Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.
Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.
Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.
Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.
Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.
Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.
Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30. Melawan Badai
Pagi itu, langit di luar jendela kantor tampak kelabu dan mendung, seolah-olah alam pun tahu bahwa hari ini bukan hari yang mudah.
Naira berdiri di depan meja kerja Mikael, tangannya memegang selembar kertas yang berisi laporan masalah terbaru. Matanya sembab, kantung matanya terlihat jelas, tanda ia tidak tidur semalaman memikirkan semua ini.
Proyek terbesar yang sedang mereka kerjakan bersama, proyek yang Naira banggakan dan sangat berarti, kini terancam gagal total.
Bukan karena kesalahan desainnya. Tapi karena pihak pemasok bahan baku utama melakukan kesalahan fatal yang mengacaukan seluruh jadwal produksi.
Klien sangat marah. Ancaman pembatalan kontrak sudah datang. Kerugian yang harus ditanggung sangat besar, dan semua orang di kantor mulai berbisik-bisik mencari siapa yang harus disalahkan.
Naira menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya saat ia meletakkan kertas itu di atas meja Mikael dengan lembut.
"Mikael, aku sudah memikirkan semuanya semalaman," katanya pelan namun jelas, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar.
"Aku tahu ini bukan salahku, tapi aku tahu bagaimana orang-orang memandangku. Aku orang baru di sini. Aku yang memulai proyek ini. Jika aku mengundurkan diri dan mengambil tanggung jawab ini mungkin klien akan lebih lunak.
Mungkin perusahaan tidak akan menderita kerugian sebesar ini. Aku akan menulis surat pengunduran diri hari ini. Aku akan menjelaskan bahwa semua ini adalah keputusanku."
Keheningan menyelimuti ruangan itu. Naira menunduk, menatap lantai, menahan air mata yang berusaha sekuat tenaga ia tahan.
Ia siap melepaskan semuanya. Mimpinya, posisinya, semua yang ia bangun Ia rela melepaskan asal semua ini tidak menghancurkan Mikael dan perusahaan yang telah memberinya kesempatan.
Mikael berdiri dari posisi duduknya lalu mendekat. Sepasang tangan hangat menggenggam bahu Naira dengan lembut namun pasti, mengangkat dagunya perlahan hingga ia menatap mata Mikael.
Dan di sana, di mata pria yang dicintainya itu, tidak ada kemarahan. Tidak ada kekecewaan. Yang ada hanya ketegasan yang penuh kasih sayang dan membuat jantung Naira berdebar.
"Kamu pikir aku memilihmu hanya untuk berbagi tawa dan kebahagiaan? Kamu pikir saat badai datang, aku akan membiarkanmu berdiri sendirian di tengah hujan?" suara Mikael rendah, namun setiap kata terasa begitu kuat dan menembus jantung Naira.
Naira terisak pelan. "Tapi ini beban yang terlalu berat, Mikael. Aku tidak ingin menghancurkan reputasimu. Aku tidak ingin orang-orang berkata bahwa kamu salah memilih. Lebih baik aku pergi. Lebih baik aku yang pergi daripada kamu ikut hancur bersamaku."
Mikael menggeleng perlahan, tatapannya tak pernah lepas dari matanya. Ia mengusap air mata di pipi Naira dengan ibu jarinya, lembut namun tegas.
"Dengarkan aku, Sayang."
Mikael menarik napas panjang, lalu menatap Naira dalam-dalam, menegaskan setiap kata dengan ketegasan yang tak tergoyahkan.
"Jangan pernah berpikir untuk pergi. Jangan pernah berpikir untuk menanggung ini sendirian. Kita hadapi bersama.
Dalam suka maupun duka. Dalam kemenangan maupun kegagalan. Dalam hari cerah maupun badai terbesar sekalipun. Kita menghadapinya berdampingan. Jangan pernah lagi berpikir kamu sendirian menghadapi berbagai macam permasalahan."
"Aku takut, Mikael," ujar Naira pelan, jujur dan lemah. "Aku takut kita gagal. Aku takut kita dihina. Aku takut semua kerja keras kita hancur begitu saja dan yang lebih aku takuti, reputasi perusahaanmu ini menjadi buruk."
Mikael menariknya ke dalam pelukan yang kuat dan melindungi, membiarkan kepala Naira bersandar di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang tenang dan stabil, jantung yang bahkan di tengah badai tetap damai.
"Takut itu wajar, Naira. Tapi jangan biarkan rasa takut menguasaimu. Selama kita bersama, kita lebih kuat dari masalah apa pun.
Jika kita gagal hari ini, kita bangkit besok. Jika jalan ini tertutup, kita cari jalan lain. Tidak ada yang terlalu berat jika kita memikulnya bersama. Percayalah padaku. Percayalah pada kita."
Naira memeluk pinggang Mikael erat, menyembunyikan wajah di dadanya, merasakan kehangatan yang menembus ke seluruh tubuhnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa punya sekutu sejati. Seseorang yang tidak akan lari saat keadaan sulit. Seseorang yang tidak menyalahkan, tapi memegang tangan dan berkata: Aku di sini. Kita hadapi ini bersama.
"Aku percaya padamu," bisiknya di dadanya, suaranya kini lebih tenang, lebih kuat. "Aku tidak akan pergi. Kita hadapi ini bersama. Seperti yang kamu katakan — selalu kita."
Mikael mencium puncak kepalanya dengan penuh rasa bangga dan kasih sayang.
"Bagus. Sekarang kita berangkat bersama. Kita temui klien itu. Kita jelaskan semuanya. Kita tawarkan solusi. Dan apa pun keputusan mereka, kita hadapi bersama."
Mereka melepaskan pelukan, tapi tangan mereka tetap saling menggenggam erat, jari-jarinya saling bertaut, sebuah janji tanpa kata-kata. Mikael meraih jaketnya, lalu dengan satu tangan tetap menggenggam tangan Naira, mereka berjalan keluar ruangan bersama.
Di lorong kantor, semua mata tertuju pada mereka. Ada yang penasaran, ada yang cemas, ada yang bersimpati.
Tapi tidak ada rasa malu di wajah Mikael. Tidak ada keraguan di langkahnya. Ia terus berjalan, menggenggam tangan Naira dengan bangga.
Naira berjalan di sampingnya. Ia berjalan sejajar, kepala terangkat, matanya bersinar dengan keberanian yang baru saja ia temukan.
Keberanian yang lahir dari rasa aman yang luar biasa. Karena ia tahu, di sampingnya berdiri orang yang paling ia percayai di dunia ini. Dan selama mereka bersama, mereka tidak akan pernah kalah.
Saat mereka memasuki lift, Mikael menatapnya, lalu tersenyum, senyum yang menenangkan, penuh keyakinan, dan cinta yang tak tergoyahkan.
"Siap, Sayang?"
Naira menatapnya, lalu tersenyum balik, senyum yang tulus, berani, dan penuh harapan.
"Siap. Selama denganmu, aku siap menghadapi apa pun."
Mikael mengangkat tangan mereka yang saling bertaut, mencium punggung tangan Naira dengan lembut.
"Kita akan baik-baik saja. Karena kita tidak berjuang sendirian. Kita berjuang bersama. Dan itu membuat kita tak terkalahkan."
Pintu lift tertutup, membawa mereka menuju pertempuran yang menanti. Di luar sana, badai mungkin sedang mengamuk. Tapi di dalam hati mereka, ada kedamaian yang datang dari mengetahui bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan menghadapinya berdampingan.
Bahwa beban akan terbagi dua, dan keberanian akan berlipat ganda. Bahwa mereka punya satu sama lain. Dan itu sudah lebih dari cukup.
mudah2an cocok 💪