Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Di dalam kamar sederhana milik Shen Yunche, semuanya tampak tenang. Pemuda itu tertidur pulas. Tidak ada hal aneh maupun tanda-tanda perubahan.
Namun, di dalam tubuhnya, sesuatu sedang bergerak. Sangat pelan, sangat samar, bagaikan bara api yang lelap selama bertahun-tahun lalu mendadak menyala.
"Ah..."
Yunche mengerang dalam tidurnya. Keningnya berkeringat, sementara tangannya mencengkeram erat ujung selimut. Rasa panas mengalir deras dari dadanya, merambat menuju meridian, lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Yunche mendadak membuka mata.
"HAH!"
Dia langsung duduk dengan napas terengah-engah.
"Apa-apaan?"
Yunche memandangi sekeliling. Tidak ada siapa-siapa di sana. Dia memegang dadanya yang berdetak sangat cepat.
"Aneh."
Dia menunggu beberapa saat sampai rasa panas itu perlahan menghilang. Yunche menghela napas panjang.
"Mimpi?"
Dia kembali berbaring. Namun, saat matanya hampir terpejam, sebuah suara terdengar samar. Bunyinya seolah datang dari tempat yang sangat jauh.
Bangunlah...
Yunche mendadak membuka mata. "Apa?"
Hening. Tidak ada apa-apa.
Yunche kembali duduk. "Siapa?"
Tidak ada jawaban. Dia menunggu satu detik, dua detik, hingga tiga detik.
Yunche akhirnya menggaruk kepala. "Mungkin aku terlalu banyak makan."
Dia memilih tidur kembali, dan kali ini suasana benar-benar tenang. Namun, di dalam tubuhnya, sebuah cahaya kecil telah menyala.
Pagi hari.
"Shen Yunche!"
Yunche membuka pintu. "Apaan?"
Ruowei sudah berdiri tegak di depan kamar. "Kau terlambat!"
Yunche menengadah memandangi langit. "Belum."
"Sudah."
"Jam berapa?"
"Sudah hampir siang."
Yunche membelalakkan mata. "Hah?" Dia menoleh ke dalam kamar. "Rasanya aku baru saja tidur."
"Memangnya kau tidur jam berapa?"
"Tidak tahu."
Ruowei menghela napas pasrah. "Kau harus latihan."
"Latihan apa?"
Ruowei menatapnya tajam. "Gu Qingli."
Yunche tersadar sepenuhnya. "Oh." Dia segera berlari keluar.
"Yunche!" panggil Ruowei dari belakang.
"Apa?"
"Jangan lupa mandi!"
Yunche mendadak berhenti. Dia mencium lengan bajunya sendiri. "Oh."
Ruowei menutupi wajahnya. "Ya ampun."
Di halaman latihan, Gu Qingli berdiri sendirian. Dia telah menunggu sepuluh menit, dua puluh menit, hingga tiga puluh menit. Keningnya mulai berkerut dalam.
Dia terlambat lagi.
Gu Qingli menatap ke arah gerbang yang masih kosong. Dia menghela napas. "Kali ini..."
"Maaf!" sebuah suara menyela.
Gu Qingli menoleh. Yunche berlari masuk dengan rambut berantakan dan baju yang serampangan.
Gu Qingli makin mengerutkan kening. "Kau baru bangun?"
Yunche berhenti. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Terlihat jelas dari rambutmu."
"Oh." Yunche mencoba merapikan rambutnya, tetapi malah membuatnya semakin berantakan.
Gu Qingli memejamkan mata. "Sudahlah."
"Aku sudah rapi."
"Belum."
Yunche menunjuk dirinya sendiri. "Menurutku sudah."
"Itu hanya menurutmu."
"Ya."
Gu Qingli menghela napas, lalu mengeluarkan selembar saputangan dari balik bajunya. Yunche terdiam di tempat.
Saat Gu Qingli melangkah mendekat, Yunche secara refleks mundur.
"Kenapa?" tanya Gu Qingli.
"Apa?"
"Jangan bergerak."
Gu Qingli kini berdiri tepat di depannya. Dia mengangkat tangan, membuat Yunche seketika membeku. Gu Qingli menyentuh dan merapikan rambut Yunche yang berantakan dengan lembut.
Yunche tak berkutik. Untuk beberapa detik, keduanya saling bergeming.
"Sudah," ucap Gu Qingli begitu selesai.
Yunche berkedip. "Oh."
Gu Qingli mundur beberapa langkah, tetapi Yunche masih saja bergeming.
"Kenapa?" tanya Gu Qingli.
Yunche menyentuh rambutnya. "Tidak."
"Kalau begitu?"
"Terima kasih."
Gu Qingli mengangguk. "Mari mulai latihannya."
Yunche mengambil pedang kayunya. Namun, dia masih terlihat sedikit kebingungan.
"Kenapa?" tanya Gu Qingli memperhatikan raut wajahnya.
"Tidak apa-apa."
"Kau aneh hari ini."
Yunche menggelengkan kepala. "Ayo latihan."
Keduanya bersiap. Namun, tak ada yang menyadari bahwa dari balik bangunan, Shen Ruowei sedang mengintip. Gadis itu menutup mulut dengan mata membesar, lalu tersenyum lebar.
"Oh..."
Latihan dimulai. Hari itu, Yunche terlihat berbeda. Gu Qingli menyadari gerakannya kini sedikit lebih cepat—cukup mencolok untuk disadari.
"Kau berubah," ujar Gu Qingli sambil menangkis.
Yunche menghindar. "Berubah bagaimana?"
"Gerakanmu."
"Oh."
Yunche melancarkan serangan.
Brak!
Yunche terdorong mundur. Gu Qingli mengerutkan keningnya. "Kau berkultivasi tadi malam?"
Yunche mengingat-ingat. "Sepertinya."
"Sepertinya?"
"Aku ketiduran."
"Lalu?"
"Lalu aku terbangun."
Gu Qingli menatapnya datar. "Jawabanmu sama sekali tidak masuk akal."
Yunche mengangkat bahu. "Memang begitu kenyataannya."
Gu Qingli kembali menyerang, dan Yunche berhasil menghindar lebih cepat dari sebelumnya. Gu Qingli sedikit terkejut lalu mempercepat tempo serangannya. Yunche ternyata sanggup mengimbangi.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Yunche berhasil menghindari tiga serangan berturut-turut.
Gu Qingli menghentikan serangannya, begitu pula dengan Yunche. Keduanya saling menatap.
Yunche tersenyum bangga. "Bagaimana?"
Gu Qingli mengangguk pelan. "Bagus."
Senyum Yunche makin lebar. "Benarkah?"
"Ya."
"Berarti aku mulai kuat?"
"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan."
Yunche seketika cemberut. "Kenapa?"
Gu Qingli menatapnya lurus. "Karena... kau masih sangat lemah."
Yunche terdiam. "Barusan kau bilang bagus."
"Bagus bukan berarti kuat."
"Bedanya apa?"
"Banyak."
Yunche menghela napas. "Pelan-pelan saja."
Gu Qingli hampir saja tersenyum. "Kalau kau ingin menjadi kuat..."
Yunche menatapnya penuh harap. "Ya?"
"Jangan malas."
Yunche mengangguk mantap. "Baik."
"Dan jangan tidur saat meditasi."
Yunche mendadak bungkam.
"Kenapa?" tanya Gu Qingli.
Yunche menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku memang ketiduran."
Gu Qingli memejamkan mata. "Dasar."
Latihan kembali berlanjut. Namun tiba-tiba...
Deg!
Yunche mendadak berhenti dan memegang dadanya. Gu Qingli langsung menyadari perubahan itu.
"Yunche?"
Yunche terdiam. Rasa panas yang sama seperti semalam kembali muncul, kali ini jauh lebih kuat.
Gu Qingli mendekat. "Kau kenapa?"
Yunche menggeleng pelan. "Tidak apa-apa."
"Wajahmu pucat."
"Benarkah?"
Saat Gu Qingli mengangkat tangan hendak menyentuh dahi Yunche, pemuda itu justru melangkah mundur.
"Jangan," cegah Yunche.
Gu Qingli menghentikan tangannya. Yunche sendiri terkejut dengan reaksi refleksnya.
"Maaf."
"Kenapa kau mundur?"
Yunche meremas dadanya. "Aku... tidak tahu."
Gu Qingli menatapnya cermat. Tiba-tiba dia merasakan fluktuasi energi spiritual. Ada yang berubah dari dalam tubuh Yunche.
"Yunche."
"Hm?"
"Berikan tanganmu."
"Untuk apa?"
"Aku ingin memeriksa meridianmu."
Yunche mengangkat alis. "Kau bisa?"
"Sedikit."
Meski ragu, Yunche menyodorkan tangannya. Gu Qingli memegang pergelangan tangan pemuda itu.
Saat kulit mereka bersentuhan, keduanya sempat membeku. Hanya sesaat, tetapi jantung mereka sama-sama berdetak lebih cepat.
apa gk syok tuh thor