Di hari pertama penobatannya sebagai Raja Lunaventia, Leonard Anvincet Hills menghilang tanpa jejak.
Saat membuka mata, ia tidak lagi berada di istana, melainkan di kamar seorang gadis bernama Azura.
Bagi Leonard, dunia ini benar-benar gila.
Kereta berjalan tanpa kuda.
Air mengalir dari dinding.
Orang-orang berpakaian aneh.
Dan yang paling keterlaluan, semua orang menganggapnya gila saat ia mengaku sebagai seorang raja.
Sementara Leonard mati-matian mencari jalan pulang ke kerajaannya, Azura justru harus menghadapi pemuda keras kepala yang selalu berbicara dengan bahasa bangsawan dan menganggap semua teknologi modern sebagai sihir.
Hari demi hari, pertengkaran mereka berubah menjadi kedekatan yang tidak pernah mereka duga.
Namun di balik hilangnya Leonard, tersimpan rahasia besar yang dapat mengubah dua dunia sekaligus.
Ketika kesempatan untuk kembali akhirnya muncul, apa yang akan dipilih seorang raja?
Takhtanya...
Atau gadis yang berhasil mencuri hatinya?
up rutin. 06:00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HikmahToo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raja yang tak bisa mandi
Leon langsung terduduk dari tidurnya.
Memegangi detak jantungnya yang cepat.
"Dhapne?"
Bisiknya pelan dengan tatapan nyalang.
Setelah sarapan tadi, Jody menyuruhnya untuk kembali istirahat sebelum mereka mencari rumahnya.
Leon bangkit.
Dia merasa berat dengan jubahnya.
Dengan enggan membukanya, dan menyimpannya di kasur.
Untuk apa dia memakai jubah ini? Jika mahkotanya saja sudah hilang!
Leonard berjalan ke luar, dia memegangi handel pintu dan menariknya.
Satu tarikan.
Pintu tidak terbuka.
Dua tarikan.
Masih belum terbuka.
Tak ada pilihan.
Dor. Dor. Dor!
Leonard menggedor pintu dengan keras.
"Siapapun di luar? Buka pintunya!"
Tidak ada yang menyahut.
Dia berjalan ke arah jendela, jendela itu memakai lapisan transparan seperti gelas tadi.
Leonard penasaran, dia memegangi kaca tersebut.
Tuk tuk.
Keras dan kuat.
Tok. Tok. Tok
Dia mengetuk kaca, dengan rasa ingin tau yang besar.
Baru sadar, barang-barang di rumah yang dia tempati ternyata banyak yang aneh.
Dia berjalan ke arah lemari.
Menatap pantulan dirinya di depan cermin yang sangat bening.
Bahkan pori-pori kecil di pipinya sampai terlihat.
Dia kira, cermin seorang raja adalah yang paling jernih.
Tapi yang dia lihat sekarang, sangatlah jernih.
'apa yang mereka gunakan untuk membuat benda unik seperti ini?'
Batinnya bertanya-tanya.
Dia juga mendongakkan kepalanya pada lampu yang menggantung di plafon.
Matanya sedikit menyipit.
'apa itu sebuah lentera? Tapi mengapa sangat terang?'
Dia juga melihat lantai yang di pijaknya.
Dia merunduk untuk menyentuh lantai marmer tersebut.
Lantai itu seperti lapisan danau yang membeku.
Dingin tapi! Tidak terlalu licin.
Warnanya yang putih corak hitam panjang seperti ular, membuatnya kembali takjub.
'apakah penghuni rumah ini semuanya seorang ilmuwan? Mereka sangat ajaib membangun perabotan yang begitu indah'
'Lihatlah dinding ini, banyak sekali gambar(Walpaper bunga di bagian bawah) yang sama namun indah.'
Cklek...
Dia melihat handel pintu yang mengarah ke bawah, segera mundur untuk waspada.
'gadis gila ini lagi! Untuk apa dia datang kemari?'
Batinnya dongkol, menatap Azura yang masih mengenakan seragam sekolah, masuk ke kamar yang dia tempati.
Azura menyeringai menatap Leonard yang waspada.
Azura menutup pintu, Leonard membulatkan matanya sedikit.
"Gadis tidak tau malu! Untuk apa kau masuk ke kamar seorang pria?"
Leonard bahkan sudah memasang kuda-kuda, waspada jika saja Azura tiba-tiba menyerangnya.
Azura tertawa ngakak melihat sikap Leonard yang menurutnya berlebihan.
"Ha ha ha ha, kenapa Lo? Beneran kayak ODGJ ya hihi"
Leon semakin waspada ketika Azura semakin mendekat.
"Mundur!! Atau aku akan mematahkan lehermu?"
Azura memutar mata malas mendengar pria itu yang kembali meracau tak jelas.
"Gak usah banyak omong Lo!"
Zura menyerahkan baju kaos juga celana jeans hitam pada Leon.
"Nih pake, kita bakal anterin Lo pulang, entar gue ke sini, Lo harus udah siap!"
Zura berbalik menutup pintu dengan keras.
Brakkk..
Leonard melonjak kaget, menatap baju itu dan mengambilnya.
Dia mendekati pintu dan mengedornya.
Dor. Dor. Dor
"Buka pintunya! Aku hanya ingin bertanya!"
Teriak Leon.
Ceklek...
Bukan Azura.
Tapi Farida yang membuka pintu tersebut.
Membuat Leon kembali waspada.
"Butuh sesuatu den?"
Leon mundur, bertanya dengan kaku.
"Aku ingin mandi"
Farida mengangguk, seraya membuka kamar mandi yang berada di kamar tersebut.
"Silahkan den"
Farida hendak pergi, Leon segera menghentikannya.
"Tunggu, di mana airnya?"
Farida masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower.
"Sini den"
Farida melambaikan tangan.
Leon mendekati Farida.
Dan melihat apa yang wanita itu lakukan.
"Ini shower, kalo mau mandi di sini sambil berdiri, pencet yang ini"
Leon memperhatikan dengan serius.
Farida menunjuk bathub.
"Kalo ini tempat berendem, nyalain nya seperti ini"
Farida menyalakan kran dan mematikannya lagi.
"Tuh... Bisa kan?"
Leonard mencoba menyalakan shower tersebut.
Dan benar saja, air yang entah dari mana mengalir turun sangat deras.
Tetesan air itu seperti air hujan.
"Dari mana air ini berasal? Apakah di atas rumah ini ada sungai yang mengalir hingga ke sini?"
Tanyanya polos.
"Ppftt..."
Farida menahan tawanya sekuat mungkin.
Dia menunduk untuk menahan tawa di mulutnya.
" Huft.."
Farida menghela nafas panjang, menetralkan wajahnya yang merah menahan tawa.
" Ini sabunya, nanti mandi pake ini ya"
Farida menunjuk pada sabun cair yang berada di botol.
Leonard mengambil botol tersebut dan menarik tutupnya.
" Bagaimana cara aku menggunakan benda ini? Apa benar ini bisa di pakai mandi?"
Farida mengambil botol tersebut, dia menekannya dan keluarlah sabun cair berwarna merah dengan aroma rose.
Mata Leonard melotot sempurna.
"Kau menyuruh aku untuk mandi dengan darah?! Manusia macam apa kau? Menjauh dari ku?"
Leon melangkah mundur, menatap Farida waspada.
Farida menyemburkan tawanya.
"Ha ha ha, bukan den, ini bukan darah, ini sabun buat mandi! Ha ha ha"
"Apa kau buta! Jelas-jelas benda tersebut kental seperti darah!"
Tunjuk Leon pada sabun yang di pegang Farida.
Farida menggosokkan sabun ke telapak tangannya, dan membasuhnya dengan air.
Kamar mandi itu mendadak wangi.
'wangi sekali, apa benar benda itu bukan darah?'
"Bukan den, ini sabun. Gunanya buat bersihin badan, biar wangi"
Sahut Farida, seolah bisa mendengar isi hatinya.
Leonard menadahkan tangannya, Farida yang peka segera menuangkan sabun itu pada tangan Leon.
Leon menggosoknya Seperti yang Farida lakukan tadi.
Dia menciumi tangannya.
'benda ini sangat wangi'
"Nah kalo udah berbusa gini, nanti bilas pake air sampe bersih ya"
Leon mengangguk.
Farida mengambil spons untuk sabun.
" Nih, sabunya tuang in ke sini, abis itu di gosokin ke badan yang udah di siram pake air, abis itu Siram yang bersih, ngerti kan?"
Farida menghela nafas pelan.
Dia seperti sedang mengajarkan anak kecil yang baru pertama kali belajar mandi sendiri.
" Jadi, aku tidak perlu memakai bunga?"
Tanya Leon, yang berhasil membuat Farida membuka mulutnya.
" Buat apa? Kamu mau mandi kembang?"
Sahut Farida, gemas sendiri menghadapi lelaki jadi-jadian ini.
'ganteng ganteng kenapa akalnya gak ada sih? Heran!'
Batin Farida kesel.
" Biasanya aku selalu memakai bunga untuk mandi?"
Sahut Leon menatap Farida bingung.
Farida tersenyum tipis, guna memperluas kesabarannya untuk menghadapi lelaki ini.
" Gak perlu, sekarang Aden cukup pake sabun wangi ini aja"
Leon mengangguk, terus memperhatikan sabun di tangannya.
" Kalo gitu, saya keluar. Masih ada pekerjaan di belakang"
Farida melangkah keluar dari kamar mandi, tapi lagi-lagi Leon mencegahnya, dan Farida terpaksa mundur lagi, menatap Leon geram.
"Ada apa lagi den?!"
Farida sedikit menekan kata.
"Kau bekerja di belakangan siapa?"
Tanya Leon dingin.
Farida memejamkan mata, jika dia bicara tidak jelas, pasti dia akan berada lama di dalam sini.
"Maksud saya, saya sedang bekerja di dapur"
Setelahnya Farida pergi, bodo amat dengan Leon yang hendak bertanya lagi, kerjaan dia itu masak dan cuci cuci.
Bukan malah menjawab pertanyaan orang asing di depannya.
***
Azura tengah memoles wajah.
Karna cuaca di luar panas, dia hanya mengenakan celana pendek SE paha, tanktop putih yang di padukan dengan kemeja pink tipis.
Rambutnya dia biarkan tergerai, dia hanya menyisir dan mencatoknya asal.
Tring...
Satu pesan masuk ke hp nya.
Tristan: 'jadi gak nih? kita udah siap-siap mau berangkat'
Azura mengambil ponsel, dan mengetikan sesuatu di sana.
Azura: 'gue gak bisa! Lain kali aja'
Azura memasukan ponsel ke saku, tanpa melihat balasan.
Dia mengambil sepatu pink dan menentengnya keluar.
***
Azura duduk di sofa dekat Monica yang tengah menonton TV.
Dia memakai sepatunya.
"Farah!!!"
Merasa namanya terpanggil.
Farah yang tengah asik bergosip ria dengan Farida di taman belakang.
Segera ngacir ke ruang tamu.
"Iya non? Kenapa?"
Azura berdiri, dia melirik jam tangan.
"Lo panggilan ODGJ itu ke sini!"
Titah Azura.
Farah yang sudah mengerti siapa yang di maksud.
Dengan senang hati mengangguk.
Dia berlari menuju kamar yang di tempati Leon.
Tok. Tok. Tok
Tak ada jawaban.
"Den? Nona manggil buat ke ruang tamu!"
Masih tak ada sahutan.
Dia menempelkan telinganya ke pintu.
"Den??"
"Tolong!!!"
Mata Farah melotot.
"Den, buka pintunya!"
Dor dor dor.
Ceklek...
Ternyata tidak di kunci.
"Tolong aku, benda sialan ini tidak membiarkan aku berdiri."
Karna mendengar keributan.
Azura dan Monica bergegas menyusul Farah.
Farah masih diam mematung di depan kamar yang sudah sedikit terbuka.
Dia menatap Azura dengan wajah ketakutan.
"Kenapa si!!"
Azura menukik alis dengan sinis.
Farah menggeleng dengan wajah pucat.
Azura berdecak dan masuk ke kamar tersebut.
Azura membuka lebar mulutnya, dia menatap tak percaya pada dalam kamar mandi yang terbuka.
"Lo ngapain tolol?!"
Sentak Azura marah.
Leon berjongkok memegangi bathub dengan seluruh tubuh yang gemetar, dia menatap Azura dengan wajah pucat.
'apa gadis ini tidak malu memakai pakaian telanjang seperti itu?'
Batinnya merasa malu.
Leon menundukkan wajahnya.
Azura melihat lantai kamar mandi yang sudah seperti kolam.
Dia melirik sabun yang sudah terbuka, dengan isi yang meluber ke mana-mana.
Lalu melihat shower yang masih menyala.
" Tol-ong aku!"
Bibir Leon bergetar, bajunya sudah basah kuyup.
Azura menatap Leon yang tampak ketakutan.
'aku yakin wanita sombong ini tidak akan membiarkan aku mati!'
Batin Leon sangat yakin.
Azura membuka sepatunya, dia dengan terpaksa melangkah ke dalam untuk mematikan shower.
Dia juga melihat kran bathub yang menyala, sehingga airnya penuh dan menyebabkan lantai seperti kolam.
"Lo ngapain goblok! Buruan berdiri!"
Sentak Azura yang sudah keluar.
Leonard menatap mata Azura dengan marah.
'gadis ini tetap saja sombong! Dia bahkan selalu mengatai aku! Jika saja aku tidak takut mati, aku tidak Sudi meminta tolong padanya!'
Batin Leon geram.
Bersambung...