NovelToon NovelToon
My Ashford Side

My Ashford Side

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.

Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.

Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.

Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.

Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.

Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

La Bonna De Luca terikat kencang pada sebuah kursi kayu berukiran tua di tengah ruangan yang remang-remang. Tali tebal mengikat dada, pergelangan tangan, dan kedua kakinya hingga kulitnya yang halus terasa lecet menusuk.

Bonna tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau tidak karena kepalanya tidak jadi ditembak begitu ia terpergok berada di ruangan yang tidak seharusnya ia masuki. Logikanya mengatakan ia seharusnya sudah membusuk dengan peluru menancap di tengkorak. Tapi di sinilah ia sekarang—masih bernapas, walau jantungnya berdetak kencang seperti drum perang.

Ada satu hal yang terasa sangat mengganjal di pikiran Bonna. Ekspresi wajah laki-laki di depannya yang sempat menodongkan pistol ke kepala Bonna beberapa waktu lalu... pria itu terlihat begitu terkejut saat Bonna menoleh ke arahnya.

Tatapan matanya yang dingin sempat membeku seketika, dan pistol yang seharusnya melubangi kepala Bonna justru diturunkan begitu saja oleh pria itu.

Dan di sinilah Bonna sekarang. Dalam keadaan terikat tanpa daya, sementara laki-laki itu berdiri santai di hadapan Bonna sembari menyalakan cerutu mahal menggunakan korek api berbahan perak.

Laki-laki tersebut menghisap cerutunya dalam-dalam, membiarkan ujungnya membara kemerahan, lalu menghembuskan asap pekat dari mulut dan hidungnya sebelum ia buka suara. Suaranya terdengar teramat berat, tenang, dan dingin—suara khas seorang predator yang sadar penuh atas posisinya di puncak rantai makanan.

"Tidak kusangka bajingan seperti Dorris bertindak sampai sejauh ini."

Pria itu menggelengkan kepalanya seraya berdecak pelan, seolah-olah tindak-tanduk sang detektif hanyalah kelakuan bocah kecil yang menggemaskan sekaligus menyebalkan.

"Apa Dorris mengatakan padamu untuk kemari mencari barang bukti yang bisa menjebloskan aku ke penjara?" tanya laki-laki tersebut.

Pertanyaan yang meluncur datar, namun tepat sasaran tanpa meleset sedikit pun.

La Bonna memilih untuk diam, menatap pria itu dengan rahang terkunci rapat. Ia memutuskan untuk tidak menjawab sepatah kata pun.

Namun, laki-laki itu justru melangkah mendekati Bonna. Perawakannya yang tinggi tegap membanyangi tubuh Bonna secara dominan. Dengan gerakan santai namun tak terduga, jemarinya yang panjang meraba balik rambut sebahu Bonna dan mencabut paksa alat earpiece pada telinga Bonna.

Bonna meringis saat ujung kulit telinganya tertarik. Sebelum Bonna sempat memprotes, laki-laki itu mengangkat alat komunikasi mungil tersebut di depan matanya. Tanpa kesulitan sedikit pun, laki-laki itu meremas hancur earpiece itu hanya dengan satu tangannya! Plastik dan komponen besi kecil di dalamnya hancur berkerut, meremukan menjadi serpihan tak berguna di dalam genggamannya.

Tindakan kasual itu membuat Bonna makin menyadari satu hal dengan sangat jelas: laki-laki di hadapannya ini sangatlah berbahaya. Kekuatannya nyata, dan ia tidak memiliki belas kasihan.

BRAK!

Pintu ruangan tempat Bonna terikat tiba-tiba saja dibuka secara kasar dari luar.

Seorang laki-laki bertubuh tegap melangkah masuk sambil menyeret dua orang sekaligus—seorang bodyguard yang sempat Bonna lihat di pintu staf sebelum masuk ke tempat ini, dan wanita bernama Elisabeth yang tadi membantu Bonna menyelinap ke klab sebagai penari pengganti.

Thump! Thump!

Bodyguard dan Elisabeth diseret lalu didorong hingga tersungkur mengenaskan di lantai semen, tepat di samping kiri dan kanan kursi tempat Bonna terikat. Pria yang menyeret mereka adalah laki-laki berjas serba hitam—Bonna ingat betul dialah laki-laki yang kartu akses silvernya Bonna curi secara diam-diam di lorong tadi.

"Tuan Nolan! Saya dijebak! Saya tidak terlibat sama sekali dengan mereka!" jerit sang bodyguard bersujud di atas lantai, suaranya gemetar parah diliputi rasa panik yang memuncak.

"Nyonya Elizabeth menipu saya! Nyonya Elizabeth bilang wanita ini adalah pengganti Zella untuk sementara waktu. Yang saya tahu Nyonya Elizabeth adalah salah satu orang penting yang mengurus tempat ini, jadi saya tidak mengira kalau Nyonya Elizabeth ternyata telah berkhianat!"

Bodyguard itu mengangkat kepalanya yang sudah berdarah-darah karena berkali-kali dibenturkan pada lantai keras oleh pria yang menahannya. Darah kental mengalir turun, membasahi kelopak mata dan hidungnya yang bengkok.

"Saya mengakui keteledoran saya... Seharusnya saya tidak membiarkan orang asing masuk kemari," ucap bodyguard itu kembali memohon-mohon dengan raut wajah yang dipenuhi ketakutan luar biasa.

"Tolong jangan bunuh saya... Saya berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi ke depannya. Tolong, Tuan!"

Laki-laki yang disebut Tuan Nolan itu menganggukkan kepalanya perlahan, memberikan gesture yang tampak seolah memaklumi. Anggukan singkat itu membuat bodyguard yang berlutut pasrah di depannya sempat menghembuskan napas lega dan mengukir senyum tipis. Ia berpikir nyawanya baru saja diselamatkan.

Namun, senyum lega itu sirna seketika dalam hitungan detik.

Ezequiel Nolan Ashford membuka telapak tangannya, membuang serpihan earpiece milik Bonna yang sebelumnya ia remas hingga hancur dengan tangan kosong. Lalu, ia kembali menggerakkan cerutu yang berada di tangannya yang lain—sebuah kibasan kecil yang teramat santai di udara.

Orang awam mungkin tidak akan paham dengan makna gerakan tangan tersebut. Tapi Bonna, Elisabeth yang menggigil di lantai, dan pria berjas di dalam ruangan ini tahu betul apa arti gerakan itu.

Mungkin ini yang dinamakan insting dari seekor mangsa—sebuah dorongan primitif yang mendadak bisa merasakan bahwa detik-detik kematian tengah mengintai mereka.

Benar saja. Gerakan jari berapitan cerutu itu adalah sebuah isyarat dingin yang diberikan Nolan kepada bawahannya—pria yang tadi membawa bodyguard dan Elisabeth kemari.

Tanpa ragu sedikit pun, pria berjas hitam itu mencabut senjata api dari balik pinggangnya dan menodongkan moncong hitamnya tepat ke arah belakang kepala sang bodyguard.

"Tidak! Tidak! Saya mohon, Tuan Lucifer, jangan tembak saya!" jerit bodyguard itu histeris. Ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya satu sama lain, memohon belas kasihan pada pria yang menodongkan pistol ke arahnya.

"Tuan Nolan! Tolong katakan pada Tuan Lucifer untuk tidak menembak saya! Saya janji saya akan mengabdi kepada Anda dengan lebih baik! Saya janji saya akan bekerja lebih keras lagi! Tolong maafkan saya kali ini saja! Saya mohon, Tuan! Saya mohon!!"

Tangisan dan ratapan pria itu memenuhi setiap sudut ruangan, bergema tragis.

Di atas kursinya, Bonna memperhatikan laki-laki yang disebut-sebut sebagai Tuan Nolan itu. Ia mengamati ekspresi wajah pria itu yang tetap datar sempurna, seolah jeritan dan permohonan hidup-mati dari bawahannya tidak lebih dari sekadar bisingnya angin malam yang lalu.

"Kalau aku mengampuni kesalahanmu..." ucap pria bernama Nolan tersebut, suaranya menginterupsi tangisan sang bodyguard.

Nolan menatap bawahannya yang bersujud dengan pandangan tanpa emosi. "...dan menerimamu kembali seolah tidak terjadi apa-apa, maka orang lain di tempat ini akan berpikir bahwa membuat kesalahan adalah hal yang tidak masalah."

Nolan mengambil jeda sejenak, melangkah satu ketuk mendekat. "Aku harus memberikan contoh padat pada yang lain agar hal seperti ini tidak terulang lagi. Sebelum kau memutuskan untuk bekerja di sini pun, kau sudah tahu risikonya, bukan? Melakukan kesalahan berarti kau harus mati."

Nolan menempelkan kembali cerutunya ke bibir, menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asap tipis dengan sangat santai. Ia sama sekali tidak memedulikan tatapan keputusasaan di bawah kakinya.

DOR!

BRAK!

Suara letusan peluru nyaring memecah hening ruangan. Peluru berkaliber tinggi menembus kepala sang bodyguard dalam sekejap mata. Tubuh pria bertubuh tegap itu roboh memantul ke lantai semen, darah kental bertumpuran dari kepalanya yang hancur.

La Bonna refleks memejamkan matanya rapat-rapat karena ketakutan yang luar biasa melihat pemandangan mengerikan secara langsung di depan matanya. Seluruh tubuhnya gemetar hebat dari ujung kepala hingga jemari kaki.

Rasa hangat dan amis mendadak menjalar di kulitnya—Bonna bisa merasakan wajah dan leher bagian kirinya basah terkena cipratan darah segar dari pria yang baru saja dieksekusi mati di sampingnya.

Suasana ruangan menjadi hening mematikan, hanya diselingi oleh suara napas Bonna yang memburu dan isakan tertahan dari Elisabeth yang meringkuk gemetar di sudut lantai.

Nolan mengibaskan asap cerutunya pelan. Matanya yang gelap kini perlahan bergeser, mengunci pandangannya tepat pada La Bonna De Luca yang tubuhnya masih bergetar hebat di atas kursi.

1
Nita Nita
hahaha sama2 bingung jg🤔
Yusry Ajay
ditunggu updatenya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nah lho gak semudah itu dariush di kalahkan🤣
Rosdianah 🌷: Hahahaha Pria iblis memang agak lain🤭🤣
total 1 replies
Nita Nita
brian gimana nasibnya 🤔
Nita Nita
pasti pd merinding sebadan2 😰
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up trus ya Thor 💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
semenjak terpikir olehku akan ada adegan slow living tahu2 udah dibuat dari der dor sama othor 😵
Rosdianah 🌷: wkwkw semoga suka ya kaa🤭 boleh saran dan masukannya ya kaa, author terima🫠
total 1 replies
Asriani Rini
Lanjut 🙏🏻🙏🏻❤️
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kok q jd kasihan sama duarius yaa,,, 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Dariush butuh disemangati Kaa Readers 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astogeeee,,, duarius ikutan kabur! 😌
Nita Nita
makin panas ini,, lanjut kak😍💪
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii siap kaa🥳
total 1 replies
Nita Nita
waduh waduh. apa lg lg ini 🤔
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: siap makasih ya kaa
total 1 replies
Yusry Ajay
deg...deg...bgt Thor 🤗
pika shu
next thor
Rosdianah 🌷: siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
next... next... next...
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Debu Nakal
ahhhh... jadi suka 🥰
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
brarti korban aslinya dariush dong korban konspirasi lucifer dll😭😭 dan nanti kalo bona punya kesempatan buat bunuh dariush pasti gak bakal bunuh sih 🤭
Rosdianah 🌷: Huhuhu Ditunggu kelanjutannya kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
alurnya seruu kak😭tp kasian nolan jg atau dariush😭
Rosdianah 🌷: Semoga suka kaa ya🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
sedih bangett kak jadi Bona 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!