Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN YANG TIDAK SEHARUSNYA BERDUA
Pukul 08.20 pagi.
Alya berdiri di depan cermin kecil di kamarnya sambil memperhatikan pakaian yang sudah dipilih sejak semalam.
Blazer krem.
Kemeja putih.
Celana bahan hitam.
Sepatu hak rendah.
Rapi.
Profesional.
Tidak berlebihan.
Dia menghela napas.
Hari ini dia akan menghadiri meeting dengan salah satu calon partner bisnis Mahendra Group.
Dan yang membuatnya sedikit gugup bukan meeting-nya.
Melainkan satu hal.
Raka ikut.
Seharusnya itu tidak menjadi masalah.
Raka adalah atasannya.
Alya sudah beberapa kali bekerja dengannya.
Mereka bahkan sudah terbiasa berdebat.
Namun entah kenapa, setelah percakapan semalam, Alya merasa ada sesuatu yang berbeda.
Pesan terakhir Raka masih tersimpan di ponselnya.
> Selamat malam.
Dua kata yang sebenarnya biasa.
Tetapi Alya sempat membacanya lebih dari sekali sebelum tidur.
“Berhenti.”
Dia menepuk pipinya.
“Dia bosmu.”
Kemudian mengambil tas.
“Bos.”
Dia mengangguk pada bayangannya sendiri.
“Bukan siapa-siapa.”
---
PUKUL 08.55
Alya sampai di kantor.
Raka sudah menunggu di depan lift.
Begitu melihat Alya, pandangannya berhenti beberapa detik.
Alya berjalan mendekat.
“Pagi, Pak.”
Raka mengangguk.
“Pagi.”
Tatapannya masih tertuju pada Alya.
Alya mulai merasa aneh.
“Ada yang salah?”
“Tidak.”
“Bapak melihat saya seperti ada yang salah.”
Raka mengalihkan pandangan.
“Pakaianmu.”
Alya langsung melihat dirinya sendiri.
“Kenapa?”
“Bagus.”
Alya terdiam.
Raka sendiri tampaknya baru menyadari apa yang baru saja dikatakannya.
Dia berdeham.
“Maksud saya… sesuai untuk meeting.”
Alya tersenyum.
“Oh.”
Pintu lift terbuka.
Mereka masuk.
Alya berdiri di sisi kanan.
Raka di sebelahnya.
Beberapa detik hening.
Kemudian Alya berkata,
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak kelihatan gugup.”
“Saya tidak gugup.”
“Terus kenapa diam?”
“Saya memang tidak banyak bicara.”
Alya tertawa kecil.
“Benar juga.”
Raka meliriknya.
“Kamu banyak bicara.”
“Bapak keberatan?”
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Alya sedikit terdiam.
Tidak?
Biasanya Raka selalu mengatakan bahwa Alya terlalu banyak bertanya atau terlalu banyak mengomel.
Tapi pagi ini dia justru berkata tidak keberatan.
Lift berhenti di lantai dasar.
Pintu terbuka.
Raka berjalan lebih dulu.
Alya mengikutinya.
---
DI LOBI
Sebuah mobil perusahaan sudah menunggu.
Sopir membukakan pintu.
Raka masuk lebih dulu.
Alya hendak masuk ke sisi lain.
Namun Raka berkata,
“Duduk di sini.”
Dia menunjuk kursi di sebelahnya.
Alya menatap kursi tersebut.
Kemudian menatap Raka.
“Kenapa saya tidak di depan?”
“Karena kita perlu membahas materi.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia masuk.
Mobil bergerak.
Alya membuka tablet.
“Meeting sekitar satu jam.”
“Ya.”
“Setelah itu makan siang.”
“Tidak.”
Alya mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Saya ada agenda.”
Alya melihat kalender.
“Tidak ada.”
Raka menatapnya.
“Ada.”
“Di mana?”
“Sekarang.”
Alya menghela napas.
“Bapak memang suka membuat agenda sendiri.”
Raka tersenyum tipis.
“Sudah tahu.”
Alya mulai membaca materi.
Beberapa menit kemudian dia menunjuk layar.
“Pak, bagian ini mungkin perlu diubah.”
“Kenapa?”
“Karena target yang kita tawarkan terlalu tinggi.”
“Tidak.”
“Menurut saya terlalu tinggi.”
“Investor menyukai angka besar.”
“Investor juga suka angka realistis.”
Raka menatapnya.
“Kamu menantang saya lagi?”
“Saya hanya memberikan pendapat.”
“Pendapatmu diterima.”
Alya mengerutkan kening.
“Serius?”
“Ya.”
“Cepat sekali.”
“Tidak semua hal harus diperdebatkan.”
Alya tersenyum.
“Bapak mulai bijaksana.”
“Jangan berlebihan.”
Alya tertawa.
Raka menatapnya.
Entah kenapa suara tawa itu membuat perjalanan terasa lebih singkat.
---
MEETING
Pertemuan berlangsung di sebuah hotel.
Dimas sudah menunggu di sana bersama dua orang perwakilan perusahaan partner.
Begitu melihat Alya dan Raka turun dari mobil, Dimas tersenyum.
“Pagi.”
“Pagi, Pak.”
Dimas menatap Alya.
“Kamu kelihatan lebih sehat.”
Alya tersenyum.
“Sudah sembuh.”
“Bagus.”
Raka berdiri di samping Alya.
“Sudah siap?”
“Siap, Pak.”
Mereka masuk.
Meeting berlangsung hampir dua jam.
Alya bertugas mencatat.
Raka memimpin pembicaraan.
Dimas beberapa kali memberikan penjelasan.
Semua berjalan lancar.
Sampai salah satu pihak mengajukan pertanyaan yang cukup sulit.
“Kalau target ini tidak tercapai, apa jaminannya?”
Raka hendak menjawab.
Namun Alya lebih dulu membuka dokumen.
“Untuk bagian itu…”
Dia berhenti.
Melihat Raka.
Raka mengangguk kecil.
Alya melanjutkan penjelasan.
Semua peserta memperhatikan.
Jawabannya tepat.
Bahkan salah satu investor mengangguk puas.
Setelah meeting selesai, Dimas mendekati Alya.
“Kamu bagus.”
“Terima kasih.”
“Kalau terus seperti ini, sebentar lagi kamu bisa jadi manager.”
Alya tertawa.
“Jangan terlalu tinggi.”
Dimas tersenyum.
“Serius.”
Raka berdiri tidak jauh dari mereka.
Dia mendengar semuanya.
Dan lagi-lagi ada sesuatu yang terasa mengganggu.
Namun kali ini dia tidak mengatakan apa-apa.
---
MAKAN SIANG
Setelah meeting selesai, mereka makan siang.
Dimas duduk di seberang Alya.
Raka duduk di samping Alya.
Posisinya membuat Alya sedikit bingung.
Biasanya mereka duduk berhadapan.
Hari ini tidak.
Pelayan datang.
Dimas berkata,
“Alya, kamu mau pesan apa?”
Alya melihat menu.
“Yang ringan saja.”
Raka tiba-tiba berkata,
“Dia tidak suka makanan terlalu pedas.”
Alya langsung menoleh.
Raka terdiam.
Dimas mengangkat alis.
“Kok Pak Raka tahu?”
Raka menjawab santai,
“Dia pernah bilang.”
Alya mencoba mengingat.
Kapan?
Dia tidak ingat pernah mengatakan itu.
Namun Raka tampaknya tidak mau menjelaskan.
Dimas tersenyum.
“Wah, diperhatikan.”
Raka menatap Dimas.
“Dia asisten saya.”
Dimas tertawa.
“Iya, saya tahu.”
Alya merasa suasana tiba-tiba sedikit aneh.
Dia mengambil menu.
“Saya pesan sendiri saja.”
Raka diam.
Alya memesan makanan.
Beberapa menit kemudian, Dimas mulai bercerita tentang pekerjaan.
Alya tertawa beberapa kali.
Raka lebih banyak diam.
Namun setiap kali Alya tertawa, tatapannya tanpa sadar berpindah kepadanya.
Sampai akhirnya Dimas bertanya,
“Pak Raka, kok diam saja?”
“Saya dengar.”
“Tidak mau ikut ngobrol?”
“Tidak perlu.”
Alya menatapnya.
“Bapak kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa.”
Alya menghela napas.
“Bapak kalau bilang begitu…”
“Saya benar-benar tidak apa-apa.”
Dimas tersenyum kecil.
Dia sepertinya mulai memahami sesuatu.
---
PERJALANAN PULANG
Meeting selesai pukul 15.30.
Dimas memiliki agenda lain.
Sebelum pergi, dia berkata kepada Alya,
“Besok kalau sempat, kita bahas proposal yang tadi.”
“Baik.”
“Kalau tidak sibuk.”
“Siap.”
Dimas pergi.
Alya masuk ke mobil bersama Raka.
Begitu pintu tertutup, suasana menjadi hening.
Mobil berjalan.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Alya akhirnya tidak tahan.
“Pak.”
“Ya?”
“Bapak marah?”
“Tidak.”
“Kesal?”
“Tidak.”
“Tidak suka Pak Dimas?”
Raka langsung menoleh.
“Apa hubungannya?”
“Karena dari tadi Bapak diam.”
“Saya memang diam.”
“Lebih diam dari biasanya.”
Raka kembali melihat jalan.
“Tidak ada apa-apa.”
Alya menghela napas.
“Kalau Bapak bilang begitu sekali lagi, saya akan percaya.”
Raka tersenyum tipis.
“Bagus.”
Alya menyandarkan tubuh ke kursi.
Beberapa menit kemudian dia tertidur.
Raka melihat ke samping.
Alya tertidur dengan kepala sedikit miring ke jendela.
Wajahnya terlihat lebih lembut ketika tidak sedang mengomel.
Raka memandangnya beberapa detik.
Kemudian berkata kepada sopir,
“Pelan sedikit.”
Sopir mengangguk.
“Baik, Pak.”
Raka kembali melihat Alya.
Kemudian dia mengambil jaketnya dan meletakkannya di antara kepala Alya dan jendela agar tidak terbentur.
Setelah itu dia kembali menghadap depan.
Dia sendiri tidak sadar kenapa melakukan itu.
---
KANTOR
Mereka sampai pukul 17.00.
Alya terbangun.
“Sudah sampai?”
“Iya.”
Dia melihat jaket di samping kepalanya.
Kemudian menoleh kepada Raka.
“Ini?”
“Jaket saya.”
“Saya tahu.”
“Tidurmu hampir membentur jendela.”
Alya terdiam.
“Bapak memperhatikan?”
Raka mengangkat bahu.
“Kebetulan.”
Alya tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Mereka turun.
Alya berjalan menuju mejanya.
Namun Raka memanggil.
“Alya.”
Dia menoleh.
“Ya?”
“Besok jangan lupa sarapan.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Tadi kamu hampir tidak makan.”
“Oh.”
Alya tersenyum.
“Bapak perhatian sekali hari ini.”
Raka langsung kembali datar.
“Saya hanya tidak mau asisten saya sakit.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia pergi.
Raka berdiri di tempatnya.
Kalimatnya benar.
Setidaknya secara logika.
Dia hanya tidak ingin asistennya sakit.
Hanya itu.
---
PUKUL 18.00
Alya hendak pulang ketika ponselnya berbunyi.
Pesan dari Dimas.
> Besok sore ada waktu? Saya mau minta bantuan soal proposal.
Alya membalas:
> Bisa.
Belum sempat menyimpan ponsel, suara Raka terdengar.
“Kamu belum pulang?”
Alya menoleh.
“Sebentar lagi.”
Raka melihat ponsel di tangannya.
“Dimas?”
Alya terdiam.
“Iya.”
“Besok?”
“Iya.”
Raka mengangguk.
Kemudian berkata,
“Besok sore jangan.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Kamu ada pekerjaan dengan saya.”
“Pekerjaan apa?”
Raka berpikir sebentar.
“Laporan.”
“Laporan yang mana?”
“Laporan…”
Alya menatapnya.
Raka terdiam.
Alya akhirnya tersenyum.
“Bapak mengarang, ya?”
Raka menghela napas.
“Besok saya beri tahu.”
Alya tertawa.
“Baik, Pak.”
Dia memasukkan ponsel ke tas.
“Selamat malam.”
Raka mengangguk.
“Selamat malam.”
Alya pergi.
Raka menatapnya sampai masuk lift.
Begitu pintu lift tertutup, dia menghela napas.
Dia tahu dirinya baru saja melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.
Dia menciptakan alasan agar Alya tidak bertemu Dimas.
Dan dia tidak tahu kenapa.
---
MALAM
Pukul 21.30.
Raka duduk sendirian di ruang kerja rumahnya.
Laptop terbuka.
Namun pikirannya tidak berada di sana.
Dia mengingat kejadian hari itu.
Alya tertawa bersama Dimas.
Dimas memuji Alya.
Dimas mengajaknya makan.
Dimas mengirim pesan.
Dan dirinya sendiri…
merasa tidak nyaman.
Raka menyandarkan tubuh ke kursi.
“Ini tidak masuk akal.”
Dia mengambil ponsel.
Membuka chat Alya.
Nama Alya Anindita muncul di layar.
Dia menatapnya cukup lama.
Kemudian mengetik:
> Besok datang lebih awal.
Dia menghapus.
Mengetik:
> Besok ada meeting.
Hapus lagi.
Akhirnya dia menaruh ponsel.
“Kenapa saya jadi seperti ini?”
Dia tidak mendapatkan jawaban.
---
PAGI BERIKUTNYA
Alya datang pukul 07.55.
Di mejanya sudah ada sebuah map.
Dia membukanya.
Tulisan tangan Raka:
> Meeting internal pukul 16.00.
Alya mengerutkan kening.
Tidak ada agenda seperti itu kemarin.
Dia masuk ke ruang Raka.
“Pak.”
“Ya?”
“Meeting pukul empat ini apa?”
“Evaluasi proposal.”
“Proposal yang mana?”
“Proposal Dimas.”
Alya terdiam.
“Bapak ikut?”
“Ya.”
“Kenapa?”
Raka menatapnya.
“Karena saya direktur.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia berbalik.
Namun sebelum keluar, Raka berkata,
“Dan Alya.”
“Ya?”
“Jangan pergi dengan Dimas hari ini.”
Alya menoleh.
“Kenapa?”
Raka terdiam.
Untuk pertama kalinya dia tidak memiliki jawaban yang masuk akal.
Alya menunggu.
Akhirnya Raka berkata,
“Karena…”
Dia berhenti.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk beberapa detik, Raka hampir mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya dikatakan seorang atasan kepada bawahannya.
Namun akhirnya dia memilih jawaban paling aman.
“Karena saya membutuhkan kamu di sini.”
Alya mengangguk pelan.
“Baik, Pak.”
Dia keluar.
Raka menatap pintu.
Kalimatnya terdengar profesional.
Namun dia tahu—
alasan sebenarnya bukan pekerjaan.
Dan untuk pertama kalinya, Raka mulai takut pada perasaannya sendiri.
Karena kalau dia terus seperti ini…
batas antara bos dan asisten mungkin tidak akan bertahan lama.