat hingga membuat dua pengawal pribadi di dekat pintu memilih menundukkan kepala.

Di sudut sofa kulit, Azahra Aletta duduk merapat. Tangan gadis itu saling bertaut erat di atas pangkuannya, gemetar tanpa henti. Gaun sutra biru navy mahal yang membungkus tubuhnya kini terasa bagaikan gaun eksekusi. Air mata yang sempat mengering di pipinya meninggalkan jejak dingin yang menyengat.

"Kalian berdua..." suara Edward bergaung rendah, dipenuhi murka yang ditahan. Pria tua itu menggetukkan tongkatnya ke lantai hingga menimbulkan suara retakan halus di permukaan kayu. "...adalah pembawa bencana! Kalian membiarkan seorang gadis biasa mempermainkan nama besar Austin Group dan Daniel Corporation di depan ratusan mata media?!"

Ethan melangkah satu senti ke depan, membetulkan posisi manset kemejanya yang sedikit kusut. Wajahnya telah kembali dingin bagaikan es, tetapi ada kilat obsesi yang sangat asing membayang di balik mata kelabunya.

"Ini bukan salah media, Kakek," sahut Ethan datar, tanpa rasa penyesalan sedikit pun. "James yang menerobos masuk dan membuat keributan di acara kita."

"Jangan memutarbalikkan fakta, Ethan!" bentak James, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Pria itu menunjuk ke arah Azahra dengan jari gemetar akibat amarah murni. "Gadis itu adalah bawahan saya! Dia menandatangani perjanjian dengan saya lebih dulu sebelum kau memamerkannya di karpet merah seperti barang pajangan!"

"Dia menandatangani kontrak pertunangan dengan saya seminggu sebelum dia menyentuh dokumen di kantormu, James," balas Ethan, suaranya tenang namun mengandung ancaman mematikan. "Secara hukum dan kronologi, dia milik agenda Austin Group. Kau hanya pihak ketiga yang kebetulan dimanfaatkan oleh kepolosannya mencari uang."

"Kepolosan?" James tertawa sinis, langkah kakinya bergerak mendekati sofa tempat Azahra duduk. James menundukkan tubuhnya, menatap Azahra yang refleks memalingkan wajah karena takut. "Kau dengar itu, Azahra? Dia menyebutmu polos. Dia tidak tahu betapa pandainya kau berbohong di hadapanku demi uang lima ratus juta rupiah itu!"

Azahra memejamkan mata rapat-rapat. Setiap kata yang keluar dari mulut kedua pria itu terasa seperti sembilu yang menyayat harga dirinya hingga tak bersisa. Mereka tidak sedang memperebutkan cintanya. Mereka sedang memperebutkan gengsi, kemenangan bisnis, dan hak kepemilikan mutlak atas seorang wanita yang berani membohongi mereka.

"Cukup!" bentak Edward Austin dengan ketegasan yang memotong perdebatan kedua pria itu.

Edward melangkah mendekati sofa, berdiri tepat di hadapan Azahra. Pria tua itu merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah buku cek dari kulit hitam, lalu menyapukan pulpen emasnya di atas lembaran kertas tersebut. Dengan gerakan cepat, Edward menyobek kertas cek itu dan membuangnya ke meja kaca di hadapan Azahra.

Terpampang angka yang sanggup membuat siapa pun terperanjat: Sepuluh Miliar Rupiah.

"Dengar baik-baik, Gadis Muda," ujar Edward dengan nada dingin tanpa emosi. "Ambil uang ini. Malam ini juga, kau kemasi barang-barangmu, keluar dari kota ini, dan jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di hadapan Ethan maupun James. Kau akan menandatangani dokumen kerahasiaan untuk tidak membocorkan apa pun pada pers. Ini adalah harga untuk memulihkan nama baik keluarga kami dari kebodohanmu."

Azahra menatap lembaran cek sepuluh miliar rupiah itu. Angka yang fantastis. Angka yang tadinya bisa mengubah seluruh takdir hidupnya dan membebaskannya dari penderitaan. Namun malam ini, melihat angka tersebut tergeletak di meja, rasa mual yang luar biasa membumbung di dalam dadanya.

Ia merasa tak ubahnya seperti barang dagangan yang sedang ditawar di pasar lelang.

Azahra perlahan membuka mulutnya untuk menyetujui penawaran tersebut—keinginan untuk kabur dan terbebas dari jerat ini begitu membakar benaknya. Namun sebelum sepatah kata pun keluar dari bibirnya, sebuah tangan kekar menyambar cek itu dari atas meja dan merobeknya menjadi dua bagian tanpa ragu.

Ethan Austin yang melakukannya.

"Apa yang kau lakukan, Ethan?!" jerit Edward, matanya membelalak tak percaya.

"Kakek tidak berhak mencampuri urusan ini," kata Ethan dingin, membuang serpihan cek itu ke lantai. Mata kelabunya kini terkunci sepenuhnya pada Azahra. "Azahra tidak akan ke mana-mana. Dia sudah menandatangani kontrak denganku, dan dia harus menyelesaikan kewajibannya sebagai tunanganku sampai masa kontrak berakhir."

"Kau sudah gila, Ethan!" bentak James, melangkah memotong jalur pandang Ethan. "Kau pikir saya akan membiarkannya tinggal di sisimu setelah tahu dia adalah kekasih saya? Saya akan membayar denda wanprestasi apa pun yang ada di dalam kontrakmu itu, Ethan! Berapa? Dua kali lipat? Tiga kali lipat? Saya beli kontrak itu malam ini juga!"

"Gadis ini tidak dijual, James," sahut Ethan dengan desisan membahayakan, matanya memicing tajam. "Dan kau tidak memiliki cukup uang atau pengaruh untuk membeli apa yang sudah menjadi milik Austin Group."

"Coba saja kalau kau bisa menghentikanku!" tantang James, aura kejamnya sebagai CEO otoriter memuncak. Pria itu memutar tubuhnya, meraih pergelangan tangan Azahra secara kasar dan memaksanya berdiri dari sofa. "Kau ikut denganku sekarang, Azahra. Kau kembali ke apartemenku malam ini!"

"Lepaskan dia, James!" Ethan menyambar bahu James dari belakang, mendorong pria itu dengan kekuatan penuh hingga cengkeraman James di tangan Azahra terlepas.

"Dua pria bodoh!" teriak Edward Austin, namun suaranya diabaikan total oleh Ethan dan James yang kini sudah saling cengkeram di kerah kemeja masing-masing.

Di tengah-tengah kekacauan, amarah, dan saling klaim kepemilikan tersebut, Azahra berdiri mematung.

Ia menatap kedua pria berkuasa itu dengan pandangan yang mendadak kosong. Tidak ada lagi rasa takut. Tidak ada lagi rasa panik. Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah kemuakan yang begitu mendalam dan rasa dingin yang mematikan.

Mereka tidak mendengarkannya. Mereka tidak peduli pada penderitaannya, alasan di balik kemiskinannya, atau jeritan batinnya. Bagi Ethan, dia adalah investasi dan gengsi yang tak boleh direbut saingan. Bagi James, dia adalah kepatuhan dan hak milik yang tak boleh dikhianati.

Aku ini manusia, batin Azahra berbisik pilu. Aku bukan mainan kalian.

"Hentikan..." bisik Azahra pelan.

Tidak ada yang mendengar. Ethan dan James masih saling gertak dengan urat-urat leher yang bertonjolan.

"SAYA BILANG HENTIKAN!" jerit Azahra dengan seluruh kekuatan yang tersisa di paru-parunya.

Suara jeritan yang sarat akan keputusasaan murni itu bergaung keras, sanggup membungkam pergulatan Ethan dan James seketika. Kedua pria itu terhenti, memutar kepala mereka dan menatap Azahra dengan raut terkejut.

Azahra menarik napas pendek yang tersengal-sengal. Air matanya mengalir deras, namun matanya menatap Ethan dan James dengan keberanian nekat seorang manusia yang sudah tak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan.

"Kalian ingin tahu kenapa saya mengambil uang kalian berdua?" suara Azahra bergetar hebat, namun setiap katanya terucap dengan sangat jelas. "Karena saya miskin! Karena ibu saya meninggal di rumah sakit dengan meninggalkan utang ratusan juta yang harus saya tanggung sendiri! Karena di dunia orang-orang kaya seperti kalian, orang seperti saya hanya dianggap sampah jika tidak punya uang!"

Ethan tertegun, cengkeraman tangannya di kerah baju James perlahan melonggar. Sementara James mematung, menatap raut hancur di wajah Azahra dengan kilat penyesalan tipis yang mendadak menyusup ke dadanya.

"Tapi malam ini..." lanjut Azahra, menyapu air matanya dengan kasar hingga polesan riasannya berantakan. "...melihat kalian bertengkar seperti anak kecil yang berebut mainan... saya sadar bahwa uang kalian adalah racun. Saya muak."

Azahra melepaskan kalung berlian mahal yang melingkar di lehernya dengan sentakan keras hingga pengaitnya putus, lalu melemparkannya ke dada Ethan. Kalung itu jatuh berdenting di atas lantai.

"Ambil kembali perhiasanmu, Ethan," desis Azahra. Kemudian ia menatap James, melepaskan jam tangan pemberian pria itu dan melemparkannya ke kaki James. "Dan ambil kembali pemberianmu, James. Saya berhenti. Saya mundur dari Daniel Corp, dan saya membatalkan seluruh kontrak gila ini."

Ruangan itu hening total.

"Azahra, kau tidak bisa mundur begitu saja—" James mencoba melangkah mendekat, suaranya mendadak melunak, dihinggapi rasa takut yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—rasa takut kehilangan gadis ini sepenuhnya.

"Jangan sentuh saya!" bentak Azahra, mundur beberapa langkah menuju pintu keluar. "Kalian berdua boleh menggunakan seluruh pengacara dan kekuasaan kalian untuk memenjarakan saya atau menghancurkan hidup saya. Tapi saya tidak akan pernah lagi menjadi boneka di dalam permainan ego kalian!"

Tanpa menunggu tanggapan lebih lanjut, Azahra membalikkan badan. Ia menepis tangan pengawal yang mencoba menghalanginya, memutar gagang pintu, dan berlari keluar dari ruangan privat tersebut.

Ia berlari menembus koridor sepi, mengabaikan gaun cantiknya yang menjuntai di lantai, mengabaikan tatapan heran dari para staf hotel. Ia terus berlari menuju pintu keluar belakang, menyatu dengan dinginnya malam Jakarta yang diguyur hujan gerimis.

Di dalam ruangan privat, James dan Ethan masih berdiri mematung.

Ancaman hukum yang biasa mereka gunakan, kekuasaan uang yang biasa membelenggu siapa saja, malam ini tak membalas apa-apa selain penolakan mutlak dari seorang gadis biasa. Penolakan Azahra bukannya memadamkan api persaingan mereka, melainkan menorehkan luka dalam pada ego dan hati kedua pria tersebut—sebuah luka yang mendadak mengubah rasa penasaran menjadi obsesi yang jauh lebih berbahaya.

"Saya akan mencarinya," kata James pelan, suaranya dingin dan sarat akan keputusan mutlak. Pria itu merapikan kemejanya, lalu melangkah menuju pintu.

"Langkahmu akan sia-sia, James," sahut Ethan dari belakang, matanya menatap serpihan kalung berlian di lantai dengan pandangan yang begitu pekat. "Dia milik saya. Dan saya tidak akan pernah melepaskannya."

Sementara itu, di sudut luar hotel dekat kegelapan pelataran parkir, sosok wanita bergaung merah menyala—Clarissa Vance—berdiri di bawah payung hitamnya. Ia menyaksikan Azahra berlari menembus hujan dengan rasa benci yang sudah membakar habis akal sehatnya.

Clarissa merogoh ponselnya, menekan satu nomor rahasia di dalam daftarnya.

"Cari tahu ke mana gadis itu pergi malam ini," bisik Clarissa dengan suara penuh racun, matanya terkunci pada bayangan Azahra yang makin menjauh di ujung jalan. "Dan pastikan... dia tidak akan pernah bisa kembali lagi ke kota ini."

1
Nisasaidatus
kaaa kenapa g lanjutt
Jifa Flora Dewi: terima kasih sudah menyukai cerita ini saya akan segera mengupdate bab selanjutnya terima kasih atas dukungannya 🥰
total 1 replies
Nisasaidatus
kaa Azahra ga beneran mati kan🥺
Nisasaidatus
kaaa kenapa Azahra meninggal 🥲
Nisasaidatus
lanjuttt kaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!