Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Tiga Puluh Satu Vila
"Maaf, Mas, kantor pemasaran ini bukan tempat berteduh."
Sri Wahyuni bahkan belum mengangkat wajah sepenuhnya saat Raka masuk ke lobi PT Mutiara Emas Properti. Ucapannya halus, tetapi matanya sudah menilai sandal lusuh, kemeja bekas seragam restoran yang sengaja tidak Raka ganti, dan ponsel retak di tangannya.
Fajar belum ada dalam hidup Raka. Bayu belum masuk. Hari ini ia datang sendirian, membawa rekening berisi Rp349.900 setelah sarapan paling mahal yang pernah terasa murah.
"Saya mau lihat daftar vila yang dijual," kata Raka.
Sri tersenyum tipis. "Brosur digital bisa diunduh di situs kami. Untuk survei unit, minimal booking fee sepuluh juta."
"Saya tidak minta survei. Saya minta daftar."
Di meja sebelah, Wulan Sari, staf marketing yang lebih muda, mengangkat kepala. Ia mengenali suara orang yang sedang menahan marah. Ia mendengar luka di sana, tanpa tanda orang yang sengaja mencari masalah.
"Mas bisa duduk dulu," kata Wulan. "Saya ambilkan katalog."
Sri langsung menahan lengannya. "Wulan, jangan buang waktu. Calon pembeli kita hari ini dari Bank Garuda dan grup ekspor."
Raka menatap papan maket di tengah lobi. Komplek vila Bukit Amerta berdiri di sana dalam bentuk miniatur: tiga puluh satu unit, kolam kecil, jalan berpaving, taman, dan satu vila utama menghadap bukit. Di dunia normal, tempat seperti itu hanya muncul di iklan yang ia lewati tanpa berani membuka.
[Mimpi mendeteksi aset tertekan: 31 unit vila Bukit Amerta. Total harga dunia luar Rp1.100.000.000.000. Harga sistem untuk tuan rumah: Rp11.000.]
Sebelas ribu.
Lebih murah daripada makan siangnya dulu di kantin karyawan.
Pintu kaca terbuka dari belakang.
"Lho, Raka?"
Suara Herman membuat seluruh punggung Raka mengeras.
Supervisor Restoran Taman itu masuk bersama dua pria berbatik. Rupanya ia datang mengantar tamu atau sekadar ikut menempel pada orang kaya. Begitu melihat Raka, wajahnya langsung cerah seperti menemukan hiburan gratis.
"Kamu cepat juga cari kerja baru. Tapi salah alamat. Di sini jual vila. Kalau mau jadi pelayan, cari pintu belakang."
Sri tertawa kecil, merasa pendapatnya terbukti.
Wulan menahan napas. "Pak Herman kenal Mas Raka?"
"Kenal sekali. Baru tadi malam saya pecat karena tidak tahu diri. Tamu VIP dilempari kata-kata. Sekarang dia mau lihat vila? Mungkin mau bersihin kolamnya."
Beberapa staf menoleh. Dua tamu Herman ikut tersenyum.
Raka memasukkan tangan ke saku. Jari-jarinya menyentuh koin, lalu ponsel.
Dulu, ia akan menjelaskan. Ia akan bilang tidak seperti itu. Ia akan berharap orang percaya.
Hari ini tidak perlu.
"Saya mau beli seluruh vila Bukit Amerta," kata Raka.
Tawa Herman meledak paling dulu.
"Seluruh? Kamu tahu satu unit berapa? Bahkan kalau kamu kerja seratus tahun di dapur, uangmu belum cukup bayar pagar."
Sri bersandar di kursi. "Mas, kalau mau bercanda, silakan di luar. Kami sedang bekerja."
Wulan justru membuka katalog dan menaruhnya di depan Raka. Tangannya sedikit gemetar, tetapi suaranya profesional.
"Ini daftar unitnya, Mas. Mas bisa pilih tipe dulu."
"Saya bilang seluruh. Tiga puluh satu unit." Raka menunjuk maket. "Termasuk vila utama."
Sri mendengus. "Wulan, panggil security."
"Tunggu," kata Wulan. Ia menatap Raka. "Mas serius?"
"Serius. Siapkan rekening escrow atau rekening perusahaan yang sah. Saya ingin AJB dan dokumen pajak bersih. Kalau perlu notaris, panggil sekarang."
Kalimat itu membuat tawa Herman patah.
Orang miskin bisa pura-pura kaya. Tetapi orang miskin jarang menyebut escrow, AJB, dan pajak dengan nada setenang itu.
Sri mulai ragu, tetapi gengsinya sudah terlanjur berdiri. "Mas, prosedur kami tidak sesederhana itu. Pembelian bulk harus melalui direktur."
"Panggil direktur."
"Direktur kami sibuk."
"Kalau dia terlalu sibuk menerima Rp11.000, saya bisa cari developer lain."
Sri hampir tertawa lagi karena angka itu absurd. Tetapi pada saat yang sama, sistem di mata Raka menampilkan tombol konfirmasi.
[Transaksi legal tersedia melalui rekening perusahaan PT Mutiara Emas Properti. Nilai dunia luar akan disesuaikan pada sisi penerima. Konfirmasi pembayaran Rp11.000?]
Raka menekan layar.
Notifikasi transfer masuk ke komputer kasir.
Wulan yang sedang login admin melihat layar lebih dulu. Wajahnya memucat.
"Bu Sri..."
"Apa lagi?"
"Ada transfer masuk."
"Booking fee?"
Wulan menelan ludah. "Pembayaran penuh. Untuk kode aset Bukit Amerta."
Sri merebut mouse. Matanya melebar membaca sistem internal yang mendadak menandai seluruh tiga puluh satu unit sebagai lunas. Di kolom nilai, angka dunia luar tampil penuh sesuai pembukuan perusahaan: Rp1.100.000.000.000.
Herman maju, lalu berhenti.
"Tidak mungkin," bisiknya.
Lift belakang berbunyi.
Seorang pria berusia lima puluhan keluar dengan langkah cepat, diikuti sekretaris. Jasnya sederhana, tetapi semua staf langsung berdiri.
Hendra Salim.
"Siapa yang melakukan pembayaran Bukit Amerta?" suaranya tajam.
Wulan mengangkat tangan pelan. "Pak, Mas ini. Mas Raka Surya Pratama."
Tatapan Hendra jatuh kepada Raka. Ia tidak tertawa. Tidak menilai sandal. Ia melihat layar, melihat Raka, lalu berjalan mendekat.
"Pak Raka," katanya, langsung memakai sapaan yang membuat Sri tertegun. "Saya Hendra Salim. Mohon maaf atas keributan di kantor kami."
Herman seperti ditampar tanpa tangan.
Raka mengangguk. "Saya ingin prosesnya bersih. Sertifikat, pajak, notaris. Tidak ada unit bermasalah."
"Tentu. Saya tangani pribadi." Hendra menoleh ke Sri. "Kenapa calon pembeli sebesar ini berdiri di lobi?"
Sri pucat. "Pak, saya... saya kira..."
"Anda kira dari pakaian?"
Tidak ada bentakan. Justru karena suaranya pelan, semua orang makin tegang.
Wulan segera menarik kursi. "Silakan, Pak Raka. Saya siapkan minum."
Raka duduk, tetapi ia tidak lupa menoleh kepada Herman.
"Pak Herman."
Herman tersentak.
"Tadi Anda bilang saya cocok bersihkan kolam."
"Raka, saya cuma bercanda."
"Bagus. Mulai sekarang kalau Anda lewat vila saya, jangan masuk lewat gerbang utama. Saya tidak suka lelucon murah mengotori halaman."
Dua tamu Herman menunduk, pura-pura memeriksa ponsel. Sri menggigit bibir sampai warna lipstiknya rusak.
Mimpi memberi notifikasi baru.
[Loyalitas awal Hendra Salim: 65. Terbuka peluang kerja sama strategis.]
Hendra menatap Raka dengan minat yang tidak disembunyikan.
"Pak Raka, kalau Bapak berkenan, kita lanjutkan di ruang VIP. Ada beberapa peluang properti yang seharusnya hanya saya tawarkan kepada investor inti."
Raka berdiri.
Ia datang untuk menguji sistem.
Ia keluar dari lobi sebagai pemilik tiga puluh satu vila.
Di belakangnya, Herman masih berdiri seperti orang yang baru sadar bahwa uang lima puluh ribu basah tadi malam bukan hinaan terakhir.
Raka mengikuti Hendra menuju lift khusus.
Pintu lift menutup, memisahkan wajah-wajah pucat di lobi.
Hendra menekan tombol lantai eksekutif, lalu berkata pelan, "Pak Raka, kalau Bapak bisa membeli Bukit Amerta tanpa negosiasi, mungkin saya sedang berhadapan dengan orang yang bisa menyelamatkan seluruh Mutiara Emas Properti."