NovelToon NovelToon
Su Yu Memberontak Takdir

Su Yu Memberontak Takdir

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:21.4k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.

Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.

Ia memilih yang kedua.

Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Tuduhan yang Terbuka

Di depan gerbang kediaman Klan Su, Su Yu berdiri dengan tubuh yang masih basah oleh sisa hujan. Dua penjaga gerbang menghadangnya sebelum ia sempat melangkah lebih jauh ke dalam.

"Tunggu di sini, sampah," ucap salah satu penjaga sambil mengangkat dagunya. "Kau tidak boleh masuk sebelum para tetua memberikan izin."

Su Yu tidak membantah. Ia menundukkan kepalanya sedikit, lalu berdiri diam di tempatnya sambil menunggu.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki yang berat terdengar dari dalam kediaman. Empat sosok tetua muncul dari balik pintu gerbang dengan langkah yang tenang namun sarat wibawa. Pakaian mereka yang berwarna gelap berkibar pelan tertiup angin sore.

Su Yu segera menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan menundukkan tubuhnya.

"Para tetua, saya telah kembali," ujarnya dengan suara rendah. "Saya membawa sepasang Tanduk Rusa Malam sesuai perintah Tuan Muda Su Jao dan arahan dari Su Han."

Tetua Pertama menatapnya sekilas, lalu mengibaskan tangannya.

"Masuklah."

Keempat tetua itu berbalik tanpa menunggu jawaban. Su Yu melangkah mengikuti mereka dari belakang dengan kepala tetap tertunduk. Ketika melewati kedua penjaga, ia menangkap seringai tipis di sudut bibir mereka, tetapi ia memilih untuk tidak menanggapinya.

Begitu tiba di halaman dalam, pemandangan yang sudah sangat ia kenal kembali menyambutnya. Puluhan anggota klan telah berkumpul di sana. Para pemuda dan pemudi berdiri berkelompok, sebagian menyilangkan tangan, sebagian lagi berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya. Su Jao berdiri di barisan paling depan dengan senyum yang tidak berusaha ia sembunyikan.

Su Yu terus melangkah hingga tiba di tengah halaman. Begitu ia berhenti, kedua penjaga yang tadi menghadangnya di gerbang kini menutup pintu besar itu dengan suara berat.

BRAK!

Suasana seketika menjadi sunyi.

Su Yu sudah sangat familiar dengan pemandangan ini. Gerbang yang ditutup, tatapan penuh kebencian, lalu pukulan yang akan datang tanpa ampun. Ia menarik napas pelan dan menunggu.

Keempat tetua berhenti beberapa langkah di hadapannya, lalu berbalik secara bersamaan. Tetua Keempat mengulurkan tangannya ke depan.

"Bawa ke sini tanduk itu."

"Baik, Tetua," jawab Su Yu sambil melangkah mendekat.

Begitu ia tiba di hadapan Tetua Keempat, ia menyerahkan sepasang tanduk itu dengan kedua tangannya. Tetua Keempat meraihnya dengan kasar, lalu melemparkannya ke tanah tanpa peduli.

Belum sempat Su Yu menarik tangannya kembali, sebuah gerakan cepat datang dari samping. Kaki kanan Tetua Keempat melayang dan menghantam pinggang kiri Su Yu dengan tenaga penuh.

Bugh!

"Ughh!"

Tubuh Su Yu terlempar ke samping dan jatuh tergeletak sekitar dua zhang dari posisinya semula.

Para anggota klan yang menyaksikan langsung menyeringai puas. Sebagian pemuda bahkan tertawa kecil sambil menunjuk-nunjuk ke arah Su Yu yang masih berusaha bangkit. Su Yu mengepalkan tangannya di atas tanah, tetapi segera ia lemaskan kembali.

Ia bangkit perlahan, lalu berlutut dengan satu kaki menekuk dan kepala menunduk. Darah belum mengalir, tetapi rasa nyeri sudah menjalar di seluruh sisi kiri tubuhnya.

Tetua Ketiga menatapnya dengan pandangan dingin. "Kau tahu kenapa Tetua Keempat menendangmu?"

Su Yu menggeleng tanpa mengangkat kepalanya.

"Tidak tahu, Tetua."

Tetua Ketiga menghela napas panjang. Ia lalu melesat cepat, tubuhnya meninggalkan hembusan angin kecil sebelum tiba di belakang Su Yu dalam sekejap.

"Dasar sampah. Itu karena kau baru pulang setelah pergi delapan hari."

Setelah selesai kalimat itu, kaki kanannya melayang dan menghantam kepala Su Yu dari belakang.

Bugh!

"Ughh!"

Tubuh Su Yu terpental ke depan dan berguling-guling beberapa kali, kemudian terhenti sekitar tiga zhang dari posisi sebelumnya. Debu menempel di pakaiannya yang basah, sementara darah mulai menetes dari sudut bibirnya.

Namun anehnya, rasa sakit yang ia terima tidak lagi seberat dulu. Sejak esensi kunpeng menyatu dengan tubuh, lalu dantian dan meridiannya terbentuk, tubuhnya terasa jauh lebih kuat dalam menahan benturan. Meskipun luka tetap muncul, tetapi intensitas nyerinya tidak sebanding dengan apa yang pernah ia alami sebelumnya.

Di sisi lain, ada satu hal yang membuat pikirannya berhenti sejenak.

Delapan hari.

Ia baru menyadari bahwa waktu yang ia habiskan di dalam goa kristal bersama Cangle ternyata jauh lebih lama daripada yang ia duga. Padahal menurut perasaannya, semua itu hanya berlangsung sehari saja. Namun ia tidak punya waktu untuk merenungkan hal tersebut lebih jauh.

Su Jao melangkah mendekati Tetua Ketiga dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajahnya. "Paman, kapan giliran kami para anak muda? Saudara-saudaraku yang lain sudah tidak sabar."

Para pemuda yang berada di belakangnya langsung terkekeh dan mengangguk setuju.

"Itu benar tetua. Tangan saya sangat gatal."

Seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari Su Jao ikut bersuara, "Lagipula, siapa yang tidak tertarik memukuli si bajingan pemerkosa itu?"

Seorang pemuda lain menimpali dengan nada tinggi, "Belum lagi dia yang menjadi penyebab kematian pemimpin terdahulu, Su Hujian, kakeknya sendiri."

Suasana berubah semakin panas. Beberapa anggota klan mulai berteriak dari belakang.

"Saat itu di usia tiga tahun ia sekarat karena penyakit. Karena kondisinya itulah, pemimpin klan memasuki Lembah Bawah yang misterius, dan berakhir mati di sana!"

"Semua itu gara-gara dia!"

"Bahkan banyak kecurigaan yang menduga ayah dan ibunya terkena penyakit aneh... itu karena dia yang membawa kutukan!"

"Benar! Dia sampah cacat yang membawa sial bagi seluruh klan!"

Su Yu tetap menundukkan kepalanya. Setiap kata yang dilontarkan kepadanya sudah terlalu sering ia dengar, tetapi tetap saja ada perih yang menggerogoti dadanya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri perlahan-lahan.

Ketika tubuhnya sudah tegak sepenuhnya, ia mengangkat satu jarinya ke udara.

"Pertama," ucapnya dengan suara yang tenang, "sudah saya katakan berulang kali... saya tidak melecehkan Pelayan Ying."

Keheningan tiba-tiba menyelimuti halaman.

Su Yu melanjutkan, "Saat itu saya tertidur di kandang kuda seperti biasa karena kelelahan. Dan saat terbangun, saya sudah berada di kamar Pelayan Ying. Saya sangat yakin kalian yang merencanakan semua ini."

Mendengar kalimat terakhir itu, wajah banyak orang berubah muram. Su Jao langsung membentak keras.

"Berani kau menuduh kami?!"

"Kau mencari mati!"

Pemuda lain berteriak sambil mengepalkan tinjunya.

Su Yu sama sekali tidak menggubris mereka. Ia mengangkat jari keduanya.

"Kedua, tentang kakek. Saat itu saya masih kecil, dan tidak pernah meminta kakek untuk pergi. Jadi jika dia pergi, itu karena keinginannya sendiri."

Kemarahan di wajah para anggota klan hampir mencapai batasnya. Beberapa orang mulai bergerak maju, tetapi Tetua Pertama mengangkat tangannya untuk menahan mereka.

"Berhenti, Su Yu," tegur Tetua Pertama dengan suara dingin. "Kau terlalu banyak bicara omong kosong. Kalau kau melanjutkannya, hari ini bisa menjadi hari terakhirmu."

Su Yu tidak perduli, ia menaikkan jari ketiganya tanpa ragu.

"Terakhir, dan yang paling penting."

Ia mengedarkan pandangannya untuk menatap seluruh anggota klan yang memandangnya dengan kebencian.

"Ayah dan ibu bukan mati karena sakit. Dulu sebelum mati, ayah pernah bilang kalau penyakitnya bukan penyakit alami, melainkan diracuni seseorang."

"Omong kosong!" bentak Tetua Ketiga dengan wajah merah padam.

Su Yu tidak berhenti. "Selama ini saya sudah cukup berdiam diri dan menerima semuanya. Fakta tentang tuduhan pelecehan, kematian kakek, dan kematian ayah ibu, itu semua omong kosong yang selalu kalian karang."

Ia tersenyum pahit, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, "Semua tuduhan itu karena ulah dua dalang. Kedua orang tersebut ialah..."

"Bunuh dia!" teriak Tetua Pertama dengan suara menggelegar.

Seluruh anggota klan langsung bergerak menuju Su Yu seperti ombak yang menerjang. Wajah-wajah mereka dipenuhi amarah, sementara tangan-tangan mereka telah mengepal siap menghantam.

Su Yu menatap itu tanpa takut. Bukan karena dia bisa melawan, tetapi hal ini sudah ratusan kali terjadi. Hanya saja kali ini mereka benar-benar berniat membunuh.

Hal yang membuat Su Yu menjadi sedikit lega... adiknya, Su Han tidak ada disini.

"Sepertinya adik sedang tidak ada di Klan. Ini akan lebih baik... agar rasa sakit yang kuterima tidak terasa lebih buruk."

Gumamannya hampir tidak terdengar di tengah keributan yang terjadi. Puluhan orang itu semakin dekat, dan Su Yu berdiri tegak di tengah halaman yang sebentar lagi akan menjadi penentuan hidup matinya.

1
Ilham Yono
/Determined//Determined//Determined//Determined/
Ilham Yono
misteri lahar panas/Proud/
septian arista
aduh aku juga bingung Kak Kenapa beberapa karya novelmu yang baru ini seperti kurang peminatnya
padahal Kalau menurut aku secara pribadi sih karya-karya dari Kakak ini sangat menarik dan juga bagus ceritanya🥺🥺🥺
septian arista: nggak apa-apa
tetap semangat dan semoga selalu sehat Kak
ditunggu Karya yang terbaru lagi dan semoga yang baru nanti banyak mendapatkan atensi dan apresiasi dari para pembaca👍👍👍
total 4 replies
septian arista
Apakah ikan itu nantinya akan berevolusi seiring dengan bertambahnya ranah kultivasi dari sang tokoh utama
septian arista
apa yang tersimpan di dalam lahar tersebut
pastinya itu adalah sesuatu yang bisa membantu untuk meningkatkan kekuatan
Marun Ka
Semangat Thor!!
AAAAAA: Ya... terimakasih🙏
total 1 replies
Ilham Yono
nice
Ilham Yono
koki 👻
Ilham Yono
menanam kebaikan👍
Ilham Yono
good
Ilham Yono
good choice
Fajar Fathur rizky
thor tolong di buat nanti suyu punya tubuh klone seperti xuhao thor bikin nanti alur cerita tubuh klone menolong seseorang yang mempunyai hubungan dengan keluarga istrinya suyu
Ilham Yono
sikat/Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver//Cleaver/👻☠️
Ilham Yono
bantai
Ilham Yono
👻👻👻👻☠️
Ilham Yono
sikat☠️⚔️👻
septian arista
pasti dia akan mendapatkan apa yang dia mau👍👍👍
septian arista
Apakah dia akan segera membalas dendam kepada klannya ataukah menahan diri dulu sambil meningkatkan kekuatan lalu menghancurkan seluruh Klan yang telah menyiksanya selama bertahun-tahun
septian arista
bagus memiliki perkembangan kultivasi yang cepat dan dengan cara yang berbeda dengan cultivator biasa👍👍👍
AAAAAA: Betul sekali/Angry//Determined/
total 1 replies
Ilham Yono
beuh ..apa yang diliat tidak seperti prasangkaan gaes
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!