NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Air Mata Yang Tertahan

Suara pisau yang beradu teratur dengan talenan kayu menjadi satu-satunya melodi yang menggema di area dapur bersih penthouse malam itu. Ayana sibuk memotong bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit dengan gerakan yang sangat terlatih. Rambut cokelatnya yang dicepol asal-asalan menyisakan beberapa anak rambut yang jatuh di sekitar pelipis, membuat penampilannya malam ini terlihat jauh berbeda dari sosok Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang biasa memakai jas putih kaku di rumah sakit.

Di atas kompor induksi yang mewah, sebuah wajan antilengket sudah mulai mengeluarkan asap tipis, memanaskan sesendok minyak zaitun.

"Oke, bawang masuk..." gumam Ayana pada diri sendiri.

Begitu irisan bawang menyentuh minyak panas, suara desisan berisik langsung terdengar, disusul oleh aroma harum masakan rumah yang sangat khas. Bagi Ayana, menumis bumbu adalah terapi terbaik untuk melepas penat setelah seharian menghadapi omelan pasien atau tekanan dari jajaran direksi rumah sakit.

Tepat saat Ayana baru saja memasukkan seikat kangkung segar ke dalam wajan, sebuah langkah kaki yang ringan terdengar mendekat.

Ayana menoleh. Arka sudah kembali ke dapur. Pria itu kini telah menanggalkan setelan jas abu-abunya yang mahal. Sebagai gantinya, ia mengenakan kaus polos berwarna hitam lengan pendek dan celana panjang katun santai berwarna abu-abu muda. Rambutnya yang biasa ditata klimis menggunakan pomade kini dibiarkan jatuh berantakan menutupi sebagian dahinya, memberikan kesan yang jauh lebih muda, kasual, dan... jujur saja, kadar ketampanannya mendadak naik drastis di mata Ayana.

Arka berjalan mendekat, lalu mendudukkan dirinya di salah satu kursi bar yang tinggi, tepat di seberang meja marmer dapur tempat Ayana sedang memasak. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, memperhatikan setiap gerakan tangan Ayana dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aroma masakanmu... cukup mengganggu konsentrasi saya," ujar Arka datar, meskipun matanya tidak sedetik pun lepas dari wajan.

Ayana mendengus pelan sambil mengaduk kangkungnya dengan spatula. "Mengganggu karena harum dan membuat cacing di perut Anda mendadak demo besar-besaran, kan? Ngaku saja, Pak Bos. Gengsi Anda itu tidak bisa dimakan."

Arka tidak membalas. Ia hanya terus memandangi kepulan asap tipis yang membawa aroma perpaduan bawang dan cabai ke seluruh penjuru ruangan. Sudah berapa lama ia tidak merasakan atmosfer seperti ini di rumahnya sendiri? Lima tahun? Sepuluh tahun? Atau mungkin sejak ia masih mengenakan seragam sekolah dasar?

Tempat tinggalnya selama ini selalu terasa seperti kamar hotel berbintang yang mahal namun mati. Tidak ada suara desisan wajan, tidak ada aroma bawang yang ditumis, dan tidak ada seseorang yang menunggunya atau memasakkannya makanan hangat setelah ia lelah bertarung dengan dunia bisnis yang kejam di luar sana.

"Kenapa tumis kangkung?" tanya Arka tiba-tiba, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.

Ayana menambahkan sejumput garam dan sedikit kaldu jamur non-MSG ke dalam masakannya sebelum menjawab. "Karena kangkung itu sayuran yang paling cepat matang, kaya akan serat, dan mengandung zat besi yang bagus untuk sirkulasi darah Anda. Selain itu, masakan rumah yang sederhana seperti ini jauh lebih ramah untuk dinding lambung Anda yang sudah tipis itu ketimbang steak daging sapi setengah matang yang biasa Anda kunyah."

Ayana mematikan kompor induksinya, lalu memindahkan tumis kangkung yang masih mengepul hangat itu ke atas sebuah piring keramik putih. Di samping piring kangkung, ia juga meletakkan semangkuk sup ayam sisa siang tadi yang sudah ia panaskan kembali, lengkap dengan dua porsi nasi tim hangat.

"Nah, silakan dinikmati, Yang Mulia Arkananta Pradipta," ujar Ayana dengan nada yang dibuat-buat seperti seorang pelayan istana, menyodorkan sepasang sendok dan garpu ke arah Arka.

Arka menerima sendok itu. Ia menatap makanan di depannya selama beberapa detik, lalu menyuapkan sesendok nasi tim bersama sedikit tumis kangkung ke dalam mulutnya.

Ayana memperhatikan ekspresi wajah Arka dengan saksama, menahan napasnya tanpa sadar. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya ia memasak untuk seorang pria yang standarnya selalu berada di tingkat paling atas dalam segala hal. Bagaimana kalau rasanya terlalu asin? Bagaimana kalau cabainya terlalu pedas untuk ukuran lambungnya?

Namun, Arka tidak berkomentar apa-apa. Pria itu hanya terus mengunyah perlahan, menelan makanannya, lalu kembali mengambil suapan kedua. Gerakannya terlihat tenang, namun Ayana bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dari cara Arka makan malam ini. Pria itu makan dengan sangat khusyuk, seolah-olah ia sedang menikmati setiap bulir nasi dan potongan sayur itu sebagai hal paling berharga di dunia.

"Gimana? Enak tidak?" tanya Ayana akhirnya, tidak tahan dengan keheningan yang melanda.

Arka menghentikan sendoknya sejenak. Ia mendongak, menatap Ayana yang kini sedang bertumpu pada kedua tangannya di atas meja bar dengan wajah penuh rasa penasaran.

"Rasa masakan ini..." Arka menggantungkan kalimatnya. Matanya yang biasanya tajam dan sedingin es mendadak bergetar halus. Sebuah kabut tipis tampak mulai menggenang di sudut kelopak matanya yang indah, membuat warna hitam di matanya terlihat semakin pekat dan rapuh.

Ayana tertegun. Jantungnya mendadak berdegup kencang karena rasa panik medisnya kembali muncul. Lho, lho, kenapa dia malah kelihatan mau menangis begini? Apa masakanku seburuk itu sampai bisa membuat seorang CEO menangis batin?! batin Ayana menjerit panik.

"Pak Arka? Anda tidak apa-apa? Apa rasanya terlalu pedas? Lambung Anda sakit lagi?" tanya Ayana bertubi-tubi, badannya sudah bergerak hendak memutari meja bar untuk memeriksa kondisi Arka.

"Jangan bergerak. Tetap di sana," perintah Arka dengan suara yang sedikit serak. Ia buru-buru meletakkan sendoknya, lalu memalingkan wajahnya ke samping, menatap dinding kaca besar yang menampilkan lampu-lampu kota. Pria itu menarik napas dalam-dalam, mengedipkan matanya berulang kali untuk memaksa air mata yang hampir jatuh itu kembali masuk.

"Rasa masakan ini... persis seperti masakan Ibu saya," bisik Arka akhirnya. Suaranya terdengar sangat rapuh, seolah-olah pertahanan kokoh yang ia bangun selama belasan tahun ini baru saja runtuh hanya karena se piring tumis kangkung buatan seorang dokter rewel.

Ayana langsung menghentikan langkahnya. Ia terdiam di tempat, menatap Arka yang kini sedang mencengkeram erat pinggiran meja marmer dengan jari-jarinya yang memutih. Rasa bersalah dan rasa iba mendadak bercampur aduk di dalam dada Ayana. Ia tahu ia telah menyentuh bagian paling terluka dari sejarah hidup pria ini.

"Ibu saya... selalu memasak tumis kangkung dan sup ayam setiap kali saya pulang sekolah dengan wajah cemberut karena kalah dalam pertandingan atau mendapat nilai buruk," lanjut Arka, suaranya terdengar bergetar menahan emosi yang teramat sangat. "Beliau selalu bilang... makanan hangat bisa menyembuhkan segala jenis luka di hati."

Arka terkekeh pelan—sebuah tawa getir yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Ayana. "Tapi belasan tahun lalu, di malam yang sama ketika mobil yang kami tumpangi dihantam oleh truk... saya kehilangan beliau. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana jas putih para dokter di UGD dipenuhi oleh darah Ibu saya... dan mereka semua bilang... mereka gagal."

Air mata yang sejak tadi ditahan Arka akhirnya lolos juga, membasahi pipinya yang tegas. Pria yang ditakuti di dunia bisnis itu kini duduk di depan meja dapur dengan bahu yang bergetar kecil, menumpahkan segala sesak dan kesepian yang selama ini ia kunci rapat di dalam hatinya yang paling dalam.

Ayana merasa tenggorokannya ikut tercekat. Ia kini paham sepenuhnya. Alasan kenapa Arka mengalami panic attack saat mendengar benturan keras dan sirine ambulans. Alasan kenapa ia menolak diperiksa oleh sembarang dokter magang. Dan alasan kenapa pria ini selalu bersikap angkuh dan dingin kepada semua orang—itu semua adalah mekanisme pertahanan dirinya agar tidak ada lagi orang yang bisa melihat kerapuhannya, agar ia tidak perlu merasakan kehilangan yang sama untuk kedua kalinya.

Dengan langkah yang sangat pelan dan hati-hati, seolah takut mengejutkan seekor hewan yang sedang terluka, Ayana berjalan memutari meja bar. Ia berdiri di samping kursi Arka, lalu tanpa berkata apa-apa, ia meraih selembar tisu bersih dan mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata di pipi sang CEO.

Arka sempat tersentak kecil saat merasakan jemari lembut Ayana menyentuh kulit wajahnya. Ia hendak menjaga jarak, namun kehangatan yang memancar dari tubuh Ayana dan tatapan mata bulat wanita itu yang dipenuhi oleh rasa empati yang mendalam membuat Arka akhirnya menyerah. Ia membiarkan Ayana menghapus air matanya.

"Maafkan saya, Pak Arka," bisik Ayana dengan nada suara yang sangat tulus, sangat lembut. "Saya tidak bermaksud membuka luka lama Anda."

Ayana meletakkan tangannya di atas bahu tegap Arka yang masih sedikit bergetar, meremasnya pelan untuk memberikan kekuatan. "Tapi sebagai dokter Anda, saya ingin memberi tahu Anda satu hal. Para dokter yang gagal menyelamatkan Ibu Anda dulu... mereka pasti sudah berjuang dengan seluruh jiwa mereka di atas meja operasi. Dan Ibu Anda... beliau pasti sangat sedih di sana kalau tahu putranya yang hebat ini harus melewati setiap malam dengan rasa takut, kesepian, dan perut yang kosong."

Arka mendongak, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata bulat milik Ayana. Di bawah temaramnya lampu dapur malam itu, sebuah ikatan baru yang jauh lebih dalam dari sekadar kontrak profesional di atas kertas resmi baru saja terjalin di antara mereka. Ayana bukan lagi sekadar dokter yang ia sewa dengan uangnya, melainkan satu-satunya orang yang berhasil menembus badai di dalam jiwanya dan membawanya pulang kembali menuju kehangatan.

.

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!