Tidak update harian!!
Zalina Asyara, seorang gadis muda yang harus menelan pahit kehidupan setelah ayahnya jatuh bangkrut dan terlihat hutang pada seorang rentenir. Ibunya memilih lari, meninggalkan ayahnya yang sudah jatuh bangkrut itu juga dirinya.
Zalina terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran, untuk membantu ayahnya membayar hutang.
Namun, suatu hari, sepasang suami-istri kaya membawa sebuah lamaran pernikahan untuk Zalina.
mereka adalah kenalan lama ayahnya. Dulu, ayahnya pernah membantunya di saat mereka sedang kesulitan. Kini, saatnya mereka datang untuk membalas Budi.
Apakah Zalina akan menyetujui lamaran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan dan Keputusan
"Kaiden Pradipta?"
Nama itu membuat Zalina mengerutkan dahinya sejenak. Ketika ayahnya meyebut nama itu secara tiba-tiba di sela makan malam mereka yang santai, Zalina merasa kebingungan. Nama itu terdengar tidak asing karena beberapa hari yang lalu sahabat lama ayah yang sempat mendatangi rumahnya, pernah menyebut nama itu beberapa kali.
Mereka bilang, dulu sewaktu mereka masih kecil, ia pernah datang berkunjung ke rumah itu dan bermain bersama beberapa kali.
Namun, tentu saja Zalina tidak bisa mengingatnya dengan jelas, karena saat itu ia masih berusia lima tahun.
"Kenapa ayah tiba-tiba menyebut nama itu?" tanya Zalina heran pada ayahnya.
"Hmm... Kau pasti sudah mendengar bahwa paman Zafran dan istrinya bersedia untuk membeli pabrik kita dan membangunnya kembali." jelasnya, lalu terdiam beberapa detik untuk melihat reaksi Zalina.
Zalina lalu mengangguk pelan. Ia memang pernah mendengar mereka membahas tentang masalah tersebut sebelumnya.
"Karena masalah itu... mereka berniat untuk menjodohkanmu dengan Kaiden, putranya."
Zalina lalu terdiam sejenak, seolah sedang mencerna setiap kata yang keluar dari mulut ayahnya itu.
"Menjodohkan?" ulangnya, seakan hendak memastikan kata itu sekali lagi.
"Iya, Nak. Tapi, kami tidak akan memaksa, semua keputusan tetap berada di tangan kalian berdua. Kami hanya ingin kalian bertemu lebih dulu lalu saling mengenal satu sama lain..." jelas Reyhan dengan hati-hati.
Zalina tampak menghela napas sejenak. Menatap ayahnya yang terlihat memendam sebuah harapan besar dari perjodohan ini.
"Ayah... ingin menjualku demi pabrik itu?"
Pertanyaan itu membuat Reyhan tersentak. Kata "menjual" itu terdengar begitu menyeramkan ditelinganya.
"Tidak, Nak." sahut Reyhan tegas. "Kenapa kau bisa berpikir bahwa Ayah ingin menjualmu." ia menggeleng cepat dengan tatapan mata yang lirih.
"Ayah hanya ingin kau hidup dengan layak, Nak. Apalagi Kaiden akan mengambil alih pabrik kita dan membantu kita untuk membangunnya kembali. Ayah hanya ingin... melihatmu tidak kesusahan lagi seperti sekarang.
Suara Reyhan melemah di akhir kalimatnya. Ada sesuatu yang tertahan, entah rasa bersalah, atau keputusasaan yang terlalu lama ia pendam.
Zalina mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak.
"Apa Ayah pikir... aku tidak sanggup hidup dalam kesusahan seperti ini?" suaranya terdengar bergetar, namun matanya tetap menatap lurus ke arah ayahnya yang kini tertunduk malu. "Apa Ayah pikir dengan menikahkan aku, aku akan bisa hidup layak dan bahagia...?"
"Maafkan Ayah, Nak... Ayah hanya memikirkan tentang masa depanmu. Kaiden pria yang mapan, bertanggung jawab-"
"Aku bahkan tidak mengenalnya, Ayah. Apa Ayah bisa dengan mudahnya menyerahkan putri Ayah pada pria yang bahkan tidak Ayah kenal dengan baik?" potong Zalina dingin.
"Perasaan bisa datang seiring berjalannya waktu, Nak." balas Reyhan pelan, seolah mencoba meyakinkan, bukan hanya anaknya, tapi juga dirinya sendiri.
Zalina tertawa kecil, tawa getir yang begitu menyayat hati. "Semudah itu, Yah? Menikah tanpa cinta... lalu berharap cinta itu tumbuh?"
Ruangan itu mendadak menjadi sunyi. Hanya suara detak jam dinding yang berdetak pelan, seolah hendak menghitung detik-detik keputusan yang akan mengubah hidup mereka.
Reyhan menatap putrinya lama. Mata tuanya terlihat lelah.
"Ayah dan Ibu saling mencintai sejak awal, namun... kalian tetap berpisah pada akhirnya.
Reyhan lalu terdiam. Untuk sesaat ruangan itu kembali sunyi. Kalimat itu menghantam keras, membuatnya terseret dalam kenyataan yang semula coba ia kubur dalam-dalam.
"Jadi, jangan bilang kalau cinta bisa datang begitu saja setelah menikah, Yah." suaranya lirih, namun penuh luka. "Kalian bahkan sudah saling mencintai... tapi tetap tidak bisa bertahan."
Reyhan memejamkan matanya, rahangnya mengeras.
"Itu berbeda, Nak." ucapnya pelan. "Ibumu... pergi meninggalkan Ayah karena dia tidak mau bertahan dan memilih untuk menyerah."
Suaranya terdengar lirih dengan mata yang tampak berkaca-kaca. "Itu... karena kesalahan Ayah yang tidak bisa menjaga keutuhan keluarga ini."
Zalina tertegun. Ia lalu berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah ayahnya yang duduk di kursi roda.
Ia berjongkok di sampingnya, sambil menggenggam tangan pria tua itu yang kini terasa begitu dingin.
"Ayah hanya ingin melihatmu... bahagia, Nak."
Suara Reyhan nyaris tak terdengar, tenggelam di antara sesak yang menekan dadanya. Jemarinya yang dingin membalas genggaman tangan Zalina dengan lemah, seolah takut kehilangan satu-satunya hal yang masih ia miliki.
Zalina menunduk, pandangannya jatuh menatap tangan ayahnya yang mulai keriput, rapuh, dan tak lagi sekuat dulu saat menggenggam tangannya yang masih kecil.
"Ayah sudah tua dan tidak sekuat dulu, Nak. Kau lihat bagaimana keadaan ayah sekarang, kan? Ayah hanya takut kalau... terjadi sesuatu pada ayah lagi, kau akan-"
"Sendirian?" potong Zalina pelan, namun tepat seperti yang ingin Reyhan katakan.
Reyhan terdiam. Matanya kembali berkaca-kaca, lalu ia mengangguk lemah.
"Iya..." suaranya nyaris berbisik. "Ayah takut tidak ada yang menjagamu. Tidak ada yang akan berdiri di sampingmu ketika Ayah sudah tidak bisa lagi..."
"Apa pria itu sudah menerima perjodohan ini?" tanya Zalina, seolah ingin memastikan sesuatu sebelum mengambil keputusan.
Reyhan tampak mengangguk pelan, "Ia sudah setuju untuk bertemu dan bicara padamu. Ini hanya perkenalan biasa, dan keputusan tetap berada di tangan kalian berdua."
Zalina menghela napas sejenak. "Baiklah, Ayah. Aku akan bertemu dengannya." ucapnya lirih, menatap Ayahnya yang tampak begitu putus asa.
"Kau setuju?" tanya Reyhan sedikit terkejut dengan keputusan putrinya itu.
"Ya. Tapi bukan berarti aku langsung setuju untuk menikah." tatapan kini menajam dan tegas. "Aku ingin tahu seperti apa pria bernama Kaiden itu."
"Ayah mengerti, Nak." air mata Reyhan seketika jatuh perlahan.
"Maafkan Ayah, Nak." pintanya dengan suara yang bergetar, menatap Zalina dengan sorot mata penuh kesedihan.
"Aku mengerti, Yah. Aku tidak marah pada Ayah. Jadi..." ia menghapus air mata cinta pertamanya itu, "Jangan pernah menangis lagi."
Zalina menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan ayahnya. Air matanya ikut mengalir, tanpa bisa ia bendung lagi.
Sementara Reyhan mengusap lembut kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. Ia merasa gagal menjadi Ayah yang baik untuk putrinya.
Ia hanya berharap bahwa perjodohan ini nantinya menjadi yang terbaik bagi putrinya.
🥀🥀🥀
Beberapa hari kemudian, tepatnya di akhir pekan. Kaiden dan Zalina akan bertemu hari ini di sebuah restoran yang sudah disepakati sebelumnya.
Zalina sudah tiba di sana dengan penampilan yang tampak cantik dan anggun. Pagi tadi, Belinda, ibu Kaiden mengirimkan seorang penata rias untuknya, beserta sebuah gaun yang pantas untuk ia kenakan.
Ya, ia tidak mungkin datang ke restoran mewah seperti ini dengan hanya mengenakan kaos dan celana jeansnya saja, 'kan?
Wanita bahkan mengirimkan mobil dan seorang supir untuk mengantarkan dirinya.
Ibu Belinda benar-benar mempersiapkan segalanya dengan matang.
Zalina melangkah masuk ke dalam dengan langkah kaki yang tegas dan terukur. Ia bahkan tidak terlihat gugup sedikit pun.
Seorang pelayan tampak menghampirinya dengan senyum ramah dan sopan.
"Apa Anda sudah melakukan reservasi sebelumnya, Nona?" tanyanya dengan sopan padanya.
"Ya, reservasi atas nama Tuan Kaiden Pradipta." jawabnya tak kalah ramah.
"Oh, apa Anda Nona Zalina?" tanyanya lagi seolah ingin memastikan terlebih dahulu.
"Iya."
"Baiklah, Nona. Silahkan ikuti saya. Tuan Kaiden sedang dalam perjalanan, jadi ia meminta Anda untuk menunggu sebentar." jelasnya sambil menunjukkan ruangan mereka.
Mereka lalu berhenti di sebuah ruangan VIP yang terpisah. Pelayan itu mempersilahkan Zalina untuk masuk dan menunggu di dalam.
"Apa Anda ingin memesan sesuatu sambil menunggu, Nona?" tanyanya.
"Tidak, nanti saja." jawab Zalina.
Pelayan itu lalu pergi dari sana. Sementara Zalina duduk di kursinya sambil melihat pemandangan kota yang terlihat dari kaca jendela restoran di sampingnya.
Sembari menunggu, ia tampak memainkan ponselnya sambil sesekali mengambil foto.
"Jarang-jarang aku berdandan cantik seperti ini."
Ia lalu mengambil beberapa foto untuk di posting di media sosialnya. "Aku cantik juga."
Ia memang tidak punya banyak pengikut, jadi rasanya tidak masalah jika ia memposting foto-foto seperti ini media sosialnya.
Lagipula sudah lama sekali dia tidak membuka media sosialnya itu.
Ia juga berdiri di depan kaca dengan latar belakang kota yang terlihat sangat cantik saat itu.
Saking asyiknya mengambil gambar, ia bahkan tak sadar bahwa seorang pria muda telah masuk ke dalam ruangan itu.
Pria itu tidak bicara, ia malah berdiri di depan pintu dengan tangan terlipat di dadanya, seolah sengaja menunggu gadis itu selesai dengan kameranya.
Zalina lalu berbalik, dan ia tampak tersentak ketika sadar bahwa pria itu telah tiba di sana.
"S-serangga mahal..." ucapnya tanpa sadar.
🥀🥀🥀
ini ya si pria yang merangkul kaiden kemarin ☺ centil juga orangnya...