Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana Kamu Bisa Setampan ini
Handoko akhirnya dibawa ke kantor polisi. Tepat sebelum dia dimasukkan ke dalam mobil patroli, aku sempat meludah ke arahnya.
Melihat tindakanku, petugas polisi yang mengawal hanya bisa mengerutkan dahi sejenak, seolah hendak menegur. Namun, pada akhirnya dia mengurungkan niat dan langsung masuk ke dalam mobil tanpa sepatah kata pun.
"Coba tebak, apa yang ingin dikatakan polisi muda itu kepadamu tadi?"
Di tengah keheningan malam, suara Bastian terdengar berat dan memikat dari belakangku.
"Mungkin dia kagum dan menganggapku wanita perkasa," jawabku sambil menoleh. Aku menegakkan leher dengan ujung bibir sedikit terangkat, tidak bisa menyembunyikan rasa puas di mataku.
"Bukan. Dia hanya berpikir kamu terlihat seperti orang bodoh atau sakit jiwa." Bastian melirikku sekilas. Sudut bibir tipisnya terangkat sangat tipis, hampir tak kentara, sebelum dia melangkah mendahuluiku.
Saat Bastian berjalan pergi, pandanganku otomatis tertuju pada punggungnya yang tegap, bahunya yang lebar, dan postur tubuhnya yang proporsional. Dia hanya mengenakan setelan jas kantor biasa, tetapi entah bagaimana pakaian itu selalu terlihat mewah saat melekat di tubuhnya.
Aku selalu suka memperhatikan punggung Bastian. Bahkan pada satu titik, aku sempat terobsesi dengan pemandangan itu.
Saat aku sedang melamun, Bastian mendadak menghentikan langkahnya dan berbalik. "Kamu masih mau lembur di sini?"
Lamunanku langsung buyar. Aku tersenyum lebar, lalu dengan patuh mengekor di belakangnya seperti seorang asisten yang setia saat kami berjalan menuju mobil.
Di perjalanan pulang, Bastian yang memegang kemudi. Aku memiringkan kepala, menatap wajahnya dari samping dengan saksama. Setelah beberapa saat, aku bergumam, "Pak Bastian, bagaimana bisa kamu terlihat setampan ini?"
Bastian melirikku dengan mata menyipit. "Kurangi sikap genitmu itu, dan seka air liurmu."
Senyumku semakin lebar. Aku bahkan memberanikan diri mengulurkan tangan untuk mencubit pelan pipinya. "Nanti malam kita makan gulai otak sapi kesukaanmu, ya?"
Mendengar itu, dahi Bastian langsung berkerut dalam. "Sejak kapan aku suka makan makanan seperti itu?"
Senyum di wajahku seketika membeku. Telapak tanganku mendadak terasa dingin, dan rasanya seperti disiram seember air es di tengah malam. Kesadaranku langsung pulih sepenuhnya.
Melihat perubahan ekspresiku yang mendadak pucat dan serba salah, kerutan di dahi Bastian perlahan mengendur. Dengan nada yang agak canggung, dia menambahkan, "Tapi kalau kamu memang sedang ingin memakannya, aku akan menemanimu sedikit."
"Boleh," jawabku seadanya, lalu segera memalingkan wajah untuk menatap keluar jendela mobil.
Begitu aku membuang muka, senyum yang tersisa di bibirku lenyap tanpa bekas. Pikiranku sempat kacau lagi; aku kembali salah mengira orang lain sebagai almarhum kekasihku. Akhir-akhir ini, aku merasa semakin kesulitan untuk memisahkan sosok Bastian dengan bayangan masa lalu yang ada di kepalaku.
Malam ini, kami berdua terpaksa menyantap sepiring kecil gulai otak sambil menahan rasa mual masing-masing. Begitu selesai, aku langsung menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi untuk berkumur dengan cairan pencuci mulut beraroma mint, sementara Bastian berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke luar halaman, menggoyangkan setengah gelas anggur merah di jarinya untuk menghilangkan rasa enek.
"Baunya benar-benar mengganggu," gumamku pelan pada diriku sendiri saat keluar dari kamar mandi.
Aku berjalan mendekati Bastian dari belakang, menenangkan debaran di dadaku, lalu melingkarkan kedua lenganku untuk memeluk pinggangnya erat-erat. Aku menyandarkan pipiku pada punggung tegapnya.
Selama tiga tahun bersama Bastian, aku sudah berulang kali memeluknya seperti ini dari belakang, jadi dia sama sekali tidak merasa risi atau terkejut.
"Kamu mau pergi lagi malam ini?" tanyaku pelan, sambil menahan napas sejenak setelah kalimat itu keluar dari mulutku.
"Memangnya kamu ingin aku pergi?" Bastian membalikkan badannya. Jarinya mencubit daguku dengan lembut, mengangkatnya sedikit, lalu mendaratkan ciuman di bibirku.
Aku memanfaatkan momen itu untuk merapatkan tubuh, beralih mengalungkan kedua tanganku di lehernya. "Tentu saja aku tidak ingin kamu pergi. Kita sudah menikah sekarang, jadi aku ingin kamu ada di rumah setiap hari."
Mendengar jawabanku, sebuah senyuman akhirnya muncul di wajah Bastian yang biasanya terlihat dingin dan kaku. "Aku tidak akan pergi."
Hubungan fisik di antara kami selalu berjalan dengan sangat baik, terutama karena kami menghabiskan sebagian besar waktu bersama di atas tempat tidur. Aku tidak tahu mengapa dia selalu memiliki gairah yang begitu besar, tetapi harus kuakui, aku menyukai kehangatan dan rasa aman yang muncul saat kulit kami saling bersentuhan di bawah selimut.
Namun, di tengah malam, sekitar pukul dua pagi, ponsel yang kuletakkan di atas meja nakas samping tempat tidur mendadak menyala. Setelah getaran pendek, sebuah pesan teks masuk:
"Mara, Ayah Sedang sakit."
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik