NovelToon NovelToon
SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

SANCTUARY DI PERKARANG RUMAH

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Sistem / Tamat
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Terlahir kembali sebagai NPC ber-skill ampas [Fortify], Raka—yang kini bernama Kayy—hanya ingin hidup tenang dan memanjakan istrinya, Alya.
Siapa sangka, kebiasaannya merawat gubuk jutaan kali malah mengubah rumah dan pekarangannya menjadi [Sanctuary Domain]—zona perlindungan mutlak terkuat di dunia yang membalatkan semua sihir pemusnah, sementara sayur kebunnya sanggup menyembuhkan luka fatal secara instan.
Kini, di saat dunia terancam hancur oleh Raja Iblis, para Pahlawan malah mengantre dan berlutut di pagar rumahnya demi meminta bantuan. Namun bagi Kayy, tak ada urusan dunia yang lebih penting daripada menyeduh teh sore bersama Alya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM DI BAWAH CAHAYA BULAN

Matahari sore telah tenggelam sepenuhnya di horizon barat, digantikan oleh hamparan langit malam yang dihiasi ribuan bintang berkilauan. Bulan purnama menggantung anggun di atas Hutan Kelam, memancarkan pendar cahaya perak yang lembut menembus celah-celah dedaunan di sekitar pekarangan gubuk.

Di dalam rumah kayu yang hangat, api kecil menari-nari di perapian kamar utama, menghalau hawa dingin angin malam yang perlahan menusuk tulang. Aroma harum teh kayu manis yang baru saja diminum dan keharuman bunga lavender yang dipetik siang tadi masih menyisa tipis di udara, menciptakan suasana yang amat menenangkan dan syahdu.

Alya berdiri di dekat jendela kamar kayu yang sedikit terbuka, menatap keluar ke arah kebun wortel dan pekarangan mereka yang diterangi cahaya bulan. Ia mengenakan gaun tidur katun tipis berwarna krem lembut dengan tali bahu kecil. Rambut pirang keemasannya terurai bebas hingga ke pinggang, berkilau indah diterpa pendar perapian dan pantulan perak dari langit malam.

Sepasang mata jernih mantan Saintess itu tampak berbinar. Pikiran Alya kembali membayangkan seluruh rangkaian peristiwa yang mereka lalui. Dari melarikan diri sebagai buronan Kerajaan yang hampir dijadikan bahan ritual terlarang, hingga akhirnya menemukan kedamaian di gubuk kayu ini bersama Kayy. Dan sore tadi, rahasia besar suaminya—seorang reinkarnator dari dunia lain yang memiliki statistik kekuatan MAX absolut sejak bayi telah terungkap sepenuhnya.

Tidak ada sedikit pun rasa takut di dada Alya. Yang ada hanyalah rasa hangat yang membuncah, rasa percaya yang tak tergoyahkan, serta kekaguman yang teramat dalam pada pria yang memilih hidup sederhana di sisinya.

Langkah kaki ringan tanpa suara terdengar dari arah belakang. Kayy melangkah mendekat seraya membawa sebuah selimut kain tebal. Pria berusia dua puluh tahun itu membentangkan selimut tersebut, lalu merebahkan dan melingkarkannya ke sekeliling bahu Alya.

Tangan kokoh Kayy terulur dari belakang, merengkuh pinggang ramping Alya dengan lembut dari balik selimut. Ia menarik tubuh hangat istrinya dengan amat protektif, menyembunyikannya rapat-rapat di dada lapangnya.

Kayy menyandarkan dagunya di bahu Alya, menghirup keharuman alami dari leher dan rambut emas istrinya yang selalu membuatnya merasa tenang.

"Kenapa belum tidur, Hm?" bisik Kayy pelan. Suara beratnya bergema hangat tepat di samping telinga Alya, berpadu dengan suara kresek kayu bakar yang terbakar di perapian. "Angin malam di pinggiran hutan ini makin dingin. Nanti kamu bisa masuk angin kalau berdiri di dekat jendela terus."

Alya menyunggingkan senyum manis. Ia menyandarkan belakang kepalanya ke dada kokoh Kayy, menikmati dekapan posesif namun penuh rasa aman dari suaminya. Kedua tangan lentik Alya terangkat, mengelus jemari Kayy yang saling bertautan di depan perutnya.

"Belum ngantuk, Kayy..." sahut Alya lembut, matanya menatap pendar bulan purnama di langit. "Aku cuma... masih merasa seperti berada di dalam mimpi yang sangat indah."

Kayy mengusap lembut jemari Alya dengan ibu jarinya. "Mimpi?"

Alya mengangguk pelan. "Mengingat semua yang terjadi dari dulu sampai hari ini. Dulu aku selalu berpikir bahwa hidupku hanyalah sekadar alat, sebuah 'wadah ritual' yang akan dikorbankan demi Kerajaan. Aku tidak pernah membayangkan akan memiliki kehidupan yang begitu damai, tinggal di rumah kayu yang tenang, dan dicintai oleh pria paling luar biasa di seluruh dunia."

Alya memutar tubuhnya perlahan di dalam dekapan selimut itu. Kini mereka berdiri berhadapan, terpisah hanya oleh jarak beberapa sentimeter.

Di bawah remang pendar api perapian dan sorot perak bulan malam, mata jernih Alya memancarkan keindahan murni. Tidak ada lagi sisa-sisa rasa bingung atau ragu. Yang terpancar hanyalah pasrah, kasih sayang, dan ketulusan yang utuh. Wajah cantik Alya memerah tipis, diterpa rona hangat yang membuat jantung Kayy berdegup jauh lebih kencang dari biasanya.

Kayy menatap Alya cukup lama. Ia melepaskan selimut dari bahunya sendiri, membiarkan kain itu membungkus tubuh Alya dengan sempurna. Jemari kokoh Kayy terangkat, membelai pipi halus Alya dengan kehati-hatian yang luar biasa seolah wanita di hadapannya adalah harta yang paling berharga di seluruh jagat raya.

"Alya..." suara Kayy terdengar begitu dalam dan jujur. "Kekuatan pasif status MAX, Sanctuary Domain, atau kehidupan kedua setelah mati di lorong apartemen itu... semuanya tidak pernah punya arti apa-apa bagiku sebelum aku bertemu denganmu."

Kayy menyapu helai rambut emas yang menghalangi pipi Alya, menatap lurus ke dalam iris mata istrinya.

"Dunia tempatku dulu terasa sangat dingin, ramai, tapi hampa," lanjut Kayy pelan. "Aku datang ke dunia ini membawa kekuatan yang terlalu besar sampai aku harus mengunci diri di tengah hutan karena takut menyakiti orang lain. Tapi saat kamu hadir tiga tahun lalu... kamu memberiku alasan untuk menikmati kehidupan ini. Kamu membuat kekuatan fisik MAX ini berguna: bukan untuk menghancurkan, tapi untuk melindungi senyummu."

Mendengar pengakuan yang begitu jujur dari bibir suaminya, mata Alya berkaca-kaca oleh rasa haru yang teramat sangat. Dada mantan Saintess itu berdesir hangat. Rasa cinta yang memenuhinya kini terasa meluap-luap.

Alya menengadahkan wajahnya sedikit. Tangan lentiknya terangkat melingkari leher kokoh suaminya, merapatkan tubuh mereka tanpa ada celah sedikit pun.

"Kalau begitu..." bisik Alya, suaranya begitu halus bagaikan gesekan sutra yang tertiup angin malam, "...malam ini, buatlah gubuk kayu ini menjadi rumah yang lebih hangat lagi untuk kita berdua, Kayy. Berikan aku seluruh cintamu..."

Kayy tidak menjawab dengan kata-kata. Tatapan matanya bertambah dalam oleh rasa kasih sayang dan hasrat protektif yang membuncah. Ia memangkas jarak yang tersisa di antara mereka, mendaratkan bibirnya di atas bibir lembut Alya.

Ciuman itu dimulai dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian. Kayy menyesap kehangatan bibir istrinya, mengecap keharuman teh kayu manis yang masih tersisa. Alya memejamkan matanya rapat-rapat, membalas ciuman suaminya dengan penuh kepasrahan dan kehangatan murni yang mengalir dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Desahan pelan lolos dari tenggorokan Alya saat Kayy mempererat dekapan di pinggangnya. Pria itu mengangkat tubuh Alya secara perlahan dalam pelukannya tanpa memutuskan ciuman hangat mereka sedikit pun.

Alya melingkarkan kakinya secara alami di pinggang suaminya, menyandarkan seluruh bobot tubuh dan jiwanya pada pria yang memiliki statistik tak tertandingi itu. Namun, di dalam pelukan Kayy, tidak ada tekanan fisik yang kasar. Yang ada hanyalah kelembutan tak berbatas yang mengayomi seluruh jiwa dan raga Alya.

Dengan langkah mantap, Kayy melangkah mundur menuju ranjang kayu besar yang empuk di sudut kamar. Ia mengibaskan tangan kirinya pelan. Pintu jendela kamar yang terbuka menutup secara otomatis seraya tirai-tirai kain tipis berwarna putih menyelimuti sekeliling ranjang, melambaikan bayangan lembut diterpa cahaya api perapian.

Kayy merebahkan tubuh Alya di atas kasur kayu yang berlapis selimut tebal itu dengan amat perlahan. Ia menyusul di atasnya, menatap wajah cantik Alya yang kini merona merah sempurna di bawah cahaya remang kamar.

Rambut pirang keemasan Alya tersebar indah di atas bantal putih. Mata jernihnya menatap Kayy penuh dengan rasa cinta yang mutlak, jemarinya mengelus lembut rahang dan tengkuk suaminya.

"Aku mencintaimu, Kayy..." bisik Alya lirih, suaranya bergetar oleh rona kebahagiaan.

"Aku jauh lebih mencintaimu, Alya. Sekarang, dan untuk selamanya," sahut Kayy pelan seraya mengecup dahi Alya dengan penuh pengabdian, mengusap pipinya, lalu kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang kian dalam dan memabukkan.

Sentuhan demi sentuhan menyalurkan kehangatan jiwa mereka. Di dalam kamar kayu yang tertutup rapat dari dinginnya dunia luar, dua insan itu menyatu dalam ikatan janji dan kehangatan malam yang mendalam. Tidak ada lagi rasa takut akan kejaran Kerajaan, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang kelam, dan tidak ada lagi rahasia yang tersembunyi.

Di bawah naungan sihir pengunci Sanctuary Domain yang menjaga gubuk kecil itu dari segala bahaya marabahaya benua, malam yang dingin berlalu dalam balutan cinta, bisikan kebahagiaan, dan kepasrahan yang abadi. Sebuah benih kehidupan baru dan harapan masa depan mulai tertanam dengan indah di antara mereka berdua di balik keheningan Hutan Kelam.

1
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!