Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Bawahan Rahasia dan Jebakan di Balik Meja Kerja
Pagi itu kabut tipis masih menyelimuti halaman luas kediaman Erlan saat aku turun ke ruang makan. Di meja sudah tersaji sarapan lengkap, dan Erlan duduk di ujungnya dengan setelan jas yang rapi, wajahnya tenang seperti biasa meski matanya tampak sedikit lebih teduh dari kemarin. Sejak rahasia kami berdua terungkap di balik pintu sayap timur, dinding dingin di antara kami perlahan runtuh, digantikan oleh kepercayaan yang tumbuh perlahan namun pasti.
"Ini kartu identitas dan jadwal kerjamu," ucapnya pelan sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat saat aku duduk di hadapannya. "Mulai hari ini kamu masuk sebagai staf administrasi di divisi pengembangan proyek. Tidak ada yang tahu statusmu yang sebenarnya, kecuali aku dan sekretaris pribadiku yang sudah bisa dipercaya sepenuhnya."
Aku membuka kartu itu. Tertulis nama lengkapku Dian Kirana, tanpa gelar apapun, tanpa nama belakang Pratama. "Kamu yakin tidak ada yang curiga?"
Erlan menatapku lekat-lekat, tangannya menyentuh ujung rambutku yang terurai jatuh di bahu, kebiasaan kecil yang mulai sering dia lakukan belakangan ini. "Aku ingin kamu melihat sendiri siapa yang bergerak di dalam bayang-bayang perusahaan ini. Rian dan Sari sering datang ke kantor untuk urusan kerja sama. Jika kamu berdiri di posisi yang sama dengan mereka, kamu akan lebih mudah membaca niat jahat mereka tanpa mereka waspada."
Aku mengangguk mantap. "Aku siap. Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka bermain kotor tanpa balasan."
Sesampainya di gedung pencakar langit tempat perusahaan Erlan berada, jantungku berdegup kencang. Dulu di kehidupan sebelumnya, aku hanya pernah mendengar betapa megah dan ketatnya tempat ini, tapi kini aku melangkah masuk sebagai bagian dari isinya dan sebagai orang yang tahu persis bahaya apa yang bersembunyi di balik pintu-pintu kaca ini.
Di ruang divisi tempat aku ditempatkan, suasananya sibuk namun tertib. Sekretaris Erlan, Bu Susi, wanita paruh baya yang tegas namun ramah, langsung menuntunku ke meja kerjaku di sudut ruangan. "Kerjamu cukup rapi, Dian. Jangan ragu bertanya jika ada yang tidak dimengerti. Dan ingat satu hal jangan pernah menilai orang dari penampilannya saja. Di sini banyak topeng yang dipakai orang setiap harinya."
Peringatan itu terasa begitu pas. Baru aku duduk beberapa menit, pintu ruangan terbuka lebar. Rian masuk duluan dengan langkah sombong, diikuti Sari yang mengenakan gaun ketat berwarna cerah, wajahnya penuh senyum kemenangan palsu. Mereka datang sebagai perwakilan perusahaan rekanan untuk membahas proyek kerja sama.
Saat mata Sari menangkap sosokku di sudut ruangan, dia tertegun sejenak, lalu tertawa sinis cukup keras hingga semua orang menoleh. "Wah, bukan main-main ya nasibmu, Kak Dian. Dari putri bangkrut sekarang jadi pelayan administrasi di sini? Benar-benar turun derajat sampai ke lantai dasar."
Beberapa rekan kerjaku tampak kasihan, yang lain berbisik-bisik menebak hubungan kami. Rian melangkah mendekat, mencondongkan tubuh ke arahku dengan tatapan merendahkan. "Kamu pikir dengan bekerja di sini kamu bisa mendekati Bos Besar? Dia cuma kasihan padamu, Dian. Begitu bosannya, kamu akan dibuang seperti sampah."
Aku tidak marah. Aku hanya menatap mereka tenang, menyelipkan helaian rambut yang jatuh ke wajahku. "Bukan nasibku yang perlu kamu khawatirkan. Lebih baik kamu fokus menyelesaikan tugasmu dengan benar. Kalau tidak, takutnya nanti malah kamu yang tidak berani melangkahkan kaki ke sini lagi."
Wajah Sari memerah menahan amarah, tapi dia tidak berani berbuat banyak di tempat umum. Mereka berjalan menuju ruang rapat, tapi sebelum masuk, Sari menoleh ke belakang dan melirikku dengan tatapan mengancam. Aku tahu, dia pasti sudah menyiapkan sesuatu untuk menjatuhkanku hari ini juga.
Siang harinya, saat semua orang sibuk makan siang, Bu Susi menitipkan dokumen penting proyek kerja sama dengan perusahaan Rian untuk diperiksa dan disusun rapi sebelum rapat sore nanti. "Ini sangat penting, Dian. Jangan sampai ada yang salah atau hilang. Tuan Erlan sendiri yang akan memimpin rapat ini."
Aku mengangguk dan mulai bekerja. Tapi baru beberapa menit setelah Bu Susi pergi, aku melihat Sari diam-diam mengintip dari balik pintu, lalu menghilang. Perasaan curiga langsung muncul. Aku segera memeriksa isi dokumen satu per satu. Benar saja di bagian perhitungan keuangan dan jaminan proyek, ada beberapa halaman yang diganti dengan data palsu yang merugikan perusahaan Erlan secara besar-besaran. Jika dokumen ini dipakai dalam rapat, pasti akan dianggap kesalahanku, dan aku akan langsung dipecat bahkan dituduh berniat merusak proyek.
Aku tersenyum dingin. Mereka pikir trik kotor yang sama bisa berulang dua kali? Di kehidupan dulu aku memang sering tertipu karena terlalu teledor, tapi kali ini aku hafal betul letak kesalahan yang mereka buat.
Aku segera menyalin dokumen asli yang tersimpan di sistem komputer rahasia Erlan yang sebelumnya dia tunjukkan padaku lalu menyusunnya kembali dengan rapi. Sementara dokumen palsu yang tertinggal di atas meja, aku simpan rapat-rapat sebagai bukti.
Sore menjelang rapat, Sari datang lagi ke mejaku dengan wajah sok prihatin. "Dokumennya sudah selesai? Kasihan sekali kalau sampai salah, nanti kamu diusir dan tidak bisa bayar utang orang tuamu."
"Sudah selesai," jawabku tenang sambil menyerahkan map tertutup rapat. "Silakan diperiksa jika ragu."
Sari tersenyum puas, yakin bahwa jebakannya berhasil. Dia langsung membawa map itu masuk ke ruang rapat tanpa melihat isinya lagi.
Rapat dimulai. Erlan duduk di kursi utama, wajahnya dingin dan berwibawa. Rian mulai berbicara panjang lebar, lalu mempersilakan semua orang melihat dokumen yang kubawa. Saat semua orang mulai membaca, wajah Rian dan Sari perlahan berubah pucat. Dokumen di dalamnya bukanlah yang mereka harapkan, semuanya benar, lengkap, dan bahkan melampirkan catatan ketidakcocokan data yang mereka kirimkan kemarin.
"Ada yang salah di sini!" seru Sari panik. "Tadi dokumennya berbeda! Dia yang menggantinya! Dian yang merusak bukti!"
Semua mata tertuju padaku. Erlan menatapku, lalu bertanya dengan suara berat: "Apa benar begitu?"
Aku berdiri tenang, lalu mengeluarkan map lain dari tasku. "Bukan, Tuan. Dokumen yang saya bawa adalah yang asli. Ini adalah dokumen yang tadi ditinggalkan di meja saya, yang isinya data palsu yang sangat merugikan perusahaan. Selain itu, ada rekaman CCTV yang menunjukkan jam berapa Sari masuk ke ruangan ini dan menyentuh berkas ini saat jam istirahat."
Aku menampilkan bukti di layar proyektor. Wajah Rian dan Sari seputih kertas. Semua peserta rapat berbisik-bisik marah melihat kelicikan mereka.
Erlan mengetuk meja pelan, suaranya menggelegar di ruangan hening. "Perusahaan kami tidak pernah bekerja sama dengan orang yang berniat curang. Kerja sama ini dibatalkan. Dan saya akan mempertimbangkan langkah hukum atas percobaan pemalsuan dokumen ini."
Rian mencoba membela diri, tapi tidak ada yang mau mendengar lagi. Mereka berdua terpaksa keluar ruangan dengan malu dan marah yang meluap-luap.
Setelah rapat selesai, Erlan memintaku masuk ke ruang kerjanya. Saat pintu tertutup rapat, dia berjalan mendekat dan menatapku dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Kamu hebat sekali. Aku bahkan belum sempat membantumu, kamu sudah menyelesaikannya dengan sempurna."
"Aku hanya tidak mau tertipu lagi," jawabku pelan. "Mereka mengira aku masih gadis lemah yang bisa dimanipulasi sesuka hati. Kali ini aku beri pelajaran kecil."
Erlan tersenyum tipis, lalu tangannya menyentuh pipiku dengan lembut. "Tapi hati-hati. Kekalahan ini pasti membuat mereka semakin nekat. Apalagi orang misterius yang berdiri di belakang mereka belum kita ketahui siapa."
Baru saja dia selesai bicara, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal
"Hebat sekali kamu menyelamatkan diri hari ini, Dian. Tapi ingat, aku tahu setiap langkahmu. Dan aku tahu rahasia siapa yang paling kamu lindungi."
Tubuhku menegang. Orang ini bukan hanya tahu soal masa lalu kami tapodia juga tahu kelemahan terbesarku. Erlan melihat pesan itu, rahangnya mengeras kuat.
"Jangan khawatir," bisiknya tegas sambil menggenggam tanganku erat. "Selama kita berjuang bersama, tidak ada rahasia yang bisa mereka pakai untuk mengancammu. Dan sebentar lagi kita akan tahu siapa dia, yang bersembunyi di balik bayang-bayang itu."
Malam itu saat pulang, aku menyadari satu hal di tempat kerja ini, di tengah musuh yang menyamar jadi teman, aku tidak hanya belajar membela diri. Aku juga mulai menyadari bahwa kekuatan terbesarku bukanlah karena aku tahu masa depan, tapi karena aku berani menghadapi ketakutan yang dulu membuatku lari dan bersembunyi. Dan di sampingku, ada orang yang siap menopangku kapan pun aku goyah.