Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
BAB 18
MESIN CUCI PIRING DAN HATI YANG GOYAH
Setelah malam itu, Lani memperlakukan Rey seperti penyewa yang terlambat membayar.
Ia tetap membuat sarapan, tetapi makan di balkon. Ia tetap mengingatkan jadwal wajib lapor, tetapi hanya lewat WhatsApp. Saat Rey duduk terlalu dekat, Lani berdiri dan mencari pekerjaan lain.
Rey membiarkannya selama dua hari.
Hari ketiga, Lani pulang dari kelas teh dan menemukan apartemen berbau cairan pembersih.
Lantai mengilap. Kamar mandi bebas noda. Sampah dibuang. Di atas meja ada kartu nama perusahaan kebersihan, sementara dua petugas sedang memasang sebuah mesin cuci piring kecil di bawah meja dapur.
"Apa ini?"
Rey keluar dari kamar membawa satu set piring baru. "Mesin cuci piring."
"Aku bisa lihat. Kenapa ada di rumahku?"
"Biar gue nggak pecahin piring lagi."
"Siapa yang menyuruh beli?"
"Nggak ada."
"Bawa pulang."
"Rumah Papa sudah punya dua."
Lani memejamkan mata. "Maksudku kembalikan ke toko."
"Nggak bisa. Sudah dipasang."
Teknisi menoleh, lalu pura-pura sibuk mengencangkan selang.
Lani tidak mau bertengkar di depan orang. Ia masuk kamar, menutup pintu, dan menemukan seprai baru serta lemari yang sudah dirapikan.
Rey mengetuk sebelum masuk.
"Gue minta izin."
"Setelah berdiri di dalam?"
Ia mundur ke ambang pintu. "Sekarang?"
"Kamu pikir membeli barang bisa membuat aku lupa?"
Senyum Rey hilang. "Nggak."
"Aku butuh jarak."
"Karena menyesal?"
Lani memandangnya. "Karena aku belum tahu apa arti malam itu."
Rey mengangguk sekali. Ia tidak memaksa jawaban dan kembali ke dapur.
Malamnya, suara panci terdengar sampai kamar. Rey memasak sup dari video resep, membakar bawang pertama, lalu mengulang dari awal. Ia makan di sofa agar Lani bisa menggunakan meja sendirian.
Perhatian yang tidak menuntut balasan justru lebih sulit ditolak.
***
Beberapa hari berikutnya membentuk pola baru.
Pagi, Rey berangkat kuliah sebelum pukul delapan. Siang, supermarket mengirim buah, susu, sayuran, ikan, dan camilan yang pernah disebut Lani sekali saja. Sore, Rey kembali dan mengerjakan tugas di meja makan. Malam, ia memasak atau mencuci panci yang tidak muat ke mesin.
Ia bahkan belajar memisahkan ayam mentah dari puding.
Pada hari pertama mesin itu dipakai, busa keluar dari pintu karena Rey memasukkan sabun cuci biasa. Lani menemukannya berlutut dengan tiga handuk, berusaha menahan banjir kecil.
"Jangan ketawa," katanya.
"Aku nggak ketawa."
"Bohong."
Lani akhirnya duduk di lantai dan menunjukkan sabun khusus mesin. Mereka membersihkan busa bersama sampai tangan keduanya keriput. Rey meminta maaf tanpa mencari alasan, lalu membaca buku petunjuk dari awal sampai selesai.
Belanja juga menjadi pelajaran. Rey pernah memesan enam kilogram jeruk karena tidak memahami jumlah. Lani menyuruhnya membagikan sebagian kepada petugas keamanan dan tetangga lansia di lantai bawah. Esoknya ia membuat daftar belanja dengan kolom jumlah, tanggal kedaluwarsa, dan harga.
"Kenapa pakai harga?" tanya Rey.
"Karena uang bukan alasan untuk membuang makanan."
Rey tidak membantah. Minggu berikutnya, jumlah belanja tepat dan tidak ada bahan yang membusuk.
Perubahan kecil itu membuat Lani lebih goyah daripada hadiah mahal. Rey tidak sekadar memasuki rumahnya. Ia belajar bagaimana hidup di dalamnya.
Lani tetap berkata hubungan mereka tidak mungkin. Namun kulitnya tidak lagi pucat, tidurnya lebih nyenyak, dan makan malam tidak pernah dingin karena seseorang benar-benar menunggunya duduk.
Rey juga mematuhi permintaan jarak. Ia tidur di sofa, mengetuk kamar, dan tidak menyentuh Lani tanpa bertanya. Suatu malam Lani keluar untuk minum dan menemukan pemuda itu tertidur dengan buku kuliah di dada. Lampu meja masih menyala. Di buku catatannya ada daftar jadwal wajib lapor, ujian, serta satu baris bertuliskan `jangan bikin Lani takut`.
Lani berdiri lama.
Ia mengambil selimut dan menutup tubuh Rey. Pemuda itu bergerak, menangkap ujung jarinya dalam tidur, lalu melepaskan sendiri sebelum bangun.
"Maaf," gumamnya dengan mata masih tertutup.
Satu kata itu menusuk pertahanan Lani. Dulu Rey selalu mencari alasan mengapa sentuhannya bukan pelanggaran. Sekarang bahkan dalam setengah sadar ia ingat batas yang diminta.
Lani kembali ke kamar, tetapi tidak mengunci pintu.
Suatu sore ia menemukan Rey membungkuk di depan bak cuci, celemek terikat miring. Busa menempel di ujung hidungnya.
Lani mengambil foto diam-diam dan mengirimnya ke grup tiga sahabat.
`Dia akhirnya bisa cuci piring tanpa memecahkan apa pun.`
Wiwid membalas paling cepat.
`Ganteng juga bocahmu kalau lagi berguna.`
Wulan menambahkan emoji tertawa. `Kelihatan lebih rajin daripada Mas Dimas.`
Lani mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi. Ia tidak tahu bagian mana yang harus dibantah: `ganteng`, `bocahmu`, atau kenyataan bahwa Rey memang telah masuk terlalu dalam ke hidupnya.
"Ngomongin gue?"
Rey muncul di belakang bahunya.
"Jangan baca."
Ia mengambil ponsel sebelum Lani sempat mengunci layar. Jempolnya menekan kolom balasan.
`Aku bukan bocah. Dan Lani yang punya aku.`
Grup langsung sunyi.
Tiga detik kemudian Wiwid mengirim: `BALIKIN HP LANI.`
Rey tertawa dan menyerahkan ponsel. "Teman lo galak."
"Dia benar. Kamu nggak boleh membalas dari ponselku."
"Tapi lo nggak bantah."
"Bantah apa?"
"Kalau gue punya lo."
Lani mengambil tas kelas. "Aku terlambat."
Ia pergi sebelum Rey melihat wajahnya memerah.
***
Di kelas merangkai bunga, Lani salah memotong tiga batang lily.
Instruktur menyuruh peserta membuat komposisi bertema `rumah`. Perempuan di sebelah Lani memilih bunga matahari dan mengatakan rumah harus terasa hangat. Lani memilih mawar putih, tetapi tangannya terus mengingat aroma sup, kulkas penuh, dan suara Rey mengeluh sabun terlalu banyak.
Ia datang ke kelas untuk mencari jarak.
Yang ditemukan justru bukti bahwa pikirannya sudah membawa Rey ke mana-mana.
"Mbak Lani sedang jatuh cinta?" goda teman kelas.
"Nggak."
"Jawabannya cepat sekali."
Lani menancapkan mawar lebih dalam ke busa bunga. "Karena memang nggak."
Kebohongan itu tidak terdengar meyakinkan bahkan bagi dirinya sendiri.
Kelas selesai setelah matahari terbenam. Saat pintu lift apartemen terbuka, aroma ayam kecap menyambut dari lorong.
Rey menjulurkan kepala dari dapur dengan celemek yang sama.
"Cuci tangan. Lima menit lagi matang."
Lani berdiri di ambang pintu, memegang rangkaian bunga bertema rumah.
Kata `tidak mungkin` di kepalanya mendadak tidak setegas dulu.
Ponselnya berbunyi.
Satu pesan WhatsApp dari Pak Gunawan muncul di layar.
`Lani, boleh kita makan bersama? Ada hal yang ingin saya bicarakan.`
Aroma masakan tetap hangat, tetapi jemari Lani mendadak dingin. Ia mematikan layar sebelum Rey sempat membaca nama pengirim. Di dalam apartemen ada kehidupan baru yang mulai terasa seperti rumah. Di layar ponsel, masa lalu baru saja mengetuk pintunya.
Lani belum tahu pintu mana yang harus ia tutup.
Untuk pertama kalinya, kedua pilihan itu sama-sama menakutkan.