NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jas Laboratorium dan Uji Presisi

Senin pagi di St. Jude’s College menyambut para mahasiswa dengan hamparan kabut tipis yang menggantung di atas pelataran utama. Suasana yang tadinya penuh dengan hiruk-pikuk Pekan Orientasi kini bertransformasi total menjadi atmosfer akademis yang dingin, tenang, dan penuh tekanan.

Aurora Vance berjalan menyusuri koridor Gedung Sains dengan langkah mantap. Ia mengenakan sweater rajut sederhana, celana kain rapi, serta tas ransel yang memuat buku teks Biokimia setebal lima ratus halaman.

Di tangannya, ia memegang selembar jas laboratorium putih yang terlipat rapi persyaratan wajib untuk kelas praktikum perdana jam delapan pagi ini.

"Laboratorium Utama 3B" gumam Rory sambil mencocokkan nomor di papan pintu kayu berukir.

Ketika ia mendorong pintu heavy-oak tersebut, aroma khas bahan kimia campuran tipis etanol, aquades, dan pembersih kaca langsung menyapa indra penciumannya. Ruangan lab itu sangat luas, berdesain modern yang dipadukan dengan arsitektur klasik Gotik, dilengkapi meja-meja marmer panjang, mikroskop presisi tinggi, dan jajaran tabung reaksi yang tertata sempurna.

Beberapa mahasiswa sudah hadir. Di antaranya terdapat mahasiswi-mahassiwa dari kalangan elit yang tampak anggun walau mengenakan jas lab, serta mahasiswa berprestasi lainnya yang sibuk membolak-balik jurnal ilmiah.

Rory mengambil posisi di meja barisan tengah yang sedikit mendekati jendela. Ia membentangkan jas lab putihnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam lengan jas, dan mengancingkannya satu per satu dengan tenang.

"Selamat pagi, semuanya."

Suara berat dan berartikulasi jelas itu memotong gumaman pelan di dalam laboratorium.

Seluruh mahasiswa di ruangan seketika menoleh ke arah pintu masuk. Julian Radcliffe melangkah masuk dengan gaya anggun yang tak terbantahkan. Pria itu mengenakan jas laboratorium putih yang terpasang sempurna di atas kemeja biru gelapnya, membawa sebuah papan jalan kayu tebal berisi lembar penilaian.

Di belakangnya, Profesor Evans seorang pria paruh baya berbaju hangat rajut dengan kacamata tebal menyusul masuk sambil tersenyum ramah.

"Selamat pagi, kelas," ujar Profesor Evans, suaranya terdengar hangat di ruangan yang dingin. "Saya Profesor Evans, pengampu mata kuliah Biokimia Lanjut. Dan di samping saya adalah Julian Radcliffe, asisten dosen utama saya untuk semester ini. Julian yang akan memandu seluruh sesi praktikum dan bertanggung jawab penuh atas penilaian ketelitian teknis kalian."

Beberapa mahasiswi di barisan depan saling berbisik sambil menahan senyum mengagumi penampilan Julian. Namun, Julian tidak menghiraukan itu sama sekali. Wajahnya tetap datar, profesional, dan berwibawa.

Mata hazel-nya menyapu seluruh isi laboratorium, hingga akhirnya berhenti tepat di meja Rory. Ada jeda sangat tipis sebelum ia kembali mengalihkan pandangannya ke seluruh kelas.

"Kalian di sini bukan untuk bermain-main," kata Julian, suaranya tenang namun bergema tegas di ruangan. "Biokimia adalah ilmu tentang kepastian dan presisi. Kesalahan sekecil 0,01 mililiter dalam pemipetan reagen berarti kegagalan eksperimen. Di laboratorium ini, saya tidak menoleransi kecerobohan."

Julian berjalan menyusuri lorong antar meja sambil membagikan lembar modul praktikum perdana.

"Tugas hari ini: spektrofotometri dan penentuan kadar protein sampel," lanjut Julian. "Waktu kalian sembilan puluh menit dari sekarang. Laporan sementara wajib diserahkan tepat sebelum bel akhir berbunyi."

Rory langsung mengambil modulnya, memindai instruksi kerja dengan cepat. Jemarinya bergerak gesit menyiapkan rak tabung reaksi, pipet ukur, dan larutan standar. Bagi Rory, atmosfer praktikum seperti ini adalah 'zona nyamannya'. Ia suka pada keteraturan, angka-angka pasti, dan logika sains.

Ia mulai bekerja dengan konsentrasi penuh. Gerakan tangannya sangat tenang dan presisi mengambil larutan reagen, meneteskannya ke dalam kuvet, dan mencatat absorbansi pada alat spektrofotometer tanpa ada keraguan sedikit pun.

Namun, saat ia sedang fokus meneteskan cairan indikator menggunakan pipet ukur, sebuah bayangan tinggi membayang di sisi mejanya.

Aroma lembut kayu cendana dan sabun bersih yang sangat familiar membalut udara di sekitarnya.

Julian berdiri tepat di sebelah meja Rory, menyilangkan tangan di dada sambil memperhatikan setiap gerakan jemari Rory. Jarak mereka cukup dekat hingga Rory bisa merasakan kehangatan yang terpancar dari jas lab Julian.

Rory menahan napas sejenak untuk menjaga agar tangannya tidak gemetar, lalu dengan mulus mengalirkan cairan dari pipet tepat di angka 2,5 mililiter.

"Sudut pemipetanmu 85 derajat," suara Julian terdengar sangat pelan, hanya diperuntukkan bagi pendengaran Rory. "Standar internasional menyarankan sudut 90 derajat tegak lurus untuk meminimalkan sisa cairan di dinding pipet."

Rory tidak langsung panik. Ia menuntaskan tetesan terakhir, lalu mendongak sedikit untuk menatap mata hazel yang berada sekitar dua puluh sentimeter di atasnya.

"Volume cairan yang berpindah tetap tepat 2,5 mililiter, Senior Radcliffe," balaskan Rory pelan namun mantap, menunjuk batas meniskus bawah cairan di dalam tabung. "Gaya kapilaritas tipenya sudah diperhitungkan dengan jenis pipet volumetric class A ini."

Julian menatap tabung reaksi di tangan Rory, lalu menatap meniskus cairan yang memang berada tepat presisi di garis ukur. Tidak kurang, tidak lebih.

Untuk sekejap, ketegangan tipis tercipta di antara mereka di tengah riuh pelan alat-alat laboratorium.

Sudut bibir Julian terangkat sangat tipis sebuah gestur apresiasi yang sangat tersembunyi.

"Pengetahuan teori yang bagus, Miss Vance," gumam Julian, menundukkan kepalanya sedikit lebih dekat. "Tapi mari kita lihat apakah hasil kurva kalibrasimu nanti seakurat argumenmu."

"Silakan diperiksa nanti," jawab Rory tenang.

Julian mengangguk pelan, lalu menegakkan kembali tubuhnya yang tegap dan melangkah menuju meja mahasiswa lain yang tampak ketakutan setengah mati saat didekati olehnya.

Rory membuang napas pelan yang sempat tertahan di dadanya. Pipinya terasa sedikit hangat. Pria itu benar-benar menguji batas ketenangannya di setiap kesempatan.

Tepat pukul sembilan lewat dua puluh lima menit, bel laboratorium berbunyi.

Mahasiswa berhamburan mengumpulkan lembar hasil praktikum ke meja depan. Sebagian besar dari mereka mengeluh karena tidak sempat menyelesaikan perhitungan grafik kalibrasi.

Rory melangkah ke meja depan, meletakkan lembar laporannya yang rapi, lengkap dengan kurva grafik bergaris mulus dan perhitungan regresi linier yang selesai secara sempurna.

Julian, yang sedang berdiri di dekat meja Profesor Evans, mengambil lembar laporan Rory. Ia memindai angka-angka di kertas itu dengan mata tajamnya.

"Hasil absorbansimu sangat presisi," kata Julian tanpa mendongak dari kertas. "Presisi tertinggi di kelas hari ini."

"Terima kasih, Senior. Saya hanya mengikuti metode ilmiahnya," jawab Rory jujur.

Julian meletakkan kertas itu di tumpukan paling atas, lalu menatap Rory lurus-lurus. "Ada diskusi jurnal lanjutan untuk materi biokimia enzim hari Kamis malam di perpustakaan senior. Hanya lima mahasiswa terbaik dari praktikum hari ini yang diizinkan ikut."

Rory menaikkan alisnya. "Apakah saya salah satunya?"

"Nomor satu di daftar," jawab Julian datar, namun ada binar kehangatan di matanya yang dingin. "Persiapkan dirimu, Aurora. Diskusi itu tidak akan semudah praktikum dasar ini."

Rory tersenyum sangat tipis sebuah senyuman tipis percaya diri yang membuat Julian terpaku sejenak.

"Saya tunggu undangannya, Senior Radcliffe."

Rory berbalik, menyambar tas ranselnya, dan melangkah keluar dari laboratorium dengan langkah ringan.

Julian memperhatikan sosok Rory yang menghilang di balik pintu kayu lab. Pria itu menyandarkan jemarinya di atas lembar laporan Rory, merasakan tekstur kertas dan tulisan tangan yang begitu rapi.

Di ruang kelas yang dingin itu, Julian Radcliffe menyadari satu hal pasti yaitu, mahasiswi beasiswa ini bukan sekadar mahasiswi pintar biasa. Ia adalah seseorang yang perlahan-lahan mulai meruntuhkan semua tembok pertahanan yang dibangun Julian selama bertahun-tahun.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!