NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Kakak, Aku Mau "Naik Pangkat"

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Diam-Diam Cinta / Office Romance
Popularitas:17
Nilai: 5
Nama Author: Aluna Senja

Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10

Kartunya Bukan Cek

"Dua garis," bisik Larasati.

Test pack di tangannya tidak berubah meski sudah ditatap sepuluh menit.

Arka berjongkok di depan kamar mandi. Ketika melihat hasilnya, matanya membesar, lalu wajahnya dipenuhi senyum yang begitu terang sampai Larasati ingin menangis.

"Kita bakal jadi ayah sama ibu."

"Kamu masih kuliah."

"Aku bisa kuliah sambil kerja."

"Arka, ini bukan tugas kelompok."

"Aku tahu." Dia menggenggam kedua tangan Larasati. "Kita lahirin saja. Aku akan tanggung jawab."

Kata tanggung jawab yang dulu terdengar seperti godaan kini memiliki berat berbeda.

Malam sebelumnya, Arka masih marah karena melihat pelukan dengan Bagas. Dia menahan Larasati di dekat dinding, bertanya apakah perempuan itu pernah memikirkan perasaannya, lalu memeluknya erat sebelum kecemburuan berubah menjadi ciuman panjang.

"Aku bukan marah karena Kakak punya masa lalu," katanya setelah napas mereka tenang. "Aku takut selalu datang terlambat."

"Kamu datang pada saat yang tepat."

Mereka makan pasta dingin dari piring yang sama. Di sela suapan, Arka masih cemberut, tetapi tangannya tetap mengupas jeruk untuk Larasati. Kecemburuannya tidak berubah menjadi hukuman. Mereka bicara sampai salah paham selesai, lalu tidur saling memeluk.

Kini sebuah kehidupan tumbuh dari hubungan yang belum diketahui keluarga.

Arka pergi membeli bubur dan vitamin, sementara Larasati duduk di tepi ranjang. Dari jendela terdengar ibu-ibu kompleks membicarakan anak tetangga yang hamil sebelum menikah. Kata aib, malu, dan kasihan orang tuanya melayang sampai ke kamar.

Larasati menutup tirai.

Selama dua minggu dia pura-pura baik. Arka mengirim daftar biaya persalinan, mencari pekerjaan paruh waktu, dan terus mentransfer uang dengan catatan dana nikah. Larasati melihat semangat itu sebagai cinta sekaligus rantai yang akan mengikat masa depan Arka.

Arka menemui dosen wali untuk menyusun semester berikutnya. Ia mengirim foto tabel kelas dan menandai jam yang bisa dipakai bekerja.

"Lihat, bisa. Aku nggak perlu berhenti kuliah."

"Kamu belum tahu mengurus bayi seperti apa."

"Kita belajar. Orang tua lain juga nggak lahir langsung pintar."

Semakin Arka meyakinkan, semakin Larasati takut. Ia membayangkan pemuda itu datang ke kelas tanpa tidur, menolak kesempatan, lalu suatu hari menatapnya dengan penyesalan. Malam sebelum meminta izin, Larasati menulis surat panjang untuk Arka, lalu menghapusnya. Tidak ada kalimat yang membuat keputusan sepihak terdengar seperti cinta.

Dia belum lulus. Belum punya pekerjaan tetap. Bu Ratih mempercayakan banyak hal kepadanya sebagai karyawan.

Larasati membuat keputusan sendirian.

Ia mencari klinik melalui nomor anonim. Aborsi bukan jalan sederhana, aman, atau bebas masalah hukum. Setiap informasi yang dibaca justru membuat tangannya semakin dingin. Namun ketakutannya bahwa Arka mengorbankan seluruh hidup terasa lebih besar daripada rasa sakitnya sendiri.

Pada hari dia meminta izin kerja, Bu Ratih memanggilnya ke kantor.

"Kamu mau ke klinik?" tanya atasannya.

Larasati hampir jatuh dari kursi.

Di atas meja ada amplop tebal. Bu Ratih mengambil sebuah kartu dari dalamnya.

Skenario buruk memenuhi kepala Larasati. Bu Ratih tahu. Perempuan itu akan memintanya meninggalkan Arka, memberi uang agar masalah selesai, lalu menyelamatkan masa depan putranya.

"Bu, saya yang mulai duluan," katanya terburu-buru. "Arka nggak salah. Kandungannya akan saya gugurkan supaya nggak mengganggu kuliahnya. Setelah itu saya akan menjauh."

Bu Ratih membeku.

"Digugurkan? Kamu ngomong apa?"

"Saya nggak minta uang. Saya cuma mohon jangan salahkan Arka."

Bu Ratih berdiri begitu cepat sampai kursinya terdorong. "Kamu hamil?"

Larasati ikut berdiri. "Ibu belum tahu?"

"Mama!"

Pintu terbuka. Arka masuk dengan napas terengah, membawa kantong apotek. Bu Ratih menatap putranya, lalu Larasati, lalu test pack yang rupanya disimpan Arka di kantong transparan sebagai bukti untuk konsultasi dokter.

"Kalian berdua duduk," perintahnya.

Tak ada yang berani membantah.

Bu Ratih menaruh kartu di meja. Bukan cek. Bukan kartu nama pengacara. Itu undangan pernikahan berwarna gading dengan nama Larasati Anggini dan Arkananta Wibawa tercetak di tengah.

"Mama mau membicarakan tanggal ini," katanya. "Arka sudah minta izin beberapa bulan lalu."

Larasati menatap nama mereka. "Ibu setuju?"

"Kenapa tidak?"

"Saya lebih tua. Saya bawahan Ibu."

"Kamu perempuan yang menjaga saya semalaman saat operasi, padahal waktu itu cuma anak magang. Kamu juga orang yang membuat Arka mau belajar, makan teratur, dan pulang ke rumah dengan wajah bahagia."

Bu Ratih menarik napas. "Selama ini Mama sering pura-pura dinas supaya kalian punya waktu. Mama kira kalian lambat sekali. Ternyata kalian malah bikin anak duluan."

"Jadi waktu di Bali..."

"Mama sengaja kasih kartu kamar Arka ke kamu. Mama pikir paling jauh kalian bicara sampai pagi." Bu Ratih memijat pelipis. "Rupanya Mama terlalu optimistis."

Arka mengangkat tangan. "Untuk catatan, Kak Laras tahu aku siapa."

"Tidak ada yang tanya pembelaanmu."

Larasati menutup wajah. Semua perjalanan dinas dan kursi kosong di sebelah Arka mendadak tampak seperti operasi perjodohan seorang ibu yang sangat sabar.

Wajah Larasati terbakar. Arka menunduk, tetapi bahunya bergerak menahan tawa lega.

"Dan dengar baik-baik," lanjut Bu Ratih. "Jangan ambil keputusan berbahaya sendirian karena mengira itu pengorbanan. Tubuhmu bukan masalah yang harus dihapus. Kita konsultasi ke dokter, bicarakan pilihan aman, dan siapkan pernikahan tanpa menutupi tanggung jawab."

Air mata Larasati jatuh.

"Saya takut Arka kehilangan masa depannya."

"Empat tahun lalu dia pernah melepaskan kesempatan olimpiade karena mau menemanimu menyelesaikan skripsi. Mama marah besar. Dia bilang ada hal yang lebih ingin dia jaga daripada bonus nilai."

Arka mengangkat kepala. "Mama nggak perlu cerita itu."

"Kamu diam. Ini akibat kalian suka menyimpan rahasia."

Bu Ratih menjelaskan bahwa Arka sudah lama menabung, mengambil pekerjaan tambahan, dan menyusun rencana menyelesaikan kuliah tanpa berhenti. Catatan dana nikah bukan lelucon. Semua transfer kecil itu adalah caranya membangun rumah sedikit demi sedikit.

Ia membuka catatan di tabletnya. Ada anggaran tempat tinggal, biaya pemeriksaan, pembagian waktu kuliah, dan daftar kerja jarak jauh. Beberapa angka masih kosong, tetapi tak satu pun halaman mengandalkan uang Bu Ratih.

"Mama siap membantu," kata Bu Ratih. "Tapi dia merencanakan ini sebelum tahu kamu hamil."

Arka menatap Larasati. "Anak ini bukan alasan aku menikah. Kakak alasannya."

Kalimat itu mematahkan benteng terakhir di hati Larasati.

Larasati menoleh kepadanya. "Kenapa nggak bilang?"

"Kakak saja butuh seminggu buat jawab mau pacaran. Kalau langsung kubahas nikah, pasti kabur ke luar negeri."

Bu Ratih memukul bahu putranya dengan undangan.

Satu jam kemudian mereka bukan menuju klinik, melainkan dokter kandungan resmi untuk memeriksa kondisi Larasati. Setelah dipastikan perlu pemeriksaan lanjutan dan istirahat cukup, Bu Ratih membawa mereka ke butik gaun pengantin.

Di ruang konsultasi, dokter tidak menghakimi. Ia menjelaskan usia kehamilan masih sangat awal, tanda bahaya yang harus diawasi, suplemen yang diperlukan, serta pentingnya Larasati tidak minum obat atau mendatangi tempat tanpa izin medis. Arka mencatat setiap kata sampai dokter menyuruhnya bernapas.

"Pasiennya siapa?" tanya dokter sambil tersenyum.

"Dia," jawab Arka, "tapi saya yang gampang panik."

Bu Ratih menunggu di luar agar mereka bisa bicara pribadi. Saat dokter bertanya apakah Larasati merasa aman dan didukung, Larasati melihat tangan Arka yang tak pernah lepas dari tangannya.

"Saya takut," jawabnya jujur. "Tapi saya tidak sendirian."

Keluar dari ruang periksa, Arka menyimpan jadwal kontrol di tiga tempat berbeda. Larasati baru kali itu tertawa sejak dua garis muncul.

"Bu, sekarang?" Larasati masih memakai pakaian kantor.

"Undangan sudah dicetak. Masa gaun belum dipilih?"

Di ruang pas, Larasati mengenakan gaun putih sederhana. Tangannya menyentuh perut yang belum terlihat berubah. Ketika tirai dibuka, Arka berdiri dari sofa dengan mulut terbuka.

Penjahit mengukur lengan dan mengubah potongan agar perutnya nyaman. Bu Ratih mencatat jadwal fitting. Semua bergerak praktis dan penuh penerimaan sampai ketakutan Larasati terasa seperti badai yang akhirnya menemukan atap.

Di cermin, dia tidak melihat perempuan yang merusak masa depan mahasiswa. Dia melihat dirinya sendiri, masih punya pekerjaan dan pilihan, ditemani orang-orang yang tidak memintanya menghilang demi menyelesaikan masalah.

"Jangan berlebihan," kata Larasati.

"Aku nggak berlebihan. Istriku paling cantik sedunia."

"Belum jadi istri."

Arka mendekat dan menangkup wajahnya. "Sebentar lagi. Tapi mulai sekarang jangan buat keputusan tentang kita sendirian. Marah, takut, atau bingung, bilang aku."

"Kalau kamu menyesal?"

"Aku sudah nunggu empat tahun. Yang kusesali cuma kenapa nggak mengejar lebih cepat."

Bu Ratih berdeham dari luar tirai. "Boleh romantis, tapi pintunya jangan ditutup."

Mereka tertawa. Larasati menyandarkan dahi ke dada Arka, mendengar detak jantung yang stabil.

"Suamiku," panggilnya untuk mencoba.

Arka membeku, lalu memeluknya sampai gaun mengembang di antara mereka.

"Panggil lagi."

"Nggak mau."

"Istriku paling cantik sedunia."

Untuk pertama kali sejak melihat dua garis, Larasati tidak memikirkan aib, usia, atau masa depan yang rusak. Dia melihat undangan dengan nama mereka, tangan Arka di pinggangnya, dan Bu Ratih yang sibuk memilih kain kerudung di luar.

Masa depan itu tidak hilang. Bentuknya hanya berubah, dan kali ini Larasati tidak harus menjalaninya sendirian.

Di dalam tasnya, test pack dua garis tersimpan berdampingan dengan undangan pernikahan. Satu benda sempat terasa seperti akhir dunia, benda lain membuka pintu menuju keluarga. Keduanya kini menjadi awal yang mereka pilih untuk hadapi bersama selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!