NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Tantangan Dari Valmus

​Pesan tanpa identitas mendarat di layar ponsel pribadiku, membawa enkripsi rumit berisi tantangan perang data.

​Layar ponsel yang tergeletak di atas meja rias kamarku mendadak menyala terang. Tidak ada nada dering peringatan. Tidak ada getaran. Benda pipih itu seolah dikendalikan secara mutlak dari jarak ratusan kilometer.

​Sebuah jendela pesan berwarna hitam pekat terbuka secara otomatis, menutupi seluruh antarmuka sistem operasi normalku.

​Barisan angka nol dan satu bergerak turun dengan kecepatan tinggi, membentuk pola geometris yang menyakitkan mata jika ditatap oleh orang biasa.

​Namun, mataku bukanlah mata biasa.

​[Memindai Anomali Pesan Masuk.]

​[Pengirim: Tidak Teridentifikasi. Lokasi IP: Disamarkan Melalui 40 Simpul Peladen Global.]

​[Format Data: Algoritma Kriptografi Tingkat Tinggi. Mengaktifkan Protokol Dekripsi Paksa.]

​Teks holografik hijau menyala dari sistem A.U.R.A langsung menimpa pandanganku. Otakku yang kini telah berevolusi memproses sandi rumit tersebut hanya dalam hitungan detik.

​Angka-angka biner di layar ponselku berhenti bergerak. Sandi itu pecah, menyusun sebuah kalimat singkat berbahasa Inggris yang ditulis dengan huruf kapital berwarna merah darah.

​"AKU MENEMUKAN SANG RATU YANG BERSEMBUNYI DI BALIK BIDAK-BIDAK PIION. BAGAIMANA KALAU KITA BERMAIN CATUR, TERA?"

​Aku menatap layar itu dengan ekspresi sedingin es. Tanganku tidak sedikit pun gemetar saat meraih ponsel tersebut.

​Valmus. Peretas jenius bayaran Bernard itu baru saja mengirimkan deklarasi perang secara personal tepat ke perangkat pribadiku.

​Pria itu mengira aku adalah pakar keamanan tingkat tinggi yang sengaja disembunyikan oleh Vanguard Corp di balik jabatan asisten. Ia tidak tahu bahwa ia sedang menantang sebuah entitas kecerdasan buatan yang telah menyatu dengan sistem saraf manusia.

​Aku menekan layar ponsel, mematikan daya secara paksa. Aku tidak akan membiarkannya menyusup lebih jauh ke dalam ranah pribadiku.

​Hari ini, aku akan menunjukkan padanya bahwa Vanguard Corp memiliki perisai yang tidak akan pernah bisa ia tembus.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Langkah sepatuku berderap cepat menyusuri koridor lantai lima puluh lima.

​Suasana kantor masih terbilang sepi. Jarum jam baru menunjuk ke angka tujuh pagi. Luis bahkan belum tiba di mejanya.

​Aku langsung duduk di kursi kerjaku, meletakkan tas, dan menekan tombol daya komputer utama.

​Aku tidak punya waktu untuk mengurus jadwal pertemuan Sakti atau memilah surel divisi pemasaran. Valmus bisa meluncurkan serangan lanjutan kapan saja.

​[Mengaktifkan Mode Pertahanan Siber Maksimal.]

​[Mengalihkan 80% Kapasitas Otak Inang Untuk Sinkronisasi Jaringan Vanguard Corp.]

​Sensasi panas seketika menjalar dari pangkal leher hingga ke pelipisku. Jantungku memompa darah lebih cepat, menyuplai oksigen ke otak yang kini bekerja layaknya superkomputer raksasa.

​Layar monitorku menyala, menampilkan seluruh kerangka pangkalan data perusahaan.

​Tantangan Valmus bukan sekadar gertakan. Aku melihat jejak-jejak pelacak mikroskopis yang ia tanamkan di sekitar gerbang keamanan luar semalam. Ia sedang mencari celah, menunggu momen saat kewaspadaanku menurun.

​Jemariku langsung melesat di atas papan ketik.

​Aku mulai membangun dinding penghalang baru. Aku tidak menggunakan perangkat lunak bawaan perusahaan. Aku menulis baris kode logikaku sendiri.

​Aku menciptakan ratusan titik palsu di dalam server utama Vanguard Corp. Titik-titik itu dirancang menyerupai brankas data penting, namun sebenarnya berisi algoritma jebakan yang akan menyedot habis program peretas mana pun yang berani menyentuhnya.

​[Membangun Firewall Lapis Ketujuh. Enkripsi Berhasil.]

​[Menyembunyikan Alamat IP Internal. Merotasi Saluran Data Setiap 30 Detik.]

​Suara ketukan tombol dari mejaku terdengar konstan dan brutal. Aku membentengi seluruh kerahasiaan data kantor tanpa memberi tahu siapa pun, termasuk Sakti.

​Jika dewan komisaris atau Khan mengetahui eskalasi serangan siber ini, kepanikan massal akan terjadi. Bernard dan Dakhan akan menggunakan kepanikan itu untuk mendesak Sakti mundur dari jabatannya.

​Aku harus menyelesaikan perang ini dalam diam. Valmus adalah masalahku, dan aku yang akan mengakhirinya.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Pintu lift khusus eksekutif terbuka.

​Khan melangkah keluar, diikuti oleh Sakti di belakangnya. Pria bertubuh tegap itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap, memancarkan aura kepemimpinan yang langsung mendominasi seluruh lantai.

​Aku segera menghentikan gerakan tanganku di atas papan ketik, menekan satu tombol pintas untuk menyembunyikan seluruh terminal pertahanan siber di balik tampilan layar jadwal biasa.

​Sakti melangkah mendekati mejaku. Mata di balik kacamata peraknya menatapku dengan intensitas yang sangat tajam.

​[Memindai Subjek Utama: Sakti.]

​[Status Emosi: Waspada, Curiga, Sangat Protektif.]

​"Kau datang lebih awal dari biasanya, Tera," ucap Sakti dengan suara bariton yang rendah. Nada suaranya menyiratkan tuntutan akan sebuah penjelasan.

​Aku berdiri dari kursiku, merapikan kemeja kerjaku. "Banyak laporan divisi yang harus saya rangkum hari ini, Pak Sakti."

​Sakti memajukan tubuhnya, menumpukan satu tangannya di tepi meja kacaku. Jarak di antara kami menyusut seketika.

​Pria itu menatap lurus ke mataku. Pandangannya menelisik wajahku yang mungkin terlihat sedikit pucat akibat beban kerja otak yang tidak manusiawi sejak pagi.

​"Khan melaporkan adanya anomali jaringan berskala kecil semalam," kata Sakti pelan, memastikan percakapan ini tidak didengar oleh staf lain yang baru tiba. "Dia bilang kau menanganinya seorang diri tanpa membangunkan tim keamanan."

​"Itu hanya serangan lalu lintas data acak, Pak. Sudah saya selesaikan," balasku lugas, berbohong dengan sangat lancar demi melindunginya.

​Sakti mengangkat sebelah alisnya. Jari-jarinya di atas meja mengetuk pelan.

​"Jangan mencoba menanggung semuanya sendirian," desis Sakti tajam. "Jika ada pihak luar yang mencoba menyusup, itu adalah urusan Khan. Tugasmu bukan menjadi perisai hidup bagi server perusahaan ini."

​Aku mempertahankan ekspresi datarku. "Saya hanya menjalankan fungsi saya untuk memastikan operasional perusahaan berjalan tanpa hambatan, Pak."

​Sakti menatapku selama beberapa detik, lalu menghela napas kasar. Ia sadar ia tidak akan mendapatkan jawaban lain dariku.

​"Bawakan laporan audit mingguan ke ruanganku dalam sepuluh menit," perintah Sakti sebelum akhirnya berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya.

​Aku kembali duduk di kursiku, menekan tombol pintas untuk kembali ke medan perang digital.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Memasuki waktu makan siang, serangan Valmus kembali datang.

​Kali ini, pria itu tidak menyerang gerbang utama. Ia mengirimkan teka-teki logika siber langsung ke layar komputer kerjaku.

​Sebuah jendela pop-up berwarna abu-abu muncul di tengah layar. Jendela itu berisi labirin algoritma yang terus berubah bentuk setiap detik.

​Di bagian atas labirin itu, terdapat sebuah pesan singkat: "Temukan jalan keluarnya dalam tiga menit, atau aku akan melepaskan virus penghapus data ke server logistikmu."

​Tantangan ini dirancang untuk menguras fokusku. Valmus ingin melihat seberapa cepat kecepatan pemrosesan mentalku.

​Aku menyandarkan punggung ke kursi.

​[Mengaktifkan Mode Resolusi Paralel.]

​[Menganalisis Perubahan Pola Labirin. Mengunci Variabel Algoritma Valmus.]

​Mataku memindai pergerakan garis-garis kode di layar dengan kecepatan kilat. Sistem A.U.R.A memilah ratusan kemungkinan jalan keluar dalam waktu kurang dari lima detik.

​Labirin ini adalah tipuan. Tidak ada jalan keluar. Satu-satunya cara untuk menghentikannya adalah dengan menghancurkan dinding labirin itu sendiri.

​Jemariku kembali mengetik. Aku menembakkan perintah injeksi data langsung ke pusat kode teka-teki tersebut. Aku membebani program Valmus dengan pengulangan kalkulasi tanpa batas hingga program itu membeku dan hancur berkeping-keping.

​Jendela pop-up abu-abu itu lenyap dari layarku.

​Waktu yang kubutuhkan hanya empat puluh dua detik.

​Aku mengukir senyum meremehkan di wajahku. Valmus terlalu meremehkan kapasitas otak yang telah berevolusi bersama A.U.R.A. Logikanya masih terbatas pada batasan manusia biasa, sementara aku telah melampauinya.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Ketegangan di udara terasa sedikit mereda setelah teka-teki itu dihancurkan.

​Namun, layar ponselku yang tergeletak di samping papan ketik mendadak menyala terang.

​Sebuah panggilan suara masuk. Nomor yang tertera di layar berupa deretan angka nol yang tidak masuk akal.

​[Peringatan: Jalur Komunikasi Eksternal Ilegal Terdeteksi. Enkripsi Suara Tingkat Tinggi.]

​Aku menatap layar ponsel itu lekat-lekat. Valmus telah berhasil menemukan nomor pribadiku dan menembus protokol pemblokiran operator seluler.

​Aku tidak merasa takut. Aku menekan ikon hijau dan mengangkat ponsel itu ke telingaku.

​Keheningan statis menyambut pendengaranku selama sedetik.

​"Penyelesaian labirin yang sangat brutal, Tera," suara seorang pria terdengar dari seberang sambungan. Suaranya serak, dingin, dan disamarkan oleh perangkat pengubah suara.

​Aku tidak menjawab. Aku membiarkan keheningan menjadi senjata intimasiku.

​"Kau menghancurkan kodeku dalam waktu kurang dari satu menit. Tidak ada satu pun tim analis keamanan di negara ini yang bisa melakukan itu secara manual." Valmus mendengus pelan, seolah sedang menikmati permainan ini.

​"Kau membuang waktumu," balasku dengan intonasi mutlak. "Vanguard Corp tidak akan pernah jatuh ke tangan klienmu."

​Terdengar suara tawa rendah dari seberang sana. Tawa yang mengisyaratkan ambisi gila seorang peretas yang telah menemukan lawan sepadannya.

​"Kita baru saja memulai pemanasan, Nona Tera," ucap Valmus dengan nada yang sangat tajam.

​Panggilan dari nomor tak dikenal masuk ke ponselku, diiringi suara Valmus yang berbisik, "Pertahankan perusahaanmu, Tera, atau aku yang akan meruntuhkannya."

​Klik.

​Sambungan terputus sepihak.

​Aku menurunkan ponsel dari telingaku dan meletakkannya kembali ke atas meja dengan gerakan sangat pelan.

​Mataku menatap lurus ke arah pintu ganda ruang kerja Sakti. Pria itu ada di dalam sana, berjuang mempertahankan perusahaannya dari para pengkhianat berjas rapi.

​Sementara aku, aku akan berdiri di sini. Aku akan menghancurkan peretas jenius ini hingga tak tersisa, meski aku harus membakar seluruh jaringan saraf otakku sendiri dalam prosesnya.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!