NovelToon NovelToon
Siasat Cantik Istri Bercadar

Siasat Cantik Istri Bercadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.

Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.

​Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.

Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah Berat Kembali ke Pesantren

Perjalanan di atas angkutan umum pagi itu terasa begitu hambar bagi Fatimah.

Pandangannya lurus menatap keluar jendela, menyaksikan deretan pepohonan dan bangunan kota yang bergerak mundur.

Jalanan masih terhitung lengang, menyisakan ruang bagi kepalanya untuk kembali mengulang setiap detail luka yang ia tinggalkan di rumah.

Ketika roda angkutan umum itu berhenti tepat di depan gerbang hijau bertuliskan "Pondok Pesantren Al-Hidayah", Fatimah mengembuskan napas panjang.

Kakinya melangkah turun. Anehnya, tempat yang biasanya selalu menjadi muara ketenangannya kini mendadak terasa berbeda.

Ada rasa sesak yang ikut ia bawa masuk melompati pagar pembatas pesantren.

Beberapa santriwati cilik yang sedang menyapu halaman depan langsung menghentikan kegiatan mereka begitu melihat Fatimah berjalan mendekat.

"Assalamu’alaikum, Ustazah Fatimah!" sapa mereka serempak dengan wajah-wajah polos yang ceria.

Fatimah memaksakan diri untuk tersenyum di balik cadarnya, menunduk sedikit demi menyamai tinggi anak-anak tersebut.

"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Sudah bersih menyapunya? Pintar sekali. Lanjutkan ya, Nak."

"Iya, Ustazah!"

Melihat binar di mata para santri cilik itu, hati Fatimah kembali mencelos.

*Apakah setelah ini aku masih bisa melihat senyum ini? Masihkah aku punya kesempatan untuk membagikan ilmu yang kupunya di tempat ini?*

Pikirannya mendadak mengawang pada sosok pria berusia tiga puluh delapan tahun yang akan segera menjadi suaminya.

Jika ia menikah nanti, dunianya pasti akan berubah total. Ia akan dikurung dalam kewajiban baru, menjauh dari kitab-kitab dan ruang kelas yang teramat ia cintai.

Dengan langkah yang terasa kian berat, Fatimah mengayunkan kakinya menuju kompleks asrama putri.

Tujuan utamanya bukan langsung ke kamar tempat ia meletakkan barang-barang, melainkan sebuah rumah dinas sederhana di sudut kompleks: kediaman Ustazah Zahra.

Fatimah berdiri di depan pintu kayu bercat putih itu. Jemarinya terangkat, mengetuk pelan.

*Tok! Tok! Tok!*

"Assalamu’alaikum..." bisik Fatimah lirih.

Tidak butuh waktu lama hingga selot pintu berbunyi.

Pintu terbuka, menampilkan sosok Ustazah Zahra yang masih mengenakan mukena atasannya setelah menyelesaikan tadarus paginya.

Wanita paruh baya itu sempat terkejut melihat tas ransel besar di pundak Fatimah, namun pandangannya langsung beralih pada sepasang mata Fatimah yang bengkak dan redup.

Sebagai seorang guru yang sudah empat tahun ini mengamati Fatimah, Ustazah Zahra tahu ada badai besar yang sedang berkecamuk di dalam dada santriwatinya ini.

"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Fatimah?"

Ustazah Zahra membuka pintunya lebih lebar, wajahnya dipenuhi rasa cemas yang tulus.

"Loh, bukankah kamu baru kemarin sore pulang untuk merayakan wisuda kakakmu?

Kenapa pagi-pagi sekali sudah kembali ke sini, Nak? Dan... tas besar ini?"

Mendengar suara lembut Ustazah Zahra yang begitu meneduhkan, pertahanan Fatimah yang sejak subuh tadi ia bangun dengan sikap dingin seketika runtuh.

Kedamaian tempat ini dan ketulusan gurunya bagai oase yang memecahkan bendungan air matanya yang sempat mengering.

Fatimah menunduk, pundaknya mulai terguncang hebat. Ia tidak sanggup lagi berkata-kata.

Tas ransel yang bertengger di pundaknya seolah merosot begitu saja, berdentum pelan di lantai teras saat Fatimah menjatuhkan dirinya berlutut di hadapan sang guru, menangis sejadi-jadinya memeluk ujung gamis Ustazah Zahra.

Ustazah Zahra terkejut melihat kerapuhan gadis yang biasanya paling tegar dan tenang ini.

Tanpa banyak bertanya, ia ikut berlutut, merengkuh tubuh Fatimah ke dalam pelukannya.

Tangan hangat sang ustazah mengusap punggung Fatimah yang bergetar hebat akibat tangis yang meledak-ledak.

​"Istigfar, Nak... Istigfar. Tumpahkan semua di sini. Allah bersamamu," bisik Ustazah Zahra lembut, membiarkan pundak mukenanya basah oleh air mata Fatimah.

​Di teras yang sunyi itu, Fatimah hanya bisa menangis sekencang-kencangnya, meluapkan seluruh rasa sesak, ketidakadilan, dan luka hati yang tak sanggup ia tanggung sendiri.

Pesantren ini kembali menjadi saksi, bahwa sedalam apa pun ilmu seorang Fatimah, ia tetaplah seorang gadis dua puluh tahun yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping.

1
Enz99
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!