Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.
Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.
Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.
Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Malam dan Pengakuan
Gedung konvensi megah di kawasan Senayan berdiri tinggi dengan ribuan lampu hias yang memancarkan kemewahan kelas atas.
Malam itu, peringatan ulang tahun ke-40 Dirgantara Group digelar dengan skala yang sangat spektakuler. Karpet merah dibentangkan sepanjang lima puluh meter dari pelataran utama, menyambut deretan mobil-mobil mewah berpelat pejabat, diplomat, hingga para pengusaha papan atas Tanah Air.
Di dalam ruang ganti khusus di lantai dua gedung konvensi, Alina berdiri terpaku di depan cermin berbingkai ukiran emas. Tubuhnya dibalut gaun malam berlengan panjang berwarna biru malam (navy blue) berbahan sutra halus yang jatuh dengan sangat anggun.
Gaun itu dihiasi sulaman benang perak berbentuk motif garis geometris yang elegan, tidak mencolok namun memancarkan kelas yang teramat tinggi. Rambut hitamnya disanggul rapi dengan gaya modern, menyisakan beberapa helai halus yang membingkai leher jenjangnya.
Di lehernya, tidak ada kalung berlian mencolok, hanya liontin cincin emas putih pemberian Devan yang kini tergantung anggun di luar gaunnya, bersinar lembut tertimpa cahaya lampu.
Pintu ruang ganti terbuka pelan. Devan melangkah masuk. Pria itu tampil sangat tampan dan berwibawa dalam balutan tuxedo hitam kustom buatan penjahit ternama Savile Row, dipadukan dengan dasi kupu-kupu hitam dan pin perak berlogo Dirgantara di kerahnya.
Langkah Devan terhenti saat matanya menangkap sosok Alina. Untuk beberapa detik, sang CEO terpana, matanya menyapu penampilan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan binar kekaguman yang tak mampu ia sembunyikan.
"Kamu ... luar biasa cantik, Alina," bisik Devan rendah. Ia melangkah mendekat, menghentikan langkahnya tepat di belakang Alina, memandangi bayangan mereka berdua di dalam cermin besar.
Alina membalikkan badannya perlahan. Tangannya yang dingin dan gemetar memegang lengan tuxedo Devan. "Devan ... saya benar-benar gugup. Apakah ini pilihan yang tepat? Jika kita melangkah keluar ke ruang utama sekarang, tidak akan ada jalan untuk kembali."
Devan menggenggam kedua tangan Alina, mengalirkan rasa hangat dan kepastian yang luar biasa melalui sentuhannya. Ia menundukkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Alina yang bening.
"Aku tidak pernah ragu dengan keputusanku, Alina," tegas Devan dengan suara bass yang sangat mantap. "Malam ini, kita tidak lagi bersembunyi. Kamu tidak perlu takut pada siapa pun, baik itu Paman Hendra, Arimbi, atau para pemburu berita. Cukup pegang tanganku dan tatap mataku."
Alina menarik napas panjang, mengusir sisa-sisa kecemasan yang menyergap dadanya. Melihat keteguhan dan cinta yang terpancar dari mata Devan, ketakutan Alina perlahan melumer, berganti menjadi keberanian yang utuh.
"Baik, Devan. Saya akan berdiri di sampingmu," jawab Alina tulus.
Devan tersenyum tipis, sebuah senyuman langka yang sangat indah. Ia menekuk lengan kerjanya, memberi isyarat agar Alina melingkarkan tangannya di sana. Dengan anggun, Alina menyambut lengan suaminya.
Sementara itu, di ballroom utama yang penuh dengan ratusan tamu undangan dan puluhan wartawan media nasional, suasana tampak sangat ramai. Pak Hendra berdiri di tengah-tengah kelompok investor senior bersama Arimbi Rekso.
Arimbi tampil sangat memukau dengan gaun malam berwarna merah menyala yang dirancang khusus untuk menarik perhatian seluruh isi ruangan. Senyum kemenangannya terkembang lebar saat beberapa wartawan mulai berkumpul di sekeliling mereka.
"Pak Hendra," panggil salah satu wartawan senior dari media bisnis terkemuka.
"Apakah rumor mengenai pengumuman aliansi besar antara Dirgantara Group dan Rekso Group malam ini benar adanya? Apakah acara malam ini sekaligus menjadi momen pertunangan Pak Devan dan Nona Arimbi?"
Pak Hendra tertawa renyah, membetulkan posisi jasnya dengan gestur percaya diri. "Hahaha ... Kalian para jurnalis memang selalu cepat mencium berita hangat. Saya hanya bisa katakan, malam ini akan ada kejutan besar bagi masa depan stabilitas saham Dirgantara Group. Keluarga Rekso dan keluarga besar Dirgantara sudah sepakat untuk menyatukan visi."
Arimbi memberikan senyuman anggun yang terkesan rendah hati di depan kamera. "Kami memohon doa terbaik dari masyarakat dan rekan bisnis sekalian untuk langkah besar ini."
Pak Hendra melirik jam tangannya. Pukul delapan malam tepat. Ia tersenyum sinis. Ia telah menyewa puluhan wartawan dan menyiapkan tayangan siaran langsung untuk mendesak Devan di atas panggung. Dalam hitungan menit, Devan tidak akan punya pilihan lain selain menerima pertunangan ini jika tidak ingin nilai saham perusahaan merosot tajam akibat skandal penolakan publik.
Tiba-tiba, lampu utama ballroom sedikit diredupkan, digantikan oleh lampu sorot tunggal yang mengarah ke pintu masuk balkon utama di lantai atas, tempat tangga melingkar emas menuju panggung utama.
Suara pembawa acara memecah kegaduhan. ("Hadirin yang terhormat, marilah kita sambut, Direktur Utama dan Chief Executive Officer PT Dirgantara Megah Karya... Tuan Devan Dirgantara!")
Tepuk tangan riuh membahana di seluruh penjuru ruangan. Puluhan lampu kilat kamera langsung mengarah ke atas tangga.
Pak Hendra dan Arimbi tersenyum puas, bersiap melangkah menuju panggung utama untuk berdiri di samping Devan. Namun, saat sosok Devan muncul di puncak tangga, senyum di bibir Arimbi seketika membeku.
Devan tidak berjalan sendirian.
Di sebelah kirinya, seorang wanita muda yang sangat anggun melangkah dengan penuh percaya diri, melingkarkan tangannya di lengan Devan.
Pakaian sutra biru malam wanita itu berkilauan halus di bawah lampu sorot, memancarkan pesona sederhana yang teramat berkelas. Dan yang paling mengejutkan, Devan menggenggam jemari wanita itu dengan begitu erat, menunjukkan sikap protektif yang tak terbantahkan.
Ruang ballroom yang tadinya riuh mendadak diliputi oleh cicit hening ketakjuban yang mencekam.
"Siapa wanita itu?!" bisik salah seorang komisaris senior panik. "Kenapa bukan Nona Arimbi yang digandeng Pak Devan?"
"Bukankah itu ... staf biasa dari divisi Pemasaran?" bisik seorang staf yang juga hadir di acara tersebut, terbelalak tak percaya.
Pak Hendra membelalakkan matanya hingga hampir melompat keluar dari kelopaknya. Wajah Arimbi berubah dari merah menjadi sepucat kertas linen. Tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih, menghancurkan gelas sampanye yang dipegangnya hingga retak kecil.
Devan membimbing Alina melangkah turun menyusuri tangga melingkar dengan tenang dan mantap. Setiap langkah mereka bagaikan dentuman takdir yang menghancurkan seluruh skenario yang telah disusun rapi oleh Pak Hendra dan keluarga Rekso.
Kilatan lampu kamera meledak bak kembang api. Para jurnalis berdesakan mendekati garis pembatas panggung, saling berebut mengambil foto momen yang teramat langka tersebut.
Ketika mencapai podium utama, Devan berdiri di depan mikrofon emas. Ia menatap ratusan tamu di depannya dengan pandangan mata yang dingin, tegas, dan penuh wibawa seorang penguasa sejati. Tangan kirinya tetap merangkul pinggang Alina dengan posesif, membiarkan seluruh dunia melihat kedekatan mereka.
"Selamat malam, para pemegang saham, mitra bisnis, dan rekan-rekan media sekalian," suara bass Devan bergema jernih melalui pengeras suara ruangan. "Terima kasih telah hadir di malam peringatan empat puluh tahun berdirinya Dirgantara Group."
Suasana ruangan sangat hening, menunggu setiap kata yang akan keluar dari bibir sang CEO.
"Saya tahu, beberapa hari terakhir ini beredar banyak spekulasi dan rumor di media mengenai aliansi saham, investasi, dan kehidupan pribadi saya," Devan melanjutkan, matanya melirik sekilas ke arah Pak Hendra dan Arimbi yang berdiri mematung di barisan depan. "Malam ini, di depan seluruh jajaran direksi dan publik, saya ingin meluruskan satu hal penting demi menjaga integritas nama besar Dirgantara."
Devan memalingkan wajahnya menatap Alina. Tatapan mata Devan yang semula dingin seketika berubah menjadi begitu hangat, lembut, dan penuh cinta yang dalam,vsebuah ekspresi yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun di lingkungan korporat.
"Tidak akan ada aliansi pertunangan politik dengan pihak manapun," tegas Devan, suaranya kembali menggema nyaring. "Karena saya sudah memiliki pendamping hidup yang sah."
BZZZZT!
Ruangan seketika meledak dalam kegemparan luar biasa. Suara kasak-kusuk dan seruan terkejut bergema di mana-mana. Puluhan kamera bergerak semakin brutal mengabadikan momen tersebut.
Devan mengangkat tangan kanan Alina, memperlihatkan cincin pernikahan emas putih yang melingkar sempurna di jari manis Alina, serupa dengan cincin yang melingkar di jari manis Devan sendiri.
"Wanita terpuji yang berdiri di samping saya malam ini adalahAlina Dania Dirgantara," lanjut Devan dengan nada suara yang membumbung tinggi penuh kebanggaan. "Istri sah saya yang telah terdaftar secara hukum dan agama. Beliau adalah Nyonya Dirgantara yang sebenarnya, satu-satunya wanita yang memegang hak penuh atas hidup saya dan pendamping resmi saya dalam memimpin perusahaan ini."
Alina menatap Devan dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata haru menetes membasahi pipinya, namun senyuman paling bahagia terukir di bibirnya.
Pengakuan terbuka di depan publik ini adalah hadiah terindah sekaligus bukti cinta tertinggi yang pernah ia terima dari seorang Devan Dirgantara.
Di barisan depan, Arimbi tidak sanggup lagi menahan rasa malu yang menghancurkan harga dirinya. Dengan napas tersengal-sengal dan mata memerah, ia membalikkan badan dan berlari keluar dari ballroom utama, mengabaikan panggilan para pengawalnya.
Sementara itu, Pak Hendra berdiri gemetar oleh amarah yang tak tertahankan. Rencana besarnya untuk merebut kendali saham perusahaan hancur berantakan dalam semalam. Pengakuan Devan secara siaran langsung ini telah menutup rapat seluruh celah politik yang ingin ia manfaatkan.
Di atas panggung utama, di bawah hamparan kilatan lampu kamera dan tepuk tangan riuh dari para tamu yang terpesona oleh keberanian sang CEO, Devan menundukkan kepalanya. Pria itu mengecup kening Alina dengan lembut dan lama sebuah stempel keabadian atas janji pernikahan mereka.
Rahasia yang selama ini tersembunyi di balik dinding kaca kini telah runtuh sepenuhnya. Di tengah badai dan kilatan dunia yang menyaksikan, Alina Dania tidak lagi berjalan di dalam bayang-bayang. Ia telah resmi berdiri di puncak dunia, berdampingan dengan pria yang dicintainya, sebagai Nyonya Dirgantara yang tak tergoyahkan.