Bagi Aris dan ibunya, Tita adalah istri sempurna: kaya, penurut, dan sabar. Saat Tita divonis tak bisa memberi keturunan, mereka berlagak menerima dengan lapang dada. Padahal di belakangnya, Aris diam-diam menikah siri demi mendapatkan anak sambil terus menikmati kemewahan dari uang Tita.
Mereka pikir Tita bodoh. Padahal, Tita sudah tahu segalanya.
Tanpa air mata atau labrakan emosional, Tita tersenyum dingin. Ia mulai memutus aliran dana, merebut asetnya, dan menjebak bisnis Aris ke jurang utang.
"Kalian pikir bisa hidup mewah di atas penderitaanku? Mari kita lihat seberapa lama kalian bertahan tanpa sepeser pun uangku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SKENARIO KEHANCURAN UNTUK SUAMIKU
Pagi hari di kantor Glowinc Group terasa jauh lebih cerah dari biasanya. Aku berdiri di depan jendela kaca besar, memandangi hiruk-pikuk Jakarta yang baru saja memulai harinya. Di tanganku, sebuah tablet menampilkan data yang baru saja dikirimkan oleh Ko Felix. Itu adalah rincian aliran dana dari rekening perusahaan yang selama ini mengalir deras ke rekening pribadi Reno dan ibunya, disamarkan sebagai biaya konsultasi dan dana operasional fiktif.
"Tita, semua sudah siap," suara berat Ko Felix membuyarkan lamunanku. Dia berdiri di ambang pintu ruang kerjaku, diikuti oleh Kak Olan yang membawa map biru tebal.
Aku berbalik, menatap mereka berdua dengan senyum tipis yang penuh arti.
"Sudah dipastikan semuanya? Tidak ada celah bagi mereka untuk mengelak?"
"Sudah kami telusuri sampai ke akar-akarnya," jawab Kak Olan sembari meletakkan map itu di atas mejaku. "Bukti transfer, invoice palsu untuk barang-barang mewah yang mereka beli, hingga kesaksian dari manajer toko tempat mereka sering berbelanja. Reno dan ibunya tidak hanya menikmati uang Aris, tapi mereka secara sadar melakukan penipuan dan pencucian uang dengan memanfaatkan sistem keuangan Glowinc."
Aku mengangguk puas. Lima tahun hidup bersama Aris telah mengajariku satu hal: mereka tidak akan pernah berhenti jika tidak dihancurkan sampai ke titik paling bawah.
"Lakukan sekarang," perintahku tenang.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di bilangan Jakarta Selatan, suasana pagi ini sangat kontras dengan penderitaan yang dialami Jesika dan Mama Rahma di bawah jembatan.
Reno baru saja selesai menyesap kopi mahalnya, sementara Mama Reno sibuk mengagumi koleksi tas kulit eksotis miliknya di ruang tamu.
"Reno, hari ini kita harus beli perhiasan baru," ujar Mama Reno dengan nada manja. "Tas yang kemarin dibelikan Jesika itu sudah mulai terlihat membosankan. Kita butuh sesuatu yang lebih standout untuk pesta akhir pekan nanti."
Reno tersenyum congkak. "Tentu saja, Ma. Selama uang di rekeningku masih cukup, kita bisa beli apa saja. Beruntung sekali si Jesika itu bodoh, dia pikir kita mencintainya. Padahal, dia cuma jadi jembatan kita untuk mendapatkan uang dari Tita."
Tawa keduanya pecah, mengisi apartemen luas itu dengan suara keserakahan yang memuakkan. Mereka benar-benar merasa berada di atas angin. Bagi mereka, nasib Jesika dan Aris adalah urusan orang lain. Selama uang Tita sudah mengalir ke tangan mereka, dunia bagi mereka adalah surga.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang sangat keras memutus tawa mereka. Reno mengerutkan kening, melangkah menuju pintu utama dengan perasaan jengkel.
"Siapa sih pagi-pagi begini?"
Begitu pintu terbuka, wajah Reno langsung pucat pasi. Bukan kurir paket atau tetangga yang berdiri di sana, melainkan tiga orang anggota kepolisian dengan seragam lengkap, didampingi oleh pengacara Hendra dan tim hukum dari Tan & Partners.
"Apakah benar ini kediaman Bapak Reno?" tanya salah satu polisi dengan nada tegas.
"I-iya, saya Reno. Ada apa ya? Kenapa kalian datang ke sini?" gagap Reno, mencoba menutup pintu namun dicegah oleh salah satu petugas.
"Kami membawa surat perintah penangkapan atas nama Reno Pratama dan Ibu Susi Pratama, terkait dugaan tindak pidana pencucian uang, penipuan, dan penggelapan dana perusahaan Glowinc Group," jawab polisi itu dengan dingin.
Dunia Reno seolah runtuh. Tubuhnya lemas, kakinya tak lagi mampu menopang berat badannya. Di ruang tamu, Mama Reno yang mendengar keributan itu langsung berlari keluar dengan wajah panik.
"Reno! Ada apa ini?!" teriak Mama Reno. Namun saat melihat polisi, wajahnya berubah menjadi pias.
"Surat penetapan penahanan dan sita jaminan untuk seluruh aset di apartemen ini," sambung pengacara Hendra sembari menunjukkan dokumen resmi. "Ibu dan Bapak Reno, mohon ikut kami ke kantor polisi sekarang juga."
Di bawah selasar jembatan penyeberangan, di tengah udara pagi yang masih terasa dingin, Jesika terbangun karena ponsel pribadinya satu-satunya barang elektronik yang tidak disita polisi terus bergetar di dalam saku jalurnya.
Jemarinya yang kotor merogoh ponsel itu, lalu membuka notifikasi breaking news dari aplikasi berita online.
Mata Jesika seketika membelalak kaku. Layar ponselnya menampilkan video live streaming berita nasional dengan judul besar.
"MENAMBUNG DANA KEJAHATAN GLOWINC GROUP, RENO PRATAMA DAN IBU MERTUA JESIKA RESMI DITANGKAP DAN DIBORGOL POLISI!"
Di layar ponsel yang retak itu, terlihat jelas wajah Reno dan Mama Reno yang pucat pasi, menangis histeris sembari digiring petugas menuju mobil tahanan dengan tangan terborgol besi.
Jesika melompat berdiri di atas kardus kusamnya, memegang ponsel itu rapat-rapat ke wajahnya.
Mama Rahma yang masih terbaring di atas kardus ikut terbangun dan menatap layar ponsel Jesika dengan napas tersengal-sengal.
"Ma... Ma lihat!" teriak Jesika, suaranya parau namun penuh dengan tawa pahit yang membuncah. "Lihat HP Jesi, Ma! Mereka kena, Ma! Reno sama mamanya ditangkap polisi!"
Jesika menunjuk layar HP-nya dengan jari yang gemetar. Air mata kepuasan dan dendam bercampur menjadi satu. "Lihat muka mereka, Ma! Reno yang sombong itu sekarang menangis histeris! Ibu mertuaku yang sok terhormat itu sekarang harus pakai baju tahanan orange!"
"Tita... dia benar-benar melakukan semuanya, Jes," bisik Mama Rahma tak percaya, dadanya naik turun menahan guncangan emosi.
Jesika tertawa keras di bawah selasar jembatan, tawa puas yang meluapkan seluruh sakit hatinya. Orang-orang di sekitar mungkin mengira dia sudah gila, tapi bagi Jesika, ini adalah momen paling lega di tengah kehancurannya.
"Lihat mereka, Ma! Kemarin Reno nendang Jesi dari rumah, ngatai Jesi penipu! Tapi sekarang? Mereka bahkan lebih malang daripada kita!" jerit Jesika penuh kepuasan.
Dia merasakan semacam keadilan yang mutlak. Meskipun dia harus hidup terlunta-lunta di jalanan, mengetahui bahwa Reno dan Mama Reno orang-orang yang paling banyak menikmati uang haram Tita dan membuangnya begitu saja akhirnya jatuh ke lubang yang sama, membuat dendam di dadanya terbayar tuntas.
Reno yang kemarin menceraikannya dengan kejam kini tidak punya apa-apa lagi. Hartanya disita, harga dirinya diinjak-injak di depan publik seluruh Indonesia, dan masa depannya akan dihabiskan di balik jeruji besi.
"Ini impas, Ma," gumam Jesika, air matanya jatuh membasahi pipinya yang kotor. "Ini impas untuk semua yang mereka lakukan ke kita."
Di kantor polisi, suasana sungguh kontras. Reno dan ibunya tidak lagi terlihat seperti orang kaya yang angkuh. Di dalam ruang interogasi, Reno menangis meraung-raung, memohon kepada pengacara Hendra agar bisa dilepaskan.
"Tolong, Pak! Saya cuma korban! Jesika yang memberikan uang itu kepada saya! Saya tidak tahu kalau itu uang hasil kejahatan!" teriak Reno, berusaha melempar tanggung jawab ke wanita yang baru saja dia campakkan.
Hendra menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Korban? Bapak menandatangani invoice palsu untuk pembelian barang mewah setiap minggu. Bapak menggunakan uang itu untuk gaya hidup Bapak sendiri. Jangan bermimpi bisa lepas dari hukum."
Mama Reno, yang biasanya selalu terlihat anggun dan sombong, kini duduk terkapar di lantai ruang interogasi dengan rambut acak-acakan. Dia tidak berhenti meratapi nasibnya, memanggil nama anaknya, dan menyesali kenapa mereka tidak melarikan diri lebih awal.
Tita, yang memantau proses ini dari ruang pemantau di kantor polisi, menghela napas panjang. Dia tidak merasakan kebahagiaan yang meluap-luap secara berlebihan, melainkan rasa lega yang sangat dalam.
Satu per satu, benalu-benalu yang menghisap hidupnya telah dipotong. Aris, Jesika, Mama Rahma, Reno, dan Mama Reno. Semuanya sudah mendapatkan bagian dari karma mereka sendiri.
Tita keluar dari ruangan, disambut oleh Ko Felix yang sudah menunggunya.
"Semua sudah selesai, Tita," kata Ko Felix pelan. "Mereka semua sudah di tempat yang seharusnya."
"Ya," jawab Tita singkat. "Sekarang, aku ingin pulang. Aku ingin beristirahat tanpa harus memikirkan lagi orang-orang itu."
Ko Felix mengangguk, berjalan di samping Tita menuju mobil. "Kamu sudah melakukan hal yang benar. Kamu sudah mendapatkan keadilanmu."
Saat mobil melaju menjauh dari kantor polisi, Tita menatap keluar jendela. Jakarta masih sama, hiruk-pikuk dan tak peduli dengan nasib orang-orang yang baru saja kehilangan segalanya. Tapi bagi Tita, dunia sudah berubah. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu yang menghantuinya.
Hari ini, dia bukan lagi menantu yang tersakiti. Dia adalah Tita yang baru lebih kuat, lebih bijak, dan yang terpenting, bebas.
Di bawah jembatan, Jesika dan Mama Rahma masih meringkuk di atas kardus, menatap layar ponsel yang perlahan mati karena kehabisan baterai. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tapi setidaknya malam ini, dendam mereka telah terbalaskan.
Kehidupan memang adil dengan caranya sendiri. Semua keserakahan, dusta, dan pengkhianatan, pada akhirnya membayar harga yang setimpal. Permainan telah berakhir, dan Tita berdiri sebagai pemenang mutlak di atas kehancuran para benalu.
tp bgus lh...saatnya ngejar cntamu kmbli y felix...
dlunya nabur kjhtan,skrng mnuai akibtnya....slmt jd gembel.....😛😛😛
😂😂😂 jgn sampe deh pindah ke jempol kaki ,, 😁😁😁😁
tu laa akibat dr keserakahan berkedok pengen punya anak ,, 😒😒😒😒
😱😱😱😱😱
pdahl msh byk cara lain supaya punya anak ,, bisa adopsi anak kn ,, emnk dasar pgen selingkuh aj ,, 😒😒😒😒
tp yg pling ngeri,nsibnya aris d pnjra.....scra kknya tita udh blik buat ngsih doa pljran......
udh buka aib sndri,skrng mlah msuk kandang singa......ga ykin kl pad kluar dia msih utuh.....🤣🤣🤣