Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.
Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.
Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.
Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.
Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.
Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.
*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Balik Menyerang
Peringatan Bu Titin tidak membuat Laras takut. Justru malam itu ia mulai menyusun cara agar Bu Ratna bergerak lebih dulu.
Ia tidak punya jabatan di Persit. Tidak punya keluarga berpangkat. Bahkan kamar yang ditempatinya masih milik dinas. Kalau ia menuduh tanpa bukti, orang akan kembali menyebutnya janda yang terlalu pandai mencari perhatian.
Jadi Laras tidak menuduh siapa pun.
Keesokan paginya, saat Bu Titin datang mengembalikan wadah makanan, Laras sengaja berbicara cukup keras di dekat jemuran.
“Iwan bilang buku jaga bisa diperiksa,” katanya. “Saya juga mau minta daftar orang yang hadir di arisan sebelum pemeriksaan. Siapa tahu ada yang melihat korek hitam itu dibawa dari rumah mana.”
Bu Titin menangkap maksudnya. “Daftar arisan ada di meja Bu Ratna. Kalau perlu, saya bantu minta.”
“Matur nuwun. Saya tidak ingin menuduh pekerja kebersihan kalau ternyata puntungnya datang dari tempat lain.”
Dua perempuan yang sedang mengambil cucian di seberang menoleh. Laras tahu kabar itu akan berjalan tanpa harus ia dorong lagi.
Benar saja, sebelum Zuhur, salah satu perempuan tersebut sudah berada di rumah Bu Ratna.
Bu Ratna yang sedang memilah kertas langsung berhenti ketika mendengar soal daftar hadir dan buku jaga.
“Untuk apa Laras mengorek-ngorek arisan?” tanyanya.
“Katanya mau mencari pemilik korek.”
“Kan sudah jelas pekerja kebersihan.”
“Bu Titin cuma bilang melihat orang merokok di ujung lorong. Belum tentu puntung di depan kamar Laras punya orang yang sama.”
Wajah Bu Ratna berubah.
Ia buru-buru mengeluarkan buku arisan, membalik beberapa halaman, lalu mencabut selembar daftar yang memuat nama enam perempuan. Gerakannya terlalu cepat hingga ujung kertas robek.
“Kalau ada yang tanya, bilang rapat kecil hari itu dibatalkan.”
Perempuan di depannya kebingungan. “Tapi kami berkumpul di sini sampai hampir Magrib.”
“Itu bukan rapat. Cuma minum teh.”
“Lalu daftar ini?”
“Salah tulis.”
Bu Ratna melipat kertas dan memasukkannya ke laci.
Ia tidak sadar bahwa Bu Titin sudah berdiri di luar pagar bersama Bu Wati, seorang istri perwira yang kebetulan hendak mengantar undangan kegiatan. Keduanya mendengar bagian terakhir percakapan itu.
Bu Wati mengerutkan dahi. “Kenapa daftar minum teh harus disembunyikan?”
Bu Titin tidak menjawab. Ia hanya mengajak Bu Wati berjalan sebelum terlihat dari dalam.
Siang itu, berita tentang kepanikan Bu Ratna kembali kepada Laras.
“Dia bilang pertemuan dibatalkan,” kata Bu Titin di dapur rumah dinas. “Padahal enam orang ada di sana. Bu Wati juga dengar sendiri.”
Laras mengaduk sayur bening tanpa terburu-buru. “Berarti kita tidak perlu membuka lacinya. Biarkan dia menjelaskan sendiri kenapa waktunya berubah.”
“Kamu yakin?”
“Kalau kita mengejar, dia bisa bilang kita memfitnah. Kalau dia yang sibuk menghapus jejak, orang akan bertanya tanpa kita suruh.”
Bu Titin tersenyum lebar. “Mbak Laras, kamu halus sekali kalau sedang marah.”
“Saya cuma tidak suka sampah diletakkan di depan pintu saya.”
Satya yang duduk di pangkuan Bu Titin mengeluarkan suara riang, seolah ikut menyetujui.
Di kantor batalyon, Iwan membawa termos ke ruang kerja Bima sambil terus mengomel sendiri.
“Aneh betul, Komandan. Kemarin Bu Ratna tanya siapa saja yang jaga malam, hari ini tanya buku tamu boleh dipinjam atau tidak. Katanya untuk pemeriksaan kebersihan, tapi kenapa yang ditanya jam orang lewat?”
Bima mengangkat kepala dari laporan.
“Dia bertanya kapan?”
“Pagi sebelum pemeriksaan. Terus tadi datang lagi, minta saya jangan membuat masalah puntung rokok jadi urusan satuan.”
“Puntung rokok?”
Iwan membeku. Baru saat itu ia ingat Laras meminta agar kejadian tersebut tidak dilaporkan lebih dulu.
“Maaf, Komandan.”
“Duduk. Ceritakan dari awal.”
Iwan tidak berani duduk. Ia menceritakan pemeriksaan, tiga puntung kering, korek hitam, tuduhan tentang tamu laki-laki, kesaksian Bu Titin, sampai keanehan Bu Ratna pagi ini.
Wajah Bima tidak berubah. Hanya ujung penanya yang berhenti bergerak.
“Buku jaga malam itu?”
“Tidak ada tamu ke rumah, Komandan. Kendaraan logistik pagi tercatat. Pekerja kebersihan juga masuk setelah pukul delapan.”
“Pemeriksaan pukul sembilan lewat?”
“Siap.”
“Berarti puntung yang masih kering bisa diletakkan pagi itu.”
Iwan mengangguk.
“Korek hitam milik siapa?”
“Pekerja kebersihan bilang koreknya biru. Bu Titin juga mengaku kurang yakin soal warnanya karena melihat dari jauh.”
Bima menutup map. Potongan-potongan itu sudah cukup membentuk gambar: Bu Ratna bertanya jadwal jaga sebelum pemeriksaan, pengikutnya menemukan benda di titik yang sangat spesifik, kemudian ia mencoba mencegah buku jaga diperiksa.
“Siapa saja yang berkumpul di rumah Bu Ratna sebelum pemeriksaan?”
Iwan menyebut enam nama. Bima mengenali dua di antaranya sebagai perempuan yang ikut datang ke rumah Laras.
“Kapten Sofyan tahu?”
“Sepertinya tidak, Komandan. Beliau dinas luar pagi itu.”
Bima berdiri. “Jangan bawa ini ke suaminya. Belum.”
“Siap.”
“Panggil Bu Ratna melalui jalur yang pantas. Saya bicara di ruang terbuka kantor Persit. Bu Titin dan petugas lingkungan ikut.”
Sebelum pertemuan dimulai, Bima meminta keterangan Bu Titin dan Bu Wati di teras kantor Persit. Pintu dibiarkan terbuka. Dua staf perempuan duduk di meja dalam, cukup dekat untuk mendengar.
“Saya hanya perlu urutan kejadian,” kata Bima.
Bu Titin menjelaskan bagaimana Bu Ratna mulai menyerang sejak Laras tinggal di rumah dinas, bagaimana isu nasi goreng diperbesar, sampai lembar usulan mengganti ibu susuan yang belum pernah diminta satuan.
Bu Wati menambahkan, “Beberapa bulan ini Bu Ratna ingin semua kegiatan lewat dirinya. Kalau ada anggota meminta bantuan orang lain, dia menganggap kewibawaannya berkurang.”
“Kenapa Laras?” tanya Bima.
“Karena Laras tidak tunduk kepadanya,” jawab Bu Titin. “Dan karena setelah Satya sehat, orang mulai bilang rumah Pak Bima akhirnya terurus.”
Bu Wati berdeham. “Ada juga yang mengira kedekatan Pak Bima dengan Bu Titin membuat Bu Titin akan diminta membantu lebih banyak kegiatan Persit. Bu Ratna mungkin melihat Laras sebagai jalan Bu Titin mendapat pengaruh.”
Bima mengerutkan dahi. “Laras bahkan bukan anggota Persit.”
“Justru itu. Dia tidak bisa dikendalikan dengan iuran, jabatan, atau teguran organisasi.”
Kalimat itu membuat semuanya lebih jelas. Bu Ratna bukan sekadar keberatan pada keadaan rumah dinas. Ia takut seorang perempuan tanpa posisi bisa mengubah cara orang-orang memandang dirinya.
“Apa ada yang melihat siapa membawa korek hitam?”
Bu Titin menggeleng. Bu Wati berpikir sebentar.
“Pagi sebelum pemeriksaan, saya melihat salah satu perempuan yang ikut Bu Ratna keluar dari rumahnya membawa kantong sampah kecil. Tidak cukup untuk menuduh, tapi dia tidak membawa kantong itu saat sampai ke rumah berikutnya.”
“Namanya?”
Bu Wati menyebutkan salah satu dari enam penanda tangan.
Bima mencatat, lalu menutup buku. “Tidak ada yang menyebarkan nama itu. Saya ingin menghentikan gangguan, bukan mempermalukan keluarga prajurit.”
Bu Titin menatapnya. “Kalau Bu Ratna tetap menyerang?”
“Berarti pilihannya sendiri yang membawa perkara ini lebih tinggi.”
Pertemuan sore itu berlangsung singkat, tetapi cukup membuat Bu Ratna kehilangan ketenangannya.
Bima tidak menuduh. Ia hanya menanyakan mengapa seorang pengurus Persit meminta jadwal piket sebelum pemeriksaan, mengapa korek yang disebut milik pekerja ternyata berbeda warna, dan mengapa daftar pertemuan sebelum kejadian tiba-tiba disebut salah tulis.
Setiap jawaban Bu Ratna membuka lubang baru.
“Saya cuma ingin pemeriksaan berjalan tertib.”
“Kalau begitu kenapa tanya buku tamu rumah saya?”
“Karena ada puntung rokok.”
“Pertanyaan itu diajukan sebelum puntung ditemukan.”
Bu Ratna terdiam.
Bu Titin dan petugas lingkungan saling pandang. Tidak ada yang perlu mengucapkan kata fitnah. Urutan waktunya sudah berbicara.
Bima menyandarkan kedua tangan di meja.
“Saya tidak akan memperpanjang ini ke Kapten Sofyan atau pimpinan Persit, selama tidak ada lagi gangguan terhadap Laras.”
“Pak Bima melindungi dia sekali lagi.”
“Saya melindungi orang yang tinggal dan bekerja di bawah tanggung jawab saya.”
“Orang bisa salah paham.”
“Orang salah paham karena ada yang sengaja memberi bahan.”
Bu Ratna memucat.
Bima membiarkan kalimat itu menggantung. Ia tidak perlu menyebut persaingan posisi Persit atau rasa tidak suka Bu Ratna melihat seorang pengasuh mendapat perhatian. Cara perempuan itu menggenggam tas sampai buku jarinya putih telah menjelaskan cukup banyak.
“Pertemuan selesai,” kata Bima.
Malamnya, Laras sedang menutup pintu belakang ketika Bima pulang. Satya baru tidur. Udara berbau tanah setelah hujan singkat.
“Komandan sudah bicara dengan Bu Ratna?” tanyanya.
“Sudah.”
“Iwan yang lapor?”
“Mulutnya memang sulit dikunci.”
“Saya ingin menyelesaikannya sendiri.”
“Kamu sudah menyelesaikan bagianmu.” Bima berhenti di anak tangga. “Kamu membuat dia menghapus jejak yang tidak perlu dihapus.”
Laras menahan senyum. “Saya hanya mau melihat siapa yang paling dulu panik.”
“Berbahaya.”
“Apa?”
“Orang yang bisa memasak dan memasang jebakan sekaligus.”
Laras menatapnya. Bima jarang menggunakan kalimat sepanjang itu, apalagi dengan nada yang nyaris terdengar menggoda.
“Komandan sedang mengejek saya?”
“Memuji.”
“Cara memujinya aneh.”
Bima menaiki satu anak tangga, lalu menoleh. “Lain kali kalau ada sampah di depan pintumu, panggil saya. Tidak perlu menunggu sampai orangnya masuk perangkap.”
“Kalau saya bisa menang sendiri?”
Sudut mulut Bima terangkat.
“Tetap panggil. Saya ingin menonton.”
Ia masuk ke rumah sebelum Laras menemukan jawaban.
Perempuan itu masih berdiri di bawah lampu teras, tangan menempel pada dada yang berdetak terlalu cepat.
Baru beberapa detik kemudian Laras sadar.
Bima baru saja bercanda dengannya.