Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kedekatan yang Gak Terduga
Bel pulang baru aja bunyi, tapi langit udah kelabu banget. Gelapnya kayak mau malam aja. Gue jalan keluar kelas sambil peluk buku erat-erat, takut jatuh. Baru aja sampai koridor, rintik hujan langsung berubah jadi deras banget. Kayak langit tiba-tiba tumpahin semua airnya ke bumi. Anginnya juga lumayan kenceng, bikin ujung rambut gue basah dikit.
"Ya ampun... hujan banget sih," gumam gue sendiri, terus berdiri di pojok koridor, bersandar di tembok sambil natap keluar jendela.
Koridor mulai sepi. Temen-temen pada dijemput, ada yang bawa payung bareng temen, ketawa-ketiwi sambil lari ke gerbang. Gue? Nanggung banget. Gak bawa payung, jemputan juga belum kelihatan sama sekali. HP di tas juga gak ada kabar. Jadinya gue berdiri di situ sendirian, mainin ujung seragam, nunggu siapa tau hujannya reda bentar.
"Hei, Mir!"
Suara itu... gue langsung nengok kaget.
Dimas berdiri di ujung lorong, rambutnya agak basah dikit karena tadi kayaknya lari sebentar. Jaket hitamnya kancing kebuka, tas selempang digantung di satu bahu. Dia senyum ke gue — senyum yang bikin banyak cewek di sekolah ini klepek-klepek — terus jalan mendekat pelan-pelan.
Jantung gue langsung deg-degan kenceng banget. Ini Dimas loh. Cowok yang tiap hari dibicarakan satu sekolah, yang jarang senyum ke siapa-siapa, yang kalau lewat orang pada ngomong. Dan sekarang dia nyapa gue? Nama gue?
"Kok sendirian di sini?" tanyanya pas udah berdiri tepat di depan gue. Matanya natap lurus ke mata gue, tajem tapi lembut, bikin gue gak berani berkedip.
"Eh... gue... nunggu hujannya reda dulu," jawab gue terbata-bata, terus nunduk dikit karena gugup banget.
Dimas ketawa kecil, suaranya pelan tapi jelas. "Gak bakal reda bentar ini, Mir. Langitnya gelap banget di sana, kayaknya bakal turun sampe sore. Naiklah, gue antar pulang. Mobil gue ada di depan, gak basah sama sekali."
Dia nunjuk ke arah gerbang pakai dagunya, terus natap gue nungguin jawaban, gak maksa tapi bikin gue ngerasa nolak itu hal susah.
"Gak usah deh, Dim... nanti nyusahin lo, rumah gue lumayan jauh dari arah lo," kata gue, padahal sebenernya gue gak tau dia tinggal di mana. Cuma mau cari alasan aja.
"Gak nyusahin! Lagian jalan ke arah situ juga, gak jauh kok. Percaya deh sama gue," katanya sambil senyum lagi, kali ini lebih lebar. "Yuk, nanti lo sakit, siapa yang mau catetin tugas buat lo? Soal Matematika tadi gak gampang loh."
Belum sempat gue buka mulut, suara lain kedengaran dari belakang — napasnya agak ngos-ngosan, kayak habis lari lumayan jauh.
"Mir!"
Gue langsung nengok.
Farhan berdiri di sana, megang payung gede di atas kepalanya, rambutnya agak berantakan karena habis lari. Wajahnya langsung berubah pas lihat Dimas berdiri di sebelah gue. Langkahnya melambat, tapi tetep jalan sampai di depan gue, terus natap Dimas.
"Eh, Dimas... Hai," sapa Farhan. Suaranya tetep kedengaran ramah kayak biasa, tapi matanya beda — natap tajem dikit, kayak gak rela bagi tempat berdiri.
"Hai, Farhan. Gue mau nganter Amira pulang, hujan kan deras gini, kasihan kalau nunggu sendirian," kata Dimas duluan, gak mau kalah nada bicaranya.
Farhan senyum tipis, senyum yang biasanya dia kasih ke orang yang mau ngerebut mainannya waktu kecil. Terus dia natap gue dalam-dalam.
"Gak usah repot-repot, Dim. Gue udah bawa payung, bisa jalan bareng Amira. Lagian... rumah kita searah, kan, Mir?"
Dia ngucapin kata "kita" agak lama, kayak sengaja mau ngasih tau sesuatu ke Dimas. Tangan kirinya megang gagang payung kenceng banget, sampe uratnya kelihatan jelas.
Gue bingung banget berdiri di tengah-tengah. Di kiri Dimas natap gue tenang, nungguin jawaban. Di kanan Farhan berdiri tegak, kayak gak mau ngalah sedikit pun. Beberapa anak yang lewat pada berhenti sebentar, natap kami bertiga, terus berbisik-bisik sambil jalan.
"Makasih ya, Dim... tapi... gue bareng Farhan aja," kata gue pelan, natap Dimas sambil ngerasa bersalah.
Dimas ngangguk pelan, mukanya jelas kecewa, tapi dia tetep senyum. "Oke, gak apa-apa. Gak maksa kok. Tapi..." dia natap gue sekali lagi, dalam dan lembut "...besok gue cari lo lagi ya, Mir."
Dia berbalik pergi, tasnya dipindah ke bahu lain.
Pas Dimas udah hilang di balik gerbang, Farhan langsung buka payungnya lebar-lebar, terus nutupin gue rapet banget sampe gak kena air hujan sama sekali. Badannya dia yang kena sebagian.
"Yuk, jalan," katanya singkat, terus mulai melangkah.
Sepanjang jalan dia diem aja. Beda banget sama biasanya yang bacot mulu, cerita ini-itu, nanya soal tugas, bikin gue ketawa. Sekarang dia cuma natap ke depan, langkahnya agak cepat, jarang kedip. Suara hujan di atas payung kedengaran keras banget di antara kita yang diem.
"Han?" panggil gue pelan setelah kita jalan lumayan jauh.
"Hmm?" jawabnya pendek, gak nengok.
"Lo... kenapa dari tadi diem aja? Kesel ya gue tadi sempet mau ikut Dimas?"
Farhan berhenti jalan tiba-tiba. Di pinggir jalan yang sepi, di bawah payung yang sama, dia berbalik natap gue. Matanya dalem banget, kayak ada ribuan kata mau keluar tapi ketahan di tenggorokan. Hujan masih deras banget di luar sana.
"Gak kesel... cuma..." dia tarik napas panjang, terus natap gue makin dalem, seolah baru kali ini berani natap gue sedalem ini. "Gue gak suka lihat lo sama dia, Mir. Jujur, gak suka banget."
"Kenapa sih? Dia kan baik, gak jahat," kata gue bingung.
Farhan diam sebentar, menelan ludah, terus bibirnya bergerak pelan:
"Soalnya gue takut..." dia berhenti, natap ujung sepatunya sendiri, lalu balik natap gue lagi dengan suara yang lebih pelan, hampir berbisik: "...takut kalau gue kehilangan lo."
Gue kaku di tempat. Gak bisa ngomong apa-apa. Jantung gue berdebar kenceng banget, bukan karena kaget — tapi karena ada sesuatu di matanya yang bikin gue sadar selama ini gak ngerti apa-apa.
"Lo kan sahabat terbaik gue, Han. Gak bakal kemana-mana," kata gue akhirnya, berusaha tenangin dia, padahal suaranya agak bergetar.
Farhan senyum tipis, senyum yang sedih banget. "Sahabat... ya."
Dia mau lanjutin jalan, pindahin payung ke tangan kiri...
Jari-jarinya gak sengaja nyentuh tangan gue yang nggantung di samping badan.
Bukannya langsung narik kayak orang biasanya...
Dia malah nahan sebentar, sepersekian detik, seolah takut gue sadar.
Gue langsung narik pelan, jantung makin kenceng. Dia juga kaget, buru-buru pura-pura atur payung. "Eh... maaf," katanya setengah berbisik, mukanya mulai merah.
"Gak apa-apa," jawab gue, terus natap ke jalan biar dia gak lihat pipi gue yang pasti udah merah banget.
Sisa jalan makin hening. Pas udah sampai depan pagar rumah gue, dia berhenti. "Udah nyampe."
"Makasih ya, Han. Udah anterin," kata gue, terus berdiri di depan pagar.
Dia ngangguk, terus natap gue pelan. "Mir..."
"Iya?"
"Besok... kalau hujan lagi, nungguin gue ya. Jangan ikut siapa-siapa duluan."
"Oke, gue janji," jawab gue tanpa mikir dua kali.
Dia senyum, kali ini lebih tulus. "Yaudah, masuk aja."
Gue masuk, lari ke jendela kamar, ngintip dari balik tirai. Dia belum pergi. Masih berdiri di sana, natap ke arah pintu rumah gue. Baru beberapa detik kemudian, dia tarik napas panjang, buang napas pelan, terus berbalik pergi.
Gue duduk di pinggir kasur, pegang buku harian di atas meja. Gue buka pelan, pegang pulpen lama banget sebelum nulis satu kalimat:
"Hari ini gue sadar... mungkin yang gue kira persahabatan selama ini, sebenernya udah berubah jadi sesuatu yang jauh lebih besar. Dan gue baru sadar pas hampir kehilangan."
Tapi pas gue mau nutup bukunya...
HP gue di meja bunyi. Satu pesan masuk. Bukan dari Dimas.
Dari nomor yang gue gak kenal sama sekali.
Gue buka pelan-pelan.
"Hati-hati sama Farhan, Mir. Dia nyembunyiin sesuatu dari lo. Sesuatu yang bakal bikin lo benci dia selamanya."
Tangan gue langsung gemetar. HP hampir jatuh ke lantai.
Siapa ini? Dan apa maksudnya?