Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PERSAHABATAN DAN EJEKAN YANG MENGGIGIT
Hari-hari berlalu dengan ritme yang teratur bagi Rangga. Bangun sebelum ayam jantan kedua berkokok, membantu Nenek mengambil air dari sungai (sekarang ia sudah bisa membawa satu setengah ember penuh tanpa tumpah), menyapu halaman yang selalu berguguran daun kering dari pohon kelapa, memberi makan ayam-ayam kampung yang setiap pagi selalu berebut jagung, dan sesekali menemani Nenek ke ladang untuk menanam bibit cabai atau memanen kacang panjang yang merambat di pagar bambu.
Tubuhnya yang dulu putih mulus bagaikan porselen Jepang kini mulai kecokelatan oleh sinar matahari. Telapak tangannya yang halus mulai berkapalan dan kasar, dan kakinya yang terbiasa dengan karpet empuk kini terbiasa dengan tanah berbatu, puing kerikil, dan kadang duri ilalang yang menusuk. Namun yang paling berubah adalah matanya—dari mata yang kosong dan penuh ketakutan, kini mulai berkilau dengan semangat. Ada kehidupan di sana, ada harapan yang perlahan tumbuh seperti benih padi di sawah.
Namun yang paling ia nantikan setiap hari adalah sore hari, ketika ia bisa bermain dengan Joko dan teman-teman lainnya. Ternyata di Desa Sumbermulyo, ada sekitar sepuluh anak seusia Rangga. Ada Karti, gadis kecil berponi dua yang suka tertawa cekikikan dan selalu membawa jajanan dari warung—singkong goreng atau pisang rebus. Ada Dullah, anak paling gemuk di antara mereka, dengan perut buncit dan pipi tembam yang selalu digoda teman-temannya. Ada Ucok, anak paling usil dengan lidah paling tajam, yang hobi menjahili teman-temannya tetapi sebenarnya baik hati—ia selalu membagikan gasing buatannya sendiri. Ada juga Siti, si kecil yang pemalu tetapi pandai membuat layangan dari kertas minyak dan bambu.
Hari ini, mereka semua berkumpul di bawah pohon beringin besar yang terletak di tengah desa. Pohon itu sudah berusia ratusan tahun, dengan akar-akar besar yang menjulur ke tanah seperti tiang-tiang penyangga alami. Di bawahnya ada batu-batu datar yang sejak lama dijadikan tempat duduk oleh warga desa—halus oleh pantat orang-orang yang duduk di sana selama puluhan tahun. Joko membawa layangan baru berbentuk burung elang, Dullah membawa ketapel bambu dengan karet yang sangat kuat, dan Ucok membawa sekantong penuh gasing kayu buatannya.
“Hei, Rangga! Kau sudah bisa memikul air berapa ember?” tanya Ucok dengan nada menggoda, sambil meletakkan gasing-gasingnya di atas batu.
Rangga tersenyum, sudah mulai terbiasa dengan sikap Ucok. “Satu setengah penuh. Besok insya Allah dua.”
“Hah! Baru satu setengah? Aku, setiap pagi, empat ember penuh untuk ibuku!” Ucok mengangkat dagunya dengan sombong, tetapi matanya berkedip-kedip. “Nenekmu pasti kasihan sama kamu. Anak kota memang lemah, ototnya dari sutra, bukan dari keringat!”
Semua anak tertawa. Karti menutup mulutnya dengan dua tangan, Dullah menggeleng-gelengkan kepala. Joko menepuk pundak Rangga. “Sudahlah, Ucok. Rangga baru sebulan di sini. Dulu kau juga newbie, ingat? Waktu pertama kali memikul air, kau jatuh ke sawah dan dimarahi ibumu seharian!”
Ucok tertawa terkekeh, mengakui kenangan itu. “Iya, iya. Tapi sekarang aku juara! Rangga, taruhan. Kalau kau bisa memikul tiga ember penuh minggu depan, aku kasih kau gasing terbaikku. Yang ini, bentuknya kuda. Berputar sampai tujuh menit!” Ia mengeluarkan sebuah gasing dari sakunya, diukir dengan indah dan diberi cat merah.
Rangga menerima tantangan itu. “Setuju. Tapi kalau aku menang, kau harus mengajariku cara membuat gasing seperti itu.”
“Deal!” Ucok menjabat tangan Rangga, dan semua anak bersorak.
Mereka lalu bermain layangan. Joko mengajari Rangga cara menerbangkan layangan dengan gulungan benang yang diikat ke sebatang kayu. Angin sore yang kencang, karena musim kemarau mulai tiba, meniup layangan kertas merah itu hingga melambung sangat tinggi—melewati puncak pohon kelapa, melewati atap rumah-rumah panggung, hingga nyaris menyentuh awan. Rangga merasa seperti burung yang baru lepas dari sangkar—bebas, ringan, dan penuh kegembiraan.
Namun saat mereka istirahat, Karti yang penasaran tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang membuat suasana hening. “Rangga, sebenarnya kau dari kota mana sih? Kenapa kau bisa ada di hutan? Teman-teman bilang Nenek Saroh menemukanmu dengan luka-luka. Apa yang terjadi?”
Semua anak terdiam. Pertanyaan itu menggantung di udara seperti awan gelap yang tiba-tiba menyelimuti langit cerah. Rangga tersentak, jarinya yang memegang benang layangan berhenti. Wajahnya yang tadi ceria berubah mendung—bayangan malam pembunuhan, wajah ayah dan ibunya, darah di lantai marmer, pria botak dengan pistol, semuanya melintas seperti film yang diputar cepat di kepalanya. Dadanya sesak, napasnya terasa berat.
“Ah, sudahlah, Karti!” Joko cepat menyela. “Yang penting Rangga sekarang teman kita. Jangan tanyakan masa lalu. Kalau dia mau cerita, dia akan cerita. Kita kan bukan polisi!”
Karti menutup mulutnya, ekspresinya menyesal. “Maaf, Rangga. Aku tidak bermaksud—”
“Tidak apa,” Rangga memotong, berusaha tersenyum. “Aku… aku belum siap cerita. Mungkin nanti. Tapi yang pasti, aku senang bisa berteman dengan kalian. Di sini, aku merasa… aku punya rumah.”
Namun Ucok, dengan sifat usilnya yang sulit dihilangkan, tidak mau berhenti. Kali ini nadanya bukan sekadar menggoda, tetapi mulai sinis—seolah ada rasa curiga yang menggelitik. “Tapi serius, Rangga. Di kota, apa kau benar-benar kaya raya? Katanya kau dulu punya rumah besar, kolam renang, banyak pembantu. Masa iya? Kenapa sekarang kau di sini, pakaian lusuh, makan ikan asin setiap hari? Apa kau cuma berbohong? Mungkin kau hanya anak gelandangan yang mengada-ada!”
Darah Rangga mendidih. Ia menatap Ucok dengan tajam, matanya menyala. “Kau tidak tahu apa-apa, Ucok!” suaranya meninggi, bergetar. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat ayah dan ibumu dibunuh di depan matamu! Kau tidak tahu bagaimana rasanya dibungkus selimut dan dilempar ke hutan seperti sampah! Kau tidak tahu bagaimana rasanya hampir mati dimakan binatang buas! Jadi jangan bicara seolah kau mengerti, karena kau TIDAK PERNAH mengalaminya!”
Suasana menjadi sunyi senyap. Bahkan angin seolah berhenti. Wajah Ucok memucat—ia tidak pernah melihat Rangga marah seperti itu. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka tetapi tidak ada suara yang keluar. Anak-anak lain saling pandang, tidak ada yang berani berbicara. Joko memegang bahu Rangga dengan erat, mencoba menenangkan.
“Sudah, Rangga. Ucok hanya bercanda. Dia tidak bermaksud jahat,” kata Joko lirih.
Rangga menghela napas panjang. Amarahnya perlahan meredam, tetapi air mata mengalir di pipinya—bukan air mata marah, tetapi air mata kesedihan yang tertahan lama. Ia tidak ingin menangis di depan teman-temannya, tetapi tubuhnya mengkhianatinya. Karti menghampiri, memberinya sehelai sapu tangan kecil. Siti yang pemalu juga mendekat, mengusap punggung Rangga dengan lembut.
“Maaf… Rangga. Aku benar-benar minta maaf,” Ucok akhirnya berkata, suaranya kecil dan lirih. Ia menunduk, tidak berani menatap mata Rangga. “Aku hanya… kadang mulutku terlalu pedas. Aku tidak tahu kalau kau mengalami hal seburuk itu. Aku… aku bodoh.”
Rangga mengusap matanya dengan punggung tangan. “Sudahlah. Aku juga maaf kalau aku terlalu keras. Tapi jangan tanya lagi tentang masa laluku, ya. Aku belum siap.”
“Setuju,” Ucok mengangguk cepat. “Aku janji. Dan sebagai gantinya, aku kasih kau gasing kuda ini sekarang. Tanpa menunggu taruhan.”
Ia menyerahkan gasing merah berbentuk kuda ke tangan Rangga. Rangga menerimanya, tersenyum tipis. Gasing itu sederhana—hanya kayu melinjo yang dipahat dengan pisau dan dicat menggunakan sisa cat tembok—tetapi ia merasakan nilai yang besar di dalamnya. Itu adalah tanda permintaan maaf yang tulus dari seorang teman.
Untuk mencairkan suasana, Dullah yang gemuk berkata, “Rangga, kau mau lihat ketapelku? Bisa memecahkan kelapa muda dari jarak sepuluh meter!” Rangga tertawa, dan semua anak lainnya ikut tertawa. Mereka kemudian berlari ke kebun kelapa milik Pak Lurah untuk mencoba ketapel. Ucok sengaja membuat Rangga tertawa dengan lelucon kotor tentang kambing milik tetangganya.
“Tahu kenapa kambing Pak Karto jalannya gemetar?” tanya Ucok.
“Kenapa?” tanya semua anak bersamaan.
“Karena kakinya kena kencing tikus!” ucap Ucok sambil memegangi perutnya, tertawa terbahak-bahak. Anak-anak lain pun tertawa, termasuk Rangga. Tawa mereka bergema di antara pohon-pohon kelapa, mengusir sisa-sisa ketegangan tadi.
Di tengah tawa, Rangga belajar satu hal: persahabatan sejati bukan tentang tidak pernah berselisih, tetapi tentang bagaimana kembali saling memaafkan. Ucok mungkin mulutnya pedas, tetapi hatinya baik. Joko mungkin terlalu melindungi, tetapi ia teman yang setia. Karti mungkin terlalu penasaran, tetapi ia peduli. Dan Dullah, dengan tawanya yang menggelegar, selalu bisa mencairkan suasana. Mereka bukan teman sempurna—tetapi mereka adalah teman yang nyata. Dan bagi Rangga, yang kehilangan segalanya, itu adalah harta yang tak ternilai.
Saat senja tiba dan mereka berpisah, Ucok memeluk Rangga erat. “Aku serius minta maaf. Besok aku bawakan kau ketapel buatanku. Kita tembak burung pipit di sawah, ya.”
Rangga mengangguk. “Siap. Tapi aku tidak janji bisa memanah sepertimu.”
“Nanti aku ajarin,” kata Ucok sambil tersenyum lebar. Dan untuk pertama kalinya, Rangga melihat Ucok bukan sebagai anak usil, tetapi sebagai saudara.
---
[Bersambung...]
---