Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Beberapa menit berlalu dalam ketegangan yang tertahan. Langkah kaki yang tergesa terdengar di lorong karpet tebal di luar ruangan. Pintu kayu jati kembali terbuka. Nia melangkah masuk terlebih dahulu, disusul oleh sosok pria yang penampilannya sangat jauh berbeda dari Bian yang dulu selalu membanggakan setelan jas mahal dan kemeja klimisnya.
Bian melangkah masuk dengan canggung. Wajahnya tampak kusam, pipinya agak tirus, dan ada bayangan hitam yang tebal di bawah matanya. Pakaian kemeja yang ia kenakan tampak agak kusut, sangat mencerminkan kerapuhan hidupnya yang hancur setelah kehilangan seluruh fasilitas kemewahan yang selama ini ia nikmati dari gurita bisnis Husna.
Langkah Bian terhenti sejenak ketika matanya berpapasan dengan Devan dan Deka yang berdiri menjulang di dekat sofa. Tatapan dingin dan penuh ketajaman dari kedua anak kembarnya membuat Bian merasa kerdil seketika.
Namun, saat mata Bian mengedar ke sekeliling ruangan kerja Husna yang begitu megah dan luas ruangan yang kini berlipat ganda lebih sukses setelah bersih dari campur tangannya matanya mendadak tertuju pada satu objek di atas meja kerja kayu jati milik Husna.
Sebuah buket mawar putih segar yang mekar anggun di dalam vas, dan sebuah kotak kayu berukir berisi kue tradisional yang mengeluarkan aroma harum.
Binar mata Bian meredup, berganti dengan kilatan cemburu dan rasa curiga yang kekanak-kanakan. Di masa lalu, dialah satu-satunya pria yang berhak berada di lingkar hidup Husna, meskipun ia tidak pernah sungguh-sungguh menghargai istrinya itu. Melihat ada sentuhan perhatian romantis dari pria lain di atas meja Husna membuat harga dirinya yang sudah hancur terasa makin terinjak-injak.
"Mawar putih?" suara Bian terdengar parau dan agak bergetar saat ia melangkah lebih dekat ke meja kerja. Tangannya terangkat menunjuk buket bunga itu dengan pandangan menuduh. "Dari siapa itu, Husna? Siapa yang berani-beraninya mengirimi kamu bunga mawar di kantor tempat kamu bekerja?"
Husna tidak berdiri dari kursinya. Ia tetap duduk tegak, menyilangkan kedua jemari tangannya di atas meja, menatap Bian dengan tatapan datar yang teramat dingin tatapan yang diberikan kepada seorang asing yang bertamu tanpa diundang.
"Bukan urusanmu," jawab Husna singkat. Suaranya tenang, tanpa emosi, namun sarat akan jarak yang tak terlayani. "Ada perlu apa kamu kemari, Bian? Waktu saya sangat berharga dan tidak ada jadwal untuk melayani hal-hal yang tidak penting."
Panggilan saya-kamu yang diucapkan Husna terasa bagai sembilu yang menusuk dada Bian. Dulu, wanita di hadapannya ini selalu memanggilnya dengan sebutan lembut dan penuh rasa hormat. Kini, yang tersisa hanyalah keformalan yang asing dan membekukan.
Bian berusaha menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia mencoba mengabaikan rasa cemburunya pada buket mawar putih itu dan mengingat kembali tujuan utamanya datang ke kantor pusat distributor bahan bangunan ini. Rencana besar yang sudah ia susun di dalam kepalanya yang kini sedang terdesak kehancuran ekonomi.
"Husna..." Bian melangkah satu tindak lagi mendekati meja, berusaha melembutkan raut wajahnya yang kusam agar tampak memelas. "Tolong dengarkan aku dulu. Aku kemari karena aku... aku merindukanmu. Aku rindu rumah kita. Aku rindu keluarga kita yang dulu."
Deka yang mendengar kalimat itu langsung mengeluarkan ketawa sinis yang pendek. "Merindukan Bunda? Atau merindukan fasilitas dan uang Bunda yang selama ini Ayah nikmati gratisan?"
Bian meremas kedua tangannya sendiri, mengabaikan cemoohan Deka meskipun telinganya merah padam. Ia menatap Husna dengan pandangan penuh keputusasaan yang dipaksakan.
"Aku serius, Husna. Aku tahu aku salah. Aku sadar betul selama ini aku menutup mata atas semua kebaikan dan pengorbananmu. Aku tersesat, Na... aku benar-benar tersesat dan diperdaya," ujar Bian dengan nada suara yang dibuat-buat agar terdengar memilu. "Aku datang ke sini untuk meminta maaf secara tulus. Tolong batalkan gugatan cerai itu, Na. Mari kita perbaiki semuanya dari awal. Kita bangun kembali rumah tangga kita seperti dulu. Demi Devan dan Deka... demi masa depan anak-anak kita."
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Bian, Husna merasa perutnya mual. Kepura-puraan pria ini sungguh melampaui batas. Bertahun-tahun ia menahan rasa sakit atas pengkhianatan yang terang-terangan, dan sekarang, ketika posisi pria itu sudah berada di titik terendah akibat kesombongannya sendiri, dengan mudahnya ia menjual nama anak-anak dan keluarga untuk menyelamatkan dirinya dari kehancuran.
Husna menyandarkan punggungnya perlahan. Bibirnya mengukir senyuman amat tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip sindiran dingin.
"Minta balikan?" tanya Husna pelan, namun setiap kata terucap dengan sangat presisi. "Setelah semua aset bahan bangunan yang coba kamu balik nama? Setelah perusahaan swalayanmu disegel bank karena ambisi butamu? Dan setelah kamu menelantarkan anak-anakmu sendiri demi wanita lain?"
Husna menatap mata Bian lurus-lurus. Tatapan yang membuat Bian mendadak salah tingkah dan tidak berani menatap balik.
"Bicarakan soal Salma, Bian," lanjut Husna dengan nada santai yang justru sangat mematikan. "Mana wanita yang dulu kamu bela mati-matian di hadapan saya dan anak-anak? Mana wanita anggun dan elegan yang kamu bangga-banggakan itu? Di mana keberadaan Salma sekarang, sampai-sampai kamu harus berdiri merendahkan dirimu di ruangan ini untuk mengemis balikan kepada saya?"
Wajah Bian seketika pucat pasi. Pertanyaan Husna menembus tepat di bagian paling memalukan dari kehancurannya.
Ia tidak mungkin berani mengakui secara jujur di depan Husna dan anak-anaknya bahwa Salma wanita yang dulu ia agung-agungkan hingga tega menginjak-injak Husna telah melarikan diri membawa sisa tabungan dan perhiasannya begitu tahu bahwa usaha swalayan Bian bangkrut total dan aset bahan bangunan Husna tidak bisa disita oleh pihak bank. Salma meninggalkannya begitu saja dalam keadaan miskin dan terlilit utang, menunjukkan warna aslinya bahwa cinta wanita itu hanyalah sebatas harta.
"Salma... dia... dia sudah tidak ada hubungannya lagi denganku, Husna," jawab Bian gugup dengan suara yang makin memelan. "Aku sudah sadar kalau dia wanita beracun yang cuma memanfaatkan aku. Dia cuma benalu! Aku sudah mengusirnya dari hidupku, Na! Percayalah padaku... cuma kamu wanita yang tulus mencintai aku. Cuma kamu istri yang berbakti dan membawa keberkahan di dalam hidupku."
"Cukup, Ayah!" suara Devan memotong perkataan Bian dengan tegas dan penuh wibawa. Langkah kaki Devan terdengar mantap saat ia maju berdiri tepat di samping meja ibunya, memasang barikade perlindungan.
"Jangan pernah Ayah sebut kata tulus atau istri berbakti dari mulut Ayah itu," ujar Devan dengan mata menatap tajam ke arah ayahnya. "Saat Bunda berjuang membangun jaringan bahan bangunan ini dari nol, Ayah ke mana? Ayah malah sibuk menghamburkan uang demi wanita itu dan menghina Bunda di belakang! Sekarang begitu wanita itu kabur dan Ayah bangkrut, Ayah datang mengemis pada Bunda seolah-olah Ayah korban?"
"Devan... aku ini Ayahmu!" gertak Bian berusaha mempertahankan sisa-sisa wibawanya sebagai orang tua, meskipun suaranya terdengar bergetar karena malu.
"Ayah?" Deka ikut melangkah maju, berdiri sejajar dengan Devan. "Ayah mana yang tega membiarkan anak-anaknya dihina dan mencoba merampok hak ibunya sendiri? Kami tidak pernah menganggap Ayah sebagai sosok orang tua yang patut dihormati sejak Ayah memilih jalan busuk itu bersama wanita simpanan Ayah!"
Bian bungkam. Wajahnya yang kusam kini memerah padam berbaur dengan rasa malu yang teramat sangat. Di dalam ruangan megah ber-AC dingin ini, ia merasa bertelanjang dada di hadapan mantan istri dan anak-anak kandungnya sendiri yang kini memandangnya dengan rasa jijik.
Husna mengangkat tangannya pelan, menenangkan Devan dan Deka. Ia lalu menatap Bian dengan tatapan penuh kepastian yang tak tergoyahkan.
"Kamu mendengar sendiri apa kata anak-anak, Bian," kata Husna tenang namun sangat dingin. "Tidak ada lagi tempat untukmu di dalam hidup saya maupun di dalam hidup Devan dan Deka. Keputusan saya sudah bulat seratus persen. Proses perceraian di pengadilan akan tetap berjalan sampai tuntas. Seluruh jalur hukum mengenai batas pemisahan harta dan aset jaringan bahan bangunan ini juga sudah dikunci rapat oleh tim pengacara saya."
Husna meraih pulpen di mejanya, memainkannya sebentar sebelum meletakkannya kembali dengan ketukan pelan.
"Jangan pernah berpikir kamu bisa memanfaatkan masa lalu untuk menyelamatkan dirimu dari kehancuran yang kamu ciptakan sendiri. Kamu yang memilih untuk meninggalkan tempat ini, Bian. Kamu yang memilih untuk menukar ketenangan rumah tangga kita dengan wanita seperti Salma. Jadi sekarang, nikmatilah seluruh hasil dari pilihanmu sendiri."
Bian menatap Husna dengan pandangan tak percaya. Ia berharap melihat setitik keraguan atau sisa kemurahan hati di mata Husna sikap lembut yang dulu selalu Husna tunjukkan selama belasan tahun pernikahan mereka. Namun yang ia temukan kini hanyalah dinding batu yang sangat kokoh dan tidak bisa ditembus oleh air mata palsunya.
"Husna... tolong, jangan begitu dingin padaku," bisik Bian seraya mencoba meraih tepi meja. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Swalayan itu disita, rekeningku dibekukan... aku tidak punya apa-apa lagi, Na..."
"Itu konsekuensi dari perbuatanmu sendiri," potong Husna tanpa empati sedikit pun. "Tanggung jawablah sebagai seorang pria atas kegagalan yang kamu ciptakan sendiri. Jangan menjadi penakut yang mengemis bantuan pada wanita yang sudah kamu lukai."
Husna mengalihkan pandangannya dari Bian dan menekan tombol intercom di atas mejanya.
"Nia," panggil Husna.
"Iya, Bu Husna?" suara Nia terdengar jernih dari pengeras suara kecil.
"Tolong panggilkan dua petugas security eksekutif untuk mengantar Pak Bian keluar dari area gedung perusahaan. Pastikan beliau keluar sampai ke luar gerbang utama dengan tertib."
"Baik, Bu Husna. Segera."
Mendengar instruksi tersebut, wajah Bian seketika pucat pasi. Ia menyadari bahwa posisinya benar-benar sudah tidak memiliki arti apa-apa lagi di tempat ini. Ia bukan lagi suami dari pemilik gurita distributor bahan bangunan yang dihormati, melainkan hanya seorang pengganggu yang harus ditertibkan oleh petugas keamanan.
"Husna! Kamu tega melakukan ini padaku?!" seru Bian dengan suara panik yang tertahan.
Husna tidak menjawab. Ia bahkan tidak lagi melihat ke arah Bian. Tangannya meraih kembali ponselnya, membuka pesan dari Rafli yang tadinya sempat tertunda. Jemari Husna mengetikkan balasan dengan sangat tenang di hadapan Bian.
[Husna]: Selamat pagi, Rafli. Maaf baru membalas. Tentu saja, aku sangat berkenan untuk makan siang bersama nanti. Restoran Sunda berkonsep saung itu terdengar sangat menyenangkan. Sampai bertemu pukul 12.30 ya.
Melihat Husna begitu tenang mengetik pesan di ponselnya bahkan mengulas senyum tipis yang sangat manis saat membaca layar ponsel tersebut dada Bian terasa dihantam oleh godam besar. Ia bisa menebak dengan pasti bahwa buket mawar putih dan pesan yang sedang dibalas Husna itu berasal dari pria yang mengirimkannya. Pria lain yang kini mulai mengisi ruang di hati Husna, seorang pria yang jauh lebih terhormat dan sukses daripada dirinya.
Pintu ruangan terbuka. Dua orang petugas security berseragam lengkap dan bertubuh tegap melangkah masuk dengan sikap sigap.
"Selamat pagi. Pak Bian, mari kami dampingi untuk keluar dari gedung," ujar salah satu petugas security dengan nada suara tegas namun tetap profesional.
Bian mengepalkan tangannya rapat-rapat. Matanya menatap Husna, Devan, dan Deka secara bergantian. Namun tidak ada satu pun dari mereka yang menatapnya dengan rasa kasihan. Devan dan Deka berdiri tegak memegang pundak ibunya, sementara Husna tetap fokus pada pekerjaannya tanpa menyisakan sedikit pun perhatian untuk Bian.
Dengan langkah yang sangat berat, rasa malu yang membakar dada, dan kehampaan yang tak tertanggungkan, Bian akhirnya membalikkan badan. Ia melangkah keluar dari ruangan megah itu di bawah pengawalan ketat dua petugas keamanan, meninggalkan segala kejayaan, kehangatan keluarga, dan kemewahan yang dulu pernah ia miliki namun ia sia-siakan demi sebuah ambisi murah.
Saat pintu kayu jati itu kembali tertutup rapat, ruangan kerja Husna seketika kembali hening dan tenang. Udara seolah menjadi jauh lebih bersih dan lega.
Deka menghela napas panjang seraya menyenderkan punggungnya ke sofa.
"Akhirnya Si Tua itu pergi juga. Rasanya muak sekali mendengar omong kosongnya tadi."
Devan mengangguk setuju, lalu menatap ibunya dengan binar mata bangga. "Bunda keren banget tadi. Tegas, tenang, dan tidak terpancing sama sekali."
Husna mengulas senyum tulus, merentangkan tangannya pelan untuk mengusap lengan kedua putra kembarnya. "Terima kasih ya, Anak-anak Bunda. Kalau tidak ada kalian di sini, mungkin suasana tadi akan jauh lebih menyebalkan."
"Sama-sama, Bun," jawab Devan lembut. "Oiya, tadi Bunda kan sudah balas pesan Pak Rafli... jadi makan siang di restoran saung Sunda itu kan?"
Husna merapikan blazer lavender yang dikenakannya, lalu mengangguk anggun. "Iya, Bunda jadi makan siang dengan Pak Rafli. Kalian mau Bunda belikan sesuatu saat pulang nanti?"
"Tidak usah, Bun. Bunda menikmati saja makan siangnya dengan tenang. Biar kami yang urus makan siang kami sendiri sehabis dari sini," ujar Deka mengedipkan mata goda.
Husna tertawa pelan, rasa lelah akibat kedatangan Bian seketika menguap begitu saja. Di dalam dadanya kini, hanya ada rasa syukur yang mendalam atas keberadaan anak-anaknya dan harapan indah yang mulai merekah menyambut lembaran baru dalam kehidupannya.
btw,srius end kk????
mksh crtanya,aku otw crtamu yg lain...💃💃💃
bagus dan banyak pelajaran ny
yx seburuk-buruk ny kelakuan manusia di saat Dy berpulang tetap harus d lakukan yg terbaik ,,
bian udh menyadari dan menyesali perbuatan ny ,, ,,
terimakasih buat cerita ny kali ini kak ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
semangat dan sukses selalu buat kk ,,
bukan
kartu hitam black card
katanya sdh nikah, kok ada kalimat calon ibu?
slain syng sm dia,jg syng sm ank2nya....
smntra mntan istri mkin sukses plus nkah lg sm orng brkuasa,dia msh ttp jd gmbel.....😛😛😛
lanjuut kak ,,
akhirnya Bu Husna menemukan org yg tepat ,,
semoga bahagia truss keluarga kalian ,,
kn yg menikah dluan pak Rafli ,,