Dua tahun lalu, Rian dengan dingin meletakkan surat perceraian di hadapan Nadia. Saat itu, Nadia rela melepaskan segalanya demi mendukung impian suaminya. Namun Rian memandangnya rendah, menganggapnya tak berguna, dan memilih meninggalkannya demi wanita yang ia harap bisa mempercepat kesuksesannya.
Rian tak pernah tahu, wanita yang ia usir itu adalah pewaris tunggal Grup Arka—perusahaan raksasa yang namanya disegani. Nadia sengaja menyembunyikan identitasnya saat menikah, ingin dicintai apa adanya, namun justru diperlakukan semena-mena.
Setelah berpisah, Nadia bangkit kembali. Ia memimpin Grup Arka dengan tegas dan cerdas, menjadi CEO misterius yang dikagumi banyak orang. Sementara itu, Rian berjuang mengembangkan usahanya sendiri, tak sadar bahwa semua peluang besar yang ia cari kini berada di tangan mantan istrinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: KESALAHPAHAMAN YANG MENGUNTUNGKANKU
Beberapa hari berlalu, sikap Rian perlahan berubah total. Ia tak lagi banyak bicara soal perasaan atau masa lalu, melainkan mencurahkan seluruh perhatian dan tenaganya pada proyek yang sedang berjalan. Setiap laporan yang masuk selalu lengkap dan teliti, setiap kendala yang muncul selalu ia selesaikan sendiri tanpa harus merepotkan pihak Grup Arka. Perubahan ini tak luput dari perhatian Nadia, meski ia tak pernah mengatakannya secara langsung.
Suatu pagi, kabar mengejutkan datang dari tim pemasaran. Rencana penjualan unit perumahan yang disusun bersama ternyata diserbu pembeli dalam hitungan jam saja setelah dibuka. Harga yang wajar, kualitas bangunan yang terjamin, dan nama besar Grup Arka yang menjamin kepercayaan—semuanya berpadu sempurna. Namun tak disangka, berita yang beredar di masyarakat justru menyimpang dari kenyataan.
Banyak orang mengira proyek sukses ini murni hasil kebijaksanaan Nadia yang memberi kesempatan pada mantan suaminya untuk bangkit kembali. Gosip itu menyebar cepat: "Katanya CEO Nadia sebenarnya masih sayang pada mantannya, makanya dia beri jalan agar usaha pria itu maju." Bahkan ada yang bilang Nadia sengaja bekerja sama untuk menunjukkan bahwa ia sudah memaafkan dan siap kembali merangkul Rian.
Kabar itu sampai ke telinga Diana. Rasa cemburu dan curiga yang selama ini ia tahan akhirnya meledak. Ia datang ke lokasi proyek tanpa pemberitahuan, mencari Rian yang sedang memeriksa tata letak taman depan perumahan.
"Jadi begini ternyata!" seru Diana dengan nada tinggi, membuat para pekerja di sekitar menoleh. "Kau bilang kau bekerja keras, tapi sebenarnya kau hanya memanfaatkan rasa kasihan mantan istrimu! Kau membiarkan orang-orang membicarakan kalian seolah masih ada hubungan khusus, sementara aku hanya dijadikan tameng saja!"
Rian terkejut, segera menarik Diana menjauh agar tidak semakin ramai diperbincangkan. "Diamlah, Diana! Ini urusan pekerjaan, bukan urusan pribadi. Keberhasilan ini hasil kerja keras kami berdua, bukan karena hal lain."
"Kerja keras?" Diana tertawa sinis. "Siapa yang tidak tahu kalau semua izin, semua kemudahan, semua peluang itu datangnya dari dia! Kau pikir orang percaya kau bisa secepat ini tanpa bantuan dia yang memegang kendali? Dan kenapa harus dia? Kenapa bukan orang lain? Karena kau masih punya perasaan padanya, kan?"
Perdebatan itu tak sengaja terdengar oleh Nadia yang baru tiba untuk meninjau langsung lokasi. Ia berdiri tenang di kejauhan, membiarkan mereka menyelesaikannya terlebih dahulu. Hati Nadia sedikit perih mendengar tuduhan itu, namun di sisi lain ia sadar—kesalahpahaman ini justru menjadi pelindung baginya. Orang-orang mengira ia melakukannya karena rasa sayang yang belum padam, padahal ia melakukannya karena keadilan dan profesionalisme. Namun dampaknya, nama baik Grup Arka semakin terjaga sebagai perusahaan yang tidak memandang latar belakang, dan Rian pun perlahan mulai dihargai bukan lagi sebagai orang yang memanfaatkan kesempatan, melainkan sebagai mitra yang mampu membuktikan diri.
Melihat kehadiran Nadia, wajah Diana memerah namun tak berani bersuara lagi. Rian menunduk, merasa malu sekali lagi karena masalah pribadinya mengganggu urusan pekerjaan.
"Silakan lanjutkan urusan kalian," ucap Nadia tenang, "Tapi ingat, jangan sampai mengganggu aktivitas kerja di sini. Dan satu hal: kerja sama ini didasarkan pada kesepakatan bisnis yang adil. Tidak ada pilih kasih, tidak ada rasa kasihan yang tidak beralasan. Jika ada yang meragukan hal itu, saya siap menunjukkan seluruh dokumen dan perhitungan yang berlaku untuk semua pihak."
Nadia menatap Diana sekilas, lalu beralih pada Rian. "Saya harap Anda bisa menjaga sikap, Tuan Rian. Jangan biarkan persepsi orang lain merusak apa yang sudah kita bangun dengan susah payah."
Setelah Nadia pergi, Rian menatap Diana dengan perasaan kecewa. "Kau lihat sendiri bagaimana dia bersikap? Dia sama sekali tidak memikirkan perasaan pribadi. Kalau dia ingin memanfaatkan posisinya, dulu dia bisa saja menghancurkan aku sampai tak berdaya. Tapi dia tidak melakukannya. Dan kau... kau justru mencurigai hal yang tidak-tidak."
Diam-diam, kesalahpahaman itu justru membawa dampak baik. Orang-orang mulai memuji ketulusan hati Nadia yang tetap memberi jalan meski pernah disakiti, sekaligus menghargai usaha Rian yang berusaha bangkit dengan kemampuannya sendiri meski dalam bayang-bayang masa lalu. Namun bagi Nadia, pujian itu terasa berat. Ia tahu benar bahwa di balik kesuksesan ini, masih ada benang kusut yang belum terurai—benang yang akan semakin rumit jika kebenaran akhirnya terbuka sepenuhnya.
(Lanjut ke Bab 18?)