Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Matahari pagi menyinari permukaan danau, tapi air di sisi utara tetap terlihat gelap dan bergejolak pelan—seolah ada arus tak kasat mata yang terus mengaduknya dari bawah. Rendra berdiri di tepi hutan bakau, memandang tempat yang disebut “pusaran mati” itu. Di permukaannya tidak terlihat apa pun, hanya air yang berputar perlahan di antara dua tanjakan tanah yang ditumbuhi pohon tinggi.
“Pintu masuknya tidak terlihat dari atas,” bisik Pak Haris sambil menunjuk ke arah tengah pusaran. “Terletak di bawah permukaan air, tersembunyi di balik bebatuan besar. Hanya bisa dibuka saat air surut terendah—yaitu pukul dua siang nanti, selama sekitar dua jam saja.”
Dika membuka peta digital di perangkatnya, lalu menggeleng pelan. “Masalahnya, seluruh area ini dipantau oleh sensor gerak dan kamera tersembunyi di dahan pohon. Lihat garis merah ini—setiap jalan masuk ke sana sudah dikunci secara elektronik. Jika kita melangkah satu langkah saja melewati batas, sinyal bahaya akan langsung sampai ke markas Bagas.”
“Lalu bagaimana cara mendekatinya?” tanya Surya. “Kita tidak bisa berenang begitu saja, apalagi ada arus yang kuat di sana.”
Bapak Harun yang sejak tadi diam sambil memperhatikan arah angin dan gerakan air, tiba-tiba tersenyum tipis. “Saya tahu caranya. Dulu saat masih muda, saya sering menyelam di sekitar sini. Ada saluran air tua yang menghubungkan danau dengan rawa di sebelah barat. Saluran itu tertutup sampah dan lumut tebal, jadi tidak terdeteksi alat canggih sekalipun. Tapi kita harus berenang di dalam air yang dingin dan penuh lumpur, tanpa boleh menimbulkan riak sedikit pun.”
Tanpa membuang waktu, mereka segera bersiap. Mereka membagi tugas: Dika akan tetap di pinggir hutan untuk memantau sinyal dan memberi peringatan jika ada pasukan yang datang, sementara Rendra, Surya, Pak Haris, dan Bapak Harun akan menyusup lewat saluran rahasia itu.
Saat jam menunjukkan pukul satu lewat lima puluh menit, mereka masuk ke dalam air. Suhu dingin langsung menusuk sampai ke tulang. Saluran itu sempit, kadang harus merangkak di bawah permukaan air, kadang berjalan membungkuk di jalur yang sedikit kering. Lumpur menempel di wajah dan pakaian mereka, tapi tidak ada yang mengeluh—hanya suara napas yang tertahan dan gerakan air yang pelan.
Setelah berjalan sekitar empat puluh menit, mereka sampai di bagian ujung saluran. Di depan mereka, terhalang oleh sekat batu, terlihat samar-samar pintu besi raksasa yang muncul perlahan dari dalam air—tanda air sudah surut.
“Itu dia,” bisik Pak Haris. “Tapi lihat di sekelilingnya—ada empat titik merah menyala. Itu kunci sensor yang harus dibuka secara bersamaan. Jika salah satu terlambat, sistem akan mengunci pintu selamanya.”
Mereka berempat membagi posisi di keempat sisi pintu. Rendra memegang alat pembuka kunci yang disiapkan Dika, sementara Pak Haris mengawasi waktu.
“Tiga… dua… satu… sekarang!”
Mereka menekan tombol bersamaan. Bunyi dengung pelan terdengar, lalu pintu besi itu bergerak perlahan ke samping, menampakkan lorong beton yang kering dan diterangi lampu darurat yang menyala otomatis.
Baru saja mereka melangkah masuk, suara ledakan kecil terdengar dari arah belakang. Sekat batu tempat mereka masuk tadi runtuh! Di mulut lorong, terlihat sosok orang berseragam hitam—bukan pasukan Bagas, melainkan kelompok lain yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
“Kalian tidak berhak membuka tempat ini!” teriak pemimpin mereka sambil menembakkan senjata pengejut ke arah lorong.
“Mundur ke dalam!” perintah Rendra cepat. Mereka berlari masuk lebih dalam, sementara peluru menghantam dinding beton di belakang mereka.
Pak Haris berhenti di depan sebuah panel besar di tengah lorong, wajahnya pucat saat melihat lambang yang terukir di sana—bukan lambat kepolisian atau dinas pemerintah, melainkan lambang matahari terbalik yang sama persis dengan yang ada di catatan Bapak Joko puluhan tahun lalu.
“Ini bukan sekadar gudang penyimpanan,” katanya dengan suara gemetar. “Ini markas pusat operasi mereka. Semua dokumen yang ada di sini bukan hanya bukti kejahatan masa lalu, tapi juga rencana mereka untuk bertahun-tahun ke depan.”
Lorong di depan bercabang menjadi dua. Satu jalan menuju ruang arsip tertulis, jalan lain menuju ruang server data inti. Tapi di tengah kebingungan itu, layar besar di dinding tiba-tiba menyala. Wajah seorang pria paruh baya dengan senyum dingin muncul di sana—wajah yang tidak asing bagi Rendra. Itu adalah orang yang pernah menjadi kapten atasannya sebelum dipromosikan ke jabatan pusat di Jakarta: Jenderal Retired Ardi.
“Selamat datang, tamu tak diundang,” suaranya tenang namun mengancam. “Sudah lama saya menunggu orang yang cukup berani untuk sampai ke sini. Sayangnya, apa yang kalian cari di sini bukanlah milik kalian untuk diambil. Dan apa yang kalian ketahui… harus terkubur bersama tempat ini.”
Layar mati seketika. Tiba-tiba lampu di seluruh lorong berkedip merah, dan suara peringatan berbunyi nyaring: “Pembersihan sistem dimulai dalam sepuluh menit. Semua akses akan ditutup permanen.”
Rendra menatap teman-temannya satu per satu. Mereka belum menemukan bukti yang lengkap, belum tahu rencana sebenarnya musuh, dan kini terjebak di dalam markas musuh dengan waktu yang sangat terbatas. Namun untuk pertama kalinya, mereka tahu nama satu lagi orang yang duduk di puncak kekuasaan gelap itu.
Perjalanan mereka semakin jauh, dan rahasia yang terbuka semakin berat untuk ditanggung sendirian.