Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 32- Tidak segampang itu!!
Ep. 32- Tidak segampang itu!!
"Menyerahkan Aura?" ulang Kirana, suaranya terdengar dingin dan tajam. "Atas dasar apa?"
"Atas dasar hukum dan pertalian darah!" sahut Ibu Hasnah dengan nada menuntut yang congkik. "Aura itu cucu kandung saya! Anak dari almarhumah Ayu, anak kandung putri saya! Sedangkan kamu? Kamu itu cuma mantan istri Rendra yang sama sekali tidak punya hubungan darah dengan Aura! Kamu bukan ibu kandungnya!"
Rina menimpal cepat dengan nada provokatif. "Betul! Mbak Kirana kan cuma ibu tiri yang kebetulan ditinggali anak ini. Kita semua tau dari dulu Mbak Kirana pasti benci sama Mbak Ayu dan anak ini. Lagi pula, kami dengar bulan-bulan lalu tangan anak ini sampai patah di rumah ini! Itu bukti kalau Mbak Kirana menelantarkan dan tidak sudi mengurus Aura!"
Mendengar tuduhan kejam dari orang-orang yang baru saja memperkenalkan diri itu, dada Kirana berombak pelan menahan amarah yang membakar di balik keanggunannya.
"Dengar ya, Bu Hasnah, Rina," ujar Kirana dengan intonasi yang begitu tenang namun sarat akan tekanan emosional yang mematikan. "Saat Ayu dan mas Rendra meninggal dunia dan meninggalkan Aura seorang diri, di mana kalian? Kenapa selama satu tahun ini kalian tidak pernah menampakkan batang hidung kalian, apalagi bertanya kabar tentang anak ini?"
Ibu Hasnah dan Rina sempat bungkam sejenak, wajah mereka pun agak memerah.
"Saat Aura masih bayi dan butuh biaya susu, imunisasi, dan popok setiap bulannya, apakah ada sepeser pun uang dari keluarga kalian yang datang?" lanjut Kirana, lalu langkah kakinya kian mendekati Ibu Hasnah hingga wanita tua itu tanpa sadar mundur satu langkah. "Selama satu tahun ini kalian menghilang! Lalu sekarang, setelah saya merawat, membesarkan, dan melindungi Aura hingga pulih, tiba-tiba kalian datang memperkenalkan diri dan berteriak tentang pertalian darah? Lucu sekali."
"Kamu tidak usah memutarbalikkan fakta!" sergah Ibu Hasnah panik dengan suara yang melengking. "Dulu kami sedang ada masalah ekonomi! Sekarang keluarga kami sudah mampu dan kami berhak mengasuh cucu kami sendiri! Bagaimanapun juga secara hukum, ibu kandungnya sudah meninggal dan darahnya mengalir dari putri saya! Kamu tidak punya hak menahan cucu saya di sini!"
"Aula ndak mau ikuttt! Aula mau sama Mama!" jerit Aura yang tiba-tiba dari belakang, air matanya pun mulai menetes karena ketakutan mendengar bentakan-bentakan itu. Balita itu berlari kecil, menerobos Keisya, lalu memeluk erat tungkai kaki Kirana dengan kedua tangan mungilnya.
Kirana menunduk sejenak dan membelai lembut rambut tipis Aura, lalu mendongak menatap Ibu Hasnah.
"Ibu dengar sendiri kan? Anak ini bahkan tidak kenal siapa Anda," ujar Kirana. "Saya tidak akan menyerahkan Aura kepada orang-orang asing yang baru muncul setelah tiga tahun menelantarkannya."
"Anda jangan keras kepala, Bu Kirana!" ancam Ibu Hasnah, jarinya yang dipenuhi perhiasan menunjuk-nunjuk wajah Kirana dengan penuh kebencian. "Kalau kamu tidak mau menyerahkan Aura secara baik-baik hari ini, kami akan bawa masalah ini ke jalur hukum! Kami akan gugat kamu di pengadilan atas hak asuh!"
"Silakan," pangkas Kirana tanpa ragu sedikit pun, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang sangat percaya diri. "Bawa pengacara terbaik yang sanggup Anda bayar. Kita bertemu di pengadilan. Tapi sebelum itu, sekarang tolong angkat kaki dari pekarangan rumah saya sebelum saya panggilkan pihak keamanan kompleks untuk menyeret kalian keluar!"
"Kamu... kamu benar-benar sombong ya!" jerit Rina emosi.
"Pak Jaka, buka gerbangnya lebar-lebar. Antar tamu-tamu tak diundang ini keluar!" perintah Kirana tegas tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Ibu Hasnah.
Pak Jaka langsung maju membusungkan dadanya di hadapan kedua wanita itu. "Mari Bu, silakan keluar dari rumah Bu Kirana sekarang."
Ibu Hasnah menghentakkan kakinya ke lantai dengan napas yang memburu. Ia menatap Kirana dengan mata melotot yang sarat akan amarah. "Awas kamu Kirana! Jangan kira kami akan tinggal diam! Saya pastikan Aura akan lepas dari tangan kamu!"
Dengan kemarahan yang membunchah, Ibu Hasnah dan Rina membalikkan badan, lalu melangkah kasar meninggalkan pekarangan rumah Kirana. Pintu gerbang besi pun kembali ditutup rapat oleh Pak Jaka dengan bunyi dentuman yang menggema.
Setelah mobil sedan hitam itu melaju pergi dan menghilang di belokan jalan kompleks, suasana teras kembali hening.
Aura masih memeluk kencang kaki Kirana, sambil sesenggukan menahan tangis karena takut. Kemudian Keisya berlari menghampiri dan memeluk paha Kirana dari sisi lainnya.
"Mama... nenek-nenek galak yang baru datang tadi siapa, Ma? Kenapa mau bawa Aura pergi? Keisya tidak mau Aura dibawa pergi, Ma!" tangis Keisya dengan air mata yang mulai menetes.
Kirana menghembuskan napasnya. Rasa lelah sempat merayap di pundaknya, namun melihat kedua putrinya yang ketakutan, naluri keibuannya meledak hingga penuh dengan kekuatan baru.
Kirana lalu berlutut di atas lantai teras, merengkuh tubuh Keisya dan Aura sekaligus ke dalam dekapannya yang erat dan hangat.
"Ssssh... tidak ada yang boleh bawa Aura pergi dari rumah ini," bisik Kirana tepat di telinga kedua anak itu. "Mama janji... Mama akan lawan siapa pun yang mencoba memisahkan kita."
Aura menyandarkan kepalanya di leher Kirana, seraya meremas blazer linen ibunya dengan jari-jari kecilnya. "Mama... Aula sayang Mama..."
"Keisya juga sayang Mama."
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗