NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

"Kita mau menjual apa?"

Pertanyaan Bima masih belum terjawab empat jam kemudian.

Mereka sudah mendatangi dua kawasan kantor, menelepon enam nomor, dan menghabiskan uang untuk makan siang termurah yang bisa ditemukan dekat stasiun. Hasilnya satu tumpuk brosur, tiga penolakan, dan sebuah janji pertemuan yang baru tersedia dua minggu lagi.

Sore itu, Raka memesan mobil daring menuju Bekasi. Tarifnya membuat Bima menatap layar ponsel dua kali.

"Kalau kita terus bergerak tanpa tujuan, lebih murah menyewa bangku di stasiun," katanya.

"Kalau duduk di stasiun, produk tidak akan datang memperkenalkan diri."

"Produk juga tidak akan muncul hanya karena kita membayar tol."

Mobil abu-abu berhenti di depan mereka. Pengemudinya turun untuk membuka bagasi, meski mereka tidak membawa barang besar.

"Pak Raka?" tanyanya.

"Ya."

"Saya Arif. Silakan. Jalan tol agak padat, tapi saya punya rute alternatif kalau Bapak tidak keberatan sedikit memutar."

Di dashboard terpasang dua ponsel. Satu menampilkan navigasi, satu lagi daftar pesanan yang sedang sepi. Mobilnya bersih, tetapi sarung kemudi sudah mengilap karena terlalu sering digunakan.

Raka dan Bima duduk di belakang. Belum lima menit mobil bergerak, Bima membuka laptop lagi.

"Kita harus memilih," katanya. "Jasa konsultasi tidak punya kredibilitas. Perdagangan butuh barang. Manufaktur butuh aset dan orang."

"Justru orang yang akan menentukan barangnya."

"Kita tidak bisa merekrut sepuluh orang lalu bertanya mereka ingin membuat apa. Itu bukan strategi. Itu arisan."

Arif tertawa kecil dari kursi depan.

Bima mengangkat pandangan. "Ada yang lucu, Pak?"

"Maaf. Saya cuma sering mengantar orang rapat bisnis. Biasanya mereka menunggu sampai turun dari mobil sebelum bertengkar soal strategi."

Raka menyandarkan tubuh. "Kalau sering mengantar orang bisnis, Pak Arif pasti tahu bisnis apa yang sedang kesulitan."

"Tahu sedikit. Tidak semuanya berguna."

"Coba satu."

Arif melirik kaca spion. "Di Cikarang Selatan ada pabrik kecil yang besok mau dibongkar sebagian. Mesin dijual, pekerjanya sudah dua minggu menunggu kepastian. Kalau Bapak mencari aset dan orang sekaligus, tempat seperti itu lebih masuk akal daripada kantor ber-AC."

Bima menutup laptop perlahan. "Nama pabriknya?"

"Nama legalnya saya tidak hafal. Orang-orang sekitar menyebutnya pabrik kasur Pak Surya."

"Dari mana Anda tahu?"

"Penumpang."

"Penumpang yang mana?"

"Minggu lalu saya antar teknisi tua dari kawasan itu ke Tambun. Dua hari kemudian saya antar orang perusahaan pembongkar. Kemarin ada tiga pekerja pabrik pulang lebih awal karena listrik produksinya sudah diputus."

Bima menatap Raka. Tatapan itu berarti satu hal: jangan mudah percaya.

Ia kembali bertanya, "Ada berapa pabrik di kawasan yang sama?"

"Tiga yang sering disebut orang." Arif mengangkat satu jari dari kemudi. "Yang pertama masih punya pesanan, tapi pemiliknya menahan gaji. Yang kedua gudangnya pindah, bukan tutup. Yang ketiga pemiliknya sudah tidak pernah terlihat dan mesin akan dipotong besok pagi."

"Rute truknya?"

"Kalau pembongkar membawa mesin besar, mereka tidak akan lewat gerbang timur. Jembatannya dibatasi. Mereka masuk dari jalan servis selatan sekitar jam enam pagi sebelum lalu lintas karyawan padat."

Jawaban Arif tidak terdengar seperti gosip. Terlalu banyak waktu, arah, dan urutan yang bisa diperiksa.

Raka mencondongkan tubuh. Jarak mereka kurang dari dua meter.

Ia membuka Pemindaian Bakat.

Sebuah lingkaran cahaya tipis menyapu kabin. Hanya Raka yang melihatnya.

[Pemindaian digunakan.]

[Cooldown: 24 jam.]

[Arif Nugroho]

[Potensi: 4 bintang.]

[Karakteristik utama: Kompas Pasar.]

[Kekuatan terbentuk: membaca pola permintaan melalui mobilitas orang, waktu, dan jalur distribusi.]

[Batas: informasi harus diverifikasi melalui transaksi atau sumber yang sah. Tidak menjamin loyalitas maupun kebenaran semua kesimpulan.]

Empat bintang.

Raka baru memiliki satu calon karyawan dan perusahaan yang belum menjual apa pun. Kini seorang pengemudi yang bahkan tidak mereka cari duduk satu meter di depannya dengan potensi yang mungkin diabaikan ribuan penumpang.

Namun SAT sendiri sudah memberi peringatan.

Potensi bukan hasil.

"Pak Arif," kata Raka. "Kalau saya beri waktu tiga puluh menit, bisakah Anda mencari siapa yang berwenang bicara soal pabrik itu? Bukan tukang bongkar. Bukan satpam. Orang yang punya dasar hak atas bangunan atau mesin."

Arif melirik jam di dashboard. "Perjalanan Bapak bagaimana?"

"Kita berhenti di tempat aman. Waktu menunggu saya bayar."

Bima langsung menyela, "Raka."

Itu pertama kalinya ia menjatuhkan kata Pak.

Raka tahu artinya. Jangan menghamburkan uang.

"Tiga puluh menit," ulang Raka. "Kalau tidak dapat, kita lanjut dan saya tidak mengganggu pekerjaan Pak Arif lagi."

Arif keluar di area istirahat kecil dekat pintu tol. Ia mematikan status penerimaan pesanan sebelum menelepon, lalu membuka daftar kontak.

Telepon pertama menuju teknisi tua yang pernah menjadi penumpangnya. Tidak diangkat.

Telepon kedua kepada warung dekat pabrik. Pemilik warung hanya tahu pekerja masih berkumpul setiap pagi.

Bima melipat tangan. Menit kedelapan belas berlalu.

Arif tidak panik. Ia mencari nomor perusahaan pembongkar dari riwayat pembayaran digital, lalu menelepon kantor mereka sebagai calon pembeli alat bekas. Dari sana ia mendapatkan nama pihak yang memberi instruksi pembongkaran.

Nama itu ia cocokkan melalui nomor kantor pengelola kawasan yang tersedia untuk umum.

Pada menit kedua puluh tujuh, seseorang mengangkat telepon.

"Selamat sore, Pak," kata Arif. Suaranya berubah menjadi lebih formal. "Saya mewakili pihak yang ingin menanyakan aset pabrik di Cikarang Selatan. Kami tidak akan datang kalau status mesinnya tidak jelas. Siapa yang bisa menunjukkan daftar kepemilikan dan kewenangan penjual?"

Ia mendengarkan sambil menulis tiga nama di kertas parkir.

Setelah menutup telepon, Arif menyerahkan kertas itu kepada Bima.

"Ini wakil pemilik gedung. Ini agen yang memerintahkan pembongkaran. Ini pemasok yang masih mengklaim dua mesin belum lunas. Mereka mulai potong besok jam enam. Teknisi tua yang saya sebut tadi kemungkinan masih ada di lokasi malam ini."

Bima membaca catatan tersebut. "Nomor pemasoknya?"

"Di belakang. Saya belum menelepon karena kita bukan pihak dalam transaksi."

Untuk pertama kali sejak masuk mobil, Bima tidak punya pertanyaan lanjutan.

Raka menahan senyum.

Ia tidak hanya menemukan informasi. Ia menemukan orang yang tahu batas informasi.

"Pak Arif, bagaimana pendapatan bersih Anda enam bulan terakhir? Tidak perlu jawab angka kalau keberatan. Cukup stabil atau tidak?"

Arif kembali duduk di belakang kemudi, tetapi belum mengaktifkan aplikasi. "Tidak stabil. Kenapa?"

"Saya menawarkan PKWT tiga bulan untuk posisi penjualan dan intelijen pasar. Gaji tetapnya di atas rata-rata pendapatan bersih Anda, ditambah insentif dari transaksi yang benar-benar selesai. Jam kerja, target, BPJS, dan larangan memakai data penumpang akan tertulis."

Arif menatapnya lewat kaca spion.

"Bapak baru dua puluh empat tahun, bukan?"

"Ya."

"Perusahaan Bapak baru didirikan hari ini?"

"Pengajuannya hari ini. Konfirmasi AHU baru masuk satu jam lalu."

Bima mengangkat ponselnya. Pesan dari Nadia menampilkan dokumen konfirmasi dan daftar proses berikutnya.

"Dan Bapak mau menggaji saya lebih tinggi daripada pendapatan mengemudi?"

"Kalau informasi tadi membawa kami ke aset yang benar, nilainya lebih tinggi daripada biaya satu bulan gaji Anda. Saya membayar nilai, bukan nama jabatan lama."

Arif tertawa pendek. "Kalimat bagus. Bisa juga kalimat penipu."

"Karena itu Pak Bima akan menunjukkan dokumennya."

Bima memutar laptop dari kursi belakang. Ada tanda terima pengajuan, konfirmasi badan hukum, rancangan jabatan, target tiga bulan, dan klausul bahwa pekerjaan pengemudi daring Arif tetap terpisah. Tidak boleh membawa penumpang sambil menjalankan tugas perusahaan. Tidak boleh mengambil data perjalanan pribadi untuk kepentingan Arunika.

Arif membaca semuanya.

"Kalau perusahaan tidak punya produk dalam tiga bulan?"

"Kontrak berakhir sesuai ketentuan, hak Anda dibayar, dan kita tidak mengubah kegagalan saya menjadi utang Anda," jawab Raka.

"Kalau saya tidak menghasilkan penjualan?"

"Gaji dasar tetap gaji. Insentif yang tidak ada transaksinya bernilai nol."

Arif mengetuk kemudi dengan jari.

Kemudian ia mematikan aplikasi pengemudi untuk sisa hari itu.

"Saya mau lihat pabriknya dulu. Kalau tempat itu benar-benar ada, saya tanda tangan."

"Wajar," kata Bima.

Mereka pergi ke tempat cetak dokumen terdekat. Satu jam kemudian, setelah melihat gerbang dan memastikan nama perusahaan di papan lama, Arif menandatangani PKWT tiga bulan. Bima menyimpan satu salinan. Arif memegang salinan lainnya.

Panel SAT menyala.

[Talenta terverifikasi melalui tindakan nyata.]

[Arif Nugroho bergabung.]

[Tim awal: 2/10.]

[Aset intelijen pasar pertama diperoleh.]

Arif kembali ke kursi pengemudi, kali ini bukan sebagai mitra aplikasi yang membawa penumpang. Ia mencabut penanda layanan dari dashboard dan meletakkannya di laci.

"Sekarang saya sedang bekerja untuk PT Arunika Karya Nusantara," katanya. "Tujuan pertama?"

Raka menunjuk jalan gelap di depan.

"Cikarang."

Menjelang pukul setengah tujuh malam, mobil berhenti di depan gerbang besi Pabrik Cikarang Selatan. Lampu halaman masih menyala. Di balik pagar, sebuah truk pembongkar terparkir bersama alat potong berukuran besar.

Seorang pria tua berdiri di dekat pos keamanan, memeluk map lusuh ke dadanya.

Arif mematikan mesin.

"Itu teknisi yang pernah saya antar," katanya. "Dan kalau alat potongnya sudah datang malam ini, jadwal mereka mungkin dimajukan."

Raka menatap bangunan gelap di balik pagar.

Perusahaan mereka akhirnya menemukan sesuatu untuk dibangun.

Masalahnya, mereka hanya punya satu malam untuk mencegahnya dipotong menjadi besi tua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!