Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 : Misi Pertama
Papan pengumuman Guild Fenwick dipenuhi lembaran-lembaran kertas berbagai warna, masing-masing menandakan tingkat kesulitan misi yang berbeda. Sasuke berdiri di depannya, matanya menyapu deretan misi berperingkat Besi—jauh lebih sederhana dari apa pun yang pernah ia hadapi sejak reinkarnasinya, namun ia sengaja memilih untuk tetap di jalur ini.
"Bagaimana dengan ini?" Saviera menunjuk salah satu lembaran, alisnya sedikit terangkat membacanya. "Mengawal rombongan pedagang menuju Desa Millbrook, tiga hari perjalanan. Bayarannya lumayan untuk misi peringkat rendah."
Sasuke membaca lembaran itu sekilas. Sederhana, aman, dan yang terpenting—melewati beberapa desa kecil di sepanjang jalan, tempat kabar dan gosip biasanya menyebar lebih cepat daripada di kota-kota besar. Kesempatan bagus untuk mengumpulkan informasi sambil tetap menyamar sebagai petualang biasa.
"Ambil ini," Sasuke memutuskan.
---
Rombongan pedagang yang mereka kawal terdiri dari tiga gerobak besar penuh muatan kain dan rempah-rempah, dipimpin oleh seorang pedagang gemuk bernama Tuan Harwick yang terus-menerus mengeluh soal harga pajak jalan sepanjang perjalanan, sesekali menyelipkan pujian berlebihan pada "petualang muda yang tampan" begitu ia menyadari wajah Sasuke lebih dekat.
Elaina duduk di salah satu gerobak, kakinya menjuntai riang sambil bermain dengan seekor kucing kecil yang entah bagaimana ikut menyelinap naik sejak mereka berangkat, tertawa setiap kali kucing itu mengejar ujung pitanya yang berkibar tertiup angin.
"Papa lihat! Kucingnya suka pita Elaina!" serunya, mengangkat kucing kecil itu tinggi-tinggi dengan bangga.
"Hati-hati, jangan sampai jatuh," Sasuke mengingatkan dari sisi gerobak, berjalan santai sejajar dengan roda-rodanya, matanya tetap waspada memindai sekeliling meski nadanya tenang.
Saviera berjalan di sisi lain, sesekali membantu menenangkan kuda-kuda penarik gerobak yang gelisah, kemampuannya berkomunikasi dengan makhluk hidup lewat sentuhan cahaya lembutnya membuat perjalanan jauh lebih lancar dari yang diharapkan Tuan Harwick.
"Kalian benar-benar tim yang hebat," Tuan Harwick berkomentar, menyeka keringat dari dahinya meski hari tidak terlalu panas. "Jarang sekali menemukan petualang sekeluarga begini. Biasanya orang-orang seperti kalian menghindari bepergian dengan anak kecil."
"Kami bukan petualang biasa," Saviera menjawab sambil tersenyum, tanpa menjelaskan lebih jauh.
Ketika mereka singgah sejenak di sebuah desa kecil di tengah perjalanan untuk mengisi ulang perbekalan, keramahan penduduk desa terhadap rombongan mereka terasa sedikit berlebihan dari yang seharusnya. Beberapa gadis muda penjaga toko sengaja berlama-lama melayani Sasuke, wajah mereka memerah setiap kali ia mengucapkan terima kasih. Seorang pemuda petani, di sisi lain, dengan berani mendekati Saviera sambil menawarkan bantuan membawakan keranjang belanjaannya—tawaran yang sopan namun jelas disertai maksud lain, dilihat dari caranya berulang kali memuji "kecantikan yang jarang ditemukan di desa seperti ini".
Sasuke, yang kebetulan lewat membawa perbekalan lain, hanya melirik sekilas ke arah pemuda itu tanpa berkata apa-apa—namun entah kenapa, tatapan singkat itu saja sudah cukup membuat si pemuda petani buru-buru pamit dengan alasan mendadak ada pekerjaan lain yang harus diselesaikan.
Sementara itu, Elaina, yang duduk di pangkuan seorang nenek pemilik toko roti sambil mengunyah kue gratis, berhasil membuat separuh penduduk desa berhenti sejenak hanya untuk mengomentari betapa menggemaskannya dia—pipinya yang digemaskan berkali-kali oleh ibu-ibu yang lewat, membuatnya cemberut kecil namun tetap terlalu sopan untuk protes.
"Sepertinya kita menarik banyak perhatian akhir-akhir ini," Saviera berkomentar geli begitu mereka kembali melanjutkan perjalanan, melirik jenaka ke arah Sasuke.
"Aku tidak melakukan apa pun," Sasuke menjawab datar, meski sedikit rona canggung samar-samar terlihat di telinganya.
"Aku tidak bilang kau melakukan sesuatu," Saviera menggoda, tersenyum lebar melihat reaksinya.
---
Hari kedua perjalanan berjalan lancar hingga senja, ketika mereka mendirikan perkemahan sementara di tepi jalan, dikelilingi pepohonan rindang yang memberi perlindungan alami. Sasuke duduk di dekat api unggun kecil yang ia nyalakan, mengawasi sekeliling sementara Tuan Harwick dan para pembantunya sibuk menyiapkan makan malam sederhana.
Di sinilah, untuk pertama kalinya, Sasuke mendengar sesuatu yang menarik perhatiannya.
"...dengar-dengar ada kekacauan besar di Kerajaan Aldric bulan lalu," salah satu pembantu Tuan Harwick berbisik pada rekannya, cukup keras hingga terdengar oleh Sasuke yang duduk tidak jauh dari mereka. "Katanya seluruh pasukan istana lenyap dalam semalam. Tidak ada yang tahu penyebabnya."
"Aku dengar itu juga," rekannya menyahut, suaranya merendah penuh rasa takut. "Beberapa saksi bilang mereka melihat sesosok berjubah hitam dengan mata merah menyala di reruntuhan istana sebelum semuanya sunyi. Tidak ada yang berani mendekat untuk memastikan."
Sasuke, yang tadinya hanya setengah mendengarkan, kini duduk tegak, seluruh perhatiannya tertuju penuh pada percakapan itu.
*Mata merah menyala. Jubah hitam.*
Bukan gambaran yang cocok dengan citra yang pernah ditunjukkan klon Eternity padanya di lantai seratus—tapi justru karena itulah rasa penasarannya semakin besar. Sesuatu, atau seseorang, yang cukup kuat untuk melenyapkan seluruh pasukan istana dalam semalam, namun sama sekali bukan sosok yang sedang ia cari.
*“Ada ancaman lain di dunia ini.”*pikirnya\, dahinya berkerut. “Bukan urusanku secara langsung, tapi...”
Ia bangkit perlahan, mendekati kedua pembantu itu dengan langkah setenang mungkin, berusaha tidak terkesan terlalu ingin tahu.
"Maaf," Sasuke menyela, suaranya santai. "Aku tidak sengaja mendengar. Di mana letak Kerajaan Aldric ini?"
Kedua pembantu itu menoleh, sedikit terkejut, sebelum salah satu dari mereka menjawab. "Cukup jauh dari sini, Tuan Petualang. Ke arah timur laut, melewati Benua Manusia bagian tengah. Perjalanan sekitar dua minggu dari Fenwick, mungkin lebih."
"Kau tertarik dengan kejadian itu?" yang satu lagi bertanya penasaran.
"Sekadar rasa ingin tahu," Sasuke menjawab singkat, kembali duduk di dekat api unggun, pikirannya kini melayang jauh.
Saviera, yang duduk tidak jauh darinya dan mendengar sebagian percakapan itu, menatapnya dengan tatapan bertanya. Ia tidak berkata apa-apa saat itu, namun sesuatu di wajah Sasuke—ketegangan halus yang jarang sekali muncul—membuatnya menyimpan pertanyaan itu untuk nanti, ketika Elaina sudah tertidur.
---
Malam itu, setelah Elaina akhirnya tertidur di dalam salah satu gerobak yang dialasi selimut tebal, Saviera duduk di samping Sasuke di dekat api unggun yang mulai meredup.
"Kau memikirkan sesuatu," ia berkata pelan, bukan pertanyaan.
Sasuke menghela napas, menatap api yang menari-nari di hadapannya. "Cerita yang kudengar tadi," ia akhirnya berkata. "Tentang Kerajaan Aldric. Sesuatu di luar sana cukup kuat untuk melenyapkan seluruh pasukan istana dalam semalam, dan aku bahkan tidak tahu apa itu."
Saviera terdiam sejenak, mencerna informasi itu. "Kupikir tadi ada hubungannya dengan orang yang kau cari."
"Bukan," Sasuke menjawab, menggelengkan kepala pelan. "Orang yang kucari punya ciri yang berbeda jauh dari yang mereka gambarkan tadi. Ini... sesuatu yang lain. Ancaman lain, mungkin, yang kebetulan muncul di dunia yang sama."
"Kau yakin ingin mencari tahu lebih jauh soal itu?" Saviera bertanya, suaranya penuh kekhawatiran yang tidak ia sembunyikan. "Bukan urusanmu secara langsung, bukan?"
"Aku tidak berencana mengejarnya sekarang," Sasuke menjawab jujur. "Aku bahkan tidak tahu seberapa kuat sosok itu sebenarnya, dan aku tidak suka bertindak gegabah tanpa informasi yang cukup. Tapi mengetahui apa yang terjadi, mengumpulkan informasi sedikit demi sedikit—itu sesuatu yang bisa kulakukan sekarang, tanpa harus terburu-buru."
Saviera menatapnya lama, sesuatu yang hangat dan penuh pengertian di matanya. "Kalau begitu, kita akan mengumpulkan informasi itu bersama-sama. Kau tidak perlu memikul semuanya sendirian, kau tahu."
Kata-kata sederhana itu menghantam sesuatu di dalam diri Sasuke lebih dalam dari yang ia duga—pengingat bahwa untuk pertama kalinya sejak kematiannya, ia tidak lagi menjalani misi ini seorang diri.
"Terima kasih," ia berkata pelan, senyum kecil yang tulus muncul di wajahnya, diterangi cahaya api unggun yang hangat.
---
*Bersambung ke Bab 13: Bayang-Bayang Mata Merah*