"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2 Tatapan dari Jendela
Guai bergerak sebelum Angie sempat menutup kancing terakhir.
Jemari mungilnya mencengkeram kerah seragam, lalu menariknya ke bawah. Selendang tipis di dada Angie ikut bergeser. Sepotong kulit yang masih kemerahan dan lembap tersingkap di bawah cahaya koridor.
Tatapan Hansen jatuh tepat ke sana.
Hanya satu detik, tetapi cukup membuat udara di kamar bayi terasa berhenti.
Angie buru-buru membalik tubuh. Satu tangan menahan Guai, tangan lain menarik selendang sampai menutupi leher. "Maaf, Tuan Hansen."
Suara itu begitu pelan hingga nyaris tenggelam oleh dengung pendingin udara.
Hansen tidak menjawab. Hidungnya menangkap aroma hangat yang samar, berbeda dari parfum Celine dan berbeda dari wangi bedak bayi. Tatapannya beralih ke botol susu formula yang masih penuh di meja, lalu ke Guai yang tidur dengan sudut bibir basah.
"Kenapa kancingmu terbuka?" tanyanya.
Jantung Angie menghantam tulang rusuk. "Guai terus menangis. Dia menarik pakaian saya saat saya menggendongnya."
Itu bukan kebohongan sepenuhnya.
Celine menyelip melewati bahu Hansen. Matanya menyapu seragam Angie yang miring, lalu berhenti pada noda yang belum tertutup sempurna.
"Berikan Baby kepadaku."
Angie menegang. Ia teringat cara Celine memegang tengkuk Guai tadi malam. Namun, menolak di depan Hansen hanya akan membuat keadaan semakin mencurigakan.
"Dia baru tidur, Ci."
"Aku ibunya." Celine mengulurkan kedua tangan. "Aku tahu apa yang harus kulakukan."
Guai terbangun saat berpindah pelukan. Wajahnya mengerut. Begitu punggungnya menyentuh lengan Celine, ia langsung menangis dan mencari Angie dengan kedua tangan.
Celine tersenyum kaku. "Baby cuma kaget."
Ia menggoyang Guai, tetapi bayi itu semakin keras menjerit. Hansen memperhatikan tanpa bergerak. Di wajahnya tidak ada kepanikan, hanya penilaian yang membuat senyum Celine mulai goyah.
Angie tidak tahan. "Biar saya tenangkan dulu."
Guai kembali ke pelukannya. Tangis itu mengecil hampir seketika. Kepala mungilnya jatuh ke bahu Angie, seolah di situlah satu-satunya tempat aman di kamar tersebut.
Rahang Hansen mengeras.
"Kamu lihat?" Celine tertawa kecil, terlalu cepat. "Pengasuh memang lebih sering bersamanya. Wajar kalau Baby sedang manja."
Tangannya meraih lengan Hansen. Baru ujung kuku Celine menyentuh kulit di bawah lengan kemeja, tubuh Hansen langsung menolak. Ia mundur satu langkah dengan wajah membeku.
"Jangan sentuh aku."
Tangan Celine menggantung di udara. "Ko Hansen, aku cuma..."
"Guai sudah tenang. Kembali ke kamarmu."
"Tapi kamu baru pulang. Aku menunggumu sejak tadi."
Celine memaksakan senyum, lalu melangkah mendekat lagi. "Kita hampir tidak pernah punya waktu berdua. Besok aku sudah reservasi brunch di hotel. Kita bisa bawa Baby, ambil beberapa foto keluarga. Mama juga bilang publik perlu melihat kita baik-baik saja."
"Batalkan."
"Ko Hansen, semua orang mengira kita keluarga."
"Mengira bukan berarti benar."
Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan. Celine menoleh cepat kepada Angie. Ada saksi di kamar itu, seseorang yang menurutnya bahkan tidak pantas mendengar keretakan hubungan mereka.
Ia kembali meraih Hansen, kali ini hendak mengaitkan lengan seperti pasangan yang mesra. Hansen menepisnya sebelum sentuhan itu menempel penuh. Perutnya mengencang oleh rasa mual yang sudah ia kenal selama setahun terakhir. Dulu ia mengira tubuhnya hanya sedang lelah. Setelah berbagai pemeriksaan tidak menemukan kelainan fisik, ia berhenti mencari alasan.
Tubuhnya menolak semua perempuan.
Termasuk perempuan yang selama ini berdiri di rumahnya sambil menyebut diri sebagai ibu anaknya.
Hansen menatapnya datar. "Aku tidak memintamu menunggu."
Wajah Celine memucat, lalu memerah. Pandangannya beralih kepada Angie, seolah penghinaan itu adalah kesalahan pengasuh yang berdiri diam di dekat boks.
"Pastikan Baby tidak menangis lagi," katanya tajam sebelum berbalik pergi.
Hansen masih berada di ambang pintu.
Angie menunduk. "Ada yang lain, Tuan Hansen?"
Ia seharusnya menjawab tidak. Namun aroma hangat itu kembali mencapai hidungnya. Tubuh Hansen bereaksi lebih cepat daripada pikirannya, sebuah respons yang telah mati selama hampir satu tahun dan tidak pernah muncul di hadapan perempuan mana pun.
Napasnya berubah.
Kejutan pertama segera disusul rasa tidak percaya. Ia mencengkeram kusen pintu, memaksa wajahnya tetap tenang.
Bukan Celine.
Bukan para perempuan yang pernah sengaja didekatkan kepadanya.
Seorang pengasuh dengan seragam kusut justru membuat tubuhnya mengingat sesuatu yang tidak mampu dijelaskan semua pemeriksaan medis.
"Rapikan pakaianmu," katanya akhirnya.
Pintu tertutup sebelum Angie sempat menjawab.
Di koridor, Hansen berdiri beberapa detik dengan punggung menghadap kamar bayi. Ia tidak menyukai detak jantungnya sendiri. Ia lebih tidak menyukai fakta bahwa kulit Angie yang hanya terlihat sesaat masih tertinggal jelas di kepalanya.
Ia masuk ke kamar utama dan mengunci pintu.
Namun, tidur tidak datang.
Hampir satu jam kemudian, Hansen berdiri di depan jendela dengan segelas air yang belum disentuh. Kamar utama menghadap sayap belakang rumah. Di seberang taman sempit, sebuah jendela di lantai yang sama masih menyala.
Kamar Angie.
Ia tahu letak kamar para pekerja karena Pak Hasan pernah menunjukkan denah rumah, tetapi baru malam itu Hansen memperhatikan betapa jelas jendela tersebut terlihat dari tempatnya berdiri.
Tirai kamar Angie tidak tertutup rapat.
Di balik celahnya, Angie duduk di tepi ranjang dengan rambut terurai. Seragamnya sudah berganti kaus longgar. Sebuah baskom mengepulkan uap di meja kecil. Ia mencelupkan handuk, memerasnya, lalu menempelkannya ke dada di balik kain.
Wajah Angie menegang menahan sakit.
Hansen seharusnya menjauh.
Sebaliknya, tangannya mencengkeram tepi meja.
Angie mengangkat ujung kaus seperlunya untuk memindahkan kompres. Gerakannya tidak menggoda. Ia bahkan tampak terlalu lelah untuk menyadari tirainya terbuka. Namun, garis tubuh yang muncul di balik cahaya kuning membuat tengkuk Hansen panas.
Satu tetes hangat mengalir dari hidungnya.
Hansen menyentuhnya, lalu menatap darah di ujung jari dengan ekspresi tidak percaya.
"Sial."
Ia mengambil tisu, menekan hidungnya, kemudian menarik tirai kamarnya sendiri sampai tertutup. Rasa malu bercampur marah mengeras di dada. Apa pun yang terjadi pada tubuhnya, mengamati seseorang yang tidak tahu sedang dilihat bukan sesuatu yang bisa ia benarkan.
Namun satu pertanyaan terlanjur tumbuh.
Apa yang sakit di dada Angie, dan mengapa aroma di kamar bayi tadi terasa begitu familier?
Saat matahari mulai mengubah langit menjadi abu-abu pucat, Angie akhirnya menyelesaikan jadwal malam. Ia menyerahkan catatan minum dan tidur Guai kepada petugas pagi, lalu kembali ke kamar pekerja.
Air dari keran kamar mandi hanya dingin.
"Mati lagi?" gumamnya setelah memutar keran panas berkali-kali.
Kulitnya lengket, rambutnya berminyak, dan sisa ASI pada tubuhnya mulai membuatnya tidak nyaman. Ia tidak sanggup menunggu teknisi datang siang nanti. Lina pernah mengatakan kamar mandi kecil di samping kolam renang memiliki pemanas air terpisah.
Angie membawa pakaian bersih ke sana.
Udara pagi masih lembap. Permukaan kolam memantulkan cahaya biru, sementara lantai batu di depannya licin oleh embun dan cipratan air. Kamar mandi itu kosong. Angie menutup pintu, mandi secepat mungkin, lalu mengenakan kaus dan celana panjang tipis.
Ketika ia membuka pintu, seseorang berdiri tepat di luar.
Hansen mengenakan pakaian olahraga hitam. Rambutnya basah oleh keringat setelah berlari mengelilingi halaman.
"Tuan Hansen?"
Angie mundur refleks. Tumitnya menginjak genangan air.
Kakinya tergelincir.
Hansen bergerak cepat. Satu lengannya mengunci pinggang Angie, menarik tubuh perempuan itu sebelum kepalanya menghantam lantai. Telapak tangan Angie spontan menekan dada Hansen yang terbuka di bagian leher.
Kulit bertemu kulit.
Panas menjalar dari telapak tangannya ke seluruh lengan, lalu meledak di bawah kulit. Jantung Angie berpacu liar. Napasnya pendek, tengkuknya panas, dan kedua lututnya mendadak lemas.
Hansen merasakan tubuh dalam pelukannya bergetar.
"Kamu sakit?"
"Saya..." Angie mencoba menjauh, tetapi gesekan kecil itu justru membuat panas di kulitnya semakin tajam. "Saya tidak tahu."
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Setetes air dari rambut Angie jatuh ke punggung tangan Hansen. Aroma sabun bercampur wangi hangat yang ia kenali dari kamar bayi.
Untuk kedua kalinya malam itu, kendali Hansen retak.
Lalu sebuah jeritan meluncur dari lantai dua.
"Tuan Kecil!" Suara Bi Yanti pecah oleh kepanikan. "Tuan Kecil tidak bernapas!"
Wajah Angie kehilangan seluruh warnanya.
Ia melepaskan diri dari pelukan Hansen dan berlari ke arah rumah dengan rambut masih meneteskan air.