Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Pagi hari di panti asuhan terasa cukup sibuk,Anak-anak panti sudah bersiap berangkat sekolah,Suara langkah kaki dan obrolan kecil terdengar di halaman,Di kamar,Ayla sedang merapikan tas sekolahnya.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi,Nama bagas muncul di layar.
Ayla langsung mengangkatnya.
"Pagi."
Suara bagas terdengar dari seberang telepon,Tetapi nadanya sedikit lelah.
"Pagi."
Ayla duduk di tepi tempat tidur.
"Kamu sudah di jalan?."
Bagas terdiam sebentar.
"Tidak."
Ayla sedikit heran.
"Kenapa?."
Bagas menjawab pelan.
"Kakekku sakit,Aku harus di rumah sakit hari ini."
Wajah ayla langsung berubah sedikit khawatir.
"Kakekmu tidak apa-apa?."
"Masih diperiksa dokter."
Ayla mengangguk pelan meskipun bagas tidak bisa melihatnya.
"Kalau begitu kamu temani saja kakekmu."
Bagas kemudian berkata,
"Kamu berangkat sendiri ya hari ini."
Ayla menjawab santai.
"oke."
"Iya,hati-hati dijalan dan jangan nakal."
Beberapa detik mereka sama-sama diam.
Ayla kemudian berkata lembut,
"Sampaikan salamku untuk kakekmu."
"Iya."
Setelah itu panggilan berakhir.
Beberapa menit kemudian ayla keluar dari panti dengan sepeda miliknya,Udara pagi masih segar,Ayla mulai mengayuh sepeda menuju sekolah,Angin pagi menerpa wajahnya,Membuat rambutnya sedikit bergerak.
Beberapa siswa lain juga terlihat berjalan menuju sekolah.
Tak lama kemudian ayla sampai di gerbang sekolah,Ayla memarkirkan sepedanya lalu berjalan menuju kelas,Begitu masuk kelas,Rina langsung menyapanya.
"Ayla!."
Ayla tersenyum.
"Pagi."
Tak lama kemudian seorang siswa laki-laki masuk ke kelas.
Namanya Bayu.
Bayu dikenal cukup dekat dengan banyak teman di kelas.
Bayu langsung berjalan mendekati meja ayla.
"Ayla."
Ayla menoleh.
"Iya?."
Bayu tersenyum santai.
"Kamu berangkat sendiri hari ini?."
Ayla mengangguk.
"Iya."
Bayu lalu bersandar di meja ayla.
"Bagaimana kalau nanti pulang bareng?."
Rina langsung melirik salsa sambil menahan senyum.
Ayla mengangkat alisnya.
"Bareng?."
"Iya,Aku juga bawa motor."
Ayla tertawa kecil.
"Tidak usah,Aku bawa sepeda."
Bayu masih berdiri di sana.
"Ya sudah,Nanti aku temani sampai parkiran."
Ayla hanya menggeleng kecil sambil tersenyum.
Percakapan itu terlihat oleh beberapa siswa lain.
Di tempat lain,Di rumahnya,Bagas sedang duduk sofa disamping brankar setelah menemani kakeknya diperiksa dokter.
Ponselnya tiba-tiba berbunyi.
Dimas menelpon.
Bagas mengangkatnya.
"Apa?."
Dimas langsung berkata.
"Gas."
"Apa?."
"Ayla."
Bagas sedikit mengernyit.
"Kenapa?."
Suara Dimas terdengar serius.
"Tadi pas aku lewat didepan kelasnya ayla,Aku lihat ayla dan bayu ngobrol."
Bagas mulai memperhatikan.
"Lalu?."
Dimas menjawab,
"Hati-hati sepertinya bayu suka ayla."
Tiba-tiba suara lain masuk ke telepon.
"Iya,Bahkan tadi dia berdiri lama di meja ayla"ucap raka menyahut.
Bagas terdiam beberapa detik.
"Ayla?."
Dimas menjawab.
"Dia tidak marah sih malah ketawa."
Wajah bagas langsung berubah dingin.
"oke thanks infonya."
Telepon kemudian berakhir.
Bagas menatap ponselnya cukup lama.
...••••••...
Ayla keluar dari gerbang sekolah sambil membawa sepedanya,Rina dan salsa berjalan di sampingnya.
Salsa berucap.
"Bayu tadi benar-benar berani yah."
Ayla menghela napas kecil.
"Dia cuma bercanda."
Rina tertawa.
"Tapi dia terlihat serius sepertinya."
Ayla baru ingin menjawab ketika tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan mereka,Ayla langsung mengenali mobil itu.
"Bagas?."
Pintu mobil terbuka,Bagas keluar dengan wajah yang terlihat dingin.
Rina dan salsa langsung saling menatap.
"Wah."
Bagas menatapnya tajam.
"Aku tadi dengar sesuatu."
Ayla mengernyit.
"Apa?"
Bagas berkata datar,
"Bayu."
Ayla langsung mengerti.
"Siapa yang bilang?."
"gak perlu tau."
Ayla langsung menghela napas kesal.
"Jadi kamu datang hanya untuk itu?."
Bagas menatapnya.
"Dia mendekatimu."
Ayla menjawab cepat.
"Dia hanya bicara."
Bagas tetap terlihat tidak senang.
"Dan kamu sepertinya terlihat bahagia bersamanya."
Ayla mulai kesal.
"Dia cuma sedang bercanda!."
Bagas menjawab dengan nada lebih dingin.
"Aku tidak suka."
Ayla menatapnya.
"Kamu gak bisa melarang orang bicara denganku."
Bagas terdiam beberapa detik lalu berkata,
"Aku gak melarang."
"Lalu kenapa kamu marah?."
Bagas menatapnya tajam.
"Karena aku tahu dia tidak bercanda."
Ayla langsung kesal.
"Kamu terlalu berlebihan!."
Bagas menjawab singkat.
"Dan kamu terlalu santai."
Suasana di depan sekolah tiba-tiba menjadi tegang.
Rina dan salsa bahkan tidak berani bicara.
Ayla akhirnya berucap.
"Kalau kamu hanya datang untuk marah,Lebih baik pulang saja."
Bagas terdiam,Wajahnya terlihat semakin dingin.
"Baik."
Bagas berbalik menuju mobilnya.
Sebelum masuk mobil,Bagas berkata tanpa menoleh.
"sekarang terserah kamu,Lakukan saja apa yang kamu mau."
Mobil itu kemudian pergi meninggalkan gerbang sekolah.
Ayla berdiri diam di sana.
Rina akhirnya berkata pelan.
"Sepertinya dia benar-benar marah."
Ayla menghela napas panjang sambil memegang setang sepedanya,Sore itu ayla pulang ke panti dengan perasaan tidak enak,Sepanjang perjalanan ayla terus memikirkan kejadian di depan sekolah tadi,Sesampainya di panti,Ayla langsung masuk ke kamarnya,ayla duduk di tepi tempat tidur sambil menatap ponselnya,Nama bagas masih ada di layar chat terakhir mereka,Beberapa menit ayla hanya menatap layar itu,Akhirnya ayla mengetik pesan.
"Bagas."
Pesan itu terkirim,Tidak lama kemudian ayla menambahkan lagi.
"Kamu masih marah?."
Beberapa detik berlalu,Tidak ada balasan,Ayla menunggu lagi,Tetap tidak ada jawaban,Ayla menghela napas pelan lalu meletakkan ponselnya di samping.
"Kenapa kamu keras kepala sekali."
Malam pun berlalu.
Ayla sempat mengecek ponselnya beberapa kali sebelum tidur,Tetapi tetap saja tidak ada balasan dari bagas.
...••••••...
Ayla berangkat sekolah seperti biasa dengan sepedanya,Sesampainya di gerbang sekolah,Ayla langsung melihat mobil bagas sudah terparkir di tempat biasa.
"Akhirnya dia masuk"gumam ayla pelan.
Ayla memarkirkan sepedanya lalu berjalan menuju kelas bersama rina dan salsa karena tidak sengaja berpapasan,Ketika mereka berjalan melewati lorong sekolah,Ayla tiba-tiba melihat bagas keluar dari kelasnya bersama raka dan dimas.
Langkah Ayla sedikit melambat.
Rina berbisik kecil,
"Itu dia."
Ayla menarik napas pelan lalu berjalan mendekat.
"Bagas."
Bagas menoleh sebentar,Namun wajahnya tetap datar.
"Hmm?."
Ayla sedikit kesal karena sikapnya yang dingin.
"Pesanku kamu baca?."
Bagas menjawab singkat.
"Baca."
"Lalu kenapa tidak dibalas?."
Bagas menatapnya sebentar lalu berkata datar.
"Tidak perlu."
Jawaban itu langsung membuat ayla mengerutkan kening.
"Apa maksudnya tidak perlu?."
Bagas menyandarkan bahunya ke dinding lorong.
"Aku sudah tahu."
Ayla semakin kesal.
"Kalau sudah tahu kenapa kamu masih marah?."
Bagas akhirnya menatapnya lebih lama,Tatapannya dingin.
"Aku nggak marah."
Rina yang berdiri di belakang ayla langsung berbisik ke salsa.
"Padahal jelas-jelas sedang marah."
Ayla menatap bagas tidak percaya.
"Kalau nggak marah kenapa kamu diam saja dari kemarin?."
Bagas menjawab singkat.
"Aku tidak ingin bicara."
Jawaban itu membuat ayla benar-benar kesal.
"Baiklah."
Ayla langsung memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu jangan bicara saja sekalian."
Ayla kemudian berjalan pergi menuju kelasnya bersama rina dan salsa.
Bagas tetap berdiri di lorong tanpa mengatakan apa-apa.
Dimas menoleh ke arahnya.
"Kamu serius mau mendiaminya terus?."
Bagas hanya menjawab singkat.
"Biasa saja."
Raka menggeleng kecil.
"Kalian sama-sama keras kepala."
Saat jam istirahat.
Kantin sekolah cukup ramai.
Ayla duduk bersama rina dan salsa di salah satu meja,Namun sejak tadi ayla terlihat diam.
Rina akhirnya bertanya pelan.
"Kamu tidak mau bicara lagi dengannya?."
Ayla menghela napas.
"Buat apa?Dia saja tidak mau dengar."
Salsa berkata pelan.
"Tapi dia pasti sebenarnya masih peduli."
Ayla tidak menjawab,Tanpa sadar ayla menoleh ke arah meja lain di kantin,Di sana Bagas duduk bersama raka dan dimas.
Dimas melirik ke arah ayla lalu berkata pada Bagas.
"Gas kamu tidak kasihan?."
Bagas meminum airnya.
"Kenapa?."
"Dia kelihatan sedih."
Bagas tetap terlihat tenang.
"Dia baik-baik saja."
Dimas menggeleng.
"Keras kepala."
Raka tersenyum kecil.
"Padahal kamu yang cemburu."
Bagas langsung menatap mereka berdua.
"Diam."
Di sisi lain kantin,Ayla masih menatap ke arah bagas dari kejauhan,Seolah merasakan tatapan itu,Bagas tanpa sadar menoleh,Mata mereka bertemu beberapa detik,Namun bagas langsung memalingkan wajahnya lagi,Ayla langsung semakin kesal.
"Lihat?"
Rina dan salsa menoleh.
"Dia benar-benar menyebalkan."
Rina dan salsa hanya saling menatap,Mereka tahu pertengkaran ayla dan bagas masih belum selesai, dan kemungkinan akan semakin besar jika tidak ada yang mau mengalah terlebih dahulu.
Jam istirahat hampir selesai.
Sebagian siswa mulai meninggalkan kantin dan kembali ke kelas masing-masing.
Ayla masih duduk bersama rina dan salsa,Tetapi wajahnya terlihat kesal sejak tadi.
Rina menatap.
"Kamu benar-benar tidak mau bicara lagi dengannya?."
Ayla menghela napas.
"Dia saja yang tidak mau bicara duluan."
Salsa menoleh ke arah meja bagas.
"Dia juga kelihatan keras kepala."
Ayla berdiri dari kursinya.
"Sudah,Aku kembali ke kelas dulu."
Namun saat ayla berjalan keluar dari kantin menuju lorong sekolah tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang.
"Ayla."
Ayla berhenti,ayla langsung mengenali suara itu,Terasa berbeda bagi ayla karena biasanya bagas tidak pernah memanggilnya dengan namanya.
Ayla menoleh perlahan.
Bagas berdiri beberapa langkah di belakangnya,Raka dan dimas berdiri agak jauh,Seolah sengaja memberi mereka ruang.
Ayla menatap bagas dengan wajah datar.
"Apa?."
Bagas berjalan mendekat sedikit.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Ayla akhirnya berkata duluan.
"Kalau kamu mau marah lagi,Aku tidak punya waktu."
Bagas menatapnya dengan ekspresi dingin.
"Aku tidak marah."
Ayla langsung menghela napas kesal.
"Kamu bilang begitu terus."
Bagas kemudian berkata dengan suara lebih rendah.
"Kamu sendiri yang bilang tidak mau diatur denganku."
Ayla terdiam sebentar.
Bagas melanjutkan dengan nada tenang tapi tajam.
"Jadi lakukan saja apa yang kamu mau."
Ayla langsung menatapnya tidak percaya.
"Jadi sekarang kamu menyalahkanku?."
Bagas menjawab singkat.
"Aku tidak menyalahkan."
"Lalu apa?."
Bagas memasukkan tangannya ke saku.
"Kamu yang bilang aku tidak boleh melarangmu."
Ayla mulai kesal lagi.
"Karena kamu memang tidak bisa melarangku!."
Bagas menatapnya dalam.
"Ya sudah."
Ayla semakin bingung.
"Ya sudah apa?."
Bagas berkata pelan tapi jelas.
"Mulai sekarang aku tidak akan mengaturmu."
Ayla terdiam beberapa detik,Entah kenapa kalimat itu justru membuat dadanya terasa tidak nyaman.
"Apa maksudmu?."
Bagas menatapnya sebentar lalu memalingkan wajah.
"Kamu bebas bicara dengan siapa saja."
Kalimat itu terdengar dingin.
Ayla langsung mengerutkan kening.
"Kamu serius?."
Bagas menjawab singkat.
"Iya."
Ayla tidak tahu kenapa tapi kata-kata itu malah membuatnya semakin kesal.
"Bagus."
Bagas menoleh lagi.
Ayla melanjutkan dengan nada sedikit emosi.
"Kalau begitu kamu juga tidak perlu ikut campur lagi."
Bagas hanya menatapnya beberapa detik,Lalu berkata pelan.
"Memang tidak akan."
Suasana di lorong sekolah tiba-tiba terasa sangat canggung.
Dimas berbisik pelan pada raka dari jauh.
"Malah makin parah."
Raka mengangguk kecil.
Ayla akhirnya berkata dengan nada dingin.
"Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu dibicarakan."
Ayla berbalik dan berjalan menuju kelasnya.
Bagas tetap berdiri di tempatnya tanpa menahan.
Beberapa detik kemudian Dimas mendekat.
"Gas yakin?."
Bagas menatap ke arah lorong tempat Ayla pergi,Wajahnya tetap tenang tapi matanya terlihat berbeda.
"Aku hanya melakukan apa yang dia mau."
Raka menggeleng kecil.
"Padahal jelas kamu tidak suka."
Bagas tidak menjawab,Namun tatapannya masih mengikuti arah ayla pergi.
Pertengkaran mereka bukan hanya belum selesai sekarang justru terasa lebih jauh dari sebelumnya.
...••••••...
Malam di panti asuhan terasa jauh lebih sepi dari biasanya.
Lampu kamar ayla masih menyala,Di dalam kamar,Ayla duduk di tepi tempat tidurnya sambil memeluk lututnya,Wajahnya terlihat lelah sejak pulang sekolah tadi,Sejak pertengkarannya dengan bagas di sekolah,Perasaannya benar-benar tidak tenang,Ponselnya masih berada di tangannya,Chat terakhir dengan bagas masih terbuka,Pesannya sejak kemarin belum dibalas,Ayla menatap layar itu cukup lama,Perlahan matanya mulai berkaca-kaca.
"Aku tidak bermaksud seperti itu."
Air mata akhirnya jatuh juga,Ayla menundukkan kepalanya sambil menangis pelan.
Ayla mengingat kata-kata bagas didepan sekolah.
"sekarang terserah kamu,Lakukan saja apa yang kamu mau."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
"Aku hanya tidak mau dia terlalu khawatir"
Ayla menyeka air matanya,Tetapi kepalanya tiba-tiba terasa sedikit pusing,Ayla mencoba berdiri dari tempat tidur,Namun langkahnya terasa goyah.
"Kenapa pusing sekali."
Ayla memegang kepalanya,Tubuhnya terasa semakin lemah,Beberapa menit kemudian ayla berjalan keluar kamar dengan langkah pelan.
Di ruang tengah panti,ternyata masih ada bunda winda.
"Ayla?."
Ayla mencoba tersenyum,tetapi wajahnya terlihat pucat.
"Bunda kepalaku pusing"
Baru saja selesai bicara,Tubuh ayla tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
"Ayla!."
Bunda winda langsung menahannya sebelum ayla jatuh ke lantai.
Beberapa waktu kemudian,Taksi berhenti di depan rumah sakit,Ayla segera dibawa masuk oleh perawat,Bunda Winda terlihat sangat khawatir,Setelah diperiksa dokter,Ayla harus dirawat inap karena kondisinya sangat lemah dan demam tinggi.
Beberapa menit kemudian.
Ayla perlahan membuka matanya,Langit-langit kamar rumah sakit terlihat putih di atasnya,Kepalanya masih terasa berat,Di samping tempat tidur,Bunda winda duduk menunggunya.
"Kamu sudah bangun?."
Ayla mengangguk pelan.
"Di mana?."
"Rumah sakit."
Ayla terdiam sebentar,Lalu ayla teringat sesuatu.
"Bunda Ponselku."
Bunda winda mengambil ponselnya dari meja.
Ayla langsung membukanya,Nama bagas muncul di layar kontak,Tangannya sedikit gemetar saat menekan tombol panggilan,Nada panggilan berbunyi beberapa kali,Tidak lama kemudian telepon tersambung,Suara bagas terdengar dari seberang.
"Halo."
Suara itu terdengar tenang seperti biasa.
Ayla terdiam beberapa detik sebelum bicara.
"Bagas."
Bagas langsung mengenali suaranya.
"Sayang?."
Ayla menahan air matanya.
"Iya."
Bagas mengernyit sedikit karena suara ayla terdengar lemah.
"Kamu kenapa?."
Ayla menggigit bibirnya pelan.
"Aku di rumah sakit."
Bagas langsung terdiam.
"Apa?."
Ayla menutup matanya sejenak.
"Maaf."
Air mata ayla akhirnya jatuh lagi.
"aku tidak bermaksud membuatmu marah."
Beberapa detik berlalu tanpa suara,Lalu bagas akhirnya berkata dengan nada serius.
"Rumah sakit mana?."
Ayla sedikit terkejut.
"Bagas."
"Rumah sakit mana?."
Suara bagas kali ini lebih tegas.
Ayla menyebutkan nama rumah sakitnya.
Beberapa detik kemudian bagas berkata singkat.
"Tunggu di sana."
Telepon langsung terputus,Ayla menatap layar ponselnya dengan bingung,Namun entah kenapa,di dalam hatinya muncul sedikit rasa tenang,Karena ayla tahu bagas pasti akan datang.
Bunda winda duduk di kursi di samping tempat tidur sambil memperhatikannya.
"bagaimana ay nak bagas akan datang kan?."
Ayla terdiam sebentar lalu menjawab pelan.
"Mungkin bun."
Namun di dalam hatinya,Ayla sebenarnya yakin,Bagas pasti datang.
Sekitar tiga puluh menit kemudian.
Langkah kaki terdengar cukup cepat di lorong rumah sakit.
Tak lama kemudian pintu kamar ayla terbuka,Bagas berdiri di sana dengan napas sedikit terengah,Sepertinya ia datang dengan sangat terburu-buru.
Begitu melihat ayla di atas tempat tidur rumah sakit,wajahnya langsung berubah khawatir.
"Sayang."
Bunda winda berdiri dari kursinya.
"Oh,Nak Bagas."
Bagas mengangguk hormat sedikit.
"Bunda."
Bunda winda tersenyum tipis.
"Kalian bicara saja,Bunda balik ya,Kasihan anak-anak panti sendirian dirumah."
Bunda winda kemudian keluar dari kamar,meninggalkan mereka berdua.
Suasana kamar tiba-tiba menjadi sangat tenang.
Bagas berjalan mendekat ke tempat tidur.
Ayla menatapnya dengan mata yang masih sedikit merah karena menangis.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Bagas akhirnya berkata pelan.
"Kenapa bisa sampai seperti ini?."
Ayla menunduk.
"Aku tidak enak badan sejak sore."
Bagas menghela napas pelan.
"Sayang."
Ayla langsung berkata dengan suara pelan.
"Maaf."
Bagas terdiam.
Ayla menggenggam selimut di tangannya.
"Aku tidak bermaksud membuatmu marah."
Air mata ayla kembali jatuh.
Bagas menatapnya cukup lama,Lalu bagas berkata dengan suara lebih lembut.
"Aku tidak marah karena kamu bicara dengan bayu."
Ayla menatapnya bingung.
"Lalu?."
Bagas menarik napas pelan.
"Aku hanya tidak suka melihat dia mendekatimu seperti itu."
Ayla terdiam.
Bagas melanjutkan dengan nada jujur.
"Aku cemburu."
Ayla sedikit terkejut mendengar itu,Bagas jarang sekali mengatakan hal seperti itu secara langsung.
Ayla menunduk lagi.
"Aku tidak menganggapnya serius."
Bagas menatapnya.
"Aku tahu."
"Lalu kenapa kamu mendiamiku?."
Bagas terdiam beberapa detik.
"Aku kesal."
Ayla menghela napas kecil.
"Aku juga."
Mereka berdua akhirnya saling menatap,Beberapa detik berlalu tanpa kata.
Lalu bagas berkata pelan.
"Tapi kamu juga membuatku khawatir."
Ayla mengerutkan kening.
"Kenapa?."
Bagas menunjuk pelan ke arah ranjang rumah sakit.
"Karena sekarang kamu di sini."
Ayla sedikit tersenyum tipis.
"Aku juga tidak mau sakit."
Bagas menggeleng kecil.
"Kamu terlalu memikirkan semuanya."
Ayla menatapnya.
"Termasuk kamu."
Bagas sedikit terdiam.
Ayla akhirnya tersenyum kecil meskipun matanya masih basah.
"Bagas."
Bagas menatapnya.
"Hmm?."
Ayla terlihat ragu sebentar sebelum berkata.
"Tentang yang kamu bilang di depan sekolah."
Bagas sedikit mengernyit.
"Apa?."
Ayla menatapnya pelan.
"Kamu bilang,"sekarang terserah kamu, lakukan saja apa yang kamu mau"."
Bagas langsung terdiam.
Ayla menggenggam selimutnya sedikit lebih erat.
"Aku gak suka kamu bilang seperti itu."
Bagas menatapnya.
"Kenapa?."
Ayla menjawab pelan,Suaranya sedikit bergetar.
"Karena aku gak pernah ingin semuanya terserah aku."
Bagas terlihat sedikit bingung.
Ayla melanjutkan dengan jujur.
"Aku memang kesal waktu itu,Tapi bukan berarti aku tidak mau kamu mengaturku."
Bagas sedikit terdiam mendengar itu.
Ayla menatapnya dengan mata yang masih lembap.
"Aku justru merasa kamu peduli saat kamu melarang atau mengingatkanku."
Beberapa detik kamar itu kembali sunyi.
Lalu ayla berkata pelan.
"Jadi jangan bilang seperti itu lagi."
Bagas masih menatapnya.
Ayla menambahkan dengan suara lebih pelan.
"Aku gak keberatan diatur olehmu selama itu karena kamu peduli."
Kalimat itu membuat ekspresi bagas berubah sedikit,Untuk pertama kalinya sejak datang tadi,wajahnya terlihat lebih lembut,Bagas kemudian berkata pelan.
"Kalau begitu"
Ayla menunggu jawabannya.
Bagas melanjutkan,
"Mulai sekarang dengarkan aku kalau aku melarang sesuatu."
Ayla mengangguk kecil.
"Iya."
Bagas akhirnya duduk di kursi di samping tempat tidur ayla,Bagas menatap ayla yang kini terlihat jauh lebih tenang.
Beberapa detik kemudian ayla berkata pelan.
"Kita gak bertengkar lagi ya."
Bagas terdiam sebentar,Lalu bagas mengangguk kecil.
"Iya."
pertengkaran mereka resmi selesai.
Malam itu kamar rumah sakit terasa jauh lebih tenang.
Lampu kamar diredupkan.
Ayla sudah berbaring di tempat tidur dengan selimut menutupi tubuhnya.
Di samping tempat tidur,Bagas masih duduk di kursi dengan kedua tangannya bersandar di lutut.
Sejak tadi bagas belum pergi.
Ayla menoleh pelan ke arahnya.
"Bagas."
Bagas mengangkat kepalanya.
"hmm?."
"Kamu belum pulang?."
Bagas menjawab santai.
"Nggak."
Ayla sedikit bingung.
"Nggak?."
Bagas menyandarkan punggungnya di kursi.
"Aku di sini saja."
Ayla langsung mengerutkan kening.
"Untuk apa?."
Bagas menatapnya datar.
"Menjagamu."
Ayla langsung menggeleng pelan.
"Tidak usah,Kamu pulang saja."
Bagas tetap tenang.
"Nggak."
Ayla menatapnya tidak percaya.
"Bagas,besok sekolah."
"Hmm."
"Kalau begitu kamu harus pulang."
Bagas hanya berkata singkat.
"Aku tidak sekolah besok."
Ayla langsung duduk sedikit dari tempat tidurnya.
"Kenapa tidak sekolah?."
Bagas menjawab santai.
"Karena kamu di sini."
Ayla langsung protes.
"Nggak kamu harus sekolah bagas!."
Bagas menatapnya.
"Kenapa?."
"Karena sekolah itu penting."
Bagas mengangkat alisnya sedikit.
"Kamu juga penting."
Ayla langsung terdiam sebentar mendengar jawaban itu.
Namun ia tetap menggeleng.
"Bagas,aku cuma sakit,Nggak perlu sampai kamu bolos."
Bagas menyilangkan tangannya.
"Aku nggak bolos."
"Lalu?."
"Aku izin."
Ayla menatapnya kesal.
"Bagas."
Bagas memotong pelan.
"Aku sudah bilang,Aku di sini saja."
Ayla mencoba membujuk lagi.
"Pulanglah,Besok pagi kamu datang lagi."
Bagas tetap menggeleng.
"Nggak."
Ayla menghela napas panjang.
"Kamu keras kepala sekali."
Bagas menjawab santai.
"Aku tahu."
Ayla akhirnya menyerah.
Ayla bersandar kembali ke bantal.
"Baiklah terserah kamu."
Bagas hanya tersenyum kecil melihat ayla yang akhirnya berhenti membantah.
Beberapa menit kemudian ayla tertidur.
Bagas masih duduk di kursi di samping tempat tidurnya,Sesekali bagas menatap wajah ayla yang terlihat jauh lebih pucat dari biasanya,Bagas menghela napas pelan.
"kamu benar-benar membuatku khawatir."
Malam itu bagas benar-benar tidak pulang.
Bagas tetap berada di kursi di samping tempat tidur ayla sampai pagi.