NovelToon NovelToon
Mantan Ratu Pembunuh

Mantan Ratu Pembunuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:803
Nilai: 5
Nama Author: Joice 758

Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.

Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Satu Nama yang Mengubah Segalanya

Kata-kata Laras menggantung di udara, membuat seluruh mata tertuju padanya—baik pasukan pengejar maupun warga desa yang selama ini mengenalnya sebagai wanita tenang dan pendiam. Langkah kakinya perlahan turun dari teras, menapak jalan tanah yang berdebu dengan tegak tanpa ragu sedikit pun. Wibawa yang dulu pernah membuat ribuan orang tunduk kini kembali terpancar, membuat prajurit di depan sana tanpa sadar mundur selangkah.

"Kalian datang untuk mencariku, bukan mereka," ucapnya lantang, menunjuk ke arah warga desa yang masih berdesak-desakan ketakutan. "Biarkan desa ini tenang. Urusan kita selesai di antara kita saja."

Pria berjubah merah itu mengumpat pelan, berusaha menutupi rasa takutnya dengan amarah. "Kau pikir kau masih punya hak untuk memberi syarat, Ratu Bayangan? Kau hanyalah buronan yang bersembunyi di antara orang-orang biasa!" Ia memberi isyarat tangan, dan belasan prajurit segera maju mengepung Laras dan Dika. "Tangkap hidup-hidup! Tuan kita ingin melihat wajah bangkrutmu sebelum kau dihukum mati!"

Salah satu prajurit bergerak cepat menyerang dengan tongkat besi, namun Laras menepisnya dengan punggung tangannya seolah menepis lalat. Gerakannya begitu luwes namun kuat, membuat prajurit itu terhuyung mundur. Dika segera mengambil posisi di sampingnya, keduanya bergerak serasi seolah sudah berlatih bersama selama bertahun-tahun—padahal ini pertama kalinya mereka bertarung berdampingan.

"Jangan bunuh mereka jika bisa dihindari," bisik Dika saat mereka menghadapi serangan berikutnya. "Mereka hanya patuh pada perintah."

Laras mengangguk singkat. Ia pun hanya menggunakan tenaga yang cukup untuk melumpuhkan, bukan mencabut nyawa. Namun setiap kali ia menjatuhkan satu orang, rasa takut semakin menyebar di barisan lawan. Mereka mendengar cerita tentang kehebatan Ratu Bayangan, tapi baru sekarang melihatnya secara langsung—seorang wanita yang bergerak di antara serangan belasan orang tanpa tergores sedikit pun.

Pria berjubah merah itu semakin marah melihat anak buahnya kewalahan. Ia sendiri akhirnya mencabut pedang panjang dan berlari menyerang Laras dari samping, memanfaatkan celah saat Laras sedang menangkis serangan orang lain.

"Hati-hati!" teriak Dika.

Laras menoleh tepat waktu, namun pedang itu sudah terlalu dekat. Tiba-tiba sebuah batu kecil melesat cepat dari arah samping, mengenai gagang pedang hingga senjata itu meleset. Keduanya menoleh, dan melihat sekelompok anak desa yang diam-diam melempari pengejar dengan batu dari balik pagar. Warga desa lain pun perlahan maju, memegang cangkul, sabit, dan tongkat kayu—mereka tidak lagi takut, mereka berdiri untuk melindungi wanita yang selama ini dianggap keluarga sendiri.

"Kalian tidak boleh menyakiti Bu Laras!" seru salah satu pemuda desa dengan berani. "Dia orang baik di sini!"

Pria berjubah merah itu terbelalak tak percaya. "Kalian rela melindungi pembunuh berdarah dingin?"

"Dia yang kami kenal bukan seperti yang kau katakan!" jawab kepala desa yang baru saja datang. "Kami tidak peduli masa lalunya. Selama dia tinggal di sini, dia adalah bagian dari desa kami!"

Kekompakan warga desa itu membuat hati Laras terasa sesak dan hangat sekaligus. Selama ini ia mengira dirinya hanya beban dan orang yang ditakuti, tapi ternyata di tempat terpencil ini ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia dapatkan di masa kejayaannya: kepercayaan dan perlindungan tulus.

Dika menoleh padanya dengan senyum tipis. "Kau lihat? Kau tidak sendirian lagi."

Laras mengangguk, matanya kini berkilau penuh tekad. Ia tidak lagi bertarung demi kekuasaan atau balas dendam—ia bertarung demi rumah yang baru ia temukan.

"Pergilah sekarang," ucap Laras tegas kepada pemimpin pasukan itu. "Bawa pesan pada tuanmu. Aku akan datang menemuinya dengan caraku sendiri. Tapi jika kau atau siapa pun berani kembali mengganggu desa ini... kau akan melihat kembali apa yang dulu bisa kulakukan."

Ancaman itu disertai tatapan tajam yang membuat pria berjubah merah itu gemetar. Ia sadar, hari ini ia tidak akan menang. Dengan geram, ia memberi isyarat mundur, membawa pasukannya pergi meninggalkan desa yang kini berdiri tegak melawannya.

 

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!