NovelToon NovelToon
Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Laki-laki Yang Berani Ngajak Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Delapan tahun Tira dan Dimas menjadi kekasih. Delapan tahun pula ia menunggu satu kepastian yaitu pernikahan. Namun, ketika Dimas tak kunjung datang membawa lamaran, ayah Tira justru menjodohkannya dengan Fahri, lelaki asing yang bahkan tak pernah ia cintai.

Tira akhirnya menikah dengan Fahri, meninggalkan cinta yang telah menemaninya selama delapan tahun. Tapi bagaimana jika lelaki asing itu perlahan membuatnya menemukan cinta yang selama ini ia cari? Dan bagaimana jika Dimas baru datang ketika Tira sudah menjadi istri orang lain?

#Konflik Etika #Nikah Paksa #Air Mata Pernikahan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Pesan-pesan itu memang tidak berarti apa-apa baginya. Ia tidak membalas dengan perasaan lama. Ia bahkan sudah meminta Dimas berhenti. Tetapi tetap saja, ada sesuatu yang ia sembunyikan. Dan Tira tahu, kalau Fahri mengetahuinya dari orang lain, mungkin keadaan akan berbeda. Ia bisa saja mengatakan semuanya sekarang. Menunjukkan pesan Dimas. Menjelaskan bahwa ia sudah memutus komunikasi. Tetapi Tira membayangkan wajah Fahri. Hari-hari mereka sedang begitu hangat. Fahri sedang belajar mengenalnya, sementara dirinya mulai mencintai lelaki itu. Ia tidak ingin membawa nama Dimas ke rumah mereka lagi. Tidak ingin meja makan mereka menjadi tempat membicarakan masa lalu. Tidak ingin malam yang seharusnya tenang berubah menjadi pembicaraan tentang seseorang yang sudah tidak memiliki tempat dalam hidupnya. “Nanti saja,” bisik Tira kepada dirinya sendiri. “Aku akan cerita kalau memang perlu.” Namun hati kecilnya tetap merasa bersalah.

Fahri keluar dari kamar mandi beberapa menit kemudian dengan rambut masih sedikit basah. “Kamu belum tidur?” tanyanya.

Tira buru-buru meletakkan ponsel. “Belum.”

Fahri duduk di sampingnya. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Fahri menatap wajahnya beberapa saat. “Capek?”

Tira mengangguk. “Sedikit.”

Fahri kemudian menyandarkan tubuh ke sofa. “Sini.”

Tira menoleh. “Kenapa?”

“Istirahat.”

Tira akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Fahri. Lelaki itu tidak bertanya lebih jauh. Tangannya hanya mengusap kepala Tira pelan. Seketika rasa bersalah Tira semakin kuat. Ia merasa tidak pantas menyimpan sesuatu dari lelaki yang begitu mempercayainya. Tetapi saat melihat Fahri yang begitu tenang, Tira mengurungkan niatnya. Bukan karena ia ingin berbohong. Ia hanya tidak ingin sesuatu yang sudah selesai kembali merusak kehidupan yang sedang mereka bangun, menyebut nama mantan itu benar-benar sesuatu yang gak ingin ia lakukan. Tira memeluk lengan Fahri. “Aku sayang Abang.” Fahri tersenyum.

***

Pagi itu suasana rumah mereka berubah hanya karena sebuah pesan yang sebenarnya sudah selesai. Fahri menemukannya secara tidak sengaja ketika Tira sedang menyiapkan bekal. Ponsel Tira yang tertinggal di meja bergetar. Sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal muncul di layar. Fahri tidak berniat membaca, tetapi potongan awal pesan yang tertera di layar membuatnya berhenti.

Dimas. Fahri tidak membuka pesannya. Ia hanya memandang layar beberapa detik, lalu meletakkan ponsel itu kembali ke tempat semula. Ketika Tira datang, ia melihat wajah suaminya yang berbeda.

“Bang?”

Fahri menoleh. “Dimas masih menghubungi kamu?”

Tangan Tira yang sedang membawa gelas langsung berhenti. Wajahnya seketika pucat. “Bang, aku bisa jelaskan.”

“Oo masih.”

Jawaban Fahri justru membuat Tira semakin takut. Kalau Fahri berteriak, mungkin ia bisa membela diri. Kalau Fahri menuduh, mungkin ia bisa menjelaskan. Tetapi lelaki itu hanya diam dengan wajah tenang yang sulit dibaca. “Aku sudah blokir dia berkali-kali,” kata Tira cepat. “Dia selalu muncul pakai nomor baru.”

Fahri mengangguk pelan. “Saya percaya.” Fahri menarik napas. “Tapi saya nggak mau punya istri yang hatinya masih menjadi milik lelaki lain.” Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa nada tinggi, tetapi terasa lebih tajam daripada kemarahan.

Mata Tira langsung berkaca-kaca. “Hati aku bukan milik dia.” Fahri tidak menjawab. “Bang, serius. Aku sudah selesai sama Dimas.”

“Kalau memang sudah selesai, kenapa kamu menyembunyikannya dari saya?”

Tira terdiam. Tidak ada jawaban yang terdengar cukup baik. Ia bisa mengatakan tidak ingin merusak suasana. Bisa mengatakan bahwa ia takut Fahri salah paham. Bisa mengatakan bahwa pesan itu tidak berarti apa-apa. Tetapi semua alasan itu tetap tidak mengubah kenyataan bahwa ia memilih diam. Air matanya akhirnya jatuh. “Aku takut Abang salah paham.”

Fahri menatapnya. “Saya memang tidak tahu apa yang harus saya pikirkan.”

“Aku nggak pernah membalas dia seperti dulu.” Tira berusaha menjelaskan. “Aku sudah bilang berhenti menghubungi aku.”

“Saya tahu.”

“Terus kenapa Abang begini?”

Fahri menunduk sebentar sebelum menjawab, “Karena saya menikahi kamu dengan niat yang serius, Tir. Saya tidak ingin suatu hari nanti kamu melihat saya dan membandingkan saya dengan lelaki yang masih ada di hati kamu.”

Tira menggeleng kuat-kuat. “Nggak ada yang aku bandingkan.”

“Semoga.” Hanya satu kata. Fahri kemudian berdiri dan mengambil tas kerjanya.

Tira semakin menangis. “Bang...”

Fahri berhenti di dekat pintu. “Saya tidak marah. Saya cuma butuh waktu untuk mencerna.” Setelah mengatakan itu, Fahri pergi ke depan rumah.

Tira berdiri sendirian di ruang tengah. Dadanya sesak. Baru sekarang ia menyadari bahwa diamnya semalam bukanlah hal kecil. Ia memang sudah selesai dengan Dimas, tetapi Fahri tidak bisa membaca isi kepalanya. Yang Fahri lihat hanyalah seorang lelaki dari masa lalu yang masih berusaha masuk melalui berbagai nomor baru dan seorang istri yang memilih menyimpan hal itu sendiri. Tira mengusap air matanya. Dalam hatinya ia berteriak, Tidak, Bang. Kamu salah. Hatiku sudah bukan milik Dimas. Sejak kapan? Ia sendiri tidak tahu. Mungkin sejak Fahri menunggunya di stasiun. Mungkin sejak lelaki itu mengingat makanan kesukaannya. Mungkin sejak Fahri memberikan rumah tanpa pernah diminta. Atau mungkin sejak malam itu, ketika Fahri menyentuhnya sebagai seorang suami dan membuat Tira merasa bahwa kehidupan yang baru ini benar-benar miliknya. Sejak kamu menyentuhku, hatiku sudah jadi milikmu. Tira mengepalkan tangan. Mungkin kamu nggak percaya sekarang. Tapi aku akan buktikan.

Ia tidak ingin sekadar mengatakan bahwa ia mencintai Fahri. Ia ingin membuat lelaki itu merasakannya.

Pagi itu mereka tetap berangkat bersama. Namun tidak seperti biasanya. Fahri mengendarai motor dalam diam. Tira duduk di belakangnya, juga diam. Tidak ada cerita tentang pekerjaan. Tidak ada candaan. Tidak ada pertanyaan apakah sarapan sudah habis. Hanya suara mesin motor dan kendaraan yang berlalu-lalang di jalan. Tira beberapa kali ingin membuka percakapan, tetapi setiap kali melihat punggung Fahri, kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Tangannya tetap melingkar di pinggang Fahri, tetapi rasanya berbeda.

Biasanya pelukan itu membuatnya nyaman. Pagi ini justru membuat dadanya sakit. Sesampainya di stasiun, Fahri berhenti seperti biasa. Ia turun dan mengambil helm Tira. Dipasangkannya helm itu tanpa banyak bicara. Tira menatap wajahnya dari dekat. “Bang...”

Fahri hanya mengangguk kecil. “Hati-hati.”

Tira ingin mengatakan banyak hal. Ingin memegang tangannya. Ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah ingin kembali kepada Dimas. Tetapi kereta Tira sudah hampir tiba. Mereka akhirnya berjalan bersama sampai tempat mereka biasa berpisah.

Fahri hanya berkata, “Sampai nanti.”

“Iya.” Tira berdiri memandangi Fahri yang berjalan menuju jalur keretanya. Tidak sekali pun lelaki itu menoleh. Tira menggigit bibir, menahan tangis yang kembali memenuhi matanya. Untuk pertama kalinya sejak menikah, perjalanan menuju kantor terasa sangat panjang. Ia baru sadar bahwa kehilangan kepercayaan dari orang yang dicintai ternyata jauh lebih menakutkan daripada kehilangan cinta dari masa lalu. Di dalam kereta yang mulai bergerak, Tira memandang pantulan wajahnya di kaca. Air mata akhirnya jatuh. “Aku akan buktiin, Bang,” bisiknya. “Aku sudah memilih kamu.”

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!