NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Jangan berteriak seperti itu, duduklah dengan tenang," ucap Baskara dengan nada suara yang begitu datar namun mengikat, membuat Alena yang nyaris bangkit dari kursinya kembali terduduk kaku.

Beberapa pengunjung di meja sebelah sempat menoleh ke arah mereka, membuat Alena buru-buru menarik napas dalam-dalam untuk meredam detak jantungnya yang bergemuruh hebat.

Baskara melirik ke arah Alena, memperhatikan ekspresi wanita itu yang masih diliputi kebingungan tingkat tinggi.

Tanpa tergesa-gesa, ia melipat kedua tangannya di atas meja, menatap lurus manik mata wanita di depannya.

"Apakah kamu ragu menikah denganku?" tanya Baskara to the point.

Alena menatap wajah Baskara yang terpahat sempurna di bawah temaram lampu restoran.

Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan sama sekali tidak menyiratkan pria yang baru saja melewati usia kepala tiga—jauh sekali dari gambaran pria paruh baya bernama Ferry.

"Jangan bercanda, Baskara. Usia kamu masih muda, dan aku sudah empat puluh tahun," desis Alena dengan suara tertahan, mencoba melogika situasi yang sama sekali tak masuk akal ini.

Baskara tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, membiarkan keheningan menggantung di antara mereka sebelum sebuah smirk tipis terukir di sudut bibirnya.

"Lalu kenapa?" tanyanya balik, nada suaranya berubah menyaratkan sebuah tantangan terselip geli.

"Bukankah biasanya wanita seusiamu menyukai berondong?"

Alena sontak terbelalak, nyaris tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat blak-blakan dari pemuda di hadapannya.

"Hei! Bukan masalah suka atau tidak suka!" protes Alena, pipinya mendadak menghangat karena jengkel sekaligus salah tingkah.

"Ini soal akal sehat, Baskara. Ayahmu mengajakku berkenalan untuk sebuah pernikahan, bukan mewariskan tanggung jawabnya seperti sebuah paket kiriman kilat!"

"Ini bukan paket, Alena. Ini wasiat," potong Baskara cepat, sorot matanya yang tadinya santai mendadak berubah serius dan kelam, mengunci pertahanan Alena dalam sekejap.

Baskara condong sedikit ke depan, mendekatkan wajahnya.

Ada luka yang coba ia sembunyikan di balik ketegaran sikapnya, membuat Alena tanpa sadar menelan ludah.

"Ayah menghabiskan sisa hari-harinya untuk membicarakanmu. Pertemuan malam ini adalah hal terakhir yang paling ingin ia wujudkan sebelum jantungnya menyerah," lanjut Baskara pelan, suaranya sedikit bergetar.

"Aku tidak peduli dengan selisih usia kita. Jika itu bisa menenangkan penyesalan terakhir Ayah, aku akan menepatinya. Dan aku memilihmu untuk itu."

Alena terdiam. Kalimat itu menohok relung hatinya yang paling dalam.

Ia menatap lekat-lekat mata Baskara, mencari keraguan atau candaan di sana, namun yang ia temukan hanya tekad bulat yang keras bagai baja.

Pikiran Alena berkecamuk hebat. Di satu sisi, ia adalah wanita mapan yang menikmati kemandirian dan kesendiriannya.

Di sisi lain, ia kini duduk berhadap-hadapan dengan seorang pemuda asing yang menyeretnya ke dalam sebuah ikatan emosional terberat di hidupnya—atas nama wasiat seorang ayah yang bahkan belum sempat ia kenal.

"Kamu... benar-benar gila," bisik Alena akhirnya, melemah sembari memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pening.

Baskara terkekeh, namun suara tawanya terasa dingin, sedingin sorot mata yang menghunjam tepat di ulu hati Alena.

Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan angkuh.

"Jangan panggil aku Baskara kalau aku tidak gila, Alena," ucapnya tenang, seolah sedang membicarakan cuaca.

"Aku bisa membeli toko rotimu jika kamu menolak menikah denganku. Dan lebih dari itu, aku bisa memenjarakanmu. Karena, secara teknis, kamu adalah penyebab kematian Ayahku. Jika saja kamu tidak setuju untuk bertemu malam ini, Ayah tidak akan memaksakan diri berangkat dalam kondisinya yang lemah hanya untuk menemuimu."

Alena menggelengkan kepalanya keras-keras, seolah sedang mencoba mengusir mimpi buruk yang tengah menyerangnya di siang bolong.

"Ini gila, Baskara!" seru Alena, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan.

"Kamu memutar balikkan fakta? Kamu benar-benar mengancamku?"

Baskara tidak bergeming. Ia justru mencondongkan tubuh, mempersempit jarak di antara mereka hingga Alena bisa merasakan aura dominasi yang menyesakkan.

"Pilih sekarang, Alena," desis Baskara tajam.

"Menikah denganku, atau aku pastikan hidupmu hancur di balik jeruji besi atas tuduhan kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang. Waktumu sepuluh detik."

Alena terpaku. Napasnya memburu. Pria di depannya ini bukanlah pria yang bisa diajak bernegosiasi.

Dia adalah tembok beton yang tak tergoyahkan. Alena menatap sekeliling, berharap ada seseorang yang bisa menolongnya, namun restoran itu seolah mendukung keheningan mencekam yang diciptakan Baskara.

"Satu," hitung Baskara dingin.

"Dua..."

Alena merasakan dadanya sesak. Apakah ini akhir dari hidupnya yang tenang? Menikahi orang asing yang gila, atau kehilangan segalanya?

"Tiga..."

"Cukup!" pekik Alena tertahan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena rasa tertekan yang luar biasa.

"B-baik, aku mau..." bisik Alena tertunduk, menyerahkan seluruh sisa harga dirinya di bawah tekanan mutlak yang diberikan pemuda itu.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Baskara mengangkat tangan kanannya memberi kode.

Dari meja di sudut lain restoran, seorang pria paruh baya berjas rapi yang membawa tas kerja kulit hitam langsung mendekat. Itulah pengacara pribadi keluarga Baskara.

Dokumen tebal berlogo instansi hukum tersaji di atas meja, disusul selembar kertas khusus berisi poin-poin perjanjian yang membuat darah Alena mendidih sekaligus membeku.

"Kamu baca dan langsung tanda tangan," perintah Baskara dingin, menyodorkan pena bermerek mahal ke hadapan Alena.

Dengan tangan bergetar hebat, Alena membaca sepuluh persyaratan gila yang tertera di atas kertas tersebut:

Status Pernikahan: Pernikahan bersifat formal dan tertutup, hanya diketahui keluarga inti.

Kewajiban Tinggal: Pihak Kedua (Alena) wajib pindah ke kediaman Pihak Pertama (Baskara) dalam waktu 1x24 jam setelah akad.

Manajemen Waktu: Pihak Kedua wajib mendampingi Pihak Pertama dalam setiap acara formal maupun keluarga tanpa terkecuali.

Kemandirian Bisnis: Toko roti Pihak Kedua tetap berjalan, namun Baskara berhak melakukan audit finansial kapan saja jika dirasa perlu.

Batasan Privasi: Dilarang membawa orang asing atau teman ke dalam rumah tanpa izin tertulis dari Baskara.

Larangan Perceraian: Pihak Kedua dilarang mengajukan gugatan cerai selama lima tahun ke depan. Pelanggaran berakibat pada sita aset pribadi.

Sikap Publik: Harus bersikap layaknya istri yang penuh kasih di depan publik dan keluarga besar.

Keuangan: Segala biaya hidup akan ditanggung

oleh Pihak Pertama, namun Pihak Kedua wajib memberikan laporan pengeluaran pribadi setiap bulan.

Komunikasi: Pihak Kedua wajib menjawab panggilan atau pesan dari Pihak Pertama maksimal dalam 5 menit, di mana pun dan kapan pun.

Sanksi: Pelanggaran poin-poin di atas akan berujung pada tuntutan hukum dan pengambilalihan hak milik bisnis Pihak Kedua oleh Pihak Pertama.

Alena menggelengkan kepalanya kuat-kuat begitu netranya menangkap butir demi butir aturan yang terasa seperti borgol tak kasat mata itu.

"Aku tidak bisa, Bas. Ini bukan pernikahan, ini perbudakan!" sanggahnya putus asa.

Baskara sama sekali tidak bergeming. Ia dengan tenang mengambil ponsel dari atas meja, jemarinya bergerak cepat menekan tiga digit nomor darurat kepolisian.

"Bas...." panggil Alena panik, napasnya memburu di ambang kehancuran.

"Tiga..." suara Baskara mengalun rendah tanpa ampun.

"Dua..."

Air mata yang sejak tadi terbendung akhirnya tumpah begitu saja membasahi pipi Alena.

Dengan tangan gemetar luar biasa, ia merebut pena dari tangan sang pengacara, menghapus kasar air matanya, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas kertas perjanjian itu.

Tandatangan sah yang menandakan ia resmi menjual kebebasannya demi menyelamatkan diri dari jeruji besi.

Baskara menarik kembali dokumen tersebut dengan gerakan tenang, menyerahkannya pada sang pengacara untuk disimpan, lalu berdiri dari kursinya.

"Pilihan yang cerdas, Alena," ucap Baskara datar. Ia merapikan jasnya, menatap wanita di depannya dengan kilatan mata penuh kemenangan.

"Sekarang, ayo kita ke rumahmu dan bersiap untuk menikah."

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!